The Wedding Proposal The Worst Scandal

The Worst Scandal

“Kurang ajar! Kamu itu ternyata tidak tahu terima kasih, ya? Sudah dikasih pekerjaan, malah diam-diam jadi wanita simpanan suami saya!”

Thalia Lukita Azkia terkejut luar biasa saat dirinya tiba-tiba dilabrak oleh istri dari atasannya di kantor. Perempuan itu bingung karena dituduh jadi wanita simpanan, padahal selama ini Kia hanya menjalankan tugasnya sebaik mungkin sebagai seorang sekretaris.

“Maaf, sepertinya Nyonya salah paham. Saya nggak pernah jadi wanita simpanannya Pak Guntoro,” jelas Kia, saat situasi kantor semakin tidak kondusif karena para staf mulai berkerumun di depan pintu ruang kerja yang sedikit terbuka.

“Halah, jangan kebanyakan alasan! Jelas-jelas saya nemu struk belanja di kantong celana suami saya, ternyata dari Victoria’s Secret. Suami saya beli lingerie buat siapa lagi kalau bukan buat kamu?” sahut Katrina, istri dari Guntoro Winata.

“Hah? Saya bahkan nggak tahu kalau Bapak ke Victoria’s Secret. Mungkin Nyonya bisa tanya sendiri sama Pak Guntoro buat meluruskan kesalahpahaman ini.”

“Sejak awal melihat kamu perasaan saya sudah nggak enak, Kia. Dari luar, kelihatan jelas kamu ini seperti seorang wanita penggoda. Jadi, sebelum saya membuat keributan yang lebih besar, sebaiknya kamu mengundurkan diri detik ini juga!”

“Saya nggak bisa mengundurkan diri karena saya nggak melakukan kesalahan apa-apa, Nyonya. Maaf, sebaiknya Nyonya menyelesaikan masalah ini dengan Pak Guntoro. Salah besar kalau Nyonya malah datang kemari dan marah-marah sama saya.”

“Saya tidak mau tahu ya, Kia. Di mata saya, kamu tetap terlihat seperti seorang penggoda. Jadi, cepat tulis surat penguduran diri sekarang.”

Bagaimana ya, Kia sudah kelewat sakit hati disebut sebagai seorang penggoda. Maka dengan mata yang berkaca-kaca, terpaksa Kia menulis surat pengunduran dirinya. Karena jika Kia terus bertahan, bisa dipastikan Katrina akan kembali datang melabraknya.

Usai memasukkan surat pengunduran diri ke dalam amplop, Kia melemparkannya dengan kasar sampai mengenai wajah Katrina. Katrina langsung berteriak heboh, sampai memanggil satpam untuk mengusir Kia dari kantor.

“Maaf ya, saya ini nggak seperti Nyonya yang mau-maunya nikah sama laki-laki bau tanah cuma karena harta! Saya juga masih punya tipe ideal! Asal Nyonya tahu, pacar saya masih muda, jauh lebih ganteng daripada Pak Guntoro yang udah keriput sama ubanan!” cerocos Kia saat satpam baru saja datang untuk mengusirnya keluar.

“Dasar kurang ajar!” teriak Katrina, semakin heboh, menjadi hiburan tersendiri bagi para staf lainnya.

“Lo yang kurang ajar karena tiba-tiba ngelabrak orang yang nggak bersalah! Dasar pelakor! Dasar gila harta! Nanti kalau Pak Guntoro ketemu cewek yang lebih cakep juga lo bakal ditinggal!”

“Kamu—”

Kia mengacungkan jari tengahnya, lalu berjalan meninggalka kantor dengan langkah percaya dirinya. Suara pantofelnya menggema di lorong kantor, tak lama kemudian Kia mendapat banyak sorakan dari para staf yang

“Kia! Kia! Kia!”

Kia mengibaskan rambut, lalu melambaikan tangan seperti model yang sedang berjalan di atas catwalk. Kalau sudah begini Kia jadi semakin bangga pada dirinya sendiri karena berani membalas ucapan-ucapan kasar Katrina padanya.

Walaupun setelah keluar dari kantor Kia langsung menyesali perbuatannya. Perempuan itu duduk di dekat semak-semak, langsung mengacak rambutnya dengan kasar.

“Kia gila! Kenapa coba harus ngomong kayak gitu sama Nyonya Katrina? Terus habis ini aku harus kerja apa? Masa jadi pengangguran? Ah—minta maaf aja kali ya sama Pak Guntoro? Eh, tapi mau ditaruh mana harga diri ini kalau tiba-tiba masuk ke kantor lagi?”

Begitulah Kia yang sedang meratapi nasibnya, sekarang resmi menjadi pengangguran. Padahal apa yang dituduhkan oleh Katrina sama sekali tidak benar.

Bukankah seharusnya Kia bisa mempertahankan pekerjaannya? Bahkan Kia yakin Pak Guntoro akan berada di pihaknya seandainya mereka akhirnya berdebat panjang. Tapi, emosi Kia sudah terlanjur meledak saat dituduh sebagai wanita simpanan.

Kia berjala mondar-mandir di depan kantor, berpikir baik-baik apa yang harus dilakukannya setelah ini. Pengunduran diri ini terlalu mendadak, sialnya sisa uang tabungan Kia sangat sedikit karena bulan lalu membayar uang kuliah adiknya yang masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat tiga.

Akhirnya, Kia memilih untuk menelepon pacar tercintanya, Hasta Damarlangit yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang reporter.

“Halo? Kenapa, Ki?” tanya Hasta di seberang sana, sepertinya sedang tidak sibuk karena langsung mengangkat telepon dari Kia.

“Bisa jemput aku di kantor, Ta? Aku ada masalah,” sahut Kia sambil menggigit kuku jarinya.

“Hah? Masalah apa? Kamu digodain lagi sama cleaning service yang baru?”

“Aku hari ini berhenti kerja, Ta.”

“Kok bisa? Kenapa bisa sampai berhenti kerja?”

“Makanya kamu cepetan jemput aku ke kantor, biar aku bisa cerita panjang lebar.”

“Oke. Aku meluncur ke sana sekarang juga. Tunggu di tempat biasa, ya.”

Setelah itu sambungan telepon terputus. Kia duduk di trotoar, menatap ke arah jalanan yang siang ini padat merayap. Sekali lagi, perempuan itu sedang meratapi nasibnya yang hari ini resmi jadi pengangguran.

***

Thalia Lukita Azkia atau yang akrab disapa Kia merupakan seorang perempuan dua puluh delapan tahun yang berprofesi sebagai sekretaris pribadi Guntoro Winata, direktur perusahaan jasa ekspedisi Winata Express.

Kia mulai bekerja di sana sejak fresh graduate. Saat itu Winata Express masih baru dan belum dikenal masyarakat luas. Bisa dibilang, Kia menjadi saksi bagaimana perusahaan itu berkembang setiap tahunnya.

Enam tahun bukanlah waktu yang singkat dan Kia telah melakukan pekerjaan terbaiknya sebagai seorang sekretaris. Tapi, semenjak Guntoro Winata menikah dengan Katrina satu tahun yang lalu, kehidupan tenang Kia mulai terusik.

“Tenang dulu. Ini esnya diminum biar kepala kamu ikutan dingin,” kata Hasta sambil menyodorkan satu cup es teh pada Kia yang masih kelihatan murung.

Kia menghela napas, “aku masih nggak habis pikir kenapa Nyonya Katrina nuduh aku jadi simpanannya Pak Guntoro. Kamu tahu sendiri kan, Ta, kalau Pak Guntoro udah kakek-kakek. Secara logika, walaupun pak Guntoro kaya raya aku tetep nggak akan mau lah jadi simpanannya.”

“Soalnya si Nyonya Katrina kan dulunya pelakor, diem-diem jadi simpananya Pak Guntoro waktu istrinya Pak Guntoro masih hidup. Jadinya, secara nggak langsung sebenernya dia takut bakal dapet karma, terus ujung-ujungnya ditinggal.”

“Kok kamu tahu sih, Ta? Kamu sebenernya reporter berita atau reporter acara gosip?”

“Kan kamu yang cerita, Ki.”

“Oh ya? Ternyata aku ember banget ya sampai bocorin aib atasan sendiri.”

Hasta langsung tertawa mendengar ucapan pacarnya. Akhirnya mereka memilih untuk duduk santai di depan warung kaki lima yang menjajakan berbagai jenis es dan gorengan.

Kia dan Hasta sudah saling mengenal sejak status mereka sama-sama mahasiswa, lalu sejak dua tahun yang lalu memutuskan untuk berpacaran.

“Menurut kamu sekarang aku harus gimana, Ta? Cari pekerjaan lain atau minta maaf aja sama Nyonya Katrina?” tanya Kia.

“Cari pekerjaan lain aja, Ki. Kamu punya enam tahun pengalaman jadi sekretaris di Winata Express, pasti banyak kok perusahaan yang bakal ngelirik kamu,” sahut Hasta.

“Tapi cari pekerjaan nggak segampang itu, Ta. Persaingannya ketat, apalagi umurku udah hampir tiga puluh. Kebanyakan perusahaan pasti carinya yang masih muda, di bawah dua puluh lima tahun.”

“Jangan pesimis dulu, dong. Tunjukin sama semua orang gimana hebatnya Thalia Lukita Azkia yang semasa kuliahnya dapet dua beasiswa sekaligus.”

Kia tersenyum, sedikit lega setelah Hasta menyemangatinya. Walaupun sejujurnya masih banyak hal yang Kia khawatirkan.

Hasta benar. Kia tidak boleh pesimis, pasti ada banyak pintu yang bisa ia tembus untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin