Love and Contract Pesta Ulang Tahun

Pesta Ulang Tahun

Sedari tadi Rena sibuk berdandan di depan cermin, hari ini pesta Ulang Tahun Weny dan Andra memaksanya untuk pergi bersama, beribu alasan Rena berikan tapi Presdir tampan itu tidak menerima penolakan. Sampai akhirnya tatapan tajam yang Andra layangkan membuat Rena menyerah dan terpaksa menyetujui permintaan Andra.

Drrtt.. Drrtr... telepon genggam Rena berdering, terlihat nama Andra dilayar ponsel tersebut.

"Hallo?" jawab Rena setelah menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.

"Aku ga bisa jemput, Pak Syam yang akan menjemput...sekarang dia udah ada di depan kosan kamu, kita ketemu di tempat acara!" ucap Andra, padahal belum Rena sempat menjawab tapi sambungan telepon itu sudah terputus begitu saja.

Menghela nafas, "Ya sudahlah..." gumamnya pasrah.

Saat Rena keluar kosan, ternyata Pak Syam sudah ada di depan kamarnya.

"Selamat sore Nona Rena..!" sapa Pak Syam ramah sembari membungkukan sedikit tubuhnya.

"Selamat Sore Pak Syam... Ayo Pak, kita pergi!" jawab Rena dengan senyum ramahnya.

Sore itu di gang kosan Rena banyak warga yang sedang berkumpul menikmati senja. Warga berbisik-bisik sambil melirik curiga kearah Rena dan Pak Syam. Rena mempercepat langkahnya tidak ingin melihat apalagi mendengar mereka yang sudah pasti bergosip tentang dirinya.

Hari sudah berganti malam ketika Rena tiba di Hotel mewah tempat acara ulang tahun Weny berlangsung.

"Sudah Sampai Non..." Pak Syam membuka pintu mobilnya hendak keluar membukakan pintu mobil untuk Rena.

"Eh..Bapak parkir saja dulu, saya ikut ketempat parkir...saya belum bisa menghubungi Mas Andra" tolak Rena lembut.

"Tempat parkirnya jauh Non..Nona Rena turun disini saja lalu masuk ke dalam, sepertinya Pak Andra sudah datang, tadi saya melihat mobil Pak Ricko di depan" kemudian Pak Syam turun membuka pintu untuk Rena.

"Baiklah Pak, terimakasih..." Rena mengesah,

Tubuh Rena gemetar, telapak tangannya terasa dingin, jangan tanyakan keadaan jantungnya karena semenjak memasuki pelataran parkir hotel mewah ini jantungnya sudah bertalu-talu berdetak kencang, gadis itu belum pernah datang ke acara semewah ini, Rena tidak tau harus pergi kemana dan apa yang harus di lakukannya, Rena berharap Andra segera menemuinya, secepatnya, kalau bisa sekarang juga.

Dengan langkah pelan nan anggun Rena berjalan sambil terus menghubungi Andra dengan posel yang digenggamnya, Rena memasuki Loby hotel kemudian bertanya pada petugas disana tempat acara ulang tahun Weny berlangsung, setelah mendapat arahan, Rena langsung menuju tempat yang dimaksud.

Saat itu Ricko dan Andra sedang berbincang dengan Weny dan teman-temannya.

"Terimakasih ya sudah datang Ka Andra dan Ka Ricko" seraya mencium paksa pipi kanan dan pipi kiri Ricko dan Andra, Weny sungguh wanita yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Rena masuk perlahan melalui lorong yang sudah di dekor sedemikian rupa dengan hiasan bunga dan lampu-lampu kecil menyinari lorong menuju tempat acara, para tamu sebagian sudah berkumpul. Bola mata Rena tak henti mencari keberadaan Andra dan Ricko, lalu ia tersadar saat semua orang memandang ke arahnya, membuat tubuh Rena semakin gemetar dan jatungnya seperti akan loncat meninggalkan tempatnya. Ia meremas kedua tangannya berusaha menghilangkan rasa gugup yang sedari tadi ia rasakan.

Semua orang terkesima melihat Rena, termasuk Andra dan Ricko. Keduanya tak percaya Rena bisa sangat cantik malam ini padahal gadis itu tidak pergi ke salon untuk memulas wajahnya atau merapikan rambutnya tapi malam ini Rena terlihat berbeda. Apakah salah satu Dewi dari kahayangan sedang turun ke Bumi saat ini?. Para pria disana tak henti menatap Rena walau mereka sedang menggandeng pasangannya, bukan hanya pria bahkan para wanita pun menatap iri kearah Rena.

Rena berdandan sangat Flawles dan Natural dengan bulu matanya yang lebat, lentik dan panjang menambah kecantikan mata bulatnya, tidak perlu eyelashes atau bulu mata palsu untuk menonjolkan mata indah itu. Dagu yang lancip dan bibir yang mungil membuat Rena terlihat seperti Barbie di malam ulang tahun Weny.

Gaun malam Rena pun mengundang decak kagum, model Sabrina di bagian atas nya memamerkan pundak hingga dada Rena yang putih mulus, longdress berbahan sutra berwarna merah maroon itu seperti menempel di tubuh langsingnya, menegaskan body Rena yang seperti biola.

Andra menghampiri Rena dengan senyum hangat, menggapai tangan Rena lalu menggandengnya. Weny yang melihat Andra menggandeng Rena mesra merasa kesal dan memanggil teman-temannya kemudian berbisik seperti merencanakan sesuatu.

"Hai Nona Rena, apa kabar? Kamu sangat cantik malam ini" puji Ricko, saat pasangan pura-pura itu sudah ada didepannya.

"Makasih Mas Ricko..." Rena memaksakan senyum, sebetulnya Rena merasa risih, tidak nyaman ada dalam pesta seperti itu. Apalagi teman-teman Andra yang menatap Rena seolah tak percaya, karena Andra terkenal dengan sikap dinginnya kepada wanita. Andra baru pertama kali ini terlihat bersama wanita sejak tujuh tahun yang lalu.

Rena tak mau melepaskan gandengan tangannya, bahkan makin lama tangannya makin kuat mencengkram lengan Andra, Andra yang merasakan itu kemudian mendekatkan wajahnya ketelinga Rena.

"Jangan kencang-kencang megangnya, nanti lengan aku memar!!" bisik pria itu, tak punya belas kasihan.

Seketika Rena melepaskan gandengannya karena kesal. "Dia ga tau apa, aku gugup gini?!" gerutunya dalam hati.

Tidak berapa lama salah satu teman Andra dan Ricko menghampiri, setelah Andra memperkenalkan Rena sebagai kekasihnya kemudian pria itu mengajak mereka menemui temannya yang lain.

"Aku disini saja Mas..." Rena menolak dengan lembut saat Andra menariknya menuju sekumpulan executive muda.

Kening Andra berkerut, ia tau Rena tidak nyaman dan merasa inferior ditengah-tengah pesta kalangan jetset seperti ini maka dari itu Andra mengabulkan keinginan Rena untuk meninggalkannya saja disana sebentar.

"Aku cuma sebentar, kamu jangan kemana-kemana!" pinta pria itu dengan tatapan serius sebelum pergi meninggalkannya yang dibalas dengan anggukan dan senyum manis Rena.

Kini tinggalah Rena sendiri menikmati sajian yang telah dihidangkan, ia cukup nyaman berdiri diantara stand yang disediakan disana, sampai akhirnya Weny menghampiri Rena yang sedang asyik menikmati sushi yang disajikan di salah satu stand tersebut.

Rena yang sadar Weny sedang berjalan ke arahnya langsung balik badan berusaha menghindari gadis mungil dengan wajah garang yang sudah semakin dekat itu, belum juga Rena melangkahkan kakinya, Weny sudah berteriak membuat Rena mengurungkan niat untuk kabur.

"Hei..tunggu!" teriak Weny, Rena yakin semua orang pasti mendengarnya.

"Ah...Weny ya?! Selamat Ulang Tahun Weny, kamu cantik sekali malam ini!" ucap Rena basa-basi sambil mengulurkan tangannya.

Tapi Weny tak menghiraukannya gadis itu malah melangkah mendekati Rena mengikis jarak diantara mereka.

"Sedang apa kamu disini? kamu tuh ga pantas ada disini!" Weny menaikan sedikit nada bicaranya.

"Saya datang bersama Mas Andra.." jawab Rena lirih dengan mengedip-ngedipkan matanya.

Lihat, beberapa tamu sedang memperhatikan mereka. Rena melirik sekitar, dan ia semakin gugup saat beberapa tamu yang sedang memperhatikannya saling berbisik.

"Mas Andra kemana sih?" rutuk Rena dalam hati.

Weny mendekatkan wajahnya ketelinga Rena.

"Harus nya kamu sadar kamu itu siapa?! Kamu ga pantas datang ke acara mewah seperti ini apalagi bergandengan tangan dengan Ka Andra, kamu itu beda kasta dengan kita!" bisik Weny dengan nada melecehkan.

Rena hanya bisa diam dan tersenyum getir dan berniat meninggalkan Weny tanpa membalas, percuma saja weny bukan lawan yang seimbang untuk Rena apalagi Weny adalah tuan rumah dari pesta tersebut. Pada saat Rena hendak pergi meninggalkan Weny, gaun panjangnya sengaja Weny injak membuat gaun mahal itu robek memanjang hingga paha, suara robekannya sangat keras membuat semua berbalik melihat ke arah weny dan Rena termasuk Andra juga Ricko.

Andra berjalan setengah berlari menghampiri kedua wanita itu

"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Andra pada Weny dengan tatapan tajamnya menyatukan alis tebalnya.

Sungguh, Weny ketakutan melihat tatapan Andra yang seakan ingin membunuhnya. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan pria pujaan hatinya itu dan hanya diam membisu, untuk sekedar melangkahkan kakinya pergi dari sana saja, ia tidak sanggup.

"Tadi Weny ga sengaja menginjak gaun ku, ga apa-apa ko Mas, aku bisa perbaiki.." ujar Rena mencoba menenangkan Andra yang terlihat ingin mencabik-cabik Weny saat itu juga.

Sebetulnya dalam hati Rena sangat kesal, tapi Rena berusaha tenang tidak ingin memperkeruh suasana, ia berharap Andra akan membawanya segera pergi dari lubang neraka ini.

Rena berusaha membuktikan jika dirinya baik-baik saja, gadis itu mengambil ke dua ujung gaun yang robek dibagian bawah menariknya ke atas menyilangkannya dan mengikatnya dibelakang pinggang. Sekarang gaun panjang itu berubah menjadi mini dres dengan aksen menyilang di depan membuat Rena terlihat makin seksi.

Para tamu yang sejak tadi menonton drama mereka malah bertepuk tangan untuk Rena. Lagi-lagi Weny sangat geram melihat saingannya berhasil mengendalikan situasi, tangannya mengepal kemudian Weny pergi meninggalkan Rena dan Andra tanpa sepatah katapun.

Kali ini Andra menggenggam tangan Rena, memperkenalkannya sebagai kekasih pada semua teman-temannya lalu mengajak kekasih pura-puranya itu mengambil minuman.

Seakan masalah bertubi-tubi menghampiri Rena malam itu, kali ini salah satu teman wanita Weny dengan sengaja menumpahkan minuman tepat di dada Rena hingga meninggalkan noda digaun bagian atasnya, membuat kesabaran Andra sudah pada puncaknya, tidak sadar ia membentak  wanita yang menumpahkan minuman itu

"Kamu punya mata tidak?" kembali dua sejoli itu menjadi pusat perhatian.

"Ah..maaf, ga sengaja" ucap gadis itu sambil bergegas pergi.

Saat Andra akan melangkahkan kakinya mengejar si wanita minuman tadi untuk meminta pertanggung jawaban, Rena menarik tanga pria tampan itu dan mengelus dada bidangnya sangat lembut, dengan tatapan memelas seolah itu bisa membuat Andra luluh untuk tidak memperpanjang masalah. Malam ini bukan Rena yang berulang tahun tapi justru gadis itu terus yang menjadi pusat perhatian.

"Udah Mas ga apa-apa...aku ketoilet dulu ya bersihin gaunnya" ucap Rena lembut.

Benar saja, Andra luluh dengan tatapan Rena dan seketika emosinya mereda setelah mendapat sentuhan Rena.

"Aku tunggu disini" pria itu bilang dengan nada bicara yang masih terdengar kesal.

Rena pergi meninggalkan Andra, bergegas mencari toilet.

Setelah membersihkan diri, Rena berjalan kembali mencari Andra, tapi Rena dihadang oleh teman-teman wanita Weny, mulutnya di bekap, tas jinjingnya di rampas lalu mereka membuangnya ke semak-semak.

Rena diseret paksa ke arah dapur yang pada saat itu sedang sepi. hanya ada beberapa pegawai dan tentunya mereka sudah disuap sebelumnya oleh weny. Para pegawai yang melihat tidak bisa berbuat apa-apa karena hotel ini milik Ayah Weny.

Teman-teman wanita Weny yang katanya berpendidikan, bermartabat dan anak dari pengusaha-pengusaha sukses di negri ini dengan tega memasukan Rena ke dalam lemari pendingin yang cukup besar.

Rena berteriak meminta tolong dengan sekuat tenaga, tapi tidak ada yang berani membuka, para pegawai malah meninggalkan area dapur.

Tak sadar beberapa jam berlalu, Andra terhanyut berbincang-bincang dengan teman dan kolega bisnisnya hingga Ricko yang entah datang dari mana memanggilnya.

"Bro..Rena mana? kita pulang sekarang! Sudah malam, kasian dia!"

"Andra terkesiap, seingatnya Rena tadi pergi ke toilet dan ia baru sadar sudah berjam-jam Rena belum kembali.

Andra dan Ricko mencari Rena kesekeliling area hotel, hingga acara selesai. Mereka bertanya kepada para pelayan dan security tapi semua menggelengkan kepala mengaku tidak melihat Rena.

"Coba telepon Ndra..!" Ricko memberi ide.

Andra menghubungi Rena dengan telepon genggamnya sambil berjalan mencari Rena kembali ke arah toilet, terdengar bunyi suara telepon genggam Rena.

"Ini seperti nada dering handphone Rena!" gumam Andra sambil mencari arah suara tersebut.

Rena yang masih ada di lemari pendingin tidak kuat menahan dingin dan pengap, pakaian yang terbuka tidak bisa menghangatkannya dari dinginnya lemari pendingin. Rena menggigil dadanya terasa sesak, giginya bergemeretak kencang.

"Ibu..Bapak" Lirihnya dalam hati.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin