Love and Contract Shopping dengan Tante Merry

Shopping dengan Tante Merry

*Villa Om Salim

"Ada apa Mah? Ko mukanya cemberut gitu?" Tanya Om Salim sambil menyeruput secangkir kopi, ia mengambil potongan kue Ibu Rena yang telah disediakan diatas meja oleh seorang pelayan.

Mery menghela napas panjang "Mama ga suka sama calon istrinya Andra... dia bukan siapa-siapa, bukan anak dari siapa-siapa, Mama malu memperkenalkannya sama teman-teman sosialita Mama nantinya" gerutu Mery sambil mengerucutkan bibir dengan wajah ditekuk

"Ya ampun Mama...kirain ada apa?! Ini berkas Rena, tadi pagi Ricko memberikannya pada Papa, sudah Papa baca semua...Rena hanya orang biasa dari keluarga biasa, Bapaknya pensiunan Kepala Sekolah SMA, Ibunya pernah buka toko kue tapi tutup semenjak suaminya sakit-sakitan...Mereka tidak mempunyai hutang konsumsi, hanya ada beberapa hutang untuk biaya pengobatan Bapaknya, mereka hidup sederhana, tidak ada scandal yang bisa mempermalukan kita juga. Kalo menurut Papa sih, Rena cocok untuk Andra....Mama masih ingat kan kejadian Monica? Monica bukan orang biasa, dia anak pengusaha juga, bahkan ibunya Monica adalah teman sosialita Mamah...tapi sayangnya dia tamak. Mamah mau kejadian seperti dulu terjadi lagi?! Om Salim menjelaskan dengan penekanan diakhir kalimatnya.

"Ya ga juga sih Pa...tapi mamah kurang sreg, Mamah maunya punya mantu dan besan sederajat dengan kita" sanggah Mery dengan bergelayut manja pada suaminya.

"Jangan menolak jodoh Mah...Mamah harus ingat, Dewi Mamanya Andra juga orang biasa teman kuliah Sony, Dewi mendapat beasiswa sehingga bisa kuliah ditempat yang mahal dengan Sony dan orang tua Papa pun menyetujui, walaupun Dewi berusaha keras menyesuaikan dirinya tapi dia berhasilkan Ma?! Papa harap Mamah terima Rena Ya?!" Pinta Om Salim mengelus tangan Istrinya.

"Iya deh...mama akan berusaha demi Andra" saut Mery dengan wajah tidak relanya.

Naaah...begitu donk,itu baru Nyonya Salim..." goda Om Salim.

Mery berdecak kesal, tapi tak urung ia pun berjanji untuk menerima Rena menjadi bagian dari keluarganya walau mungkin ia akan memberikan beberapa tes dulu kepada gadis itu.

*****

Sore itu Andra menjemput Rena untuk kembali pulang ke Jakarta.

"Nak Andra...Bapak titip Rena ya, tolong jaga Rena, ia memang anak yang mandiri tapi hatinya rapuh" pesan Bapak kepada Andra dengan wajah sendu, dari sorot matanya bisa Andra liat, Bapak Roni berkata dengan sungguh-sungguh membuat Andra menjadi tidak enak hati mengingat kontrak yang telah ia buat dengan Rena.

"Baik Pak...Andra janji akan menjaga Rena dengan baik" entah kenapa Andra mengatakan kalimat janji seperti itu membuat Andra mengerang dalam hati setelahnya.

"Kaka titip Ayah dan Ibu sama Ade dan Aras, kalo ada apa-apa telepon Kaka!" pesan Rena kepada adik-adik seraya memeluk dan mencium kedua orang tua dan adik-adiknya.

Andra dan Rena berpamitan dan keluarga Rena mengantar anak dan calon menantunya hingga halaman rumah.

"Mas Ricko mana Mas?" tanya Rena sesaat setelah mobil mewah Andra keluar dari komplek perumahan, ia baru sadar Andra datang sendirian.

"Tadi malam dia langsung pulang karena hari ini ada kerjaan mendadak" jawab Andra datar tanpa melihat kearah Rena.

Rena menjawab dengan membulatkan mulutnya membentuk huruf O kemudian menghela nafas pelan, sepanjang jalan Bandung - Jakarta pasti akan sangat membosankan berdua dengan Andra yang selalu menganggapnya tidak ada. Dan benar saja, hanya suara radio yang menemani mereka dalam perjalanan panjang itu.

*****

Rena di kejutkan oleh suara dering telepon genggamnya, dilayar ponsel nama Lia muncul

"Hallo de?" jawab Rena.

"Kaaaa...tadi ade mau bayar uang kuliah, tapi katanya sudah di bayar lunas hingga semester akhir! Itu Kaka yang bayar?" tanya Lia dengan berteriak dari sebrang sambungan telepon.

Rena mengernyitkan dahinya, berpikir keras karena seingatnya ia belum membayar uang kuliah Lia karena uang hasil kerja tambahannya saja baru ia berikan weekend kemarin saat pulang ke Bandung.

"Apa ada kesalahan di bagian keuangan kampusnya?" Rena membatin

"Kaaa...ini Aras juga udah pulang, kata Aras SPP sekolah Aras juga sudah lunas sampai Lulus bahkan! Tadi waktu Aras mau bayar malah di tolak! Hallo Ka?!" panggil Lia karena terdengar sepi di sambungan teleponnya tidak terdengar jawaban dari Rena.

"Eh iya de...iya, nanti kaka telepon lagi ya jam makan siang Kaka udah habis!" Rena mengakhiri panggilan teleponnya sepihak.

"Kenapa biaya sekolah Lia dan Aras lunas semua? apa Mas Andra yang membayarnya? tapi untuk apa? Apa dari uang yang 5 Milyar itu? Ahhhh....aku bingung, nanti aku telepon Mas Andra deh" gumamnya seraya setengah berlari kembali ke mejanya.

Hari ini Rena bisa pulang cepat karena antrian nasabah tidak terlalu panjang, setelah sampai parkiran ia mencoba memesan ojeg online dari aplikasi smartphone miliknya, tiba-tiba ia di kejutkan oleh mobil sedan mewah berwarna putih berhenti tepat di depannya. Suara seorang wanita memanggil Rena dari dalam mobil.

"Rena...ayo masuk"

"Hah? Tante Mery!" Rena panik, sumpah demi apapun Rena masih trauma berhadapan dengan Tante sosialita yang masih terlihat cantik walau diusianya yang tidak lagi muda itu, tapi Rena tidak bisa menolak ajakan Tante Mery, dengan menyeret paksa kakinya ia pun masuk kedalam mobil dan duduk di kursi belakang bersebelahan dengan Mery.

"Apa kabar Tante?! sapa Rena dengan sedikit menunduk.

"Baik..kamu baru pulang kerja?! Mery balik bertanya.

"Oh iya Tante, saya baru saja mau pulang, ada apa Tante mencari saya?"

"Antar Tante belanja ya?!" pinta Mery dengan senyum tipis dibibirnya.

"Baik Tante..." jawab Rena pelan, sebetulnya Rena hanya ingin merebahkan tubuhnya di Kasur kosannya, ingin tidur lebih awal dan menikmati sisa harinya dengan beristirahat mengumpulkan tenaga untuk esok hari. Tapi mau tidak mau ia harus mengikuti keinginan calon mertua pura-puranya itu.

Mereka berhenti di pusat perbelanjaan termegah di Jakarta. Merry dan Rena memasuki setiap butik untuk membeli baju, sepatu bahkan tas, berkali-kali Mery menawarkan Rena untuk mengambil barang yang ia suka tapi Rena selalu menolak.

"Masih ada Tante, Rena belum butuh!" jawabnya berbohong, padal sebagai pegawai bank, Rena termasuk karyawan yang sederhana. bila teman-temannya selalu memamerkan tas bermerk yang dibeli secara online dengan harga lima puluh persen lebih murah dari yang dijual dibutik, Rena hanya memakai tas KW yang ia beli di Mangga Dua, atau tas berbahan kain kanvas dengan tulisan kota asal tas tersebut karena biasanya tas seperti itu ia dapatkan dari teman-temannya yang pulang berlibur dari bali atau negara tetangga.

Sangat tidak mencerminkan karyawan Bank, tapi sekali lagi itu tidak akan membuat Rena bahagia karena bahagia menurutnya adalah keluarganya bisa makan dengan layak, Bapaknya bisa berobat dan adik- adiknya bisa sekolah.

Tapi cuci mata boleh donk? selagi Tante Mery mencoba dan memilih sepatu dan tas, ia pun berkeliling melihat-lihat barang branded dengan harga fantastis itu. Berkali-kali Rena berdecak kagum dan hanya menghembuskan nafas kasar saat melihat bandrol yang tertera pada tas atau sepatu yang ia suka dan tak luput dari perhatian Tante Mery.

"Ck...buat dikaki aja ampe seharga sebulan gaji, busyet dah!!" Rena membantin.

"Ren...nomor sepatu kamu berapa? cobain deh sini, Tante mau beliin buat anak koleganya Om kamu!"

"Hah? Om aku? Omnya Mas Andra kali Tan" batin Rena geli

"No 39 Tan atau No 8" jawabnya tanpa curiga, lalu ia mencoba sepatu flat shoes berwarna hitam dengan Logo inisial MK didepannya, kemudian ia mencoba kitten heels berwarna nude dengan pita hitam dibagian belang,tepat diata tumit. Sangat pas dan cocok di kaki Rena yang putih mulus.

Diam-diam Mery membelikan Rena sepatu, tas dan baju yang Rena sentuh tanpa sepengetahuan calon menantunya itu.

Setelah selesai berbelanja, Mery mengajak Rena makan malam, sambil menunggu makanan disajikan mereka pun berbincang-bincang.

Merry mulai menanyakan bagaimana awal dari pertemuan keponakannya dengan Rena, untung sebelumnya Ricko sudah mengcoaching Rena dan Andra mengenai pertanyaan-pertanyaan yang akan sering muncul dan untuk menghilangkan dahaga orang -orang disekitar mereka akan kisah cinta Andra dan Rena maka mereka pun mengikuti skenario yang Ricko buat. Jawaban yang tidak dibuat-buat sesuai dengan kepribadian Andra juga Rena.

Hingga Tante Mery menanyakan bagaimana Andra menyatakan cintanya kepada Rena. Gadis itu tertawa kecil kemudian terlihat rona merah dipipinya.

"Emm...sebetulnya Mas Andra belum pernah secara langsung menyatakan cintanya, tapi dia selalu mengenalkan Rena sebagai kekasihnya kepada orang-orang yang dikenalnya bahkan kepada kliennya...," jawab Rena yang memang begitulah kenyataannya.

Karena kontrak itu, mengharuskan Andra memperkenalkan Rena sebagai kekasih yang akan ia nikahi sedangkan tidak pernah sekalipun Andra menyatakan cintanya pada Rena.

"Andra itu memang pria introvert, Rena... Dia tidak akan menyatakan cinta atau mengumbar kata cinta apalagi bersikap romantis, apa kamu sanggup menghadapi sikap Andra?" Tante Mery memicingkan matanya.

"Selama Mas Andra memang mencintai Rena, sepertinya ga masalah...karena cinta tidak selalu berupa kata, tapi juga perbuatan" jawab Rena ringan sambil tersenyum.

"Rena serius dengan Andra? Apa Rena benar-benar mencintai Andra dalam suka dan duka?! Bagaimana bila suatu hari perusahaan Andra mengalami kebangkrutan? Apa Rena masih mencintai Andra?" pertanyaan tanya Mery yang mengintrogasi Rena dengan tatapan tajamnya membuat gadis itu kesusahan menelan saliva.

DEG

Hati Rena terasa sakit, dia memang sering di rendahkan orang tapi tak pernah sesakit ini. Kenapa orang kaya selalu berpikiran negatif kepada orang sederhana sepertinya? Sebetulnya ia sudah menduga suatu hari Tante Mery akan menanyakan hal ini kepadanya, tapi ia tidak pernah siap.

"Kenapa ini rasanya sakit sekali ya?" batin Rena sendu. Rena berusaha tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Mery.

"Tante, Rena tidak bisa janji apa-apa kepada Tante tapi Rena berusaha untuk mencintai Mas Andra sepenuh hati Rena. Bila suatu hari Rena di takdirkan untuk menikah dengan Mas Andra, Rena tidak akan berhenti bekerja jadi jika perusahaan Mas Andra bangkrut sekalipun, Rena masih punya penghasilan untuk menopang keluarga kami!" Jawab Rena polos masih dengan mempertahankan senyum khasnya.

Rena berusaha menegarkan hatinya mendengar keraguan dari Mery, disisi lain Rena merasa lega bahwa pernikahannya hanya kontrak. Setidaknya walau Mery tidak menyukainya dan berperan sebagai ibu mertua yang jahat seperti di sinetron-sinetron, itu akan hanya terjadi selama 5 tahun saja dalam hidupnya.

"Rena memang orang biasa Tante, tapi apa orang biasa tidak boleh memiliki cinta? Sedangkan cinta tidak mengenal kekayaan atau status sosial seseorang...Mas Andra pun belum melamar Rena ko Tante, jadi masih banyak kesempatan untuk wanita lain mendekati Mas Andra...Rena hanya bisa pasrah siapa pun yang di takdir kan Tuhan untuk jadi jodoh Mas Andra berarti itu yang terbaik buat kita semua!" tambanya lagi dengan nada suara rendah, suaranya terdengar merdu ditelinga Merry membuat hati Mery terenyuh.

Mery terpekur mencerna semua perkataan Rena, dalam hati, Mery merasa sangat jahat sudah merendahkan Rena, sedangkan Rena menjawab semua pertanyaannya dengan tenang dan selalu tersenyum, juga sama sekali tidak balas menyinggungnya.

"Baiklah Rena...kita makan dulu ya" ucap Tante Mery, karena pelayanan sudah menghidangkan makanan yang mereka pesan di meja.

Mery tidak menyinggung masalah hubungan keponakannya itu dengan Rena lagi, ia memilih menceritakan teman-teman sosialitanya dan kegiatannya sehari-hari.

Setelah shopping cantik yang diakhir dengan makan malam yang sempat menegang itu, akhirnya Mery mengantar Rena pulang, seperti biasa Rena meminta hanya di antar hingga mulut gang saja tapi Mery memaksa mengantar hingga kosan Rena.

"Ayo Tante antar hingga kos an kamu!" ajak Mery yang sudah membuka pintu mobilnya.

"Ga perlu Tante, kedalam nya cukup jauh, biar sampai sini saja!" tolak Rena lembut.

"Ini belanjaan kamu, jangan menolak lagi, Tante ga suka di tolak...biar Tante dan Pak Edi supir Tante mengantar kamu ke dalam! Ayo jangan di bantah lagi" tegas Mery, wanita sosialita itu sudah berjalan masuk kedalam gang.

Rena akhirnya menurut, sepanjang jalan ke Kosan Rena, wanita sosialita yang akan menjadi mertuanya i hanya mtuenutup hidung dan berjalan berjinjit padahal Mery sudah memakai higheels.

Berkali-kali Merry mengembungkan pipi seperti ingin memuntahkan sesuatu dari mulutnya, Rena yang melihat merasa tidak enak kemudian menghentikan langkahnya.

"Tante kembali saja dengan Pak Edi, dari sini udah deket ko...kasian Tante sepertinya tidak nyaman!"

"Udah ayo jalan..." ucap Mery sambil berjalan mendahului Rena.

Tidak lama mereka sampai di kosan Rena di daerah yang terlihat kumuh, Mery masuk ke dalam Kosan dan terkejut setelah memindai ruangan berukuran 4 x 4 meter itu.

"Ini tempat paling bersih sejak dari depan gang tadi" gumam Mery dalam hati.

Rena memang rajin bersih-bersih, sudah terbiasa semenjak kecil. Jadi dimana pun Rena pasti ingin tempat itu rapih dan bersih.

"Oke Rena sayang...Tante pulang dulu ya, kamu istirahat aja sekarang!" pamit Mery, kemudian mencium pipi Rena sekilas.

"Terimakasih untuk belanjaannya Tante, Rena ga tau bagaimana harus membalasnya...," ucap Rena tulus

"Cintai saja Andra dengan tulus, itu sudah cukup!" ujar Mery sambil berlalu.

Setelah Tante Mery dan Pak Edi tak terlihat lagi, Rena masuk dan menghela napas panjang lalu mulai membuka semua belanjaannya, ia memandangi satu-satu barang belanjaan yang dibelikan Tante Mery, Rena tidak pernah membayangkan akan memiliki barang branded seperti ini. Bibirnya tersenyum bahagia dan penuh syukur sambil memeluk tas dan sepatu yang dibelikan Mery.

Lalu Rena teringat sesuatu dan segera mencari ponselnya untuk menghubungi Andra.

Baru saja dua kali dering, pria itu sudah menjawabnya.

"Ya?" jawab Andra

"Halo Mas Andra? Apa Rena mengganggu?"

"Ngga, ada apa?!" Tanya Andra dingin

"Tadi siang Lia dan Aras bilang kalo uang sekolah mereka sudah lunas semua, apa Mas yang bayarin?" tanya Rena hati-hati

"Iya..."Jawab Andra singkat

"Makasih ya Mas...itu dari uang yang 5M itu bukan? tanya Rena lagi

Tanpa basa basi Andra memutuskan sambungan teleponnya.

Andra berdecak,

"Ini cewe perhitungan banget sih, pake bawa-bawa uang 5M segala!!!" gerutunya kesal

"Dodol!!! Aku nanya baik-baik malah di matiin teleponnya! Hah!!! belum 5 Tahun gue udah TBC gini caranya mah" dengus Rena tak kalah kesal.

*****

Telepon genggam Andra kembali berbunyi, kali ini foto Tante Mery memenuhi layarnya.

"Halo Tante!" jawab Andra

"Andra sayang...kamu serius tidak dengan Rena? Kalo serius kapan mau melamar Rena? jika kamu sudah melamar Rena, pindahkan dia ke apartemen kita...jangan sampai orang tau kalo tunangan kamu ngekos di tempat kumuh seperti itu!" suara Tante Mery terdengar lantang dari sana.

"Kapan Tante ke kosan Rena?" bukannya menjawab, Andra malah balik bertanya. Ia khawatir Tantenya akan menganiaya calon istri pura-puranya itu.

"Barusan Tante anter pulang dia setelah shopping!! Tante kasian liat dia kemarin pake tas dan sepatu udah jelek!" jawab Mery tanpa maksud menghina.

"Tante ga ngomong yang macem-macem kan sama Rena?"

"Ngga sayang...ayo secepatnya lamar dia dan pindahkan ke apartemen kita!" desak Tante Mery membuat Andra lega.

"Iya Tante, secepatnya..." jawab Andra kemudian, mengakhiri panggilan teleponnya.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin