Love and Contract Tunangan

Tunangan

Sepulang kerja Andra dan Ricko membawa Rena makan malam di resto yang terkenal dengan hidangan Timur Tengahnya.

"Pasti ada yang mau di omongin" batin Rena sambil memainkan ponsel ditangan, padahal ia hanya menggeser-geser layar ponsel tersebut tanpa ada yang menarik perhatiannya.

Rena memang gadis ekstrovert kebalikan dari Andra tapi ia juga bukan gadis narsis atau suka mencari perhatian dengan posting segala sesuatunya di media sosial. Hanya sedikit foto-foto yang memenuhi akun isntagram dan facebooknya dan ia pun tidak begitu peduli atau tertarik dengan kehidupan orang lain disosial media, mungkin karena merasa hidupnya terlalu keras untuk dirinya sendiri hingga tidak ada waktu untuk mengurusi kehidupan orang lain.

Seperti sekarang ini, saat kedua pria tampan yang katanya mengajak makan malam tapi malah sibuk dengan macbooknya masing-masing sambil menunggu pesanan datang, Rena merasa bosan dan hanya pura-pura memainkan ponselnya.

Rena berdekehm, kemudian menyimpan ponselnya.

"Ekheeemmmm...." Rena menatap dua pria didepannya secara bergantian.

Bukan maksud tidak peduli dengan pekerjaan mereka, tapi "Hellooo...kalau memang ga ada keperluan kan bisa makan sendiri-sendiri aja di rumah dari pada aku harus bengong sendirian disini..." gerutu Rena dalam hati.

"Sorry....." hanya Ricko yang berucap lalu meletakan Macbooknya diikuti dengan Andra.

"Jadi gini Rena...kemarin kita itu datang ke rumah orang tua kamu untuk meminta kamu menjadi istri Andra dan Bapak sudah setuju!" tutur Ricko tanpa beban.

"Heuh?" Rena tercenung, pasalnya Bapak dan Ibu tidak sedikit pun mengabarinya.

"Ia...jadi minggu depan kalian tunangan! Kamu ga ada acara kantor kan akhir minggu depan?" tambah pria itu lagi dengan tenang, karena Ricko yakin Andra tidak akan menjelaskan apapun maka dari itu Andra memaksanya ikut.

"Cepet banget Mas?" balas Rena dengan tatapan menuntut penjelasan.

"Kan biar secepatnya kalian menikah, Rena!" Ricko berujar dengan santai.

"Oooh...." Rena membulatkan mulutnya lalu menggigit bibir bawah, lagi-lagi Andra gemas dibuatnya.

Rena pernah bermimpi, suatu hari ia akan dilamar oleh seorang pria yang merupakan jodoh yang Tuhan berikan untuknya. Lamaran yang romantis disalah satu restoran tidak perlu mahal, atau dipinggir danau dan sang pria berlutut dengan cincin ditangannya atau mungkin datang kekantornya melamar didepan seluruh teman sekantor seperti yang sering ia lihat di televisi.

Dan lamarannya kali ini, bahkan sang pria tidak mengatakan apapun tidak sesuai dengan yang ada dalam mimpi Rena selama ini. Rena tersenyum getir, tapi memang Rena sudah berhutang kepada Andra dan kali ini Rena berkewajiban membayarnya sesuai dengan kontrak yang sudah ia tanda tangani.

* Rumah Om Salim

"Andra? ada apa? Tumben datang masih sore?" tanya Tante Mery heran tapi bahagia karena dikunjungi keponakan kesayangannya.

"Iya Tante tadi udah janjian sama Om disini..." jawab Andra sambil mendudukan tubuhnya di sofa.

"Oh ya? kenapa Om kamu ga cerita ya, tau gitu tante buat makan malam spesial"

"Ga apa-apa Tante...ada yang mau Andra omongin sama Om dan Tante...."

"Ooo...baiklah, kita tunggu Om mu pulang ya sayang..."

Beberapa jam mereka menunggu sambil bercerita tentang Rena dan juga kegiatan tante Mery sebagai seorang sosialita, lebih tepatnya Tante Mery yang banyak bercerita dan Andra hanya tersenyum merespon cerita Tante kesayangannya itu, sampai akhirnya Om Salim pulang.

Ketiganya langsung menuju meja makan, karena kebiasaan Om Salim yang selalu ingin makan malam di rumah bersama istrinya agar perasaan cinta keduanya selalu tumbuh dan bersemi, begitu kata Om Salim.

"Jadi gini Om, rencananya Andra mau melamar Rena weekend nanti, Om dan Tante bersedia kan nemenin Andra?"

Ucapan Andra tadi menghentikan Om Salim meneguk kopinya selepas makan malam,

"Kamu serius Andra?" tanya Om Salim meyakinkan

"Andra serius , Om!" jawab Andra sambil menganggukan kepala.

"Syukurlah...Om senang mendengarnya" ucap Om Salim tulus

"Kalau begitu besok Mama mau belanja buat dibawa ke acara tunangan nanti ya, Andra coba tanya Rena apa ada request?" Tante Mery bersemangat,

"Maksudnya seserahan Tan? bukannya itu dibawanya nanti pas nikah ya?" Andra mengernyit,

"Iya betul, tapi acara tunangan juga kita perlu bawa sesuatu dooonk, gimana sih kamu ini!! Udah deh, masalah itu biar Tante yang urus ya!" ucap Tante Mery sambil mengibaskan tangan.

Menjelang acara pertunangan, Rena sama sekali tidak dilibatkan. Bahkan ia sendiri bingung kenapa Ibu dan Bapak tidak mengabari sama sekali, berkali -kali Rena menghubungi orang tua dan adik-adiknya kompak menjawab "Tenang aja...Kaka fokus aja kerja, biar kita yang urus disini!"

Rena juga heran saat menanyakan berapa uang yang dibutuhkan untuk menyambut keluarga Andra nanti, dan lagi keluarganya menjawab "Ga perlu, simpan aja uangnya buat Kakak sendiri"

Rena berpikir mungkin Andra sudah menghandle semuanya, dan ia pun tidak bisa protes karena memang menyangkut nama baik Andra juga. Rena hanya bisa pasrah, seperti kata Om Bimo pengacara Andra "He's the Bos!!"

*****

Hari pertunangan telah tiba, semua keluarga besar menyambut gembira, jalan komplek di depan rumah Rena sudah dipadati dengan mobil keluarga beserta tamu yang terparkir dan berjejer rapih. Rumah Rena pun sudah dihias sedemikian rupa dengan decor dari EO ternama di Bandung.

Rena di dandani dengan sangat cantik, semua menunggu keluarga Andra dengan tegang, apa lagi Bapak dan Ibu. Wartawan sudah banyak berkumpul di depan Rumah, berita pertunangan Andra mulai tersebar ke seantero Negri, semua media ingin meliput acara pertunangan Andra dan Rena.

Sebagai seorang pengusaha muda yang sukses, nama Andra sudah terdengar hingga mancanegara apa lagi didalam negri. Dunia entertainment pun kadang menyangkut pautkan nama Andra dengan sederet artis ternama yang menjadi model untuk iklan dari produk yang dihasilkan perusahaannya.

Andra memberikan pengamanan ketat untuk menjaga rumah Rena, beberapa penjaga berpakain sapari hitam ditugaskan di depan gerbang dan diluar rumah agar wartawan tidak bisa masuk, keluarga pun sudah diberi peringatan untuk tidak memberikan pernyataan kepada wartawan. Warga disekitar rumah Rena kebingungan karena banyak sekali orang di luar dan dalam rumah Bapak Rony.

Andra datang bersama Om..Tante..Ricko, Santi dan beberapa keluarga dekatnya. Andra memang tidak banyak memiliki keluarga seperti Rena.

"Ka...kaka mau nikah sama siapa sih? Kok sampe wartawan datang segala?" tanya Bibinya Rena

"Salah satu orang kaya di Negri ini Bi, pengusaha muda sukses, sebentar lagi Ka Rena akan jadi Horang kaya" sela Aras

"Ssttt...udah ah jangan ngomongin itu malu!!" seru Rena sambil menyimpan telunjuknya dibibir.

Rena tidak merasa bahagia sedikit pun, baru menjadi kekasih pura-puranya saja ia hampir kehilangan nyawa di lemari pendingin, bagaimana bila sudah menjadi istrinya nanti? Tidak tahu apakah ia bisa menjalaninya hingga tenggat waktu yang tertulis didalam kontrak, tapi hari ini gadis cantik itu berusaha tersenyum, malah ia sudah berlatih malam sebelumnya, ia tidak ingin orang-orang melihatnya bersedih yang seharusnya menjadi hari bahagia untuknya.

"Demi Ibu dan Bapak juga adik-adik..Demi 100Juta, Eh 5M! harus kuat harus bisa!" batin Rena menguatkan dirinya sendiri.

Andra dan keluarga memasuki rumah, disambut oleh Ibu Susi dan Bapak Rony , saat itu Andra sangat tampan memakai batik lengan panjang berwarna Dusty dengan celana kain warna coklat pekat. Begitu pun dengan Rena yang hari ini terlihat sangat cantik dengan kebaya modern ala Sunda membalut tubuh indahnya juga make up flawles yang semakin memancarkan aura kecantikan naturalnya, tanpa sadar sedari tadi mata Andra terus menatap kearah sang tunangan kontrak.

Andra begitu gugup saat memasukan cincin ke jari manis Rena, seharusnya ia tidak perlu gugup seperti itu karena ini semua adalah sandiwara, tapi hati tidak bisa dibohongi, dan hati itu sekarang sudah mengkhianati pemiliknya.

Jauh direlung hati yang paling dalam, Andra merasa bahagia dengan acara pertunangan ini tapi sayang si pemilik hati belum menyadarinya.

Acara tukar cincin berlangsung lancar dilanjut foto-foto dan makan bersama. Walaupun ada sedikit insiden wartawan yang nekat naik ke atap rumah Rena.

"Ini Jeng Susi yang masak?" Tanya Tante Mery

"Oh Iya Mba Mer...kebetulan saya hoby masak, jadi saya ingin menghidangkan hasil masakan saya untuk calon menantu dan keluarga" jawab Ibu dengan bangga.

"Hebat sekali Jeng, enak banget loh ini Jeng..." puji Tante Mery tulus,

"terimakasih Mba Mer...saya senang kalo Mba Mer suka, kapan-kapan kalo ke Bandung mampir lah kesini, nanti saya masakan makanan kesukaan Mba Mer.."

"Ah..terimakasih loh Jeng, nanti pasti saya akan sering kesini..!" balas Tante Mery sambil tertawa renyah.

Kedua calon besan itu pun terlihat sudah akrab sesekali mereka tertawa bersama. Melihatnya, Rena menjadi merasa berdosa.

"Bagaimana keadaan Pak Rony sekarang?" Tanya Om Salim

"Sekarang sudah membaik Pak Salim, terimakasih sudah bertanya..." Bapak merasa tersanjung, orang kaya seperti Om Salim begitu perhatian kepadanya.

"Sekarang kita akan jadi besan, saya harap Pak Rony jangan sungkan...hubungi saya bila butuh bantuan, saya akan berusaha membantu!"

"Ya Pak Salim..terimakasih banyak..."

Suasana terasa hangat dan bahagia, Rena dan Andra pun selalu tersenyum. Apalagi Andra yang biasanya selalu keliatan dingin, hari ini senyumnya selalu mengembang menghiasi bibir tipisnya. Santi menjadi ikut bahagia melihat Bosnya bahagia.

"Bu Rena lah yang berhasil melelehkan Gunung Es di hati Pak Andra" gumam nya lirih.

Setelah acara selesai, tinggal lah keluarga inti untuk membicarakan konsep pernikahan. Ibu dan Tante Mery sempat berdebat, namanya emak-emak kan ga mau kalah, mereka lupa yang nikah itu anaknya.

"Ibu..Tante Mery..mohon maaf tanpa mengurangi rasa hormat bagaimana biar Rena dan Mas Andra yang mengatur pernikahan kita?" ujar Rena menengahi perdebatan yang entah kapan akan berakhir.

"Setuju...ini pernikahan mereka sekali untuk seumur hidup, biar mereka yang merencakan dan mengaturnya, dan biar kan WO membantu! Kita sebagai orang tua mendukung saja lah ya..." ujar Om Salim.

"Sekali seumur hidup?" batin Rena dan Andra dalam hati

Semua setuju, dan pertemuan itu pun dilanjutkan dengan perbincangan ringan.

Telepon genggam Rena berbunyi, terlihat dilayar ponsel terdapat panggilan dari Mia

"Hallo...Mia?" jawab Rena.

"Renaaa...kamu kenapa tunangan ga ngundang-ngundang?! kamu anggap aku ini apa, hah?" teriak mia di seberang telepon.

"Kamu tau dari mana aku tunangan?" Rena malah balik bertanya dengan heran.

"Tuuuh...lagi live berita di TV, dengan Headline News "Seorang pengusaha sukses di Indonesia menikahi wanita dari kalangan biasa"

"Yang bener???" Pekik Rena dengan membulatkan kedua mata indahnya.

"Tapi mereka belum tau muka kamu dengan jelas, hanya ada beberapa foto yang di tampilkan, kamu lagi di butik, lagi belanja dengan wanita paruh baya, lagi Pesta tapi wajah kamu ga jelas di foto-foto itu!"

"Aduuuh gawat!!!" teriak batinnya.

"Senin besok di kantor heboh nih Ren...tapi seenggak nya kamu ga di gosipin sama om-om lagi kan hehe" canda Mia.

"Makasih Mia infonya, senin aku bawain kue buatan ibu kesukaan kamu,maaf aku ga ngabarin kamu ya, kamu tau sendiri kan aku tunangan sama siapa?" ucap Rena hati-hati, merasa sangat bersalah karena tidak memberitahu Mia padahal berkali-kali Mia menanyakan tentang hubungannya dengan Andra.

"Iya Rena sayang...baik-baik disana ya" Mia mengakhiri penggilan teleponnya.

Rena menghampiri Andra yang sedang asyik bercerita dengan Aras.

"Ras... Kaka mau mengobrol bentar sama Mas Andra!" Rena memberi kode agar Aras meninggalkan mereka berdua karena sesuatu yang akan ia bahas dengan Andra sangat rahasia.

Aras berdecak kesal, merasa terganggu saat sedang asyik berbincang dengan calon kakak laki-laki yang belum pernah ia miliki sebelumnya.

"Ck... Iyaaa, dia milik mu Kaaa" Aras dengan malas beranjak dari duduknya.

Setelah Aras menjauh barulah Rena menceritakan info yang disampaikan Mia tadi.

"Mas...barusan Mia telepon, acara tunangan kita masuk TV!" ucapnya setengah berbisik.

"Ya udah lah mau gimana lagi, kan ini juga salah satu misinya...mulai senin besok kamu pulang pergi aku anter, kalo aku ga bisa, nanti Pak Syam yang antar jemput!" bisik Andra.

Rena terdiam tidak menjawab atau menanggapi, kali ini perasaannya benar-benar tidak tenang.

Beberapa detik kemudian berbagai pertanyaan bermunculan di benaknya.

"Mas... Mungkin ga wartawan nanti datang ke kantor pura-pura jadi nasabah trus mereka mewawancarai aku? " tanya Rena polos

Andra tersedak orange jus yang sedang ia minum mendengar pertanyaan bodoh dari gadis yang baru saja ia sematkan cincin ke jarinya itu.

"Bisa jadi... " jawabnya datar kemudian menaikan satu alisnya.

Rena memicingkan matanya.

"Trus kalau gitu gimana?" tanya Rena lagi

"Ya tinggal jawab aja kalau kita udah tunangan dan akan segera menikah" celetuk Andra enteng.

"Iya juga ya... " batin Rena

"Trus nanti aku bakal masuk infotainment donk? Diundang diacara-acara talkshow gosip gitu? Lalu nanti setelah 5 tahun kita bercerai pasti akan heboh juga ya?"

Kini pertanyaan Rena berhasil mencuri perhatian Andra, ia tak bisa menjawab. Mereka saling tatap, Andra menatap Rena sambil mencerna perkataan yang baru saja gadis cantik itu lontarkan sedangkan Rena menatap Andra menunggu jawaban dari tunangan tampannya.

Aktifitas saling tatap mereka harus terhenti oleh ulah iseng Ricko.

"Hey!!" teriak Ricko sambil menepuk pundak Rena dan Andra

Sontak keduanya terkejut, tatapan membunuh seketika Andra layangkan kepada sahabatnya itu.

Ricko terkekeh...

"Kalian baru tunangan ya, belum boleh melakukan hubungan yang hanya suami istri yang boleh melakukannya jadi jangan saling menatap terlalu lama karena syetan bisa nyempil diotak kalian"

Tawa Ricko kini mengambil alih perhatian seluruh keluarga yang berada diruangan itu.

"Iya elu setannya" balas Andra ketus.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin