Love and Contract Kue Ibu

Kue Ibu

Hari sabtu Bandung selalu dipadati dengan kendaraan ber plat B belum lagi kendaraan dari berbagai daerah di sekitar Kota Bandung seolah berlomba mencari hiburan atau ketenangan di kota sejuk yang terkenal dengan kuliner dan tempat wisata berudara dingin itu.

Beberapa kali Andra membunyikan klakson mobilnya, jalanan begitu sembrawut dengan kendaraan yang berjubel. Semenjak mobil yang mereka tumpangi keluar dari halaman rumah orang tua Rena, tak sedikitpun kata terucap dari bibir tipis Andra.

"Abang Ojol aja masih mau ngajakin ngobrol, atau sekedar say hay apakabar! Lah dia.....dieeeem mulu" gerutu Rena dalam hati

Gadis periang seperti Rena, gatel rasanya bila tidak bersosialisasi dengan makhluk yang berada didekatnya, maklum sebagai customer service di Bank BUMN terbesar di Negaranya, selain melakukan pelayanan ia juga dituntut banyak bicara untuk mencari nasabah dalam menjual produk Banknya.

Maka dari itu, ia mencoba memecah keheningan agar pria yang dari tadi ia lihat mengumpat dalam hati itu bisa teralihkan dari macet selama perjalanan.

"Ga di Jakarta, ga di Bandung...sama aja macetnya Ya Mas?" celetuk Rena, ia berharap Andra meresponnya.

Dan Pria dingin miskin ekspresi itu hanya menaikan kedua alis mata lalu kemudian, hening....

Tapi Rena tidak patah semangat, ia terus berusaha membuat Andra bicara, lampu bohlam dalam kepalanya pun menyala.

"Mas mau kue buatan Ibu?" tawar Rena,

"Kali ini, responnya harus lebih dari menaikan alisnya!" Rena membantin sambil menipiskan bibir.

"Boleh..." saut Andra cepat.

"Waw...tak ku sangka dia doyan kue buatan Ibu" batin Rena sambil terkekeh dalam hati.

Andra memang ketagihan kue buatan Ibu semenjak mencicipi di rumah Rena tadi, rasanya pas di lidah. Dan membuatnya teringat akan kue buatan Almarhumah Bunda Dewi.

Rena membuka kotak kue, kemudian memberikan kotak berisi kue berwarna coklat dengan taburan choco chips diatasnya itu kepada Andra.

"Bentar!!..." seru Andra, ia menyalip mobil Truck di depannya

"Mau aku suapin Mas?" tawar Rena lagi,

Bukannya menjawab, pria itu malah melirik ke arah Rena dan karena tidak ada jawaban, Rena akhirnya menutup kembali kotak kue Ibu. Ia pun mengesah dalam hati.

"Tangan kamu kotor.." celetuk Andra,

"Ngga Mas...aku habis mandi tadi, Ya udah aku pake hand anti septic dulu nie..." tukas Rena dengan mengerucutkan bibirnya.

Rena mengeluarkan Hand anti septic dari dalam tas lalu mengusapkan dikedua telapak tangannya. Ia kembali membuka kotak kue Ibu dan mengambil satu potong kue tersebut dan mendekatkannya ke mulut Andra

"Aaa..." Rena membuka mulutnya seperti akan menyuapi anak kecil.

Andra membuka mulutnya, Rena terkejut saat jari nya menyentuh bibir dan lidah Andra, tidak sengaja Rena menjatuhkan kue Ibu. Kue itu jatuh tepat diantara kaki Andra.

"Kamu gimana sih? jadi jatuh kan kuenya, kalau terinjak nanti kotor tuh karpetnya...kamu itu ceroboh ya!" bentak Andra kesal.

"Maaf Mas...aku ambil kuenya" Rena berucap dengan gemetar.

Gadis itu dengan polosnya, menjorokan tubuh kebawah kemudi, tangan kanannya meraba-raba mencari kue yang jatuh, sedangkan tangan kirinya berpegangan pada lutut Andra, dan yang membuat Andra hampir menabrakan mobilnya, dia merasakan sesuatu yang menonjol di dada Rena menekan pahanya.

"Renaaa...!!!" bentak Andra lagi.

Rena segera bangun dan menyandarkan tubuhnya kembali, ia terkejut Andra membentaknya sekeras itu.

"Kenapa Mas? jangan teriak-teriak gitu donk...aku kan udah minta maaf, aku juga udah berusaha nyari kue nya dibawah situ!!!" kini Rena menaikan nada suaranya.

Sepanjang perjalanan Rena hanya menatap kaca jendela disebelah kirinya dengan kesal dan hati terluka bahkan detak jantungnya sudah kacau balau didalam rongga dadanya. Gadis itu memilih diam dengan jemari saling meremas.

Andra sesekali melirik Rena, ia tau Rena tersinggung karena suara kencangnya. Tapi sugguh, pria itu tidak bermaksud seperti itu. Pria normal mana yang tidak terkejut saat bagian dada wanita yang menonjol menekan pahanya.

beberapa menit kemudian,

Keduanya kini tiba di Butik ternama langganan Tante Mery.

"Ko berenti disini?" tanya Rena heran.

"Turun...!!" seru Andra sambil membuka pintu mobil kemudian turun dan berjalan masuk ke dalam Butik.

Rena mengikuti Andra dengan langkah cepat masuk ke dalam butik.

Didalam butik, mereka di sambut oleh wanita cantik berseragam dengan bordir nama pemilik butik dibelakang kemejanyanya. Name tag di dadanya bertuliskan Dina.

"Carikan gaun malam untuk dia..." pinta Andra kepada Dina sambil menunjuk ke arah Rena.

Dina memperhatikan Rena dari atas hingga bawah, bukan tatapan meledek, bukan! Tapi lebih kearah memindai tubuh Rena karena ia akan mencarikan gaun yang pas untuk tubuh Rena yang tidak tinggi juga tidak pendek. Setelah mendapat info mengenai tubuh Rena dari indera penglihatannya, wanita cantik itupun tersenyum, "Silahkan tunggu sebentar, saya akan mengambilkan gaun yang pas untuk Nona cantik ini" kemudian Dina mulai memilihkan gaun yang pas untuk Rena di setiap rak yang berjejer rapi didalam butik.

Rena menghampiri Andra yang sedang duduk di Sofa di depan fitting room, ia mendudukan bokongnya disamping Andra.

"Aku lagi ga butuh gaun Mas! Kenapa harus beli gaun? Memangnya baju ini ga cocok untuk dipakai bertemu Om dan Tante kamu, Mas?" bisik Rena

"Bukan buat sekarang...buat minggu depan acara ulang tahun Weny!" jawab Andra tanpa menatap Rena, karena kini pria dingin itu sibuk dengan smartphonenya.

"Weny, cewe sombong yang ketemu di restoran waktu itu? Ga ah...aku ga mau datang, malu...aku ga biasa datang ke acara seperti itu..." Rena menolak mentah-mentah.

"Makanya sekarang beli gaun...cepet cobain!" titah Andra, sambil mengendikan dagu kearah fitting room didepannya.

Dengan terpaksa gadis cantik itu mencoba satu persatu gaun yang di berikan Dina dan membiarkan Andra memilih setiap gaun yang sedang dicobanya. Saat mencoba gaun didalam fitting room, dan matanya membulat saat melihat setiap harga yang di brandol pada baju tersebut.

"Ya Tuhaaan....ini paling murah setengah gaji aku" pekiknya dalam hati.

Gaun demi gaun Rena coba dan entah pada gaun yang keberapa,

"Saya mau yang merah itu Mba..." pinta Andra kepada Dina.

Mendengar ucapan Andra, ia menarik Andra kedalam fitting room dan menutup pintunya. Didalam ruang sempit itu mereka hanya berdua dengan jarak yang sangat dekat. Andra sedikit gugup saat tubuh keduanya kini telah menempel.

"Yang merah mahal banget,Mas! Yang item aja aga murahan harganya" bisik Rena tepat didepan wajah Andra, agar tidak terdengar oleh Dina. Pria itu bisa mencium wangi strawberry dari nafas Rena. Andra yakin itu berasal dari lipstik dibibir Rena.

Sesaat mereka saling tatap kemudian Rena melepas cengkramannya pada tangan Andra dan pria itu keluar dari fitting room. Rena menutup kembali pintu itu dan memegangi dadanya yang berdebar dengan wajah merona.

"Saya mau yang merah dan yang hitam ini Mba..." pinta Andra kemudian memberikan kartu kreditnya kepada Dina.

Rena yang mendengar Andra membelikannya dua gaun sekaligus dengan harga mahal begitu kesal.

"Kenapa sih ini orang ngeselin banget, buat apa coba baju mahal gitu?!! Pasti ngambil 5M aku nih" gumam Rena dengan geram.

Rena keluar dari fitting room sudah memakai dressnya semula. Ia membulatkan mata cantiknya lalu mendelik kesal kearah Andra.

Andra merasa seperti sedang dimarahi seorang istri karena sudah membeli Harley Davidson dan Lamborgini secara bersamaan, padahal kan ia sedang membelikan Rena dua gaun dengan harga yang tidak seberapa menurutnya. tapi kenapa gadis itu begitu kesal? Andra menggelengkan kepala dengan senyum disudut bibirnya.

Setelah selesai berbelanja mereka melanjutkan kembali perjalan menuju Villa Om Salim.

Tidak lama keduanya sampai di Villa mewah milik Om Salim, banyak mobil mewah terparkir disana, rupanya Om Salim dan Tante Mery sedang mengadakan pesta kecil-kecilan untuk para koleganya.

"Bro...sebelah sini" teriak Ricko, ternyata Ricko sudah datang terlebih dahulu.

Andra menggandeng tangan Rena berjalan menuju Om dan Tantenya, hati Rena kini tidak tenang, jantungnya berdetak kencang ada perasaan takut, tidak percaya diri, dan malu bercampur menjadi satu, sukses membuat wajah Rena pucat pasi, telapak tangannya pun mulai dingin, ia gugup setengah mati. Apalagi kini ia menatap tangan besar Andra yang melahap tanganya didalam genggaman pria itu, dan sepertinya Rena merasakan sengatan listrik. Apa Andra anak dari Gundala Putra Petir?

"Bagaimana bila Om dan Tante tidak menyukai ku? Bagaimana bila menurut mereka aku tidak pantas untuk Mas Andra? Bagaimana nasib 100juta yang sudah aku terima? " batin Rena getir.

"Hallo Om..Tante, kenalkan ini Rena pacar Andra..." Andra memperkenalkan Rena pada Om dan Tantenya.

"Apa kabar Om...tante...saya Rena..." Rena menyalami Om Salim dan Tante Mery bergantian. Gadis itu berharap Om dan Tantenya Andra tidak merasakan tangan Rena yang bergetar hebat karena gugup.

"Oh ya...tadi Ibu titip Kue ini untuk Om dan Tante" Rena memberikan bungkusan kue.

"Cantiknya calon mantu Om...Terimakasih kuenya Rena" Om Salim menyambut Rena dengan ramah kemudian mengambil bungkusan kue ibu dan memberikannya kepada pelayan.

"Simpan di lemari es ya" pinta Om Salim kepada pelayan.

"Om..ngobrol sama tamu Om yang lain dulu ya...silahkan dinikmati hidangannya, Rena...,"pamit Om Salim yang dibalas dengan anggukan dan senyuman manis Rena.

Tante Mery memperhatikan Rena dari atas hingga bawah berkali-kali, membuat Rena tidak nyaman, Andra yang menyadari hal itu kemudian mendekatkan tubuhnya dengan Tante Mery.

"Tante jangan gitu donk..." Bisik Andra,

Tante Mery menyipitkan matanya kearah Andra keemudian memanggil anak dari teman sosialitanya.

"Sheryl...sini sayang, kenalkan ini Andra keponakan Tante..."

Seorang gadis cantik dengan tinggi semampai, yang Rena yakini adalah seorang model karena memiliki body goals berjalan dengan slow motion mendekati mereka.

"Shery..." Sheryl kemudian memperkenalkan diri dan menjabat tangan Andra dan Rena bergantian.

"Sheryl ini adalah anaknya temen Tante, dia baru pulang dari Amerika, baru menyelesaikan kuliah disana, sekarang Sheryl sedang mempelajari bisnis Alm, Papa nya...Kamu bantu Sheryl ya Andra..." Mery melirik tajam ke arah Rena.

Rena menundukan pandangan merasa inferior, ia lebih tertarik menatap heels 5 sentinya, seolah disana sedang ada diskon 70% dari koleksi branded.

"Aku mah apa atuh" batin Rena sendu.

"Ah...Tante, jadi ngerepotin kan" ucap Sheryl lembut.

"Ga apa-apa, Andra mau kan?" Tanya Mery

Andra membalasnya dengan senyuman, kemudian melirik Rena yang sedang menunduk, kedua tangannya bertautan.

Rena merasa tak sebanding dengan Sheryl.

"Seharusnya Sheryl yang menjadi istri Mas Andra" Rena membatin. Kepercayaan dirinya langsung menurun drastis. Ia merasa dipermalukan oleh Mery tapi tidak bisa membencinya juga.

Ricko yang melihat penderitaan Rena kemudian mengajaknya mencicipi makanan yang telah disediakan, ia mencoba menghibur Rena dengan membawanya pergi menjauh sementara dari Andra dan Tante Merry karena Ricko tau apa yang Rena rasakan sekarang. Setelah mengambil beberapa kudapan, keduanya duduk di taman belakang Pacar pura-puranya Andra itu, terlihat berusaha tegar seakan tidak terjadi apa-apa dan semua baik-baik saja.

"Ini cuma pura-pura.." Rena membatin, menguatkan diri sendiri.

"Makan yang banyak Ren, karena pura-pura tegar itu butuh tenaga" canda Ricko, kemudian Rena tergelak.

"Mas...kalo Mas Andra harus nikah dengan Sheryl, aku ga apa-apa ko...biar nanti uang 100Juta nya aku kembalikan saja, tapi di cicil ya hehe.." tutur Rena setelah tawanya berhenti.

"Baru segitu udah menyerah duluan...Ga asyik ah, perjuangkan dulu donk!!" ledek Ricko

"Apa yang mau diperjuangkan, Mas? orang kita nikahnya pura-pura" tukas Rena dengan mengerucutkan bibirnya.

"Kamu ga baca point di perjanjian kontrak yang isi nya ***Bila salah satu pihak membatalkan kontrak akan terkena denda 10 Triliun*** jadi kalo Andra secara sepihak membatalkan pernikahan kontrak ini,kamu bisa kaya raya" Ricko berujar kemudian tergelak.

"Kasian Mas Andra donk Mas...aku ga apa-apa ko, kalo memang ada denda, minimal yang 100 Juta Lunas hehe, dari pada Mas Andra harus tersiksa menikah selama 5 tahun sama aku, ya mending langsung nikah aja sama Sheryl, kayanya Tante Mery suka sama Sheryl" ucap gadis itu sambil tersenyum, tapi matanya berkata lain.

"Yang mau nikah kan Andra bukan Tante Mery... Kalo Tante Mery suka tapi Andra ngga, gimana?"

Rena hanya tersenyum getir.

"Yaaaa...aku mah gimana baiknya ajalah yang penting itu duit 100juta ga sekarang aku balikin" batin Rena kemudian menghela nafas pelan.

Tanpa keduanya sadari, sedari tadi Andra berdiri dibelakang dan mendengar semua percakapan Ricko dan Rena.

"Uang 5 Milyar sempat dia tolak sekarang 10 Triliun juga dia tolak, jangan-jangan dia manusia Goa ga butuh duit!" ucap pria itu dalam hati, beberapa detik kemudian Andra menghampiri mereka.

"Kita pulang Rena..." ajak Andra

"Ko sebentar Mas?" tanya Rena heran

"Om sama Tante lagi sibuk banyak tamu" saut Andra

"Tunggu...aku pamit dulu" Rena langsung pergi mencari Salim dan Mery disusul oleh Andra dan Ricko.

Kedua eksekutif muda itu hanya saling pandang melihat keberanian Rena, padahal sebelumnya Tante Mery jelas tidak menyukainya tapi ia masih mau berpamitan.

"Mau kemana sih dia? Sudah tau Tante Mery tidak menyukainya" batin Andra, secepat mungkin ia menyusul Rena.

Terlihat Om Salim sedang berbincang dengan tamu nya, Rena mendekati Om Salim lalu Om Salim yang melihat memanggil Rena.

"Sini Rena..." panggil Om Salim

"Kenalkan ini calon istri Andra...Rena kenalkan ini para kolega di perusahaan Om" Om Salim memperkenalkan Rena satu persatu kepada kolega bisnisnya.

Setelah menyalami mereka satu persatu Rena pamit pada Om Salim.

"Om...aku pulang duluan ya, lain waktu kita bertemu lagi..." Rena pamit, diikuti Andra.

Om Salim mengijinkan Rena dan Andra pulang terlebih dahulu, kemudian Rena masuk kedalam villa mencari Tante Mery, Andra masih mengekorinya dibelakang, terlihat Tante Mery sedang mengobrol dengan Sheryl, Rena memberanikan diri mendekati Mery.

"Tante..saya pamit pulang dulu" Rena sedikit membungkuk.

Lalu Tante Mery mendekati Rena, menempelkan pipinya di pipi kanan lalu pipi kiri Rena, membuat Rena terkejut dan menegang beberapa detik.

"Kenapa Tante Merry jadi berubah drastis?" batin Rena.

Ternyata sebelum Andra menghampiri Rena dan Ricko di taman belakang...

FLASHBACK

"Tante,tidak sedang menjodohkan aku dengan Sheryl kan? Soalnya aku sudah punya pacar!" tegas Andra

"Tenang saja Andra, saya sudah punya orang yang saya cintai, sebentar lagi kami akan menikah..." tutur Sheryl mencoba menengahi Tante dan keponakannya yang sepertinya akan memulai perdebatan sengit.

"Kalo begitu, aku minta Tante harus baik dan sayang sama Rena, karena Rena yang akan menjadi Istri aku!" pinta Andra

"Iya Sayang...kalo kamu bahagia, tante juga bahagia, maafkan tante" jawab Tante Mery mengelus lengan Andra

FLASH BACK END

"Kita pulang duluan Ya Tante..." Pamit Andra lalu menarik tangan Rena, mengajaknya pergi tanpa melihat ekspresi Sheryl dan Tantenya.

"Ko..aku antar Rena pulang dulu ya..." Andra pamit pada Ricko saat mereka papasan dihalaman depan.

" Oke Bro..Hati-hati!" saut Ricko

" Sampai ketemu besok, Nona Manis!" tambahnya lagi.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin