Love and Contract Kehangatan Keluarga

Kehangatan Keluarga

Hari Jum'at Antrian Teller dan Customer Service sangat panjang, selalu seperti itu karena sabtu dan minggu Bank akan tutup. Antrian membludak hingga lewat jam tutup cabang. Rena khawatir tidak akan mendapatkan Bus untuk pulang ke Bandung. Berkali-kali ia melirik arloji di tangan kirinya.

Jam menunjukan tepat pukul 17.00 WIB ketika antrian selesai, Pak Rahmat sang satpam kantor segera menutup pintu besi kantor. Rena dengan tergesa membereskan nota dan menyelesaikan semua pekerjaannya yang terpending. Setelah semua beres, ia berlari mengambil tas di locker.

"Buru-buru amat Ren? mau mudik ya?" Tanya Mia

"Iya Mi..aku takut ga dapet Bus..."saut Rena dengan terburu-buru.

"Ya sudah yu, kita pulang..." ajak Mia, melingkarkan tangannya dilengan Rena. Keduanya berpamitan pada Pak Rudi dan teman kantor sebelum akhirnya mereka keluar dari kantor tersebut.

Jari tangan Rena disibukan dengan ponselnya memesan ojeg online untuk mengantarkannya ke terminal, Mia masih setia berdiri di samping Rena saat mobil Andra berhenti tepat didepan mereka. Ricko keluar dari pintu penumpang depan.

Rena mengernyitkan dahi, disaat sudah akan terlambat seperti ini ia takut akan ada permintaan aneh dari dua pria tampan itu yang akan mengakibatkan ia tidak bisa pulang menemui keluarganya.

"Mengapa mereka ada disini?" gerutu Rena dalam hati.

"Hai Nona Rena, silahkan masuk!" Ricko mempersilahkan Rena duduk di depan.

Dengan terpaksa dan ekspresi wajah kebingungan, ia menuruti titah pria yang sudah membantu menyelamatkan nyawa Bapaknya. Ya, uang 100 Juta untuk operasi Bapak sudah berhasil menjungkir balikan kehidupan Rena beberapa hari terakhir ini.

"Bukannya Mas Andra sudah tau jika aku akan pulang ke Bandung?" batin Rena.

"Siapa Nona cantik ini, Nona Rena?" Ricko melirik Mia kemudian menarik tangan Mia dan menciumnya.

Mia membatu, gadis mungil itu diam seribu bahasa, wajahnya terlihat tegang dengan mata membulat sempurna.

"Kenalkan ini teman aku, Mia.." saut Rena sambil menyenggol lengan Mia.

Mia tersadar, mengerjap berkali-kali "Ah...Iya saya Mia" jawabnya kemudian.

"Baiklah...saya culik dulu teman mu ini ya Nona Mia, See You When I See You..." Tutur Ricko sambil duduk kembali di kursi penumpang belakang.

"Aku jelasinnya di dalem mobil aja deh, ga enak kalo debat di depan Mia" batin Rena

Dengan sangat terpaksa Rena masuk dan mendudukan bokongnya di kursi penumpang depan, bersebelahan dengan Andra. Sekilas ia melirik Andra yang sedang memainkan smartphonenya dibalik kemudi.

"Bye Mia..." Rena melambai dari balik jendela.

Setelah memastikan Rena dan Ricko sudah masuk kedalam mobil, Andra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kota kembang Bandung, kota kelahiran calon istri pura-puranya.

"Mas..aku kan udah bilang, hari ini aku pulang ke Bandung" ucap Rena pelan

Jangan harapkan balasan dari Andra.

"Iya Tuan Putri, kita antar sampai depan rumah mu ya!" sela Ricko sambil mencondongkan tubuhnya kedepan hingga berada diantara Rena dan Andra.

"Ah...ga perlu, kan jauh Mas" tolak Rena terang-terangan.

"Makan malam dengan Om dan Tante ku, kita pindahkan ke Bandung, kebetulan mereka ada acara di Bandung! Sekalian aku juga ingin bertemu orang tua kamu...biar kita bisa secepatnya menikah" tutur Andra dingin, dengan tatapan mata fokus kedepan.

"Betul Nona Rena...jadi besok itu, sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui" canda Ricko sambil tertawa renyah.

"Busyeeet, seriusan dia udah kebelet kawin?Ah.., aku harus ngomong apa sama Ibu dan Bapak? aduuuh...gimana ini?" batin Rena gelisah.

Rena menggigit bibirnya, Andra melirik Rena sekilas.

"Kenapa sih seneng banget gigit bibir, emang itu ga sikit bibir digigit mulu" Andra membatin, entah kenapa ia peduli. Memikirnya, ia menjadi malu sendiri.

Sedari tadi Rena memikirkan berbagai kebohongan untuk menyampaikan masalah ini. Tubuh yang lelah karena seharian bekerja, pikiran yang juga ikut lelah ditambah memikirkan kebohongan yang harus ia buat untuk keluarganya nanti membuat Rena perlahan tak sadar tertidur pulas. Untung Ricko dibelakang sana sedang asyik dengan Macbooknya, sepertinya pria itu masih saja bekerja diluar jam kerjanya.

Saat Rena benar-benar terlelap, Andra membangunkannya. Mereka telah berhenti di Rest Area, untuk makan malam dan Ricko sudah terlebih dahulu turun dari mobil mencari toilet.

"Ren...bangun!" Andra memanggil Rena pelan.

Berkali-kali Andra membangunkan, tapi gadis itu masih saja lelap tertidur seperti bayi, Andra memegang lengan Rena dan menggoyangkannya sedikit, seketika Rena terkejut dan reflex menampar muka Andra.

Tamparan tangan kecil Rena berhasil membuat Andra membulatkan matanya, Rena pun tidak kalah terkejut dengan mata melebar sempurna. Ia menutup mulut menganganya dengan kedua tangan.

"Mati aku... Kali ini pasti mati aku!" rutuk Rena dalam hati.

"Ah..maaf Mas, aku ga sengaja,maaf..." Rena meminta maaf sambil menyatukan kedua telapak tangannya. Rena benar-benar menyesal, ia reflex karena begitu terkejut saat seorang pria tiba-tiba ada sangat dekat dengannya.

Dengan wajah kesal pria tampan itu pergi meninggalkan Rena didalam mobil sendirian. Gadis cantik yang masih mekakai stelan kerjanya itu pun tidak berani mengejar Andra, ia tau Andra sangat kesal saat ini sehingga ia memilih untuk diam di mobil menunggu Ricko dan Andra kembali.

Beberapa saat kemudian Ricko dan Andra masuk ke dalam Mobil. Wajahnya masih belum berubah, dahi yang mengerut dan tatapan mata yang tajam tapi kemudian ia memberikan satu kantong keresek kecil berisi roti, air mineral dan susu kemasan kepada Rena tanpa melihat kearahnya.

Sesaat Rena menatap Andra tak percaya setelah insiden tamparan itu Andra masih memperdulikannya, ia menerima kantong keresek putih itu dan menyimpannya dipangkuan.

"Makasih ya Mas...maaf ya yang tadi?" ucap Rena tulus

"Memang tadi kenapa?" Tanya Ricko bingung

"Aku ga sengaja nampar Mas Andra, tadi aku di dibangunin Mas Andra, aku kaget trus reflex nampar Mas Andra.." saut Rena menundukan kepalanya

Ricko tergelak sambil memegang perutnya.

"Selamat Rena, kamu adalah wanita pertama yang menampar Andra!!!" seru Ricko tertawa terbahak-bahak seraya menyodorkan tangannya ke arah Rena ingin memberi selamat.

Rena mendorong pelan tangan Ricko,

"Seriusan?? Aduuuh, maaf ya mas, beneran aku minta maaf... sakit ga?" tanya Rena khawatir.

"Sakitlah...kamu ga liat pipi aku merah?" jawab Andra kesal sambil menyatukan alisnya

"Ya udah,maafin aja kali Ndra..kan Rena ga sengaja,segitu doank..." Ricko mengelus pipi Andra sedetik kemudian Andra menepis tangan Ricko, wajahnya terlihat masih sangat kesal. Selama ini belum pernah ada wanita yang berani menampar wajah tampannya.

Tidak berapa lama, mereka kembali mengobrol, seperti biasa Ricko yang menghangatkan suasana.

Beberapa jam kemudian sampailah mereka di rumah Rena, Rumah yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk Orang tua dan adik-adik Rena, rumah model lama tapi bersih dan terawat karena Ibu dan Lia sangat rajin membersihkan rumah.

"Masuk dulu yuk?" ajak Rena

"Ga usah, udah malam takut menganggu...besok aku jemput kamu ya!" saut Andra dingin dengan ekspresi datarnya.

"Bye bye Nona Rena..." Pamit Ricko yang sudah duduk di kursi penumpang depan,mereka pun meneruskan perjalanan ke Villa Andra di daerah Dago atas.

Tok...Tok...Ibuuu..."panggil Rena

Ceklek...

"Kakaaaaa....Aras kangen Ka!" teriak Aras memeluk Kakak kesayangannya.

Aras adalah anak bungsu dari Ibu Susi dan Bapak Rony juga anak laki-laki satu-satunya dikeluarga mereka.

Tak lama Ibu dan Lia keluar dari kamar mendengar teriakan Aras. Rena menyalami dan memeluk Ibu dan Lia. Setiap pulang ke Bandung, rena selalu disambut hangat oleh keluarganya seperti baru saja pulang dari ibadah Umroh, atau baru pulang setelah puluhan tahun merantau.

"Bapak mana Bu? kemarin Ade bilang udah pulang ya dari rumah sakitnya? Ko cepet Bu?"

"Bapa dikamar Ka...masa pemulihan Bapa terbilang cepat setelah operasi...Bapak hanya tinggal rawat jalan saja. Ayo..Ibu antar ke kamar" ajak Ibu

Di Kamar, Bapak sedang tidur...Rena mendekat perlahan, menjatuhkan kepalanya pelan di dada Bapak, cinta pertamanya.

"Pak...Ini Kaka..." panggil Rena lirih

Bapak membuka matanya mendengar suara lembut putri kesayangannya itu.

"Ka..." panggil Bapak, air mata Bapak mengalir hingga membasahi bantal. Banyak rasa terimakasih yang ingin ia sampaikan kepada Rena, Semenjak Rony sakit-sakitan, Rena menjadi tulang punggung keluarga. Rony merasa sedih dan tidak berguna.

Dadanya mulai terasa sesak, jantungnya berdebar lebih kencang, Rony langsung menahan emosi menstabilkan detak jantungnya, Ia tak mau terjadi sesuatu lagi dengan dirinya hingga membuat Rena kesusahan.

"Terimakasih untuk biaya operasinya, nanti Bapak ganti" bisik Bapak Rony.

"Ga usah Pak, itu uang dikasih sama pacar Kaka...besok dia mau kesini menjenguk Bapak..." Rena berbohong untuk menenangkan Rony sambil menyeka air mata di pipi Bapaknya. Sekalian membuka jalan memperkenalkan Andra sebagai kekasihnya yang akan menjadi suaminya sebentar lagi.

"Sejak Kapan Kaka punya pacar? tatapan ibu penuh curiga.

"Pacarannya sih baru, tapi kenalnya sudah lama, dia nasabah Kaka di kantor Bu" jawab Rena sambil tersenyum, berharap ibu tidak curiga.

"Kaka udah boleh pacaran lagi kan, Pak?" desak Rena

Rony hanya terdiam, ia khawatir bila Rena pacaran lalu menikah dan dilarang bekerja oleh suaminya sehingga tidak bisa membantu biaya sekolah adik-adiknya lagi. Tapi disisi lain hati Rony tidak tega harus menahan-nahan anaknya untuk mempunyai pacar. Bahkan Aras yang masih SMA pun sudah mempunyai pacar. Sepertinya terlalu picik, menjadikan anaknya tumbal, pikir Rony.

Menatap raut wajah kedua orang tuanya, Rena tau betul apa yang sedang dipirkan Bapak dan Ibunya itu.

"Jika kaka menikah nanti, dengan siapa pun...Kaka akan membuat perjanjian dengan calon suami, agar memperbolehkan kaka tetap bekerja dan membantu keluarga hingga Ade Lia bekerja dan Aras lulus kuliah" tutur Rena mencoba menghilangkan pikiran yang ditakuti Bapak dan Ibunya.

Ayah dan Ibu memeluk Rena, hati mereka begetar hebat, kedua orang tua itu tak kuat menitikan air mata. Merasa bersalah, mereka merasa sudah jahat kepada anaknya karena menggantikan peran mereka dikeluarga ini.

"Kaka menikah sekarang pun, Ibu ikhlas...tidak usah memikirkan ayah dan ibu...Ibu masih bisa membantu perekonomian kita dengan berjualan kue!" tutur Ibu Susi seraya menyeka air matanya.

"Kalo Ibu bikin kue, nanti siapa yang jaga Bapak? Pokoknya Bapak dan Ibu tenang aja ya...jangan khawatir, sekarang waktunya Kaka yang mengurus Bapak dan Ibu" Mereka pun kembali berpelukan.

KEESOKAN HARINYA

Pagi sekali Rena sudah sibuk di dapur memasak sarapan untuk keluarganya, bakat memasak yang dimiliki Rena menurun dari Ibu Susi.

"Emmhhh...Harum, masak apa Ka?" tanya Lia

"Masak kesukaannya Bapak...biar Bapak cepet sembuh, ayo bereskan meja makan dan bawa semua makanan ini ke meja makan" perintah Rena kepada adik perempuannya.

Mereka sarapan bersama sambil bercanda tawa. Sudah lama sekali mereka tidak makan bersama. Rena merasa sangat bahagia berada di rumahnya saat ini. Selama di Jakarta Rena rindu merasakan kehangatan keluarga ini.

"Jam berapa pacar Kaka datang?" tanya Bapak tiba-tiba disela menyuapkan makanannya ke mulut.

"Agak siangan..." Saut Rena dengan mulut penuh makanan.

"Kaka udah punya pacar? emang ada yang mau sama kaka?" sela Aras lalu tertawa terbahak-bahak

"Eiittsss...jangan salah, semua turunan kita tuh cantik dan ganteng...Ga kan susah cari jodoh deeh, Ibu jamin" bela Ibu

Semua tergelak mendengar narcisme Ibu Susi yang sudah keluar sepagi ini.

"Nanti siang dia kesini mau jenguk Bapak sekalian mau memperkenalkan Kaka kepada Om dan Tante nya...jadi nanti Kaka boleh ya pergi sebentar?" Rena sekalian meminta ijin.

"Om dan Tantenya tinggal di Bandung juga?" Bapak mulai mengintrogasi.

"Ngga Pak, Mas Andra dan keluarganya orang Jawa yang sudah hijrah ke Jakarta...mereka mempunyai perusahaan besar di Jakarta, Orang Tua Mas Andra sudah meninggal, dia di rawat oleh Om dan Tante nya. Kebetulan Om dan Tantenya ada acara di Bandung dan kebetulan juga kaka lagi pulang ke Bandung jadi sekalian ketemuan aja, begitu Pak.." Rena menjelaskan panjang kali lebar.

Padahal Rena pun baru tau semua tentang Andra tadi tadi malam pada saat ngobrol di mobil dalam perjalan pulang ke Bandung.

"Waaaah...cocok tuh sama kita yang orang Sunda, pasti kalo menikah banyak rezekinya" kembali Ibu Susi bersuara dengan mitosnya.

"Bu...manusia itu sudah dikasih rezeki sejak di dalam kandungan, ibu jangan percaya mitos-mitos gitu ah, Bapak ga suka" tukas Bapak Rony.

"Iya..iya suami ku sayang..." balas Ibu sambil membelai lengan suaminya.

"Please deh ga usah sok-sok mesra gitu..." celetuk Lia lalu memalingkan wajah, berakting kesal.

"Deuuuuh...yang baru putus,sewot!!" ledek Aras

Mereka pun kembali tertawa, menghangatkan pagi hari yang terlihat mendung.

Siang harinya...

Tok...Tok...Tok

Ceklek....

"Cari siapa?" Lia membuka pintu, bola matanya terpaku pada mobil sedan mewah keluaran terbaru yang terpakir di garasinya, padahal Andra sudah sangat rapi dan tampan memakai kemeja kotak-kotak dengan tangan dilinting juga celana jeans dan sneaker mahalnya tapi yang mencuri perhatian Lia adalah mobil Andra, diantara anak-anak Pak Rony memang hanya Lia yang matre. Lia selalu bermimpi menikahi anak orang kaya agar bisa terlepas dari kehidupan sederhananya.

"Saya Andra, Renanya ada?" Andra memperkenalkan diri, tapi Lia masih terpesona dengan mobil Andra, tidak mendengar ucapan pria tampan didepannya.

"Hallo...apa Rena ada?" tanya Andra lagi sambil mengibaskan telapak tangannya di depan muka Lia. Karena sedari tadi gadis didepannya hanya celingukan kearah halam rumah.

"Oh..ada ada.!!.Kaaaaa, pacarnya udah datang niee...!!!" teriak Lia

"Hah? Pacar? Apa Rena sudah menceritakan semua kepada keluarganya?" batin Andra. Mendengar kata pacar tadi, bulu kuduk Andra meremang. Ia teringat kembali saat pertama kali mendatangi ruma mantanya yang bernama Monica ketika akan mengajak berkencan.

"Masuk Ka..siapa tadi namanya?" pertanyaan Lia tadi menyeret kembali Andra kedunia nyata, melupakan Monica yang masih saja mengganggu pikirannya.

"Andra..." saut Andra lagi

"Oh...Iya Ka Andra, silahkan masuk...." ajak Lia dengan senyum yang memamerkan gigi gingsulnya.

Tanpa membuka sepatu, pria itu masuk dan duduk di sofa berwarna coklat yang berada di ruang tamu. Kaki jenjang Rena berlari menuruni anak tangga dari kamarnya yang berada di lantai 2.

"Mas udah datang? aku belum siap...sebentar ya Mas, aku siap-siap dulu..." belum pria itu menjawab pertanyaan Rena, Bapak dan Ibu keluar dari kamar menyambut Andra. Andra berdiri, dan mengulurkan tangannya kepada Bapak Rony.

Bapak menjabat tangan Andra dengan sedikit kencang. Rony ingin menunjukan kalau dia masih berkuasa atas Rena. Ibu juga menyalami Andra dengan salam khas sunda, menyatukan kedua tangannya sambil sedikit membungkuk.

"Silah kan duduk Nak..." Bapak mempersilahkan Andra duduk.

"Pak..ini teman Kaka namanya Andra... Bapak dan Ibu ngobrol sama Andra ya, kaka siap-siap dulu..." Rena kemudian pergi ke kamarnya meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu.

"Bagaimana keadaan Bapak sekarang?" tanya Andra membuka pembicaraan juga menepis ketegangannya, karena ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan calon mertua.

"Sudah membaik...berkat Nak Andra mau meminjamkan uang untuk operasi Bapak, Nanti Bapak ganti ya Nak..." ujar Bapak basa-basi.

"Ah...tidak perlu Pak, sudah kewajiban saya sebagai teman untuk membantu Rena..." tutur Andra, Andra mengikuti kata teman yang disebutkan Rena tadi sebagai kamuflase hubungan mereka karena memang sepertinya terlalu vulgar bila keduanya mengaku pacaran.

Andra yakin, semua keluarganya sudah tau hubungan ia dan Rena, kalau tidak, tidak mungkin Lia meneriakan kata pacar dengan lantang saat memanggil Rena tadi.

Lia datang membawa minuman dan kue buatan Ibu.

"Silahkan diminum Nak Andra... dicoba juga ini kue buatan Ibu..." Ibu mempersilahkan dengan ramah

Tak sungkan Andra megambil kue yang ada di meja lalu memakannya.

"Enak tidak kuenya Nak Andra?" tanya Ibu

"Enak sekali Bu, ini betul Ibu yang buat?" memang kue buatan Ibu Susi sangat enak. Andra jadi teringat Ibunya yang sudah meninggal karena kangker payudara.

"Nanti kuenya Nak Andra bawa ya, sekalian Ibu titip untuk Om dan Tantenya Nak Andra, kata Rena hari ini untuk pertama kalinya Rena akan bertemu dengan Om dan Tantenya Nak Andra ya?" Belum Andra menjawab Ibu sudah pergi kebelakang menyiapkan kue yang akan dibawa ole Andra.

"Tidak usah repot-repot Bu" Andra setengah berteriak.

"Tidak merepotkan ko Nak Andra, Ibu dan Rena memang pintar memasak dan bikin kue" ucap Bapak sambil mengambil kue buatan Ibu dan memasukannya kemulut.

"Ternyata dia bisa masak dan bikin kue juga ya?" batin Andra lalu kembali mengambil satu potong kue buatan Ibu dan memakannya.

"Boleh nanti saya bawa Rena ke rumah Om dan Tante saya, Pak?" Andra meminta ijin.

"Oh...boleh silahkan Nak Andra..." dengan mudahnya Bapak memberi ijin.

Beberapa menit kemudian Rena turun tergesa-gesa, ia tidak mau Andra dan Bapak banyak mengobrol karena takut apa yang Andra bahas tidak sesuai dengan apa yang dibahasnya bersama keluarga.

Andra terpana melihat Rena menuruni undakan tangga, tak sadar matanya menatap sosok cantik itu dari atas hingga anak tangga paling bawah didepannya, Rena menggunakan mini dress membentuk bodynya yang seperti biola, rambut panjang itu tergerai dengan poni berjejer rapi didahi, Rena terlihat sangat cantik dan seksi.

"Ayo Mas..." ajak Rena

"Kaka pergi dulu ya Bu..Pak...," Rena pamit mencium pipi Bapaknya.

"Jangan lupa ini kue untuk Nak Andra dan ini untuk Om dan tante nya Nak Andra..." Ibu memberikan dua bungkusan kepada Rena.

"Terimakasih bu...Saya dan Rena pergi dulu ya Pak.." pamit Andra

Ibu dan Bapak mengantar mereka hingga halaman depan. Mobil Andra meluncur dijalan komplek rumah orang tua Rena.

"Kita mau punya mantu Horang kaya Pak..." Ibu kegirangan.

"Hush...nyebut Bu" omel bapak, lalu mereka masuk ke dalam rumah

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin