Love and Contract Kencan Sederhana

Kencan Sederhana

Malam minggu jalanan didaerah Dago, Bandung dipadati oleh para pemuda-pemudi yang sedang menikmati malam minggu bersama kekasih atau sahabat, banyak tenda-tenda kuliner disepanjang trotoar membuat para pejalan kaki turun kejalan dan menambah kepadatan jalan raya sehingga mobil yang Andra dan Rena tumpangi hampir tidak bergerak, Rena memegang perutnya, ternyata, ia bisa merasakan sesuatu bergemuruh didalam sana, di Villa Om Salim tadi Rena hanya makan sedikit kudapan.

Rena membuka kotak kue Ibu milik Andra dan memakannya sepotong. Andra melirik Rena sekilas, lirikan mata tidak ikhlas yang merupakan kode agar Rena berhenti memakan kue ibu tidak bisa gadis itu tangkap dengan baik. Rena malah sudah melahap potongan kedua hingga mau tak mau Andra mengeluarkan suara.

"Itu kue Aku.." ucapnya datar lalu kembali mengalihkan pandangan kedepan.

"Mintaaaa...sedikit doank, aku laper" Rena memelas

Andra tau gadis itu sedang kelaparan, maka ia berinisiatif untuk berhenti di restoran mengajak Rena makan malam, tapi semua restoran yang mereka lewati tampak penuh, bahkan mobil-mobil pengunjung terparkir hingga memakan setengah jalan raya dan menjadi salah satu penyumbang kemacetan jalan dago malam itu.

Akhirnya Andra memutuskan untuk berhenti di mini market sekedar membeli minuman.

"Mau minum apa?" tanya pria itu setelah mobilnya terpakir di depan mini market.

"Ikut turun boleh?" jawab Rena yang sudah membuka pintu mobil kemudian beranjak keluar dari mobil Andra.

Andra berdecak,

"Ck...minta ijin apa kasih info?" gumam Andra, pasalnya gadis itu sudah keluar tanpa persetujuannya.

Beberapa menit Rena mematung didepan lemari pendingin dengan kaca besar dipintunya,

"Mau minum apa?" Andra mendekatkan tubuhnya ke arah Rena, ditangannya sudah memegang satu botol minuman greentea dan dua bungkus keripik.

Wajah cantik itu mendongak menjangkau wajah Andra dengan tubuh menjulang.

"Bingung...banyak banget pilihannya"

"Ribet banget sih ini cewe" batin Andra geram, tapi bibirnya mengulum senyum.

"Kamu suka apa?" tanyanya lagi

"Air mineral..." jawab gadis itu singkat.

"Air mineral sebelah sana" Andra menunjuk lemari pendingin disebelahnya.

"Tapi aku mau yang lain, mumpung Mas yang bayarin" ucap Rena polos.

Andra mengerang dalam hati "Oh My Gooossshhhh!!!"

"Ya udah cepet pilih!!" seru Andra dengan mengerutkan dahinya. Ia tidak tau apa yang ada dalam pikiran wanita, sepertinya sangat rumit, hingga memilih minuma saja membutuhkan waktu lama. Ia pun berlalu meninggalkan Rena.

"Dua boleh?" teriak Rena karena Andra sudah menjauh dan hampir berada di kasir.

"Tiga juga boleh!" jawab Andra setengah berteriak.

Rena membawa tiga botol minuman di tangannya dan menyimpannya di meja kasir. Andra melihat minuman yang Rena bawa, yoghurt, greentea latte dan........air mineral. Andra terpejam sekilas lalu menggeleng samar, tidak habis pikir dengan gadis ajaib yang akan jadi istrinya itu. Ujung-ujungnya gadis itu membeli air mineral juga.

Saat keduanya keluar dari minimarket, ada satu meja bulat dengan dua kursi kosong disana, tepat dipojok dekat dinding pembatas minimarket tersebut dengan toko disebelahnya. Dua meja lainnya sudah terisi oleh para remaja yang sedang menikmati malam minggunya dengan bercengkrama bersama sahabat.

"Mas...duduk disana dulu sebentar yu, masih macet!" ajak Rena dengan jari telunjuk mengarah kursi kosong tersebut.

Andra sempat berpikir, menimbang akan permintaan gadis itu. Bagaimana tidak, Andra seorang Presdir yang biasa nongkrong di coffeshop frenchaise dari amerika dengan kopi yang dibandrol hampir seratus ribu satu cangkirnya kini harus nongkrong di depan minimarket bersama para remaja perokok dan Andra sangat benci asap rokok.

Tangan Rena sudah menarik lengannya dengan paksa, membuat Andra tidak mempunyai pilihan.

"Aayoooo...kebanyakan mikir, ah...." ledek gadis itu.

"Kamu aja tadi mau beli minum sampe pake opsi phone a friend dulu" gumam Andra yang masih terdengar oleh Rena, membuat gadis itu tergelak.

Cantik, kata itu yang terlintas dalam pikiran Andra saat melihat Rena tertawa lepas. Keduanya pun duduk di kursi kosong tersebut.

"Eh...mau kemana?" tanya Rena, saat baru saja Andra duduk setelah meletakan botol minuman dan keripiknya kemudian pria itu berdiri kembali.

"Bentar...." hanya itu yang Andra ucapkan, tidak berapa lama ia sudah kembali sambil membawa kotak kue ibu.

Rena tersenyum bahagia, hingga mengkerutkan pangkal hidung dan menyipitkan matanya, Andra tau senyum itu adalah senyum menginginkan, menginginkan kue ibu yang ia bawa.

"Kamu bukannya laper?" tanya Andra.

"Iya..." jawab Rena cepat dengan mata berbinar, berharap Andra akan berbagi kue ibu.

"Kenapa ga beli roti?" Andra mengernyitkan keningnya, ia menjauhkan kotak kue itu dari jangkauan Rena, pria itu menyimpan kotak kue ibu di pangkuannya.

Rena memutar bola matanya sambil membuang nafas, mengerti akan maksud Andra yang tidak berniat membagi kue ibu. Akhirnya Rena, membuka botol yoghurt didepannya dan meneguknya hingga tandas dalam sekali minum.

Tangannya terjulur mengambil keripik dalam bungkusan yang sudah Andra buka, sambil mengamati para pejalan kaki yang lalu lalang juga mobil-mobil yang bergerak seperti siput yang sedang malas.

Cahaya lampu LED di minimarket tersebut memantul di bola mata Rena yang jernih, mata dengan bulu mata lebat itu terlihat bersinar, atau mungkin saja mata gadis itu memang sedang berbinar karena Andra bisa melihat sedikit senyum dibibir Rena.

"Tau ga Mas? Aku kan kuliah dibelakang Rumah Sakit besar itu!" Rena menunjuk atap salah satu rumah sakit terbesar di kotanya, walau rumah sakit itu terhalang bangunan didepannya tapi atapnya masih bisa terlihat jelas.

Andra tidak menjawab, tapi ekspresinya seperti tertarik dengan cerita Rena.

"Jadi tiap hari aku melewati jalan ini, naik angkot trus berhenti diujung jalan sana setelah itu menyebrang dan jalan kaki sampai kampus...ga jauh sih, tapi cukup bikin keringetan" Rena tersenyum memperlihat deretan gigi putih dan dua gigi seperti kelinci didepannya. Gadis itu membuka botol Greentea latte kemudian meneguknya.

Andra masih enggan bersuara, ia menyandarkan tubuhnya disandaran kursi, pria itu membuat dirinya nyaman untuk mendengar kelanjutan cerita dari gadis sederhana didepannya sambil melipat tangannya didada, otot otot bisep dilengan Andra yang melekat sempurna di lengan kemeja mampu membuat Rena menelan saliva dengan susah payah.

"Tapi aku belum pernah melihat dago dimalam hari, apalagi malam minggu seperti ini...Bapak dan Ibu ga pernah mengijinkan aku keluar malam, walau dengan teman apalagi pacar" gadis itu seperti menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya.

Andra menarik sudut bibirnya membentuk lengkung senyum, gadis polos didepannya ini memang menggemaskan. Lihat saja, dia seperti sedang curhat kepada Andra, padahal baru beberapa kali mereka bertemu. Dan untuk Andra yang seorang pria introvert, tidak akan semudah itu membagi kisah hidupnya. Tapi dari cerita Rena tadi, Andra tau bahwa Rena memang gadis baik-baik.

Andra meletakan kotak kue Ibu dimeja, dengan cepat gadis itu menyambar satu potong kue Ibu kemudian memasukannya kedalam mulut, pria itu menipiskan bibirnya dengan menatap Rena tajam, berakting kesal yang dibalas oleh Rena dengan menjulurkan lidahnya sambil terkekeh.

Walau Andra tidak banyak bicara, tapi Rena merasa nyaman ada didekat pria dingin itu dan memang sudah seharusnya Rena berusaha berdamai dengan sikap dingin dan ketus pria yang akan hidup serumah dengannya selama 5 tahun. Sedangkan menurut Andra, gadis cerewet didepannya ini selalu mampu membuat bibirnya tertarik untuk tersenyum.

Kencan sederhana ini berakhir seiring dengan habisnya Kue Ibu yang sedari tadi mereka perebutkan.

Di dalam mobil Rena memejamkan mata berusaha untuk tidur dengan memeluk tubuhnya sendiri, beberapa kali jari Rena mengusap lengan atasnya, udara yang dikeluarkan pendingin di dalam mobil menusuk hingga tulang. Apalagi mini dress Rena berkerah rendah dengan lengan pendek.

Posisi Rena yang menyilangkan tangannya didada membuat bagian dadanya membesar dengan belahan yang terlihat jelas, mini dressnya pun tertarik ke atas hingga membuat paha putih Rena seolah melambai-lambai kepada Andra. Seketika tubuh Andra memanas, tatapannya terus tertuju ke arah Rena. Walau bagaimanapun Andra adalah pria dewasa, dan pria normal mana yang tidak tergoda dengan tubuh molek dan mulus terpampang didepannya.

"Shitt...!!" umpat Andra dalam hati.

Andra mengambil jaket yang ada di jok belakang lalu menyelimuti tubuh bagian atas Rena untuk menghentikan pikiran erotisnya yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan.

Deg

Rena yang belum tertidur pulas, merasa ada yang aneh akan perlakuan Andra, ia tersentuh, ternyata Presdir dingin itu cukup perhatian. Selama sisa perjalanan, Rena tersenyum dalam hati sambil pura-pura tertidur. Wangi musculin dari parfum exclusive Andra yang masih tertinggal dijaket memanjakan indera penciuman Rena, rasanya seperti pria itu sedang memeluknya.

Ada perasaan menggelitik dihati Rena, perasaan yang membuatnya merasa bahagia dan berbunga-bunga, tapi ia berusaha membuang jauh-jauh perasaan itu. Walau bagaimanapun, Andra adalah calon suami pura-puranya dan tidak seharusnya Rena berbunga-bunga seperti ini hanya karena perhatian kecil dari Andra. Mungkin Andra juga hanya berbuat baik saja dan sama sepertinya berusaha berdamai dengan Rena yang akan hidup dengannya selama 5 tahun.

"Ren...udah sampe"

"Hem?" Rena menggeliatkan tubuhnya.

Keduanya pun turun dari mobil, sebagai lelaki sejati Andra akan meminta maaf kepada orang tua Rena karena telah membawa anaknya pulang sedikit larut. Dan setelah berpamitan, Andra mulai mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah Rena dengan kecepatan sedang. Dari kaca spion tengah, Andra masih bisa melihat Rena berdiri menatap mobilnya yang semakin menjauh. Kembali seberkas senyum terbit disudut bibir pria itu.

"Udah mulai gila kayanya gue, senyam senyum sendiri" umpatnya dalam hati.

Sedangkan Rena, sudah tentu mendapatkan bullyan dari adik-adik dan Ibunya, seorang Rena diumurnya yang sudah menginjak 24 tahun baru dua kali berpacaran dengan jeda yang cukup jauh, sungguh jarang terjadi pada gadis kebanyakan.

Tapi apalah daya, perekonomian keluarganya dan cinta yang besar untuk keluarganya yang membuat Rena tidak terlalu fokus dalam hal hubungan asmara dan memilih untuk fokus mencari uang. Ia berpikir, Tuhan pasti berbaik hati mengirimkan jodoh untuknya nanti.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin