Love and Contract Malam Minggu

Malam Minggu

Ponsel Rena bergetar, ada satu pesan masuk belum terbaca.

[ Weekend ini mau ke Bandung? ~Andra~]

[ Ngga, hari sabtu ada sosialisasi. ~Rena~]

[ Besok sampe Jum'at, Pak Syam yang jemput! ~Andra~]

[ Kenapa? ~Rena~ ]

1 menit

5 menit

10 menit

[ Mas? ~Rena~ ]

[ Apa? ~Andra~ ]

[ Kenapa? ~Rena~ ]

[ Apanya? ~Andra~]

"Kuatkan aku, Tuhaaaaan!!!!" gumam Rena sambil menggeram, dengan kesal gadis itu membanting ponselnya kekasur kemudian membenamkan wajah ke bantal dan berusaha meredam emosinya dengan menghirup nafas seperti metode Yoga Inhale - Exhale.

Tidak berapa lama, Rena terlelap menggapai alam mimpi dimana tidak ada Andra disana yang selalu membuatnya emosi jiwa.

Keesokan harinya,

Subuh sekali Rena menghubungi Ricko,

"Hallo...." terdengar suara parau Ricko seperti baru bangun tidur.

"Selamat pagi Mas....Ini Rena" sapa Rena

"Aku tau, Rena! Kalau bukan calon istri Bos ku yang telepon, ga mungkin aku angkat! Dan ini masih subuh Rena, belum pagi!!" jawab Ricko dengan malas

Rena terkekeh, gadis itu lebih nyaman berkomunikasi dengan Ricko daripada Andra, calon suaminya sendiri. Selain kocak, Ricko selalu memperlakukannya seperti seorang manusia pada umumnya, berkomunikasi dengan Ricko juga selalu dua arah tidak seperti dengan Andra yang satu arah, sekalinya bicara cuma marah-marah ga jelas.

"Mas, bisa tolong bilang sama Pak Syam ga usah anter jemput aku tiap hari? aku ga enak diliat orang! Soalnya mobil Mas Andra keren banget!!" ucap Rena hati-hati.

"Kenapa ga bilang sama Andra?" tanya Ricko heran

"Nanti dia marah, dan lagi kata Mas Andra, sampai jumat aku diantar jemput Pak Syam aja...memangnya Mas Andra kemana Mas?"

"Cieee...belum pergi aja udah kangen" goda Ricko lagi

"Serah deh Mas...aku tutup ya!" ancam Rena

Ricko terkekeh, "Ya udah nanti aku bilang sama Pak Syam...Mas Andra mu ada perjalanan bisnis ke Singapura sampai Jum'at, makanya kamu dianter jemput Pak Syam doank!" tutur Ricko, kini suara paraunya telah menghilang.

Dan Rena hanya ber oh ria, setelah itu keduanya memutuskan sambungan telepon.

Selama beberapa hari Rena yang mandiri seperti menemukan hidupnya lagi, pulang pergi menggunakan ojeg online hanya saja kini ia tinggal di apartemen yang cukup mewah. Gadis itu harus banyak berterimakasih pada Tuhan karena setelah drama pelemparan telur dan caci maki oleh Ibu Kos dan warga tempat kosnya dulu kini ia bisa tinggal ditempat yang nyaman dan bersih juga mewah.

Bahkan seperti saat ini, ketika ia membuka kulkas segala macam minuman buah-buahan sayuran segar dan makanan lainnya memenuhi kulkas tersebut. Andra memang meminta kepala maidnya memenuhi kulkas di apartemen Rena ketika Rena sedang bekerja dan mengisinya kembali setiap tiga hari sekali. Kalau dulu Rena selalu menahan laparnya agar uangnya bisa cukup untuk satu bulan, kini Rena sama sekali tidak kekurangan makanan, setiap hari ia memasak makanannya sendiri.

Rena tersenyum, "Gini ya rasanya punya pacar orang kaya" gumamnya, tapi sedetik kemudian ia menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran itu. Rena harus tau diri dan tidak boleh merasa nyaman dengan semua ini, karena hanya dalam waktu 5 Tahun semua kenyamanan ini akan terenggut darinya.

*****

Hari sabtu, di gedung tempat Rena dan karyawan lain mendapatkan sosialisasi perbankan.

"Ren...udah mau cerita belom tentang si A itu?" Mia memicingkan matanya penuh selidik, keduanya sedang duduk di kantin saat jam makan siang berlangsung.

"Eeeemmmm...." Rena terlihat berpikir,

"Hey..Hey...Heeyyy.....Ada yang mau ditraktir ga?? aku baru dapet bonus niiih!" Dio menyelamatkan Rena dari pertanyaan Mia yang belum bisa dijawabnya.

"Mau...mau...mau....tapi ini makanan udah dibayar, gimana donk? traktir yang lain aja ya?" tawar Mia.

Rena menghembuskan nafas lega, perhatian Mia teralihkan, untuk sementara Rena aman karena tidak perlu berbohong pada sahabat kesayangannya itu. Sebagai anak kos, mendengar kata traktir adalah seperti mendapat oase ditengah padang gurun yang gersang.

"Oooh....oke!! Mau makan apa?" tanya Dio pongah,

"Aaassyiiiikkk....." teriak Mia dan Rena berbarengan kemudian mereka terlihat berpikir.

"Kita makan suki aja gimana?" Mia memberikan ide, yang mendapat anggukan setuju dari Rena.

"Oke, kalau gitu malam ini kita bertiga akan bermalam minggu ria..." Dio berujar dengan bangganya. Sebagai seorang jomblo, tidak sendirian dimalam minggu itu sungguh sangat membahagiakan.

Setelah kelas sosialisasi mereka selesai, dengan riang gembira mereka menuju parkiran. Ketiganya akan menumpang mobil Dio menuju Mall dimana restoran suki pilihan Mia berada.

Makan malam ketiganya diselingi dengan canda tawa, Rena begitu bahagia berada ditengah sahabat-sahabatnya, sudah lama Rena tidak merasakan ini. Biasanya Rena selalu menolak ajakan Mia atau Dio untuk menghabiskan malam minggu bersama karena Rena harus bekerja sampingan untuk mendapatkan biaya pengobatan Bapak dan biaya sekolah adik. Tapi sekarang, bahkan uang Rena utuh karena tidak harus membeli makanan dan uang sekolah Aras juga Lia sudah terbayar lunas.

Tidak terasa hari sudah semakin malam, ketiganya memutuskan untuk pulang. Berkali-kali Rena menolak diantar oleh Dio dengan alasan ia akan membeli sesuatu terlebih dahulu padahal Rena hanya tidak ingin Dio curiga bila kini ia sudah menempati apartemen mewah.

Rena malah memaksa Dio untuk mengantar Mia, akhirnya karena bujuk rayu Dio tidak mempan untuk Rena, pria jangkung itu pun mengiyakan saran Rena untuk mengantar Mia dan dengan senang hati Mia menerima karena ia bisa mengirit ongkos untuk pulang.

Setelah Mia dan Dio menghilang dari pandangan, Rena langsung menuju depan jalan untuk memesan ojeg online. sepanjang jalan bibirnya tidak berhenti tersenyum mengingat kembali hal-hal konyol yang diucapkan oleh Dio juga Mia tadi, dan pada saat seperti ini Rena malah teringat Andra.

"Sedang apa dia sekarang? Apakah dia sudah pulang dari Singapura?" tanya Rena dalam hati. Sudah empat hari tidak ada kabar dari Andra bahkan Ricko pun seperti menghilang entah kemana.

Rena membuka pintu apartemen dan disuguhkan dengan lampu yang menyala terang padahal seingatnya saat pergi tadi pagi, semua lampu sudah ia matikan. Rena mulai meningkatkan kewaspadaannya saat mendengar suara TV, kemudian ia berbelok ke ruang TV dan mendapati Andra sedang duduk dengan melipat tangannya didada.

"Maaas? kirain siapa...udah lama?" tanya Rena tanpa beban.

Bukannya menjawab, Andra malah balas bertanya, "Kenapa handphone kamu mati?" tanya Andra dingin

"Abis batre Mas, dari tadi siang...maklum handphone jadul" jawab Rena sambil membuka kulkas dan membawakan air jus kemasan untuk Andra.

Rena memberikan air jus kemasan kepada Andra tapi pria itu malah menatapnya dengan tatapan kesal, lalu Rena menyimpan botol jus tersebut di meja dan pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya tanpa sepatah kata pun.

"Kebiasaan si pria introvert, jutek!!" batin Rena kesal.

Rena tidak tau kalau Andra sudah menunggunya dari jam tiga sore, sesuai saran Ricko yang mengharuskan Andra kencan dengan Rena setiap malam minggu, rencananya malam minggu ini Andra akan mengajak Rena menonton bioskop. Tapi sayangnya ponsel Rena mati sejak siang tadi, gadis itu tidak bisa menerima satu pesan pun dari Andra.

Dan sekarang Andra terlihat sangat bodoh dengan menunggu gadis itu pulang, Andra ingin tahu kemana gadis itu pergi hingga pulang selarut ini tapi ego pria itu terlalu tinggi dan emosi yang ia redam sejak tadi belum terlampiaskan.

"Mas....mau tidur disini?' tanya Rena polos, ia sudah mengganti bajunya dengan piayama satin berwarna pink, rambutnya ia ikat dengan bentuk bun keatas. Tanpa rasa bersalah apalagi merasa dosa, gadis itu duduk disamping Andra disofa besar yang menghadap TV.

Andra mengernyitkan dahi, "Apa dia sedang mengusir ku? wanita apa yang menanyakan seorang pria akan menginap diapartemennya? sedangkan hanya ada satu kamar disini....Eh, tapi ini apartemen aku kan?" batin Andra berkecamuk.

"Maaasss....." panggil Rena membawa Andra kembali kedunia nyata.

"Kamu dari mana?" Andra tidak bisa menyembunyikan lagi rasa penasarannya.

"Abis ditraktir Dio makan" jawab Rena polos

"Berdua?" kembali Andra mengintrogasi

Rena mengernyit menatap Andra, "Sama Mia juga" jawab gadis itu cepat,

"Mulai sekarang ijin dulu kalau mau pergi!" Andra mengucapkannya dengan penekanan diakhir kalimat.

"Heuh?" kenapa Rena merasa seperti sedang dimarahi seorang pacar.

"Kamu dengerkan?!!" seru Andra, nada suaranya kini naik satu oktaf.

"I...iya...maaf, besok aku bawa powerbank!" jawab Rena terbata

"Buang handphone kamu, nanti aku belikan yang baru!! Buat apa punya handphone kalau susah dihubungin!!" ucap pria itu dengan ketus, ekspresi wajah kesalnya membuat Rena tidak nyaman.

Setelah itu Andra beranjak dan berjalan keluar dari apartemen Rena masih dengan ekspresi wajah kesal. Rena bingung dibuatnya, didalam kontrak tidak dicantumkan bahwa ia harus melaporkan kepada Andra kemana ia akan pergi.

Rena masuk kedalam kamar mencari handphone yang tadi ia charge kemudian mengaktifkannya. Benar saja banyak notif pesan singkat dan voice mail dari Andra.

12 : 30 [ Pulang jam berapa? ~Andra~]

13 : 17 [ Kamu sosialisasi dimana? ~Andra~]

15 : 05 [ Aku tunggu di apartemen ~Andra~ ]

16 : 45 [ Kamu dimana? ~Andra~ ]

20 : 23 [ Renaaaaa, kamu dimana? Mas mu itu udah nungguin dari jam tiga sore mau ngajak kamu nonton..., setelah terima pesan ini langsung hubungi Mas mu ya!!" ~Ricko~ ]

Rena membungkam mulutnya yang menganga dengan tangan, seketika itu juga merasa sangat bersalah. Tangannya mulai mengetik pesan untuk Andra tapi ia hapus, lalu mulai mengetik kembali kemudian ia hapus lagi, terus seperti itu hingga berkali-kali dan jempolnya lelah.

Sampai akhirnya ia memutuskan untuk melakukan panggilan telepon,

Tuut...Tuut...Tuuuut....

"Ya?" jawab Andra dingin dari sebrang sana.

"Maaaasss, maafin aku ya, aku ga tau hari ini mas mau ngajak nonton? handphone aku lowbat...." tutur Rena dan hening tidak ada jawaban.

"Gimana kalau besok aku yang ngajak Mas nonton? aku yang bayar deeeeh....gimana? Mau ya Mas? malu nih aku kalo ditolak, aku kan cewe Mas..." Rena merajuk dengan mengeluarkan jurus suara manjanya, biasanya jurus ini mempan untuk bapak dan Ibu.

Lama tidak ada jawaban, hanya terdengar suara deru nafas Andra disana, "Aku jemput jam satu!!" Andra berucap kemudian memutuskan sambungan teleponnya terlebih dahulu.

"Huuufffttt...." Rena menghembuskan nafasnya, ia merasa lega.

*****

Jam satu tepat, Rena sudah berada di loby menunggu Andra, seharus nya hati Rena berbunga dengan mata berbinar saat Andra menjemput dengan mobil sport seharga milyaran itu, tapi mau apa dikata ini hanya sandiwara belaka. Dengan santai sambil menepiskan senyum, gadis itu berjalan mendekati mobil Andra yang sudah terparkir didepan loby.

Rena memakai minidress berwarna emerald dengan rok yang melebar kebawah dari pinggang, dipadankan dengan sepatu flatshoes dan sling bag berwarna senada. Rambutnya ia ikat kuncir kuda menyisakan poni menutup keningnya. Tanpa polesan berlebihan diwajahnya, dimata Andra Rena terlihat cantik dan segar.

Setelah memastikan Rena memakai seatbeltnya, Andra langsung menginjak pedal gas membawa Rena keluar dari pelataran apartemen menuju mall dimana mereka akan menonton film.

Sepanjang perjalanan seperti biasa, hanya terdengar deru suara mesin dan knalpot mobil berlambang kuda jingkrak tersebut. Rena merasa ada yang hilang tidak ada Ricko disana, karena biasanya Ricko lah yang memecah keheningan dengan kata-kata konyolnya.

"Mas Ricko ga ikut, Mas?" tanya Rena basa-basi

Andra hanya menggelengkan kepala, lalu ekspresi wajahnya berubah sangar dan tak luput dari perhatian Rena.

"Salah ngomong nih aku kayanya" tebak Rena dalam hati.

"Kenapa dia nanyain Ricko? nikah kontraknya kan sama aku!" batin Andra, jengkel.

Setelah sampai ditempat tujuan, keduanya langsung menuju lantai paling atas dengan Andra berjalan terlebih dahulu dan Rena mengikuti dibelakang sama sekali tidak mencerminkan sepasang kekasih.

Dengan aplikasi dihandphonenya, Andra bisa membeli tiket nonton dengan memangkas antrian, "Loh Mas...kan tiketnya aku yang bayarin!" Rena mengingatkan,

"Ga usah harga diri aku jatuh dibayarin cewe!" saut Andra dingin.

Rena mencebikan bibir sambil memutar bola matanya jengah.

"Kamu mau minum apa?" Andra bertanya saat keduanya sudah didepan kasir penjual popcorn.

"Air mineral aja..." saut gadis itu,

"Ice green tea blended dua, popcorn ukuran paling besar satu, nachos satu" ucap Andra dingin, kepada kasir genit yang sedari tadi mengerling kepadanya.

Rena hanya tersenyum geli dalam hati melihat kekecewaan kasir cantik itu, karena sudah menawarkan panjang lebar hanya di balas dengan dingin oleh calon suami kontraknya. Rena merasa bangga, kalau saja Andra adalah calon suaminya tanpa kontrak.

Andra memberikan satu green tea blended dan nachos kepada Rena, karena kedua tangannya membawa satu green tea blended dan popcorn ukuran besar.

"Mas...sekarang air mineralnya berubah warna ya?" ucap Rena pura-pura bodoh sambil memandangi green tea blendednya.

Jangan tanya apa yang dilakukan Andra, dia melengos seolah tidak mendengar joke Rena dan gadis itu malah terkikik sendiri bukannya merasa sakit hati, mungkin karena sudah terbiasa dan hatinya sudah berdamai dengan sikap Andra yang seperti itu. Tanpa Rena ketahui, Andra sedang mengulum senyum.

Didalam bioskop cukup ramai, semua kursi terisi bahkan hingga baris paling depan, beruntung Andra bisa mendapat tiket di kursi yang srategis, berada ditengah-tengah, tidak terlalu atas juga tidak terlalu bawah. Berhubung film yang mereka tonton bergenre romantis, kebanyakan dari mereka adalah remaja hingga dewasa yang sudah memiliki pasangan. Sebelah kanan Andra dan sebelah kiri Rena merupakan pasangan kekasih, mereka saling mengaitkan lengan dan menautkan jemari. Bahkan seorang penonton yang berada didepan Andra dan Rena sudah menyandarkan kepalanya kepundak sang kekasih membuat Andra dan Rena salah tingkah.

Belum pernah keduanya secanggung ini, bahkan saat kencan makan malam pertama kali, keduanya terlihat biasa saja. Andra jadi berpikir, skenario kencan dan nonton yang Ricko buat sebetulnya bukan untuk pengumuman kepada publik tapi untuk membuat Andra dan Rena lebih dekat dan mengenal satu sama lain.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin