Perawan Tua Puaskan Saya!

Puaskan Saya!

"Permisi, Pak. Ini kopinya," ucap Vera sembari berdiri di depan meja kerja Alan—pemilik A Group tempatnya bekerja. Ia tampak gugup, tangannya pun sedikit gemetar.

Vera merupakan seorang office girl di perusahaan milik Alan. Usianya sudah menginjak angka 25 tahun. Namun, hingga saat ini dirinya masih betah melajang. Padahal, tetangga sekitarnya sudah sibuk menyebutnya sebagai perawan tua.

"Taruh di meja saya," jawab Alan sembari menatap Vera sekilas kemudian kembali fokus menatap pada dokumen penting yang berserakan di atas mejanya.

Hari sudah cukup malam. Namun, Vera belum juga pulang lantaran disuruh mengantarkan secangkir kopi oleh seniornya. Mau tak mau, ia pun menurut jika tidak ingin kehilangan pekerjaan yang begitu berharga untuknya.

"B–baik, Pak," ujar Vera dengan suara yang terbata-bata. Kakinya melangkah sepelan mungkin. Ia merasa sedikit gemetar, baru kali ini ia bertatapan langsung dengan seorang Alan Aryautama.

Jantung Vera berdetak semakin kencang. Ia gugup, lantaran sering mendengar rumor bahwa Alan merupakan seorang yang cukup kejam dan berhati dingin. Vera menelan salivanya susah payah ketika sudah berada di dekat Alan.

Tangan Vera gemetar ketika memegang cangkir kopi. Ia buru-buru meletakannya ke atas meja. Namun, sayangnya ia tidak meletakan cangkir dengan pas. Alhasil, kopi yang masih mengepulkan uap panas itu pun tumpah dan membasahi dokumen penting Alan yang berada di atas meja.

"Apa yang kamu lakukan? Mengapa hanya menaruh cangkir saja tidak becus?" tanya Alan. Ia lantas berdiri dan menatap nyalang ke arah Vera. Dokumen yang sejak siang tadi ia kerjakan dengan penuh teliti, kini rusak.

"M–Maaf, Pak. S–Saya benar-benar tidak sengaja," ucap Vera sembari membungkukan tubuh. Tangannya semakin gemetar, selain itu kakinya pun semakin terasa lemas.

"Astaga, kamu benar-benar—" Alan mendengkus kesal. Gejolak emosi mulai tumbuh di hati. Napasnya pun mulai naik turun tidak beraturan.

"S–Saya minta maaf, Pak. Sungguh, saya tidak—" Ucapan Vera terhenti ketika Alan semakin menatapnya tajam. Aura dingin pun kian terasa mencekam di dalam ruangan milik Alan.

"Apa dengan minta maaf kamu bisa mengembalikan ini semua?" tanya Alan dengan suaranya yang mengalun rendah penuh ancaman.

Vera menggelengkan kepalanya kemah. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan. Sementara air mata, sudah tampak menggenang di pelupuk matanya. Vera memeluk erat nampan yang sedari tadi ia pegang.

"Kamu tidak perlu lagi bekerja di sini! Pergi sekarang!" ujar Alan, ia menunjuk ke arah pintu keluar. Gurat-gurat emosi mulai terpancar dari wajah tampannya.

Vera membelalakan mata. Ia terkejut mendengar penuturan dari Alan. Vera menggelengkan kepala, ia mendekat ke arah Alan yang sedang berdiri sembari mengepalkan tangan.

"Tolong jangan pecat saya, Pak! Saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini." Vera bersimpuh di dekat Alan. Ia menundukan kepalanya dalam.

"Saya tidak peduli! Kamu pikir saya tidak membutuhkan dokumen ini?" tanya Alan. Ia mengalihkan pandangannya dari Vera. Emosinya semakin memuncak ketika melihat bahu Vera bergetar hebat. Menandakan jika saat ini Vera tengah menahan tangisnya.

"Ampun, Pak. I–ibu saya sedang sakit, adik saya juga sedang membutuhkan biaya untuk kuliah, Pak. Saya mohon jangan pecat—"

"Saya sama sekali tidak peduli dengan keluargamu! Pergi dari sini sebelum saya habis kesabaran!" Alan berkacak pinggang tepat di hadapan Vera.

"Sekali lagi maafkan saya, Pak! Saya tidak sengaja melakukan itu," ujar Vera sembari memeluk kaki Alan. Ia tidak lagi mempedulikan rasa malunya karena benar-benar membutuhkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan.

"Kalau begitu anggap saja saya juga tidak sengaja memecatmu." Alan tersenyum sinis sembari menyingkirkan tangan Vera dari kakinya.

Vera tersungkur, isak tangisnya pecah sudah. Ia mengepalkan tangannya erat. Gelisah dan juga takut membayangi hati. Keluarganya sedang membutuhkan banyak biaya. Ia tidak ingin kehilangan pekerjaan.

"Pak, tolong jangan pecat saya! Apapun akan saya lakukan," ujar Vera sembari berdiri di depan Alan. Ia menunduk, sementara kedua tangannya saling bertaut.

Alan terdiam mendengar ucapan dari Vera. Ia pun menatap Vera dari atas hingga bawah. Pandangannya begitu datar, seolah-olah tidak ada hal yang menarik dari diri Vera.

"Memangnya apa yang bisa kau lakukan?" Alan bersedekap, emosinya tak kunjung reda. Ia justru semakin naik pitam setelah mendengar ucapan Vera.

"Apapun, Pak. Saya rela melakukan apapun asalkan tidak dipecat," jawab Vera. Matanya yang berkaca-kaca menatap ke arah Alan. Jantungnya berdetak kencang, ia sangat berharap Alan mau menerima tawarannya.

Alan tersenyum sinis, ia mendengkus sebal sembari memasukan kedua tangan ke dalam saku celana. Ia berjalan menghampiri Vera yang berjarak tidak jauh darinya.

Melihat Alan yang terus maju, Vera pun melangkahkan kaki ke belakang. Hatinya mendadak takut saat melihat seringai menakutkan dari wajah Alan. Vera terkejut ketika punggungnya terasa menabrak sesuatu yang ternyata adalah dinding.

"Kau takut dengan saya? Bukankah kau ingin melakukan apapun demi pekerjaan?" tanya Alan sembari mengurung Vera dengan kedua tangannya. Suaranya pun terdengar begitu lirih dan menakutkan untuk Vera.

"M–maaf, Pak. Sepertinya kita terlalu dekat kalau seperti ini," Vera memejamkan mata ketika Alan justru semakin mendekatkan wajahnya.

"Bukankah kau mau melakukan apa saja? Kalau begitu, puaskan saya malam ini," bisik Alan tepat di samping telinga Vera.

Vera tertegun, air mata serta merta membasahi kedua pipinya. Selama 25 tahun ia hidup, belum pernah ada seorang pria yang tega mengatakan hal yang menjijikan menurutnya.

Vera memejamkan matanya erat-erat. Bayangan sang ibu dan juga adik yang sedang tersenyum terlintas di pikirannya. Vera terdiam, ia enggan melakukan perintah Alan. Namun, ia juga sedang butuh pekerjaan.

"M–Maaf, Pak. Tidak seharusnya kita melakukan hal buruk seperti itu. Saya—" Ucapan Vera terhenti ketika jari telunjuk Alan menempel di bibirnya.

"Saya tidak suka mendapatkan penolakan. Apapun yang saya inginkan harus terpenuhi," kata Alan. Matanya berkilat tajam, membuat keberanian Vera pun semakin menciut.

Vera terdiam, kakinya terasa semakin lemas. Selain itu, keringat dingin juga sudah membasahi telapak tangannya. Vera menggelengkan kepala lemah. Ia tidak bisa menerima perlakuan dari Alan.

"Saya memilih dipecat, Pak. Kehormatan saya lebih berharga dari pekerjaan ini," ucap Vera. Suaranya terdengar tegas meski sedikit lirih. Ia mendorong Alan sedikit menjauh.

Alan menyeringai penuh kepuasan. Ia lantas menarik Vera dan mengurungnya kembali dengan kedua tangan. Alan membelai pipi Vera kemudian menyingkirkan beberapa anak rambut yang menempel di wajah Vera.

"Sekali saya memerintah, maka tidak ada satu orang pun yang boleh melanggarnya!" kata Alan. Wajahnya semakin dekat dengan Vera.

"P–Pak, tolong lepaskan saya!" ujar Vera. Ia mendorong Alan, tetapi kali ini usahanya sia-sia. Alan justru semakin mendekat padanya.

"Setelah apa yang kau perbuat, sekarang meminta dilepaskan begitu saja?" tanya Alan. Matanya memandang tepat ke arah wajah Vera.

"Saya mohon, Pak. Saya tidak mau melakukan hal itu," jawab Vera. Isak tangannya mulai terdengar, membuat Alan pun berdecak malas. Ia sangat membenci wanita yang mudah menangis dan berwajah polos seperti Vera.

"Kalau begitu kau harus mengganti rugi! Kau tahu berapa nominal kerugian yang saya dapatkan dari kecerobohanmu?" tanya Alan.

Vera menggelengkan kepala pelan. Ia tidak tahu berapa kerugian yang Alan dapatkan. Namun, ia yakin jika jumlahnya tidaklah sedikit.

"S–saya tidak tahu, Pak. Tapi saya berjanji akan menyicil untuk membayarnya," ucap Nana.

"Menyicil? Seumur hidup pun kau tidak akan pernah bisa membayar seluruh kerugian." Alan menyeringai, ia muak melihat wajah polos Vera yang mengingatkannya dengan seseorang.

Alan menyeringai, sebuah ide tiba-tiba tercetus dipikirannya.

"Saya akan bekerja giat untuk membayarnya, Pak. Jadi tolong lepaskan saya," jawab Vera. Ia mencoba melepaskan tangan Alan yang tengah mencekal lengannya.

"Uang saya sudah banyak. Jadi, saya tidak butuh pemberian darimu," balas Alan dengan suaranya yang mengalun rendah. Membuat Vera pun merasa sedikit merinding.

"L–Lalu apa yang harus saya lakukan untuk mengganti rugi, Pak?" tanya Vera.

"Berikan keturunan untuk saya!"

-

Yuhuu ini Novel Queena yang baru yes. Mohon dukungannya!

Jangan lupa tambahkan ke rak, baca, dan berikan komentar ya!

Terima kasih sudah membaca.

Big Love.

Queena A.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin