Love and Contract Cewe Aneh

Cewe Aneh

Rena membereskan pakainnyanya ke dalam lemari, tidak lama Andra keluar dari kamar mandi dengan rambut yang terlihat masih basah menjuntai berkelompok dan hanya melingkarkan handuknya dipinggang bertelanjang dada.

Bagian otot yang terletak di sepanjang leher, bahu bagian dalam, sampai ketulang punggung terlihat basah karena tetesan air dari ujung rambut jangan lupakan otot sixpack yang terlukis indah di perut Andra.

Beberapa detik Rena terpana melihat pemandangan indah ciptaan Tuhan didepannya dengan jantung yang berdebar sangat kencang, hingga detik berikutnya mata mereka bertemu dan tanpa sadar gadis itu refleks berteriak.

"Mas Andraaa!!! pake baju dulu baru keluar, ini bajunya" teriak Rena seraya memberikan baju dan berjalan dengan mata tertutup ke arah Andra.

Andra menipiskan bibir menahan tawa.

"Huh..gimana sie ini orang, seenaknya telanjang depan cewe! Ga tau apa ini jantung ampir copot!" gerutu Rena dalam hati

"Udah tuh mandi dulu, kamu bau telor!" titah Andra dengan tangan terjulur mengambil pakaian yang Rena berikan.

Tanpa menjawab, Rena bergegas masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

"Busyeeet, kamar mandinya aja bersih dan harum gini udah kaya didalem kamar aja!" Rena berdecak kagum.

Setelah membersihkan diri, Rena keluar dari kamar mandi, dilihatnya dari dalam kamar makanan sudah tersaji di meja makan.

Setelah memakai pakaiannya, Rena berjalan menuju meja makan dengan handuk kecil membungkus kepala.

"Makan dulu..." Andra melirik makanan dimeja makan. Pria itu membawa dua gelas berisi air mineral ditangannya kemudian memberikannya kepada Rena.

Rena bingung kenapa Andra seperhatian ini kepadanya, padahal ia kan bisa mengambil sendiri air minum itu.

Rena duduk berhadapan dengan Andra, sambil mengunyah makanannya, Rena memandang Andra dan sesekali Presdir tampan itu melirik ke arah Rena.

"Kenapa?" tanya pria itu datar, terusik karena Rena terus saja memandanginya.

"Semenjak ketemu Mas hidup aku jadi penuh drama!" ujar Rena lirih kemudian menundukan pandangannya.

Andra hanya tersenyum simpul.

"Demi duit 100Juta" Rena menghela napas

"5 Milyar" tambah Andra

"Oh iya 5 Milyar..." ralat Rena

"Kamu mau pake apa uang 5 Milyar?" tanya pria itu dengan ekspresi wajah datar sama dengan nada bicaranya.

"Mau aku kasih ke Ibu sama Bapak, suruh mereka jalan-jalan keluar Negri, cangkok jantung Bapak kalo perlu biar Bapak bisa hidup lebih lama" tutur Rena tulus.

Andra terdiam, hanya melirik ke arah Rena.

"Dia selalu memikirkan orang lain tapi tidak memikirkan diri sendiri" batin pria itu.

Diam-diam Andra kagum dengan kepribadian gadis yang akan menjadi istri kontraknya itu.

"Kita harus secepatnya menikah, kamu segera bilang ke orang tua kamu kalau aku akan datang melamar...!" Andra berujar disela menyuapkan makanannya ke mulut.

"Mas bilang dulu sama Bapak, minta aku buat jadi istrinya Mas, kalau Bapak oke baru tentuin tanggal tunangannya! gitu mas.." Rena masih mengunyah makanannya.

"Ribet ah...langsung aja tunangan, aku datang sm Om dan Tante, orang tua kamu urusan kamu!"

"Mas..orang tua aku kan ga tau kalo kita mau kawin kontrak.....jadi mas harus deketin Bapak dulu, sewajarnya seorang pria ingin meminang seorang gadis!" Rena memberi saran.

"Ternyata menikah itu merepotkan!" gerutu Andra dalam hati.

"Tapi kan kita hanya pura-pura menikah Rena!" celetuk Andra datar

Deg

Rena membatu beberapa saat, ia menundukkan kepala dan tangannya berhenti mengaduk makanan didepannya.

"Oh iya aku lupa" batin Rena

Entah kenapa hati Rena seperti tersentil. Ia berpikir keras bagaimana menjawab pernyataan Andra tadi, tapi itu hanya pernyataan bukan pertanyaan yang harus ia jawab.

Kemudian keheningan mengambil alih, Andra tau ia telah salah bicara. Seharusnya ia tidak perlu mengingatkan tentang itu, karena Rena benar. Keluarganya tidak tau menau masalah kontrak yang telah mereka sepakati dan memang seharusnya Andra memperlakukan Rena sebagaimana layaknya ia memperlakukan wanita yang akan dinikahi dengan mendekatkan diri kepada keluarganya, memintanya dengan penuh hormat kepada orang tuanya.

Tapi kalimat Andra yang telah terlontar itu tidak bisa ditarik kembali, bukan maksud Andra merendahkan Rena dan sekarang gadis itu sudah terlanjur terluka.

Setelah selesai makan, Andra beranjak dari duduknya, "Aku pulang dulu ya..kamu istirahat aja...!"

Rena mengangguk tanpa menatap Andra lalu membereskan meja makan.

*****

"Nanti sore aku jemput!" ucap pria itu tanpa menatap Rena, fokus matanya menatap laptop mengerjakan presentasi untuk klien pagi ini.

"Rena...Mas, Rena..dipanggil donk namanya juga, entar aku kira Mas lagi ngomong sama Pak syam!!" tapi Rena hanya berani mengatakannya dalam hati.

Gadis itu hanya bisa misuh-misuh dalam hati bila menghadapi Andra, kadang pertanyaan atau pernyataannya tidak mendapat tanggapan pria itu. Rena harus memperbaharui stock sabarnya untuk menghadapi Andra.

Rena mengangguk pelan, kemudian turun dari mobil mewah calon suami pura-puranya itu setelah mengucapkan terimakasih pada Pak Syam. Sesuai skenario yang Ricko buat, setiap hari Rena akan diantar jemput oleh Andra, untungnya rumah Andra, apartemen Rena, kantor Rena dan kantor Andra seperti rute yang selalu Andra lalui setiap hari, sehingga tidak membuat Andra kehilangan waktunya untuk sekedar mengantar jemput calon istrinya itu.

Pertama kali yang Rena lakukan setelah memasuki kantornya adalah menyalakan televisi, ia penasaran apakah ada berita tentang dirinya saat ulang tahun Weny malam kemarin. Ia juga memainkan ponselnya membuka akun lambe-lambe tapi tak satupun berita tentangnya muncul disana. Barulah Rena bisa bernafas lega, ia begitu khawatir bila menjadi pemberitaan hingga terdengar oleh keluarganya, karena Rena tau betul bagaimana kondisi jantung Bapak.

* Ruangan Andra

Seperti kebiasaannya, Ricko membuka begitu saja pintu ruangan Bos tapi sahabatnya itu.

"Bro!! buruan jemput Rena!! Kerja mulu, lu mah...." Ricko sengaja mengingatkan karena ia tau Andra seorang workcholic, bisa hingga larut malam Presdir tampan itu berada di kantor bila Ricko tidak memaksanya pulang.

Andra berdecak kecal,

"Ck!! Lo ajalah yang jemput Rena, gue masih banyak kerjaan!" saut Andra ketus, kedua mata dan jarinya terfokus pada laptop dengan logo apel digigit.

"Kan bukan gue yang mo kawin sama Rena!! Lagian Lo bilang Rena ga bawa banyak barang kemaren dari kosannya, lo ajak dia belanja dulu lah sekarang!! Kasian dia, masa mau pake underware yang sama untuk besok!!" Ricko yang sudah duduk di depan Andra, terkekeh.

Andra menatap Ricko sekilas, tanda kalau pria itu setuju dengan apa yang Ricko bicarakan. Andra mematikan laptopnya kemudian beranjak mengambil jasnya lalu ia sampirkan di lengan dan berjalan menuju pintu.

Ricko tertawa bahagia hingga bertepuk tangan, merasa puas karena Andra menuruti sarannya.

"Lo ikut juga, kalo masih mau jadi Direktur Pemasaran!!" ancam Andra saat akan keluar dari ruangannya yang diikuti dengan Ricko mengejar dibelakang sambil menggerutu tidak jelas.

Rena sudah duduk di kursi plastik didepan kantornya, gadis itu terlihat sedang memikirkan sesuatu hingga tidak menyadari mobil Andra sudah parkir tepat didepannya.

Ricko yang duduk didepan, di samping Pak Syam dengan jailnya menekan klakson mobil cukup keras hingga Rena terlonjak terkejut dan hampir terjengkang kebelakang kalau saja satpam tampan bernama Firman tidak menahan tubuh Rena dari belakang.

"Yaaaa...menang banyak tu satpam!!!" gumam Ricko menyesal, yang masih bisa terdengar oleh Andra dan Pak Syam.

"Lo sih Ko!!!" seru Andra dengan ekspresi wajah sangarnya tapi tak terpikir sedikitpun dikepalanya untuk keluar menghampiri Rena dan menanyakan keadaannya.

"Bu Rena, ga apa-apa?" tanya Firman,

"Ah...ga apa-apa, Pak...makasih ya!" jawab Rena membenarkan tas dipundak kemudian beranjak berdiri karena melihat Pak Syam membuka kaca mobil dan Ricko sudah melambai dengan senyum manis kearahnya.

"Ren...tadi Andra marah loh waktu kamu dipeluk dari belakang sama satpam itu!" celetuk Ricko saat Rena sudah duduk manis didalam mobil.

"Heuh? masa sih Mas?" Rena menoleh kearah Andra yang ada disampingnya.

Andra langsung menendang kursi didepannya membuat Ricko mengaduh dan Rena terkekeh.

Kening Rena terlipat dalam saat melihat arah jalan pulang tidak sesuai dengan rute yang biasanya, tapi tak serta merta ia menanyakan hal itu kepada Ricko atau Andra. Seratus persen bahkan seribu persen Rena sudah percaya kepada Ricko dan Andra, Rena sudah pasrah kemanapun kedua pria tampan itu akan membawanya. Karena semenjak pertama kali bertemu, Ricko dan Andra tidak pernah berniat mencelakakannya bahkan seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk membantu Rena menyelamatkan nyawa Bapak.

Sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti didepan loby sebuah mall, dan kedua pria tampan itu pun turun, tanpa perintah Rena membuka pintu dan turun mengikuti kemana Ricko dan Andra melangkahkan kaki.

Rena berjalan pelan dibelakang Ricko dan Andra, hingga keduanya memelankan langkah menunggu Rena untuk berjalan sejajar dengan gadis itu berada diantara mereka. Semua mata tertuju pada ketiganya, menatap iri pada Rena yang diapit oleh pria tampan dengan berpakaian rapih walau mereka sudah tidak mengenakan jas, tapi kemeja lengan panjang yang di linting hingga sikut dan celana kain dengan sepatu fantovel mengkilat membuat penampilan kedua executive muda tampan itu menjadi pusat perhatian.

Ricko dan Andra memasuki butik pakain dalam bermerk yang terkenal dengan model seksinya, "Ngapain kita kesini Mas?" tanya Rena polos kepada Ricko dan Andra yang sudah duduk disofa berwarna shocking pink.

"Pilih semua yang kamu suka" jawab Andra datar seperti biasa

"Mau aku pilihin?" tanya Ricko dengan menaikan kedua alisnya berkali-kali

"Iissh....tapi Mas...." kalimat Rena terhenti saat mendapatkan tatapan tajam dari Andra.

Rena malu, Andra dan Ricko membawanya ketempat seperti ini apalagi sedari tadi pelayan toko itu berbisik-bisik sambil melihat Rena, Ricko dan Andra secara bergantian.

"Maaass....ih, aku malu! Lagian apa yang harus aku beli?" bisik Rena masih berdiri didepan Ricko dan Andra.

Andra menghela napas, kemudian menggelengkan kepala dengan wajah kesal membuat Rena makin serba salah. Ia tidak habis pikir dengan gadis didepannya ini, bila gadis lain dipersilahkan untuk memilih barang apapun yang dia suka pasti tanpa pikir panjang langsung memenuhi keranjang belanjanya sedangkan Rena malah bingung apa yang harus ia beli.

Ricko menarik Rena untuk duduk ditengah diantara mereka.

"Nona Rena, Mas Andra mu ini bilang kalau kemarin itu kamu tidak membawa banyak barang dari kosan jadi sekarang Andra memberikan kompensasi dengan membawa mu belanja dan memilih semua barang yang kamu suka!" tutur Ricko merasa gemas bukan kepalang hingga ingin mengacak - ngacak rambut gadis yang masih melongo disampingnya ini.

"Tapi Mas Andra kan yang bayarin? bukan dari 5M itu kan?" tanya Rena polos sambil menghadap kiri dan kanan menatap Ricko dan Andra bergantian.

Andra menghembuskan nafas kasar sambil memijit pelipisnya, "Iya Nona Rena, calon suami mu yang konglomerat ini yang akan membayarnya!" jawab Ricko dengan kesabaran yang sudah berada pada level siaga satu.

"Beneraaaaan, ga bangkrut nih Mas Andra belanjaain aku?" tanya Rena lagi meyakinkan.

Kini Andra dan Ricko menghembuskan nafas lelahnya, bersamaan seolah diberi aba-aba keduanya menyandarkan tubuh disofa dengan kepala menengadah menatap langit-langit. Gimana sih Rena itu? apa dia ga tau bahkan Andra memiliki privat jet yang bisa membawanya keliling dunia kapan pun dia mau. Kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan apalagi hanya membayar barang belanjaan Rena.

Rena makin bingung dengan kelakuan pria tampan disamping kiri dan kanannya itu, kemudian menjadi tidak enak hati "Ya udah deh, kalau Mas Ricko dan Mas Andra memaksa! Tapi bukan aku yang minta ya!!" ucap gadis itu menegaskan kemudian beranjak menuju tempat underware dan kawan-kawannya.

Tidak berapa lama Rena kembali dan duduk diantara Ricko dan Andra. "Maas, disini underwarenya mahal-mahal...aku biasa beli disupermarket! Kita kesana aja yu!!" bisik Rena kepada Ricko yang masih bisa didengar oleh Andra dan kini kesabaran Andra sudah habis, "Kalau dalam satu jam kamu belum berhasil beli satu lusin set undeware, dan satu lusin baju tidur, kamu ga boleh pulang ke apartemen dan tidur saja diluar!!!" seru Andra dengan menahan suaranya agar tidak terdengar SPG butik, jangan tanya tatapan tajam Andra membuat gadis itu berkedip beberapa kali, "Boleh beli lotion, lipstik, sama parfum juga ga?" tanya Rena lagi dan mendapat geraman dari Andra.

Seketika Rena berdiri lalu berlari kecil mengambil keranjang dan memanggil SPG toko untuk membantunya. Ricko terpingkal hingga memegang perutnya, "Aneh gue sama dia, disuruh belanja aja sampe harus diancam dulu!"

Belum satu jam keranjang Rena sudah penuh dengan permintaan Andra, "Mas, udah nih..." Rena mengakat keranjangnya lalu menunggu Andra dikasir.

Andra terlihat meneliti belanjaan Rena, "Iiisshh,,,Mas, jangan diliatin gitu donk!! Apalagi dibayangin, haram loh!!" seru Rena dengan sorot mata mengancam.

"Katanya mau beli lotion, lipstik sama parfum?" Andra mengernyit karena dilihatnya ketiga barang yang dimaksud tidak ada dalam keranjang belanjaan Rena.

"Ga jadi ah, kasian Mas Andra!" jawab Rena ringan.

Andra berdecak kesal kemudian menarik tangan Rena ke rak parfum, "Pilih mau yang mana?" titahnya.

"Rena terlihat bingung dengan berbagai macam wangi yang membuat kepalanya pusing, Andra tau gadis itu sangat sulit menentukan pilihan.

Pria itu mulai mengendus satu persatu tester parfum di rak tersebut, setelah menemukan wangi yang cocok untuk Rena, kemudian menyemprotkannya ketubuh Rena. "Cocok nih buat kamu!" ucapnya kemudian mencondongkan tubuh hendak menghirup parfum yang sudah disemprotkan ke tubuh Rena.

Rena hanya bisa tercenung saat hidung Andra hampir mengenai lehernya lalu gadis itu mengangguk antusias tanda setuju, dan akhirya setelah Andra turun tangan semua kebutuhan Rena termasuk lipstik dan Lotion berhasil didapat kemudian pria itu membayarnya dikasir.

Setelah keluar dari butik underware dengan logo huruf V dan S, Andra dan Ricko membawa Rena kebutik lainnya untuk membeli pakaian santai.

"Mas, pake uang aku yang 5M aja deh, jangan pake uang Mas...ga enak akunya" bisik Rena pada Andra saat kedua pria tampan itu main pilih saja pakaian yang menurut mereka bagus untuk Rena.

"Ga usah banyak ngomong, kamu tinggal pake aja semua baju ini!" seru Andra dengan ketus kemudian melengos pergi.

"Iiissshhh...dia tuh ikhlas ga sih beliin, masa sambil marah-marah gitu" gerutu Rena kesal.

Setelah kedua tangan mereka penuh dengan paperbag, mereka semua memasuki restoran mie untuk mengisi tenaganya yang sudah terkuras habis membantu Rena berbelanja, karena kalau Rena dibiarkan sendiri memilih barang belanjaannya, mungkin bisa seminggu ia akan berada didalam mall ini.

"Bagaimana rasanya, Nona Rena? Bahagia kan, di belanjain pacar?" goda Ricko dengan menyipitkan matanya.

"Bahagia apanya, puyeng yang ada! Mau di pake kemana coba baju sama underware sebanyak itu!" jawab Rena santai

"Bukannya bersyukur dibelanjain banyak barang, malah ngeluh! Dasar cewe aneh!!" Andra mendengus dalam hati.

Tapi Rena terlihat bahagia saat Bakmi pesanannya datang, ia melahapnya dengan anggun kadang sedikit lucu dan menggemaskan memainkan mie dimulutnya. Seumur hidup Andra dan Ricko baru menemukan gadis seajaib Rena.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin