Love and Contract Tempat Tinggal Baru

Tempat Tinggal Baru

Andra mencari ke arah suara tersebut, ternyata tas jinjing Rena ada di dalam semak-semak tanpa pikir panjang Andra melompati pagar semak-semak untuk mengambil tas Rena.

Setelah mendapatkan tas dan ponsel Rena, pria itu berlari mencari Ricko yang tadi sedang mencari Rena di area kolam Renang.

"Ko...gue nemuin tas Rena di semak-semak dekat toilet" nafas Andra tersengal. Bukan hanya karena dari tadi ia berlarian mencari Rena tapi juga karena jantungnya yang berdetak kencang dipicu rasa khawatir dan ketakutan akan keadaan Rena yang masih belum bisa ia temukan.

Andra dan Ricko mulai panik karena malam sudah semakin larut, tamu undangan satu persatu sudah pergi meninggalkan tempat acara. Weny dan keluarga pun sudah tidak diketahui keberadaannya.

"Ko...gimana ini?" Andra sudah berkali-kali menyugar rambutnya frustasi.

"Coba kita liat CCTV" ide cemerlang Ricko membuat keduanya berlari ke ruangan security meminta petugas keamanan memutar rekaman CCTV.

Awalnya petugas keamanan itu keberatan, dan berusaha menghubungi pemilik hotel tersebut yang tidak lain adalah Ayah Weny. Andra harus bernegosiasi dengan sekertaris pribadi Ayah Weny agar petugas keamanan bisa memperbolehkan Andra melihat isi dari rekaman CCTV, tak lupa Andra juga mengancam akan melaporkan hilangnya Rena kepada polisi dan memberitahu wartawan yang bisa mencemarkan nama baik hotel itu karena Rena menghilang masih didalam area hotel tersebut.

Akhirnya sekertaris Ayah Weny memberi ijin, dan petugas keamanan bisa melakukan tugasnya.

Setelah petugas keamanan memutar rentang waktu saat Rena menghilang, barulah terlihat dengan jelas di dalam rekaman CCTV, Rena di bekap diseret paksa menuju dapur untuk kemudian di masukan ke dalam lemari pendingin. Dengan lihai petugas keamanan memindahkan potongan video dari ruangan satu ke ruangan lainnya dengan jelas seperti cuplikan pada film.

Ricko meminta salinan CCTV tersebut kepada petugas keamanan dengan cara kasar, membuat petugas keamanan ketakutan dan dengan terpaksa memberikan salinan CCTV kemudian memohon agar Andra dan Ricko tidak melibatkannya.

Setelah menapatkan salinan CCTV tersebut, kedua pemuda tampan itu berlari dengan kecepatan cahaya menuju dapur. Jarak dari ruang CCTV ke dapur terasa begitu jauh dan begitu lama, dibenaknya Andra sudah tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Rena sekarang terkurung didalam lemari pendingin dengan baju kurang bahan seperti itu apalagi bila dihitung hampir empat jam Rena berada didalam sana.

Andra berjanji akan membalas semua orang-orang yang ada didalam video tersebut karena telah mencelakakan Rena. Setelah perjuangan panjang mereka mencapai dapur, kini keduanya dihadapkan dengan lemari es yang tergembok dari luar.

Andra mencari alat untuk membuka gembok itu secara paksa, ia sudah tidak peduli dengan lemari es yang akan rusak setelah ini. Karena bagi Andra mengganti seribu lemari pendingin pun tidak akan sebanding dengan keselamatan Rena.

Dengan susah payah, akhirnya Andra dan Ricko berhasil membuka lemari pendingin tersebut walau dengan beberapa kerusakan di pintu dan bagian kuncinya. Saat mereka membuka lemari pendingin tersebut terlihat Rena sudah tergeletak tidak sadarkan diri.

Andra membuka Jas dan membalutkannya ke tubuh Rena kemudian menggendongnya ala bridal style menuju loby. Ricko segera menelepon Pak Syam agar secepatnya menyiapkan mobil didepan Loby.

Beberapa pegawai hotel menghampiri, bahkan pria berjas yang Andra yakin adalah Manager dari hotel tersebut, sudah meminta maaf berkali-kali kepada Andra setelah mendapat laporan dari petugas keamanan. Pria seumuran Andra itu mengikuti kemana kaki Andra melangkah dengan Rena dalam dekapannya, Andra sama sekali tidak memperdulikannya, memang didalam CCTV tersebut tidak terlihat Weny yang melakukan hal buruk ini kepada Rena, beberapa teman-teman wanita Weny yang melakukannya tapi Andra yakin Weny adalah dalang dari skenario yang mencelakakan Rena.

Andra begitu mengkhawatirkan keadaan Rena saat ini, dan teringat kembali pesan Bapak untuk selalu melindungi dan menjaga Rena. Ternyata ia tidak bisa menepati janjinya, ia tidak mampu melindungi Rena. Kini Andra menyesal memaksa Rena untuk ikut dengannya kepesta ulang tahun Weny, padahal berkali-kali gadis itu memohon untuk tidak pergi.

Di dalam mobil Andra terus memeluk Rena menghangatkan tubuh gadis cantik itu yang kini wajah dan bibirnya sudah pucat pasi, Andra menepuk-nepuk pipi Rena lembut kemudian menggesek-gesakan telapak tangannya di pipi Rena berusaha memberikan kehangatan pada gadis itu. Ia juga memanggil nama Rena berkali-kali berusaha meraih kesadarannya.

Tapi Rena seperti putri tidur yang setia dengan mimpinya. Pak Syam terlihat khawatir, tapi tidak berani menanyakan keadaan Rena.

"Sekarang kita kemana Pak?" tanya Pak Syam setelah mobil yang mereka tumpangi sudah keluar dari pelataran parkir hotel megah milik Ayah Weny.

"Kita ke Rumah sakit Pak!!" perintah Andra dan seketika itu juga Pak Syam menancapkan gasnya menuju rumah sakit terdekat.

Rena langsung dibawa ke IGD untuk mendapatkan perawatan. Andra masih khawatir walau Rena sudah mendapat penangan dokter, berkali-kali pria tampan itu menanyakan keadaan Rena kepada dokter yang menanganinya.

"Bu Rena tidak apa-apa, hanya kedinginan dan kekurangan oksigen...untungnya tidak terkena hypothermia. Kita rawat saja satu malam disini biar saya mudah mengecek kondisinya" dokter IGD menjelaskan.

Andra mengiyakan dan Rena di masukan ke ruang rawat VVIP rumah sakit tersebut. Rena masih belum sadarkan diri saat memasuki ruang perawatan, tidak lama Ricko menyusul kedalam ruangan dimana Rena tengah berbaring dengan tubuh lemas.

"Gimana Rena Bro?" tanya Ricko dengan raut wajah khawatirnya.

"Ga apa-apa cuma kedinginan dan kekurangan oksigen"! jawabnya menundukan kepala.

"Lo mau kasih pelajaran sama wanita-wanita itu?" tanya Ricko lagi.

"Sama Weny maksudnya? yang menyuruh mereka itu Weny..Lo sadar donk Ko!!" Andra menaikan nada bicaranya dengan alis menukik tajam.

Kali ini ia benar-benar kesal karena kekejaman Weny pada Rena. Ia tidak pernah menyangka seorang gadis terhormat seperti Weny dan teman-temannya bisa melakukan hal serendah itu, seketika perasaan Andra merasa jijik.

Rena mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan cahaya lampu diruangan tersebut dengan retina matanya, perlahan gadis itu membuka matanya, tangannya terangkat memegang pelipis karena merasakan sakit luar biasa dikepala, Rena mulai mencoba mengingat kejadian terakhir kali sebelum ia tak sadarkan diri. Perlahan gadis itu bangkit, dan menyandarkan tubuhnya.

"Mas Andra..." panggilnya lirih

Andra mengalihkan pandangan kearah suara yang memanggilnya kemudian menghampiri Rena tapi tidak berbicara apa pun hanya menatap gadis itu dengan khawatir.

"Mas..dimana ini? Maafin Rena ya udah ngerepotin!"

"Kamu tuh kenapa sih minta maaf terus?" bentak Andra. Sesungguhnya ia kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga Rena, seharusnya gadis itu memarahinya bukan malah meminta maaf.

"Malam ini aku udah mempermalukan Mas Andra, mulai dari gaun yang sobek, ketumpahan minuman sampai...." Rena menghentikan ucapannya lalu menutup mukanya dengan kedua tangan dan menangis tersedu.

"Sudah Rena jangan menangis, semua bukan salah kamu...besok di infotainment pasti rame, kamu ga usah nonton tv dulu ya!" tutur Ricko sembari memegang pundak Rena.

Yang dimaksud Ricko dengan berita diinfotainment itu bukanlah mengenai kejadian naasnya yang dialaminya dikurung di lemari pendingin tapi kejadian bertububi-tubi yang mempermalukan Rena saat pesta berlangsung tadi karena sebelumnya Ricko sudah melihat beberapa wartawan yang meliput pesta ulang tahun Weny, mengambil gambar Andra dan Rena juga insiden-insiden yang mempermalukan Rena.

Andra menarik Ricko keluar kamar.

"Suap semua media agar tidak menyebarkan berita memalukan tentang Rena"

"Oke..Lo jaga baik-baik Rena ya Bro!" Ricko lalu pergi meninggalkan Andra dan Rena. Banyak yang harus ia lakukan untuk menutupi kejadian ini dan membalas apa yang telah Rena alami.

Andra kembali masuk ke dalam ruang rawat, Ia melihat Rena masih menyeka air matanya.

"Istirahatlah...besok kita pulang!" ucap Andra datar kemudian merebahkan tubuhnya di sofa besar tepat di samping tempat tidur Rena.

Rena membaringkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Andra yang sedang memejamkan mata dengan pikiran yang berkecamuk.

Tiba-tiba Andra membuka matanya, pandangan mereka bertemu selama beberapa saat sampai akhirnya Rena menutup perlahan mata indahnya kembali tidur, kepalanya pun masih berat dan tubuhnya terasa sangat lelah.

Setelah dirasa Rena sudah tertidur pulas, Andra bangun dari sofa lalu menarik selimut Rena hingga dagunya. Disentuhnya dahi gadis itu, mengecek keadaan suhu tubuh Rena.

Andra masih menatap Rena, lalu ia kembali merebahkan dirinya disofa dan berusaha tertidur.

KEESOKAN HARINYA

"Ren...bangun" Andra bergumam memanggil Rena tepat disamping tempat tidur.

Gadis itu menggeliat kemudian membuka matanya.

"Jam berapa ini mas?"

"Udah siang, makan dulu trus minum obatnya, setelah itu kita pulang" Andra mendekatkan meja portabel beroda kearah Rena, yang diatasnya sudah tersaji sarapan pagi untuk gadis itu.

Setelah dokter berkunjung dan memperbolehkan Rena pulang, Andra mengantar Rena hingga kosan. Keduanya berjalan beriringan, Rena memakai jas Andra untuk menutupi pundak terbukanya. Rambut Rena sedikit berantakan dan make upnya pun sudah luntur tapi gadis lugu itu masih terlihat cantik.

Sesampainya di depan kosan, Rena tidak pernah menyangka akan disambut oleh makian para tetangga dan Ibu Kosnya.

"Dasar perempuan jalang, wanita panggilan, perempuan ga bener bikin sial satu kampung!" teriak Ibu kos dan beberapa warga disekitar kosan.

"Pergi kamu dari kosan saya!!" teriak ibu kos lagi.

Kening Rena dan Andra terlipat dalam, sungguh keduanya tidak mengerti dengan maksud para tetangga dan Ibu Kos.

"Pergi sore dengan om-om lalu pulang pagi dengan laki-laki lain!!" tambah warga yang lain

Rena tertegun tidak percaya dengan apa yang sedang dialaminya. Dengan mudahnya mereka menilai Rena seperti itu, padahal selama ini ia selalu berbuat baik kepada para tetangga dan Ibu Kosnya. Rena selalu membawakan kue Ibu sebagai oleh-oleh pulang dari Bandung. Tapi entah apa yang dilakukannya di masa lalu hingga mendapat perlakuan seperti ini. Air matanya mengalir tanpa bisa ia bendung lagi.

Dan kejamnya lagi, mereka melempar Rena dengan telur dan air comberan seperti sudah disiapkan sebelumya.

Andra berusaha menghalangi lemparan telur yang diarahkan kepada Rena hingga mengenai tubuhnya.

Rena tidak bisa menjelaskan apa-apa kepada warga dan ibu kos, mereka juga sepertinya tidak mau menerima penjelasan. Kemudian Pa RT datang menenangkan warga dan mencoba menjelaskan kondisinya pada Rena dan Andra.

"Nak Andra mohon maaf, bila Nak Andra memang kekasih Rena segeralah lah membawa Rena pergi dari sini dan cepat lah menikah, gossip tidak baik sudah beredar tentang Rena, kasihan Rena!" ucap Pak RT sambil menatap Rena iba.

Mungkin diaerah itu hanya Pa RT lah yang memiliki isi kepala sedikit waras maka dari itu ia diangkat menjadi seorang RT. Pak RT sama sekali tidak berpikiran buruk pada Rena karena Pa RT pikir bila Rena bukan gadis baik-baik yang menjual tubuhnya seperti yang dipikirkan warga sana, Rena tidak akan tinggal di kosan kumuh seperti ini. Mungkin ia sudah tinggal di apartemen mewah yang bisa ia sewa dari jasa menjual tubuhnya.

"Baik Pak RT saya bantu Rena membereskan barang-barangnya dulu setelah itu kita pergi dari sini!" tutur Andra

Rena masuk ke dalam kamar kosnya dan membereskan barang-barang dengan dibantu oleh Andra.

"Ambil barang-barang penting saja, sisanya tinggalkan!!" titah Andra tegas.

"Tapi Mas..."

"Nanti aku belikan lagi!!" seru Andra dengan menyatukan alisnya. Lagi-lagi Rena mendapatkan pelampiasan kekesalan dari Andra. Pria itu sebetulnya kesal kepada para tetangga Rena dan Ibu Kosnya, ditambah lagi disaat seperti ini Rena masih saja melawan perintahnya.

"Dia tidak dengar apa, mereka semua diluar masih berteriak-teriak!!" Andra menggerutu didalam hati.

Akhirnya Rena hanya membawa pakaian kerja, satu piyama, satu dress untuk di rumah, sebagian alat make up dan terakhir yang wajib Rena bawa adalah tas, sepatu juga baju-baju branded yang sudah Tante Mery belikan. Walau keadaan genting, gadis itu masih mengingat barang brandednya yang secara cuma-cuma ia dapatkan. Orang seperti Rena sangat menghargai barang seperti itu walau hanya pemberian, ia tidak pernah tau kapan ia bisa membeli barang seperti ini lagi.

Padahal sebentar lagi ia akan menjadi istri seorang Kallandra Arion Gunadhya, putra Mahkota kerajaan bisnis AG Group. Ia bisa meminta apapun kepada suaminya itu. Bahkan mungkin kampung ini pun bisa Andra belikan bila Rena meminta.

"Setelah ini kita kemana Mas?" tanya Rena sambil mengemas barang-barangnya.

Tapi Andra tidak menjawab melihat Rena pun tidak. Gadis itu terlalu lelah berdebat dan sudah tidak mempunyai tenaga memikirkan sikap Andra yang seperti itu. Rena sudah paham karakter pria yang akan menjadi suaminya nanti. Maka ia hanya bisa mengusap air mata, yang sedari tadi sulit sekali berhenti mengalir.

Entah kenapa semenjak memutuskan menandatangani Kawin Kontrak itu hidupnya penuh drama seperti dalam sinetron.

Setelah selesai berkemas mereka bergegas pergi meninggalkan kosan Rena, tidak banyak barang yang Rena bawa membuat acara berkemas mereka tidak membutuhkan waktu lama, warga yang tersulut emosi masih meneriaki mereka hingga ke depan jalan.

Pak Syam terkejut melihat Tuannya membawa tas besar lalu membantu membawa tas itu masuk kedalam bagasi mobil.

"Ada apa Pak? Kenapa Bapak dan Nona Rena dilumuri telur?" Tanya Pak Syam dengan mengernyitkan dahinya.

"Kita ke Apartemen Pak..." perintah Andra tanpa menjawab pertanyaan Pak Syam.

Rena mencoba menjelaskan kejadiannya pada Pak Syam yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kaca spion.

"Tadi kita di lempari telur dan air comberan sama warga dan Ibu Kos, mereka menganggap saya perempuan ga bener karena kemarin pergi dengan Pak Syam dan pulang diantar Mas Andra"

"Oooaaalaaahh...keterlaluan sekali mereka , padahal Nona baru keluar dari rumah sakit! Memang sebaiknya Nona tinggal di apartemen tidak cocok tinggal di gang sempit seperti itu" Pak Syam mendengus kesal.

Rena memaksakan senyumnya mendengar ucapan Pak Syam.

"Sebulan berapa biaya apartemennya Mas?" bisik Rena pada Andra

"Gratis!!!" jawab Andra datar.

Rena memutar bola matanya jengah, ia memang tak pernah bisa berbicara seperti manusia normal pada umumnya dengan Andra.

Sesampainya di apartemen, Andra dan Pak Syam membantu membawa barang-barang Rena.

"Pak Syam sekalian tolong ambil baju ganti punya saya dan bawa ke atas...saya mau mandi dulu disini" pinta Andra.

"Baik Pak..." Jawab Pak Syam kemudian kembali ke mobil untuk mengambil baju Tuannya.

Mereka masuk ke dalam Apartemen yang tidak begitu luas hanya ada satu kamar tapi interior didalamnya terlihat mewah. Rena tak kuasa menahan mulutnya yang sedari tadi terbuka karena terpesona dengan kemewahan apatemen yang akan ia tinggali kedepannya.

"Mas..yang biasa aja apartemennya..kalo orang lain tau nanti banyak pertanyaan!" tutur Rena

"Ga perlu dijawab saja!" jawab Andra dingin lalu masuk ke dalam kamar mandi yang berada didalam kamar

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin