Love and Contract Ragu

Ragu

Kencan pura-pura pun selesai, makanan dimeja sudah habis tak tersisa begitu dengan pula minuman. Tapi Weny dan teman-temannya dari meja sana belum juga berhenti memperhatikan Rena dan Andra.

Andra berdiri mengulurkan tangan dan menengadahkan telapak tangannya kepada Rena untuk di genggam, gadis cantik itu menyambutnya seperti tau apa yang Andra maksud.

Keduanya keluar dari Restoran dengan bergandengan tangan, teman-teman Weny saling pandang seolah tidak percaya, pengusaha muda tampan berbakat dan sukses di Negaranya ini kencan dengan seorang wanita biasa dan seorang pegawai biasa.

Seperti ada sengatan kecil ditelapak tangan Rena yang jemarinya sedang bertautan dengan jari Andra. Sedangkan Andra merasakan telapak tangan yang digenggamnya sangat lembut dan hangat.

Petugas Valet sudah berdiri disamping mobil yang terparkir eksclusive didepan loby, pria kurus yang memakai baju kuning dengan list biru itu pun memberikan kunci mobil kepada Andra yang dibalas Andra dengan memberikan selembar uang berwarna merah kepada pria itu.

Setelah mendapatkan kuncinya, Andra membawa Rena ke pintu penumpang kemudian membukakan pintu mobil untuk Rena seperti pria sejati, gadis cantik itu melepaskan genggamannya kemudian masuk kedalam mobil. Rena bersumpah, belum pernah dirinya merasakan seperti seorang putri seperti ini,

"Gini ya rasanya pacaran sama orang kaya" batin Rena dengan senyum getir dibibirnya. Walaupun hanya pura-pura tapi setidaknya ia pernah diperlakukan seperti seorang Tuan Putri oleh Pengeran tampan yang kini sedang berjalan setengah memutari mobilnya untuk kemudian duduk dibelakang kemudi.

Saat Andra sudah duduk dibelakang kemudi, Rena terbawa suasana dan malah melemparkan senyum cantik kepada Andra yang dibalas pria itu dengan tatapan heran dan kening mengernyit.

Senyum cantik itu berubah canggung, dan Rena langsung mengarahkan pandangannya dengan pura-pura mencari ujung seatbelt kemudian menariknya.

Klik!

Setelah bunyi seatbealt terpasang, Andra mulai melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan sedang.

*Di dalam Mobil Andra

"Mas...antarnya sampai depan gang aja ya?" suara lembut gadis itu memecah keheningan yang sedari tadi terbentang diantara mereka.

Andra hanya mengangguk pelan lalu keheningan kembali mengambil alih, jalanan ibu kota sangat padat pada saat jam pulang kerja, membuat perjalanan pulang mereka terasa lama, keadaan dijalanan begitu sembrawut seperti benang kusut, tiba-tiba Andra teringat sesuatu.

"Malam minggu nanti aku ingin memperkenalkan mu dengan Om dan Tante ku!"

"Mengapa tidak dengan orang tua nya?" batin Rena

Rena baru ingat dia harus pulang minggu ini.

"Tapi jumat ini aku mau pulang ke Bandung, melihat kondisi Bapa pasca operasi...sudah beberapa minggu aku ga pulang karena bekerja tambahan!" tutur Rena lirih

Andra tidak merespon, ekspresi wajahnya seperti terlihat tidak suka, padahal pria itu hanya kesal dengan kemacetan yang sedang dihadapinya.

"Harusnya tadi Pak Syam diajak saja" Andra mengerang dalam hati.

"Kalo hari kerja aja gimana?" Rena mencoba memberikan solusi, karena ia merasa tidak enak menolak ajakan Andra bertemu dengan Om dan Tantenya.

"Kapan-kapan aja lah!!! " saut Andra ketus dengan melengkungkan alisnya kebawah.

"Yaaaa dia pasti marah!" batin Rena

Rena mendesah, akhir-akhir ini ia memang sering melakukan itu saat berhadapan dengan pria dingin tanpa ekspresi disampingnya. Uang 100 Juta yang Andra berikan untuk operasi Bapak, membuatnya seperti berhutang dan menuruti semua keinginan Andra dan Ricko, untung Andra bukan pria mesum sehingga Rena merasa aman. Disisi lain Rena bersyukur dengan sikap dingin Andra.

Rena memilin ujung blazer, berkali-kali gadis itu menggigit bibir bawahnya bila sedang merasa gelisah, dan sikap tak biasa Rena bisa Andra tangkap dari sudut matanya. Tapi Andra tidak terlalu peduli, ia membunyikan klakson dengan kencang saat mobil lain mengambil jalannya membuat Rena berjengit terkejut.

"Tuuuh kan marah..." batin Rena semakin gelisah.

Akhirnya mereka sampai dimulut gang kosan Rena, "Sampai sini aja Mas, ga perlu diantar...terimakasih makan malamnya ya Mas..." pamit Rena kemudian membuka pintu mobil.

Dan lagi-lagi Andra diam, menatap Rena dengan ekspresi datar. Rena turun dari mobil, tidak berharap Andra akan membalas apapun atas ucapan pamitnya tadi tapi tiba-tiba Rena mendengar sayup-sayup suara.

"Hati-Hati!"

Ya, kata itu keluar dari mulut Andra, tapi Rena tidak percaya, tidak mungkin Andra yang mengucapkan kalimat dalam bentuk perhatian seperti itu.

"Ah..mungkin hanya pikiran ku saja" batin Rena

Rena bergegas pulang ke kosan sebelum Jodi dan teman-temannya berkumpul di Pos Ronda.

Andra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Telepon genggam miliknya berbunyi, foto Tante Mery muncul di layar ponsel, Andra kemudian menjawab panggilan tersebut melalui earphone Bluetooth di telinganya.

"Hallo Tan?" Sapa Andra

"Hai sayang...kamu lagi dimana?" Tanya Mery dari sebrang telepon

"Aku lagi di jalan Tan..." saut Andra datar

"Barusan Om Mu cerita, katanya kamu sudah punya pacar ya? cepet banget dapetnya? Pria tampan seperti kamu itu memang tinggal pilih saja ya?!" Mery tertawa lepas.

"Iya Tan..." Andra tertawa kecil membalas lelucon Tante kesayangannya.

"Oh ya...Om bilang kalau malam minggu ini kamu mau bawa pacar kamu makan malam di rumah Tante? Tapi weekend ini Om dan Tante ada urusan di Bandung, bagaimana jika kita memajukan makan malam nya?!"

"Kebetulan Rena akan pulang weekend ini apa sebaiknya bertemu di Bandung saja?" batin Andra

"Tan...pacar aku orang Bandung, bagaimana kalau kita makan malam hari sabtu di Villa Tante di Bandung? sekalian dia juga mau pulang ke rumah orang tuanya!" tawar Andra

"Waaa...bagus sekali itu sayang, kebetulan Tante juga mau mengadakan pesta kecil di Villa untuk kolega nya Om....oke deh sampai ketemu hari sabtu ya..kiss kiss.." Mery mengakhiri panggilannya teleponnya tanpa menunggu Andra menjawab.

*****

Keesokan harinya.

*Ruangan Andra

Santi dan Andra sedang berdiskusi cukup serius di ruangannya beberapa menit kemudian Ricko masuk ke ruangan Andra dengan kepo tingkat dewa ingin mendengar cerita kencan sahabatnya tadi malam.

"Bro...bagaimana kencannya?" teriak Ricko dari pintu

Santi dan Andra menoleh ke arah Ricko. "Sudah semua Pak...saya akan bereskan dulu dokumen ini di meja saya, permisi" pamit Santi yang dibalas dengan anggukan pelan oleh bosnya.

Baru beberapa langkah, sekertaris cantik itu memutar tubuh kembali menghadap Andra. "Pak, apa hari ini saya perlu kirim bunga lagi untuk Ibu Rena?" tanya Santi kembali, karena kemarin bosnya itu bilang untuk mengirim bunga tiap hari kepada Rena, dan saat ini Santi mengkonfirmasikan kembali kepada bosnya.

"Tidak perlu...terimakasih Santi" saut Andra

"Baik Pak" Lalu Santi pun benar-benar pergi dari ruangan Andra.

"Loooh, kenapa Ndra? kirim tiap hari selama seminggu!" Ricko memberi saran

"Dia bilang, bunga yang gue kirim bikin heboh orang sekantor, trus dia juga bilang buang-buang uang aja! Ada ya perempuan seperti itu?!!! apa dia lebih suka bunga Bank?" Andra tergelak, ia teringat lelucon Ricko mengenai wanita yang suka akan keindahan bunga dan bunga Bank.

"Aw..aw..aw...baru kali ini kamu tertawa membicarakan seorang perempuan!! Apa Tuan Andra sudah jatuh cinta dengan Nona Rena??" tanya Ricko dengan nada meledek.

"Kan gue udah bilang, Rena bukan tipe gue!!" saut Andra ketus dengan menyatukan alisnya.

"Bhaiiiik Laaaah..." Ricko menyerah, ia tau mulut bisa berbohong tapi tidak dengan hati. Ricko akan menunggu dengan sabar sampai sahabatnya benar-benar mengakui bahwa ia jatuh cinta kepada seorang Rena gadis biasa dengan kepribadian yang luar biasa.

"Oh ya Bro, weekend nanti kita ke Bandung...rencana makan malam dengan Om Salim kita pindahkan ke Bandung, Om Salim dan Tante Mery ada perlu di Bandung weekend nanti, kebetulan Rena pulang kampung!"

"Kalo gitu, sekalian kamu ketemuan sama orang tua Rena, sabtu nanti kamu jemput dia aja di rumahnya!" Ricko memberi ide

"Oooh...seperti itu ya?" jawab Andra ragu.

"Apa perlu gue anter?" Ricko kembali menggoda Andra.

"Ga usah, nanti orang tua Rena ga kasih ijin, anaknya di bawa pergi oleh dua orang laki-laki yang baru di kenal" tolak Andra mentah-mentah.

"Oke deh...gue setuju,lagian lo juga harus dewasa kan ya? jangan dibantuin mulu" Ledek Ricko sambil tertawa terbahak-bahak.

"Masa mau kencan aja harus dianter-anter" tambah Ricko lagi

Sialan lu,Ko!!" Mereka pun tertawa bersama.

Setelah tawa itu reda, Andra teringat sesuatu, tangannya terulur membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan satu lembar kartu undangan yang kemudian ia simpan di atas meja.

"Gue juga dapet, kemarin Weny kesini sore-sore! Lo dapet dari mana?" tanya Ricko setelah melihat kartu undangan yang sama yang ia dapatkan dari Weny.

"Gue ketemu dia waktu makan malam dengan Rena...Weny dan temen-temennya seperti tidak suka dengan Rena, mereka memperhatikan kita terus hingga pulang...Memang cewe harus tidak sopan seperti itu ya? Weny melihat Rena dari atas hingga bawah dengan tatapan menjijikan, malah dia pikir kalo Rena pegawai Bank yang sedang bertemu nasabahnya, Rena memang masih memakai baju kerja saat itu! " tutur Andra sambil memegang dagu.

"Cie...ciee...pacarnya dibelain" ledek Ricko

"Perempuan kalo ketemu saingannya memang seperti itu Andraaa! Bagus kalo gitu kita ajak Rena ke Ulang Tahun Weny, sekalian memperkenalkan Rena sama temen-temen kita. Belikan dia gaun yang cantik!" Ricko semangat memberi saran.

"Ko, apa lo yakin sandiwara ini akan baik-baik aja? apa kita ga salah pilih cewe? gue takut, karena Rena dari kalangan biasa banyak yang akan mencari tau tentang kehidupannya. Apa sandiwara ini tidak akan terbongkar?" Andra memicingkan mata, ragu mulai menghinggapi hatinya. Dengan statusnya yang jauh diatas Rena, Andra tidak ingin Rena menjadi bahan bullyan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Mungkin ia atau keluarganya tidak mempermasalahkan status sosial seseorang yang akan mendapinginya nanti, tapi orang-orang kurang kerjaan dan tidak bertanggung jawab pasti akan menjadikan hal itu bahan gunjingan dan itu berarti, Rena yang akan terkena imbasnya.

"kalo lo sandiwara dengan cewe-cewe dari kalangan kita, mereka tidak akan mau Kawin Kontrak, maunya kawin beneran dan mereka ga akan melepaskan elo...malah mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan lo dan harta lo" Ricko berujar dengan jelas dan tatapan serius.

"Ya udahlah...kita jalani aja!" Andra akhirnya mengalah.

*Kantor Rena

"Cieee..cieee...ada yang habis kencan nih tadi malam" Mia menggoda Rena yang baru saja duduk dimeja kerjanya. Dibalas dengan senyum merona gadis itu.

"Kenalin aku donk Rena.."Mia memelaskan wajahnya, ia harus tau siapa kekasih sahabatnya itu. Jangan ngaku sahabat bila tak tau apapun tentang kekasih Rena.

"Nanti pasti aku kenalin.." Rena berjanji

"Dikenalin sama om-om,maksud lo Ren?" Sela Erin sambil berlalu

"Udah ga usah didengerin, dia mah sirik aja, semua orang dia sirikin, ampe supervisor kita di gosipin sama dia mah" Mia mengerucutkan bibirnya.

Rena tersenyum pelik, sekali lagi Rena tidak mau terlibat masalah dengan siapapun ia memilih mengalah, sabar dan diam dengan begitu dia akan terhindar dari masalah. Rena ingin hidup damai, fokus bekerja untuk keluarganya.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin