Love and Contract Melamar

Melamar

Masih di dalam dibioskop,

Andra menyimpan popcorn tepat ditengah, diatas tangan kursi agar memudahkan Rena untuk mengambil popcorn tersebut, lain halnya dengan Rena yang menyimpan nachos dipangkuannya. Gadis itu terlihat menikmati film, kedua mata cantiknya tidak lepas dari layar lebar sedangkan tangan dan mulutnya tidak berhenti beraktifitas. Sesekali tangan Rena mengambil popcorn setelah memakan nachos, kening Andra terlipat dalam melihatnya.

Andra memesan nachos sebetulnya untuk dirinya sendiri, tapi nachos itu malah Rena kuasai jadi saat Rena akan mengambil popcorn, Andra menjauhkannya, sontak gadis itu menoleh dan kesempatan untuk Andra protes karena nachos miliknya berada dalam kekuasaan Rena.

Cukup dengan kode mata dari Andra, kali ini Rena sudah mengerti "Oooh...Mas mau ini? bilang donk!!" ucapnya kasual seraya memberikan nachos kepada Andra untuk ditukar dengan popcorn. Sayangnya nachos itu tinggal sedikit, tidak membutuhkan waktu lama sisa nachos sudah berpindah ke perut Andra, setelah itu Andra menarik kembali popcorn di pangkuan Rena dan menyimpannya ditengah.

Rena dan Andra bergantian mengambil popcorn hingga saat keduanya mengambil popcorn secara bersamaan, Andra malah mengapit jari Rena didalam cup popcorn tersebut. Rena menoleh lalu tersenyum kepada Andra dan senyum itu mampu membuat jantung Andra berdebar.

Rena menarik tangannya dari dalam cup popcorn kemudian mengeluarkan tissue basah dari dalam tas lalu mengelap jemarinya, tanda bahwa ia telah selesai dengan popcorn.

Film tersebut mulai memasuki part erotis dimana pemeran utamanya saling berciuman dan memadu kasih diatas buaian ranjang, Rena sontak menghadapkan wajahnya pada Andra sambil menutup mata, membuat fokus Andra teralihkan dari film yang sedang berlangsung, dan susah payah Andra menelan saliva saat melihat gigi kelinci itu menggigit bibir bawah yang tebal dibagian tengahnya.

Sekilas Rena mendengar suara decapan, kemudian membuka mata lalu memicingkan mata untuk memperjelas apa yang ia lihat karena penerangan yang minim didalam bioskop, bahkan melewatkan Andra yang sedang menatapnya. Rena sedikit mendongak tapi Andra menahan kepalanya, tangan kekar itu menangkup sisi wajah Rena agar bersandar kembali di sandaran kursi.

"Jangan dilihat, mereka lagi ciuman" Andra berbisik tepat didepan wajah Rena hingga gadis itu bisa mencium harum nafas Andra.

Wajah mereka hanya berjarak lima senti meter saja, diikuti dengan jantung Rena memukul rongga dadanya, bibir Rena sedikit terbuka dan mengedip beberapakali mengibas bulu mata lebat nan lentik miliknya, Andra kembali menelan saliva menatap bibir Rena membayangkan mengecup bibir yang seolah sedang menantangnya itu.

Setelah tersadar, keduanya langsung menghadap layar bioskop kembali. Dan tidak terjadi hal romantis apapun hingga film tersebut selesai.

Para penonton keluar bioskop secara berbarengan, Rena tidak bisa mengejar langkah Andra yang lebar, beberapa kali ia terhalang pasangan yang saling berangkulan atau hanya sekedar saling menggenggam hingga Andra sudah luput dari pandangannya.

Rena mengambil ponselnya dari dalam tas untuk menghubungi Andra tapi ternyata ponselnya mati karena kehabisan daya batre, Rena mengesah. "Pasti Mas Andra marah lagi nih..."

Rena menunggu didepan pintu utama bioskop, karena ia sudah tidak kuat menahan kandung kemihnya yang sudah penuh, gadis itu pun mencari toilet. Dengan terburu ia menuntuskan ritualnya ditoilet kemudian kembali menunggu Andra di pintu bioskop.

Rena sudah hampir menangis, bukan takut untuk pulang sendiri tapi ia tau Andra pasti akan marah besar belum lagi banyak yang memperhatikannya berdiri sendirian dipintu bioskop, membayangkan Andra akan membentaknya didepan banyak orang, makin membuat Rena cemas hingga bergidik ngeri.

Gadis itu terus menggigit bibir bawahnya, kebiasaan yang ia lakukan saat sedang cemas atau gugup. Sambil meremas jemarinya, Rena memutuskan untuk mencari Andra lantai demi lantai dan bila masih belum ketemu juga ia berpikir akan menunggunya di basement.

Akhirnya Rena turun menggunakan elevator ke lantai dibawahnya, menyusuri lantai tersebut sambil menajamkan indera penglihatan memindai setiap butik mencari Andra kemudian berlanjut ke lantai dibawahnya dan dilanjutkan kelantai berikutnya tapi Rena masih belum bisa menemukan Andra. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu di basement.

Saat Rena berbalik, ia melihat Andra sedang berjalan kearahnya dengan alis tertaut dan tatapan tajam seolah hendak memakan Rena hidup-hidup, gadis itu menegang dan berhenti bernafas beberapa detik.

"Kamu dari mana aja sih?" seru Andra dengan sedikit membentak saat sudah berdiri didepan Rena.

"Mas yang kemana aja? dipegang donk tangan akunya, Mas...... Kaya orang lain tuh, ini main pergi aja...aku kesalip terus tadi" Rena berani melawan seiring dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.

Beberapa pengunjung yang lalu lalang sedikit melirik kearah mereka, Andra membuang nafas kasar kemudian mendekati Rena dan merangkul pinggang ramping itu membawanya menuju basement.

Kini tubuh Rena menempel dengan tubuh Andra, pria itu tidak melepaskan tangannya dari pinggang Rena hingga masuk kedalam mobil, berkali-kali Rena mengusap air matanya dengan punggung tangan. Mungkin karena hormon PMS, Rena menjadi seemosional ini.

"Dasar cewe, bisanya nangis!" Andra menggerutu dalam hati.

Dalam perjalanan, Rena hanya menatap jendela disebelah kirinya dengan wajah murung. Andra mengurungkan niat untuk berhenti direstoran dan lebih memilih melajukan kendaraanya langsung menuju apartemen padahal ia sudah merasakan lapar diperutnya.

Rena langsung menuju dapur sesaat setelah sampai di apartemennya, ia akan membuat mie rebus untuk makan malam. Hari ini ia sudah melewatkan makan siangnya karena takut Andra akan mengajaknya makan siang dan ia pun melewatkan makan malamnya karena ada acara kucing-kucingan dengan Andra di mall tadi dan menyebalkannya lagi Andra tidak membawanya ke restoran untuk makan malam.

"Harusnya tadi aku aja yang ngajak dia makan, jadi kelaperan gini kan?" gumamnya sambil menahan lapar.

Saat Rena sedang sibuk di dapur, Andra sibuk dengan ponsel barunya di ruang TV, Rena mengintip pria itu sedang membuka dus ponsel dengan harga yang cukup mahal, yang hanya bisa ia beli dengan bonus tahunannya saja itu pun bila ia mendapatkan penilaian rangking satu di kantornya.

"Mas Andra mau aku buatin Mie juga?" tanya Rena basa-basi, entahlah Rena tidak bisa cuek begitu saja walau sedang kesal dengan pria dingin itu.

"Ga usah, aku udah pesen pizza!" jawab pria itu masih fokus dengan ponsel barunya.

"Oh...ya udah!" Rena membersihkan panci yang sudah terisi air diatas kompor, untung ia belum membuka bungkus mie rebusnya.

"Duduk sini!" Andra menepuk space kosong di sofa yang didudukinya saat Rena hendak menuju kamar.

Tanpa banyak kata, gadis itu duduk disebelah Andra.

"Handphone kamu mana?" Andra menengadahkan tangannya, seketika Rena membuka tasnya mengambail handphone dan memberikannya kepada Andra.

Kemudian Andra mengeluarkan kartu provider didalam ponsel Rena dan memindahkannya kedalam ponsel yang baru saja ia beli, Rena memperhatikannya dengan dahi mengernyit.

"Sekarang handphone kamu ga akan keabisan batre lagi, tapi jangan lupa di charge!" ucap Andra, belum juga Rena mengutarakan apa yang ada pikirannya.

"Tapi Mas, ini kan mahal banget handphonenya, nanti temen-temen aku curiga!" Rena berusaha menolak.

Ting...Tong...Ting...Tong...

Bunyi bell apartemen mereka, menghentikan niat Andra mengeluarkan kata-kata membalas ucapan Rena padahal ia sudah mengambil nafas dan hampir membuka mulutnya. Pria itu malah beranjak dan membuka pintu apartemen, setelah memberi tip pada pengantar pizza, Andra kembali keruang TV.

"Makan dulu...." titahnya kepada Rena.

Rena mengambil satu slice pizza dan memakannya, "Mas...tuker aja sama yang aga murahan handphonennya ya!" pintanya dengan mulut penuh makanan, Rena masih tidak terima Andra membelikannya ponsel seharga dua puluh lima juta itu.

Andra berdecak, kemudian mendelik kesal kearah Rena.

"Kamu bukan cewe murahan....masa aku kasih barang-barang murahan buat kamu?!" kata batin Andra.

"Maaasss....." panggil Rena lagi karena dirasa tidak ada tanggapan dari pria yang tanpa ia sadari sudah banyak memanjakannya dengan barang-barang mahal.

"Apa sih Rena, kamu kan mau jadi istri aku, jadi wajar kalo semua yang melekat ditubuh kamu tuh serba mahal!! Buang pikiran orang susah kamu mulai sekarang!" seru Andra dengan wajah datar tapi hati Rena seperti tercabik mendengarnya.

Rena tercenung, menyimpan slice pizza yang baru digigit setengah dengan wajah sendu.

"Kenapa sih dia tuh kalo ngomong suka nyakitin!" Rena membantin, sepertinya ini memang karena hormon PMS karena hari ini Rena selalu terbawa perasaan.

"Salah lagi gue!" batin Andra sambil membuang tatapannya kesembarang arah.

*****

* Ruangan Andra

Tok...Tok...Ceklek, Santi membuka pintu, berjalan perlahan dan berhenti tepat didepan meja Andra.

"Pak...Tuan Randy ingin mengadakan pertemuannya di Bandung, karena kesehatannya tidak cukup baik untuk pergi ke Jakarta..." ucapnya kemudian.

"Oke..besok kita pergi ke Bandung, ajak Ricko juga....!" balas Presdir tampan itu setelah mengalihkan fokus dari laptop didepannya.

"Oh ya...,tolong belikan oleh-oleh untuk calon mertua saya!" imbuhnya lagi.

"Baik Pa...Permisi" jawab Santi cepat lalu keluar dari ruangan bosnya.

"Mertua?? memang siapa kekasih Pa Andra? jangan-jangan Ibu Rena yang waktu itu kesini, soalnya beberpa waktu lalu Pak Andra mengirimkan bunga untuk Bu Rena...Yaaaa, Pak Andra sudah ada yang punya, sakit hati aku sakiiiit" jerit Santi dalam hati

Setelah meeting yang dilakukan sambil makan siang dengan kliennya selesai, tanpa sepengatuan Rena, Andra dan Ricko berkunjung ke rumah Rena.

Tok...Tok...

Ceklek...

Ibu membuka pintu

"Nak Andra? Loh Rena mana?Ayo masuk!" Ibu terlihat sedikit khawatir karena kekasih anaknya sulungnya berkunjung.

"Rena di Jakarta, ini kan masih hari kerja Bu...saya kebetulan ada perjalan bisnis ke Bandung lalu mampir kesini kebetulan ada yang mau saya bicarakan dengan Bapak dan Ibu..Oh ya perkenalkan ini Ricko teman saya..." jawab Andra sopan sambil memperkenalkan Ricko kepada Ibu.

"Saya Ricko Tante..." Ricko memperkenalkan sambil menyalami Ibu Susi.

"Saya Susi Ibunya Rena...sebentar Ibu panggil Bapak dulu ya..." Setelah mempersiapkan Andra dan Ricko duduk, ibu meninggalkan keduanya untuk memanggil Bapak yang sedang beristirahat dikamar.

Tidak lama, atas kode dari Ibu, Lia membawa minuman untuk Andra dan Ricko.

"Silahkan diminum Ka Andra" ucap Lia setelah meletakan air rasa melon dimeja.

"Kamu ga kuliah?" tanya Andra ramah. Berbanding terbalik saat menghadapi Rena, Andra sangat ramah kepada keluarga calon istrinya itu.

"Ngga ka,Libur...." jawab Lia,

Oh ya ini Ricko teman ka Andra!"

"Aku Lia adiknya Ka Rena..." Lia mengulurkan tangannya untuk Ricko sambut.

"Saya Ricko...kamu secantik Kaka kamu ya.." Ricko menggoda Lia sambil mencium punggung tangannya, seketika itu juga Andra menginjak kaki Ricko.

"Aww...sakit Ndra.." Ricko menahan teriakannya.

"Ka Andra terimakasih transferannya" bisik Lia sambil berkedip.

"ssttt..."Andra menempelkan telunjuk di mulutnya. Tanpa sepengetahuan Rena, Andra sudah banyak membantu meringankan beban sang kekasih kontraknya itu.

Tidak lama kemudian, Ibu dan Bapak keluar dari kamar menghampiri Andra dan Ricko diruang tamu.

"Nak Andra apa kabar?" Tanya Bapak ramah.

"Baik Pak..ini Ricko teman saya.." Andra memperkenalkan Ricko.

"Saya Ricko Om..." Ricko mengulurkan tangannya.

"Rony.. Bapaknya Rena" Rony menyambut jabatan tangan Ricko sambil tersenyum.

"Pak, ada hal yang mau saya bicarakan dengan Bapak dan Ibu.." tutur Andra dengan ekspresi serius.

"Mengenai apa Nak Andra?" tanya Bapak sedikit mengernyitkan dahinya.

"Saya mau melamar Rena, apa Bapak mengijinkan bila saya menikahi Rena?" tanya Andra dengan mantap. Semudah itu Andra meminta Rena kepada orang tuanya untuk menjadikannya istri, entahlah mungkin karena ini hanya pernikahan kontrak hingga pria itu tidak mempunyai beban dan seringan itu dalam berucap.

Bapak dan Ibu saling pandang, antara sedih dan senang bercampur menjadi satu.

"Kalau Bapak dan Ibu setuju, tapi apa Renanya setuju?" tanya Bapa lagi setelah berusaha menenangkan rasa bahagia yang bergemuruh didadanya.

Bagaimana tidak bahagia, anak sulungnya akan diperistri oleh orang kaya. Setidaknya kehidupan Rena akan lebih baik setelah menikah.

"Saya sudah melamar Rena secara pribadi, dan Rena setuju tinggal menunggu persetujuan Bapak dan Ibu.." jawab Pria itu sedikit mendesak.

Betul memang Andra sudah melamar Rena melalui Ricko di Coffeshop saat mengajukan proposal kawin kontraknya secara lisan.

"Bapak dan Ibu setuju Nak...kapan Om dan Tante mu datang kemari?"

"Minggu depan Pak.." Andra menjawab dengan cepat, padahal ia belum mengkonfirmasikan apapun kepada Om dan Tantenya.

Andra hanya ingin kawin kontrak ini cepat terlaksana, apalagi tadi saat meeting dengan Tuan Rendy, pria paruh baya itu mengundangnya untuk liburan bersama di Villa miliknya di Puncak bersama keluarga.

"Baik kalo begitu. minggu depan Bapak akan mengundang keluarga dekat untuk menyaksikan pertunangan kalian" Bapak menyanggupi keinginan calon menantunya itu.

"Bapak dan Ibu tidak perlu repot-repot...Ini ada oleh-oleh dan sedikit uang untuk membantu persiapan pertunangan minggu depan" Andra memberikann bingkisan dan amplop kepada Bapak dan Ibu.

"Nak Andra tidak perlu repot-repot...Bapak masih bisa bila hanya acara pertunangan kecil-kecilan" tolak Bapak dengan sopan.

"Terimakasih oleh-olehnya Nak Andra" ucap Ibu

"Tidak apa-apa Pak, saya hanya ingin membantu saja! Ya, Sama-sama Bu hanya sedikit oleh-oleh untuk cemilan sore hari" jawab Andra tidak menerima penolakan.

"Ini kartu nama Ricko Om, kalo butuh apa-apa telepon Ricko karena Ricko bekerja untuk Andra.." Ricko menyerahkan kartu nama

"Terimakasih Nak Ricko..." Bapak menyelipkan kartu nama Ricko di saku kaosnya.

Mereka pun berbincang-bincang dan beberapa menit kemudian keduanya pamit karena hari sudah beranjak petang untuk melanjutkan perjalanannya pulang ke Jakarta.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin