Love and Contract Cemburu

Cemburu

*Kantor Rena

"Selamat Pagi Bu Rena..." Sapa Pak Rahmat membuyarkan lamunan bankir cantik itu.

Rena berjalan masuk kedalam kantornya dengan tatapan kosong karena masih memikirkan berita yang berseliweran dimedia tentang pertunangannya. Jangan tanyakan nasib akun media sosialnya yang kini followernya bertambah tapi isi komennya hanya hujatan dan cacian, gadis itu malah menonaktifkan semua akun sosial medianya tanpa beban.

"Eh..pagi Pak..." saut Rena dengan terbata.

"Baru bertunangan ko melamun...!" goda Pak Rahmat.

"Ah...Bapak mah bisa saja, lagi mikirin biaya kawin Pak!" Rena membalas candaan Pak Rahmat

"Renaaaa....selamat ya sahabat ku sayang atas pertunangannya, kalo nikah nanti ngundang-ngundang ya?!" Mia memeluk erat sahabatnya dan mendapat lirikan tajam dari Dini dan Erin.

"Makasih ya Mia sayang, maaf sku ga cerita kemarin-kemarin..." rena berucap dengan memelaskan wajahnya, berharap sahabatnya itu mau memaafkan

"Oh ya, ini kue Ibu kesukaan kamu" tambahnya lagi sambil memberikan satu kotak kue buatan Ibu.

"Aaaa....kalo dikasih ini ga jadi deh marahnya, aku maafin" Mia menggoda Rena dengan kerlingan dimatanya.

"Selamat Rena....saya tidak menyangka, saya bisa menjadi mak comblang untuk kamu dan Pak Kallandra!" Pak Rudi mengulurkan tangan menjabat tangan Rena dan disambut hangat oleh gadis itu.

"Terimakasih Pak, kalo Bapak ga meminta saya untuk mengambil data payroll ke AG Group mungkin saya tidak akan bertemu jodoh saya..." jawab Rena kemudian tertawa renyah.

Dini dan Erin memutar bola matanya jengah mendengar candaan Rena yang menurut mereka tidak lucu itu.

Padahal Pak Rudi saja tergelak mendengarnya, "Kamu bisa saja, ayo-ayo kita brifing pagi..." ajak Pak Rudi sembari menuju Backinghole.

*Kantor Andra

Tuut..Tuut..suara intercom di ruangan Andra berbunyi

"Ya?" jawab Andra singkat

"Pak, ada tamu namanya Ibu Sherly mau bertemu dengan Bapak...," terdengar suara Santi dari intercom tersebut.

"Suruh keruangan rapat..." titah Andra kemudian.

Andra mematikan intercomnya lalu menutup laptop dan pergi keruangan rapat.

"Apakabar Andra?" sapa Sherly sembari mengulurkan tangannya.

"Ya..baik!! Silahkan duduk..." jawab Andra setelah menjabat tangan Sherly.

"Seperti yang waktu itu Tante Mery bilang, aku mau minta kamu ajarin tentang bisnis alm. Papa...kamu bisa bantu aku kan?" Sherly sedikit memohon dengan anggun.

"Boleh...coba aku liat dokumen perusahaan kamu..." balas pria itu hangat

Andra banyak mengajari Sherly, membedah data keuangan dan mengajari bagaimana caranya presentasi. memberikan trik pengambilan keputusan dan menetapkan sasaran perusahaan juga menyusun kebijaksaan, mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan baik secara vertikal maupun secara horisontal.

Tak terasa sudah waktunya makan siang.

"Aku traktir makan siang ya?" ajak Sherly karena merasa berterimakasih, Andra sudah banyak membantunya.

"Baiklah... " jawab Andra dengan terpaksa, sebetulnya ia enggan tapi tidak enak hati untuk menolak karena memang Andra merasa Sherly tidak merayunya, gadis itu hanya membutuhkan keahlian Andra untuk membantunya.

Akhirnya Mereka berdua pergi mencari restoran terdekat dari kantor Andra karena setelah makan siang Andra masih memiliki jadwal meeting dengan para kepala divisi dan direktur dibawahnya.

Keduanya tidak sadar ada kamera dimana-mana, jepretan hengpon jadul juga jepretan kamera wartawan gadungan tidak menunggu waktu lama sudah menjadi pemberitaan di media. Padahal Andra hanya makan siang saja dengan Sherly.

"Baru bertunangan beberapa hari dengan wanita dari kalangan biasa, seorang pengusaha muda sukses di Indonesia sudah berkencan dengan wanita dari kalangan yang setingkat dengannya! Apa Kallandra, nama dari pengusaha muda ini sudah menyesal bertunangan dengan wanita yang jauh dibawah status sosialnya? blaa...blaaa...blaa......" (dibaca dengan gaya baca setajam silet)

Begitu lah cuplikan berita di salah satu infotainment,

*Kantor Rena

Berita itu ditayangkan pada saat Rena dan teman-temannya menonton televisi sambil menyelesaikan pekerjaan setelah tutup cabang.

"Ya eyyaalaaaah menyesal...ga level sih" teriak Erin puas dari meja teller.

"Ssttt...kamu pegawai Bank tapi jelek sekali etitudenya, masa teman satu tim susah kamu malah senang?!" tegur Pak Rudi

"Sabar Rena, kamu tau siapa perempuan itu?" tanya Ibu Firda Supervisor dikantor tersebut.

"Tau Bu, itu namanya Sherly...temannya Mas Andra yang baru pulang dari Amerika, dia pulang untuk memegang perusahaan Ayahnya, menggantikan Ayahnya yang sudah meninggal. Kebetulan Sherly lagi belajar cara memimpim perusahaan pada Mas Andra!" Rena menjelaskan panjang lebar padahal ia pun tidak tau kebenaran sebenarnya, ia hanya berpikir harus membela tunangan pura-puranya kali ini.

Rena memang pernah mendengar langsung tentang Sherly saat pertama kali bertemu dengan Tante Mery di Bandung beberapa waktu lalu, dan informasi tentang Sherly itu, ia jadikan alasan mengenai gosip calon suaminya dengan Sherly.

"Resiko menjadi tunangan orang ternama seperti itu, harus kuat mental...Semangat!!!" tambah Bu Firda lagi sambil mengacungkan tangan yang dikepalnya.

Rena mengangguk seraya mengulas senyum getirnya.

"Sabar Ya Rena" ucap Mia sambil memeluk sahabatnya.

Tidak menunggu waktu lama, ponsel Rena berdering terdapat nama Bapak dilayar ponsel tersebut. Rena segera menjauh menuju pantry yang saat itu masih sepi karena para karyawan sibuk mengerjakan segala macam tugas yang terpending sebelum pulang.

"Hallo Pak?" jawab Rena setelah sampai di pantry.

"Ka, apa betul pemberitaan di TV?" suara Bapak terdengar sedih.

Rena memejamkankan matanya dan menghirup udara sekitar sebelum menjawab pertanyaan Bapak.

"Itu namanya Sherly, Pak...temannya Mas Andra yang baru pulang dari Amerika, dia pulang untuk memegang perusahaan Ayahnya, menggantikan Ayahnya yang sudah meninggal. Kebetulan Sherly lagi belajar cara memimpim perusahaan pada Mas Andra, jadi semua itu ga betul ya, Pak...kedepannya akan banyak pemberitaan seperti ini, Bapak jangan khawatir ya....Mas Andra sangat mencintai Kaka.!" jawab Rena kembali menjelaskan panjang kali lebar keadaan yang ia pun belum yakin kebenarannya dan diakhiri dengan percaya diri yang tinggi bahwa Mas Andranya sangat mencintainya.

"Syukur lah Ka...ya sudah baik-baik disana ya, Kaka tidak perlu dengar omongan orang" Bapak malah menenangkan hati Rena.

"Iya, Pak..." jawab Rena dengan senyum pelik yang tidak bisa Bapak lihat.

Setelah menanyakan keadaan Bapak dan keluarga, juga Bapak yang masih saja berusaha menegarkan hati anak sulungnya itu akhirnya keduanya mengakhiri sambungan telepon.

Sebetulnya hati Rena sakit hati mungkin malu lebih tepatnya, karena status sosialnya yang sangat jauh dibawah Andra dan sekarang ia menjabat sebagai tunangan Presdir tampan itu.

Dibanding-bandingkan dengan Sherly, sungguh nyalinya merasa ciut, Rena merasa inferior, dirinya yang hanyalah gadis biasa saja, dari kalangan menengah kebawah, bersaing dengan Sherly yang tinggi menjulang bak model, cantik luar biasa bak Dewi dari kahayangan dan juga kaya raya sederajat dengan Andra.

Rena menghela nafas gundah, lelah memikirkannya. Tapi kembali ia diingatkan akan kondisinya saat ini hanya sebatas berhubungan kontrak dengan Andra. Seketika ia menepis semua ke khawatiran itu, lalu menipiskan bibirnya membuat lengkung senyum.

Walau bibir dipaksa tersenyum, pikiran yang sudah disugesti sedemikian rupa tapi tetap saja hati tidak bisa dibohongi.

"Sedang apa sebetulnya Mas Andra dengan Sherly di Restoran itu? kalo Mas Andra memang mencintai Sherly kenapa tunangan dengan aku? masa aku harus 'jumpa pers' terus? menjelaskan yang sebetulnya aku pun tidak tau kebenarannya....Harusnya dia bisa jaga diri jika memutuskan untuk menikahi aku" gerutu Rena kesal.

Rena berusaha tegar, menyimpan rapat-rapat kemelut dihatinya sambil membereskan meja karena sudah waktunya pulang.

Dio yang baru saja turun dari lantai prioritas, mengejutkan Rena dengan tingkahnya.

"Kamu seharusnya menikah dengan aku, hati kamu tidak akan tersakiti!" ucap Dio lalu duduk tepat di meja Rena.

"Tapi maaf, dia sudah bertunangan dengan ku" Andra setengah berteriak dari pintu.

Entah darimana datangnya pria itu dan sudah sejak kapan berdiri disana tanpa ada yang menyadari. Andra seperti Pangeran tanpam yang sedang menjemput Tuan Putrinya yang sedang terluka hati, atau super hero yang datang menyelamatkan si gadis pemeran utama yang sedang dianiaya hatinya.

Walau dalam kasus Rena ini, yang sedang melukai hati atau mengniaya hatinya yaitu Andra sendiri.

Wajah Dio pucat pasi saat melihat Andra, pria jangkung itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Semua mata tertuju pada Andra, pria muda tampan nan sukses yang menjadi nasabah prioritas di kantor pusatnya, semua terkejut tak karuan apalagi Dio yang kata-katanya sudah terdengar oleh Andra.

Dini dan Erin mengintip dari balik meja teller.

Mereka sangat terpukau dengan ketampanan Andra yang saat itu masih memakai stelan jas dengan tubuhnya yang kekar, otot-otot yang terpampang jelas dilengannya membuat semua wanita tidak berkedip dan menelan saliva saat melihat Andra.

"Pak Andra, apa kabar? saya Rudi kepala cabang Rena..." Pak Rudi yang kebetulan ada disana langsung memperkenalkan diri

"Baik Pak Rudi, apa boleh saya jemput Rena sekarang?" balas Andra dengan ramah,

"Rena sudah selesai pekerjaanya?!" tanya Rudi kepada Rena

"Sudah Pak...Rena pulang duluan ya.." Rena pamit pada Pak Rudi dan teman-temannya.

"Mari Pak Rudi..." Andra pamit pada Pak Rudi sambil menganggukan kepala sekilas, pria itu menggenggam tangan Rena hingga masuk kedalam mobil.

"Apa-apaan tadi?" tanya Rena sambil mengernyit, kini keduanya sudah berada didalam mobil.

"Apanya yang apa?" Andra balik bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari kemudi.

"Menggenggam tangan aku sewaktu keluar dari kantor..." tanya Rena ketus.

"Kan ceritanya kita sudah bertunangan..." jawab Andra santai

"Ooooh...kirain permintaan maaf?" celetuk Rena sarkas

"Minta maaf karena apa?" kini Andra yang mengernyitkan dahi, ia merasa tidak memiliki salah apapun kepada gadis itu.

"Karena sudah membuat pemberitaan heboh sejagat Indonesia" ketus Rena dan barulah Andra tersadar tapi sama sekali ia merasa tidak berdosa.

"kamu nonton beritanya?" dengan santainya pria itu bertanya.

"Bukan aku aja Mas yang nonton, orang kantor, keluarga bahkan Bapak sampai telepon...Harusnya kalo Mas memutuskan untuk menikah dengan aku, Mas harus bisa jaga diri donk...kalo memang Mas suka sama Sherly, kenapa ga dia aja yang Mas nikahi?" cecar Rena dengan menaikan nada bicaranya.

Seperti biasa Andra hanya diam, tidak bisa berkata apa-apa. Ia sedang mencerna perkataan tunangannya itu sambil menahan emosinya yang sudah mulai tersulut.

"Mengapa Rena semarah ini? Sherly kan hanya mengajak ku makan siang" batin Andra

"Mau makan apa?" tanya Andra tanpa menghiraukan kekesalan Rena, pria itu mengalihkan pembicaraan karena menurutnya hal seperti ini bukanlah hal yang penting.

Tapi ternyata tidak bagi Rena, gadis itu membalas dengan hanya menggelengkan kepalanya, ia begitu kesal dengan sikap acuhnya Andra.

Andra mengantarkan Rena hingga apartemen, setelah ia memarkirkan mobilnya, Rena langsung turun tanpa memperdulikan Andra kemudian memencet tombol lift.

Didalam lift, Andra memperhatikan wajah kesal Rena yang terlihat dari pantulan dinding Lift yang seperti cermin. Kalau boleh jujur, Andra lebih memilih membuat proposal untuk melakukan kerjasama dengan Warrent Buffet seorang investor ulung terkenal didunia daripada harus menghadapi Rena saat ini.

Ting... Pintu lift terbuka.

Rena berjalan menuju pintu apartemen dengan Andra masih mengekor dibelakangnya.

Beberapa langkah sebelum pintu apartemen, Rena menghentikan langkahnya kemudian berbalik.

"Mas mau kamana?" tanya Rena ketus

Andra mengendikan bahu.

"Ya ke apartemen aku lah..! " kemudian berjalan mendahului Rena menuju pintu apartemen dan mengetikan passcode.

"Iya juga ya ini kan apartemennya" batin Rena

Keduanya pun masuk kedalam apartemen dengan Rena mendahului masuk kedalam kamar dan membanting pintu kamar kemudian membersihkan dirinya dikamar mandi.

Brughhh...

Mendengar suara pintu yang dibanting Rena membuat Andra menjadi salah tingkah dan serba salah, ia tak tau apa yang harus dilakukan karena saat itu Rena terlihat sangat marah. Andra duduk di depanTV mengganti-ganti chanel TV, sambil memesan makanan untuk makan malam.

Bila seorang wanita akan luluh dengan tas mahal atau perhiasan mahal, seorang Rena akan luluh hanya dengan makanan walaupun makanan senderhana. Maka dari itu Andra memesan makanan berharap Rena melupakan gosip yang sudah terlanjur beredar dengan melahap makanan pesanannya.

Setelah Rena keluar dari kamar, makanan sudah tersaji diatas meja.

"Makan dulu" ajak Andra sambil menarik kursi meja makan.

Rena tidak menjawab kemudian mengambil segelas air putih.

"Ayo makan dulu nanti kamu sakit, kamu marah ya? udah donk marah nya" bujuk Andra, mungkin hari ini akan hujan badai karena seorang Andra yang dingin, ketus, sering marah-marah kali ini membujuk Rena dengan suara rendahnya.

"Memangnya kalo aku marah, apa peduli Mas? Kalo aku sakit apa peduli Mas?" Rena menyauti dengan menantang dan menaikan intonasi suaranya.

Pertanyaan Rena membuat darah Andra kembali mendidih, Andra merasa sangat kesal karena Rena sudah menantangnya, kemudian berbicara ketus dan sengaja membanting pintu kamar dengan kencang. Kini saat ia sudah berbaik hati untuk memesan makanan karena ia peduli pada gadis itu, malah dihujani dengan kalimat sarkasme.

"Oh iya...kamu kan hanya wanita bayaran saja" jawab Andra dingin dengan alis tertaut.

Rena membanting gelasnya ke meja, lalu menatap Andra dengan mata yang membendung buliran bening yang sudah nenumpuk dipelupuk matanya, wajah cantik itu terlihat sedih dan kecewa, semburat sakit hati terlihat jelas di matanya.

Andra melihat jelas mata dan ekspresi Rena membuat sudut hatinya berdenyut nyeri, Rena masuk ke kamar dengan kembali membanting pintu.

Andra menyesal atas apa yang sudah ia katakan pada Rena. Andra merasa bersalah sudah berkata seperti itu. Ia memutuskan untuk pulang memberikan ruang dan waktu untuk Rena.

Di dalam kamar Rena menangis terisak, hatinya sangat sakit. Ia menumpahkan semua kekesalan, kecewa dan sakit hatinya sendirian.

Bila hanya ia yang sakit hati dan kecewa tak apa, ia sudah biasa merasakannya tapi kini orang tua dan keluarganya juga mau tak mau berperan dalam sandiwara yang ia mainkan. Dan ia tak mau melihat hati kedua orang tuanya kecewa dan bersedih.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin