Hijrahnya Sang Pendosa Rahasia Gadis Bayaran

Rahasia Gadis Bayaran

Ketika sedang berbincang dengan temannya, Intan mendapat sebuah chat masuk di ponselnya. Jika melihat secara kasat mata, tidak akan ada orang yang menyangka bahwa ia sedang bernegosiasi dengan calon ‘pelanggan’.

Chat Intan dan Pelanggan (Tuan A):

Tuan A: Berapa semalam?

Intan: Sepuluh juta

Tuan A: Apa service-nya terjamin?

Intan: Tentu, jika Anda tidak percaya, lebih baik jangan!

Intan selalu ber-akting seolah dirinya tidak butuh, padahal saat ini ia sangat membutuhkan uang itu.

Tuan A: Oke. Saya akan transfer lima juta, sisanya dibayar jika kamu bisa memuaskan saya.

Intan: Sip.

Ketika Intan sedang asik bernegosiasi di kolom chat, temannya membuyarkan keseriusan Intan.

“Tan, lagi ngapain si, lo? Serius banget,” tanya salah satu teman Intan.

Ia terperanjat. Intan sedikit gugup, khawatir temannya akan mengetahui isi chat yang sangat rahasia itu.

"I-ini, aku lagi chat sama Ibu,” jawab Intan berbohong. Meskipun temannya memanggil dengan sebutan lo-gue, Intan tetap dengan aku-kamu agar terlihat alim.

“Nyokap lo masih sakit, Tan?” tanya temannya lagi.

Selama ini ia menjual diri dengan dalih untuk membiayai pengobatan ibunya yang sakit leukimia. Ia mengumpulkan uang agar ibunya bisa menjalani operasi sumsum tulang belakang yang biayanya sekitar satu miliar.

“Iya, ini tadi Ibu bilang obatnya udah mau abis,” jawab Intan.

Namanya Intan Nuriza Azari. Dia adalah mahasiswi tingkat akhir di salah satu kampus ternama. Intan bisa kuliah di tempat itu karena mendapatkan beasiswa.

Selain pintar, Intan pun cantik dan juga alim. Itulah yang orang lain ketahui dan membuat mereka mengaguminya.

"Sabar ya, Tan. Gue salut sama lo. Meskipun kerja banting tulang, tapi lo tetep bisa belajar dengan baik sampe dapet beasiswa." Teman Intan sangat bangga padanya.

Intan tersenyum. "Namanya juga hidup, butuh perjuangan," jawab Intan sambil tersenyum getir.

'Iya, perjuanganku begitu berat. Seandainya kalian tahu, mungkin kalian akan jijik dan tidak mau mengenalku lagi,' batin Intan nelangsa.

Ia mengatakan pada temannya bahwa dirinya bekerja part time di salah satu restoran. Beruntung mereka tidak pernah mencecar Intan. Jika tidak, mungkin ia akan kesulitan untuk menutupi aibnya.

"Ya udah, kita ke kelas, yuk!" ajak teman Intan yang lain.

Mereka pun pergi ke kelas dan belajar hingga sore hari. Ketika kelas sudah selesai, Intan buru-buru pamit pada temannya. Ia harus mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan pelanggan itu.

"Aku duluan, ya," ucap Intan tergesa-gesa.

"Oke, Tan. Hati-hati," jawab temannya. Mereka sudah hafal, jika Intan harus membeli obat, maka ia selalu terburu-buru.

Intan memang selalu menggunakan alasan itu untuk menyamarkan perbuatannya.

"Intan ... mau pulang?" tanya seorang pria yang selama ini menyukai Intan. Namanya Zaki.

"Iya," jawab Intan risih.

"Aku antar, ya?" Zaki menawarkan tumpangan.

"Gak usah, terima kasih. Aku duluan, ya," jawab Intan. Ia berlalu tanpa menunggu jawaban Zaki lagi.

'Susah banget sih deketin kamu, Tan?' batin Zaki sambil memandang punggung Intan yang semakin lama semakin menjauh.

Jika dilihat dari penampilannya, Zaki terlihat tinggi, tampan dan bersahaja. Hal itu pula yang membuat Intan merasa tidak pantas dengannya.

Intan berlari kecil sambil sesekali melihat jam tangannya. "Semoga gak telat," gumam Intan.

"Intan, ya?" tanya Intan pada ojek online yang menunggu di depan kampusnya.

"Iya," jawab ojek tersebut. Ia memberikan helm untuk dikenakan Intan.

Intan mengambil helm itu, lalu menggunakannya. Kemudian ia pun naik ke motor.

'Maafkan aku, Bu,' batin Intan. Ia selalu merasa bersalah setiap kali melakukan hal itu. Namun, Intan tidak mempunyai pilihan lain karena biaya pengobatan ibunya cukup mahal.

"Di situ aja, Bang!" ucap Intan sambil menunjuk Mall yang cukup besar itu. Ia selalu janjian dengan pelanggannya di depan lobby mall tersebut.

Ojek pun berhenti di tempat yang Intan tunjuk.

"Oke, terima kasih, Bang," ucap Intan sambil memberikan helm. Setelah itu ia buru-buru menuju toilet yang ada di mall tersebut.

Setiap hari Intan selalu membawa pakaian cadangan di ransel, untuk mengantisipasi hal seperti ini.

"Yes, untung ada kamar mandi," gumam Intan. Zaman sekarang, tidak mudah mencari kamar mandi atau toilet basah di dalam mall.

Intan bergegas mandi. Ia memastikan tubuhnya benar-benar bersih agar tidak mengecewakan. Setelah itu, Intan mengelap tubuhnya dengan pakaian yang telah ia pakai tadi.

"Oke, beres," gumamnya. Tak lupa ia mengenakan deodorant dan parfume.

Intan keluar dari toilet, kemudian ia merias wajahnya di depan cermin wastafle. "Semoga dia tampan dan masih muda," gumam Intan sambil sibuk merias wajah.

Sudah hampir setahun Intan berprofesi seperti itu. Ia pun telah melayani berbagai macam karakter. Mulai dari yang muda sampai yang tua. Kurus, gemuk, hitam, atau putih, ia sudah terbiasa akan semua hal itu.

Awalnya Intan sempat shock saat harus melayani pelanggan yang sangat aneh. Namun, lama-lama ia mampu menerima bagaimana pun kondisi pelanggannya.

"Sip," gumam Intan saat selesai berdandan. Kali ini ia tidak mengenakan hijab.

Selain untuk menarik pelanggannya, ia pun tidak ingin ada orang lain yang menjelekkan hijab jika ia masuk ke hotel bersama pria nantinya.

"Semoga tidak ada yang mengenaliku," gumam Intan. Rambut panjangnya terurai lurus. Saat ini ia mengenakan dress dusty pink se-lutut.

Intan berdiri di depan lobby. Ia memperhatikan plat nomor mobil yang lewat untuk mencari pelanggannya. Tubuhnya begitu mulus dan seksi, membuat siapa pun menoleh ke arahnya.

"Sepertinya ini," gumam Intan saat melihat mobil sedan mewah berwarna hitam mendekat ke arahnya.

"Intan?" tanya pemilik mobil setelah menurunkan kaca jendela. Ia menyetir seorang diri.

Tanpa menjawab. Intan langsung masuk dan duduk di samping pria itu. "Intan," sapanya sambil mengulurkan tangan.

"Mau di hotel mana?" tanya pria itu tanpa membalas uluran tangan Intan. Ia sama sekali tidak menghargai wanita yang telah ia bayar untuk memuaskan dirinya itu.

"Eum ... terserah Om aja," jawabnya. Pria itu terlihat sepuluh tahun lebih tua darinya, sehingga ia memanggilnya dengan sebutan Om.

"Kamu jangan sembarangan! Saya bukan Om-om, saya masih single," jawab pria itu tidak suka dipanggil Om.

"Oh, Maaf ...." Intan bingung hendak memanggil apa.

"Panggil saya Tuan Muda!" pintanya. Ia ingin memperlakukan Intan seperti budaknya.

"B-baik, Tuan Muda," jawab Intan gugup.

'Pria ini sangat menyeramkan. Apa dia akan menyakitiku?' batin Intan. Ia sedikit gentar melihat pria yang ada di sebelahnya itu.

'Wajahnya begitu tampan, tapi mengapa ekspresinya sangat menakutkan? Apa ada yang salah denganku?' gumam Intan dalam hati.

Biasanya pelanggan yang melihat dirinya akan bersikap manis dan merayu Intan dengan gombalan-gombalan menjijikan.

"Kamu cantik," puji Pria itu.

"Terima kasih, Tuan Muda," jawab Intan sambil tersenyum.

'Ternyata dia tidak sejahat yang aku ki—' Kata hati Intan terhenti setah mendengar kelanjutan ucapan pria itu.

"Tapi sayang, murahan," cibirnya.

***

Assalamu alaikum ....

Marhaban yaa ramadhan ... terima kasih sudah membaca novel ini.

Semoga kita dapat memetik nilai positif dari kisah Intan yang akan berhijrah.

Stay tune terus, dan dukung Mommy dalam kompetisi Ramadhan, ya ....

See u,

JM.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin