Love and Contract Sebuket Bunga

Sebuket Bunga

*Kantor Andra

Tok...Tok...Ceklek

Santi, sekretaris Andra masuk dengan melenggak lenggokan tubuhnya menghampiri Andra berharap bos tampannya itu akan tergoda oleh kemolekan tubuh seksinya.

"Ini dokumen yang Bapak minta dan Ini yang harus Bapak tanda tangani. Saya juga sudah melakukan pesan Bapak tadi pagi."

"Oke terimakasih..." Andra sama sekali tidak melihat ke arah Santi, mata dan jarinya sibuk menatap laptop, menyiapkan presentasi untuk kliennya siang ini.

Santi keluar dengan sedikit kecewa, sudah bermacam cara ia lakukan agar Andra meliriknya, tapi Santi merasa bukanlah tipe bosnya itu. Ia ingin seperti tokoh dalam novel-novel romantis dimana seorang bos menyukai sekertarisnya, tapi selama 5 tahun menjadi sekertaris Andra, segala usaha sudah ia tempuh dan bos tampannya itu tidak menganggapnya sama sekali. Santi menghela napas keluar dari ruangan Andra, sudah waktunya ia menyerah.

"Untuk siapa ya bunga yang di kirim Pak Andra hari ini? Apa sudah ada wanita yang bisa melelehkan Gunung Esnya?"batin Santi kecewa.

"Kenapa muka kamu ditekuk seperti itu Santi?" Ricko tiba-tiba datang mengejutkannya.

"Ah...tidak ada apa-apa Pak" jawab Santi seraya tersenyum dan kembali kemejanya.

Ricko melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti untuk menyapa Santi, kemudian masuk ke ruangan Presdir yang merupakan sahabatnya itu tanpa mengetuk pintu. Dari beribu karyawannya mungkin hanya Ricko yang bisa seperti itu kepada Andra.

"Bro...ini laporan yang lo minta!!! nanti malam jadi kencannya?" Ricko menyimpan berkas di meja Andra.

"Hemmm..." jawab Andra singkat, kini ia fokus memindai laporan yang Ricko berikan.

"Oh ya, barusan gue dapet info kalo orang yang ngeroyok lo tadi malam itu anak buahnya Bos preman kampung sana, orang yang lo maksud suka sama Rena itu mungkin anak nya! tapi gue udah nyuruh orang untuk beresin masalah ini ...Lo udah aman kalo besok-besak anter Rena pulang" tutur Ricko menjelaskan

"Thanks Bro..." ucap Andra datar kemudian beranjak dari duduknya berlalu meninggalkan Ricko.

"Hai...Lo mau kemana?" teriak Ricko

"Meeting...Lo ikut ga?" saut Andra tanpa menghentikan langkahnya.

"Ah...gila,lu Ndra!!" Ricko misuh-misuh sambil bergegas pergi menyusul Andra dengan setengah berlari.

*Kantor Rena

"Pak,ini ada bunga untuk Ibu Rena, Bapak bisa paraf tanda terimanya?" pinta kurir bunga kepada Security kantor Rena.

Pak Rahmat membubuhkan parafnya pada kertas tanda terima yang diberikan kurir bunga lalu menyimpan bunga tersebut dimeja Rena tapi sayangnya Rena masih istirahat makan siang di kantin.

"Bunga dari siapa, Pak?" Tanya Dini teller.

"Kurang tau, Bu Dini" saut Pak Rahmat seraya kembali ke luar.

Dini dan Erin teman tellernya berbisik-bisik ria

"Si Rena culun dapet bunga" ucap Dini sambil matanya melirik meja Rena

"Dari om-om kali" saut Erin kemudian tertawa meledek.

"Katanya dia lagi butuh duit...Bapaknya sakit" tambah Dini lagi.

"Iya makanya dia jual diri" imbuh Erin

Perghibahan mereka pun dihentikan oleh Mia

"Ssstttttt....biang gossip ya kalian, kalo kedengeran orangnya kan kasian, dasar ga punya perasaan" ucap Mia dengan ketus.

Dini dan Erin hanya menyeringai licik. Mereka tidak pernah peduli apa yang dirasakan teman sekantornya itu. Padahal Rena tidak pernah menganggu mereka sama sekali, iri dan dengki sudah membutakan mata dan hati kedua teller itu.

Apa yang dilakukan Rena selalu salah bahkan hal baik sekali pun, Rena bekerja dengan fokus mengikuti prosedur kerja dan menuruti atasannya, bukan hal yang aneh jika Pak Rudi Kepala cabang dan Bu Firda Supervisornya sangat menyukai kinerja Rena walau beberapa fitnah dan laporan yang belum tentu kebenarannya sering Rena dapatkan.

Mia meninggalkan mereka lalu menghampiri meja Rena dengan rasa penasaran dan membaca tulisan di kartu pengirim yang terselip dibunga mawar tersebut.

SAMPAI JUMPA NANTI SORE ~A~

Mia terkejut, sahabatnya ini ternyata sudah mempunyai kekasih.

"Sejak kapan? mengapa aku tidak tau?" gerutu Mia dalam hati.

Dengan langkah seribu Mia menyusul Rena ke kantin. Kekepoannya sudah pada level tingkat Dewa, sekarang juga ia harus tau siapa kekasih sahabatnya itu.

"Ren, ada kiriman bunga tuh buat kamu!" ucap Mia

"Oh ya? dari siapa?" tanya Rena penasaran, ia tidak begitu terkejut karena beberapa waktu yang lalu ia pernah mendapatkan sebuket bunga dari nasabahnya, seorang kakek yang katanya memiliki cucu yang telah meninggal, wajahnya mirip sekali dengan Rena, dan kakek yang sudah renta itu memberikan Rena sebuket bunga dihari kelahiran cucunya tersebut.

"Ga tau, tulisannya hanya inisial A" saut Mia, pura-pura acuh.

Mata Rena melebar sempurna, ia tersedak makanannya sendiri, lalu tangannya terjulur meraih air mineral didepannya dan meneguk air tersebut hingga habis tak bersisa.

"Deuuuh...ampe sekaget itu?!" Mia menepuk pelan pundak Rena berharap sahabatnya baik-baik saja.

Tapi Kekepoan Mia sudah naik pada level tak terhingga, ia tidak bisa menyerah begitu saja.

"Memang nya A itu siapa? pacar kamu? katanya lagi fokus kerja buat biaya sekolah adik-adik, trus kenapa ga cerita sama aku kalau kamu udah punya pacar?" Mia mengerucutkan bibirnya.

Rena tergelak,

"Baru beberapa kali ketemu, belum resmi pacaran ko..." jawab Rena berbohong dengan nada suara setenang mungkin. Sebetulnya bisa saja Rena berbohong kepada Mia, tapi gadis itu memiliki insting yang kuat, apalagi Mia adalah tempat curhat Rena dan tau semua tentang Rena.

Dengan cepet Rena menghabiskan makan siangnya dan kembali kekantor bersama sahabat baiknya itu. Ia melangkahkan kaki jenjangnya menuju meja tempatnya bekerja dan melihat sudah ada sebuket mawar merah bertengger cantik disana.

Sangat indah dengan pita berwarna pink yang mengikat seluruh mawar tersebut, dan terasa berat sepertinya jumlahnya cukup banyak, menurut majalah ABG yang pernah ia baca, jumlah mawar yang diberikan seseorang itu mengandung arti. Tapi kali ini Rena tidak peduli dengan jumlah dan artinya, karena sebuket mawar ini diberikan oleh lelaki yang akan berpura-pura menjadi suaminya nanti. Bunga mawar ini merupakan pencitraan, tak berarti apa-apa, Rena tersenyum getir. Berandai pun ia tak pantas.

Rena membaca pesan di kartu yang terselip di buket bunga mawar tersebut.

"Sampai jumpa nanti sore? ini pasti Mas Andra, maksudnya nanti sore mau ngapain?" batin Rena penuh tanya.

Rena mengambil telepon genggam yang ia simpan di tas, ada satu pesan belum terbaca

[ Nanti sore aku jemput ~Andra~]

Rena hanya membalas dengan emoticon senyum dan jari yang membentuk huruf O, ia tak mau kalah cool dengan Andra.

Andra yang membaca balasan pesan tersebut berdecak kesal "Ck...sok cool" desisnya.

Setelah pekerjaannya selesai Rena membereskan mejanya, Mia masih mendesak Rena untuk menceritakan lebih banyak tentang kekasih barunya itu.

"Ceritain lagi donk Ren, A itu siapa? orang mana? kerja dimana?hobinya apa? makanan kesukaannya apa?" Mia memelas.

"Aku juga belum tau siapa Andra sebenarnya! makanan favoritnya apa? hobinya apa?" batin Rena geli.

"Nanti ya, kalo kita benar-benar sudah resmi berpacaran baru aku ceritakan" Rena mengulur-ngulur.

"Oke deh..." saut Mia, terpancar raut kekecewaan diwajah mungilnya.

Rena menjawil hidung Mia gemas dan mendapat pelototan dari sahabat kesayangannya itu.

"Bu Rena ada yang nyari..." Pak Rahmat setengah berteriak dari pintu kantor.

"Terimakasih, Pak...aku pulang duluan ya Mia ku sayang" Rena menyium pipi Mia lalu bergegas keluar kantor.

Teman-teman kantor Rena dibuat penasaran, mereka mengintip dari dalam kantor, semua melihat Rena masuk kedalam mobil sedan Eropa mewah berwarna hitam keluaran terbaru.

"Tuuuh kan, pasti om-om" celetuk Erin

Semua teman-temannya melihat ke arah Erin kesal kecuali Dini, setelah mobil itu menghilang dari pandangan, mereka semua membubarkan diri.

*Di dalam mobil

"Ga sama Pak Syam, Mas?" Rena memulai pembicaraan karena sudah lima belas menit semenjak ia memasuki mobil Andra, pria tampan itu tak mengeluarkan sepatah kata pun bahkan meliriknya pun tidak.

Rena merasa seperti manusia tak kasat mata bila berada disamping Andra, karena pria dingin itu hanya menjawab dengan gelengan kepala, matanya tetap fokus pada kemudi.

"Terimakasih bunganya, tapi ga usah kirim bunga lagi ya Mas...tadi heboh sekantor, dan lagi buang-buang uang aja karena lama-lama bunganya akan layu" tutur Rena dengan tersenyum menatap Andra.

Andra menoleh Rena sekilas, tapi seperti biasa Andra dengan ekspresi datarnya tak mengomentari ucapan gadis cantik di sampingnya itu.

"Buang-buang uang katanya? Iya juga sih!" batin Andra membenarkan.

Andra merasa Rena itu unik karena kebanyakan wanita biasanya menginginkan perhatian lebih dari prianya, entah itu bunga, kata-kata romantis atau hadiah. Tapi wanita disampingnya malah menolak pemberiannya, ah iya, Andra lupa, mereka kan hanya berpura-pura menjadi sepasang kekasih.

Selama perjalanan Andra tidak berbicara sepatah kata pun, Rena juga lelah mengajak Andra berbicara. Rena berpikir antara Andra tidak suka bertemu dengannya atau ada masalah di kantor, atau pria tampan itu memang menyesal melakukan Kawin Kontrak ini.

Tanpa sadar Rena menghela napas kasar membuang semua pikiran negatifnya. Andra terkejut mendengar helaan nafas Rena kemudian melirik sekilas ke arah Rena lalu jari ramping itu menekan layar didashboard untuk menyalakan Radio. Suara Radio mengambil alih keheningan didalam mobil, menemani keduanya hingga tempat tujuan. Rena tidak bertanya kemana andra akan membawanya, menurutnya akan percuma karena pertama pria itu tidak akan menjawab, kedua ia tidak akan bisa menolak kemanapun Andra akan membawanya.

Andra membelokan mobilnya menuju Restoran yang cukup mewah, sesampainya di loby Restoran, petugas valet menghampiri mobil Andra, kemudian keduanya turun.

"Apa aku harus menggandeng tangannya?" 

Rena menghepaskan pikiran itu dengan mengeleng-gelengkan kepala.

Dan Andra begitu saja berlalu dengan Rena mengekor dibelakang, lebih mirip seperti seorang Bos dengan sekertarisnya dari pada sepasang kekasih.

Pelayan Restoran mempersilahkan mereka duduk dan memberikan buku menu, mata Rena terbelalak melihat harga di menu itu juga nama makanan yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Pilihan terakhirnya adalah spaghetti dan jus saja.

Ternyata tanpa mereka duga, ada tamu restoran yang mengenal Andra, gadis mungil itu menghampiri Andra dan menyapanya dengan genit.

"Hai Ka Andra..." sapa Weny

Andra hanya tersenyum simpul.

"Lagi kunjungan nasabah ya Mba?" tanya Weny pada Rena sambil melihat gadis yang masih memakai seragam kerja itu dari atas hingga bawah dengan ekspresi senyum melecehkan.

Rena memang masih memakai stelan blazer dan rok spannya, karena tidak mengetahui akan ada kencan pura-pura sore ini. Kalau Andra atau Ricko bilang sore ini ada kencan sandiwara, mungkin ia akan membawa pakaian terbaiknya untuk ganti, ya tapi beginilah nasib berpacaran dengan pria introvert yang pelit bicara. Rena harus belajar menajamkan indra keenamnya agar bisa mengetahui isi pikiran Andra.

"Kenalkan, ini Rena...dia kekasih ku" suara bariton itu menyelamatkan Rena dari tatapan intens nan melecehkan dari Weny.

Deg.

Dua kali Andra mengakui Rena sebagai kekasihnya, "Apaan sih Ren, ga usah deg-degan gitu deh...kan emang kalian lagi pacaran pura-pura" suara dari pikiran Rena menyadarkan gadis itu.

Rena mengulurkan tangannya ke arah Weny.

"Aku Rena..."

"Oh..aku Weny" gadis itu pun menjabat tangan Rena sembari memutar bola matanya.

Wajah Weny terlihat tidak suka dan masih saja melihat Rena dengan tatapan seolah sedang menelanjanginya. Setelah puas melecehkan Rena dengan tatapannya, ia meraih tasnya kemudian mengeluarkan sebuah undangan.

"Kak, minggu depan aku ulang tahun..jangan lupa datang ya, ini undangannya...semua teman-teman kita juga hadir loh..." Weny menyimpan undangan pesta ulang tahunnya di meja karena lama Andra tidak mengambil undangan tersebut dari tangan Weny.

"Oh ya...jangan lupa ajak Ka Ricko" imbuhnya sambil mendelik ke Arah Rena.

"Hem... " jawab Andra sekenanya sambil mengangguk sedikit.

"Aku balik ke meja ya Ka....Bye Ka Andra" pamit Weny tanpa memperdulikan Rena.

Weny begitu kesal, tangannya mengepal, wajah cantiknya berubah menjadi buruk tertutupi oleh cemburu dan iri dengki.

"Bukannya beberapa waktu lalu ka Ricko bilang kalo ka Andra lagi cari calon istri ? Masa sih secepat ini mendapatkannya?" batin Weny geram.

Makanan pun akhirnya datang, keduanya melahap makanan yang sudah disediakan pramusaji. Lagi-lagi suasana sangat hening, mereka fokus dengan makanan yang tersaji didepannya, dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

Dari ujung mata, Andra bisa melihat Weny dan teman-temannya memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik. Ia tau percis apa yang sedang anak-anak konglomerat yang tidak berguna itu sedang lakukan.

"Senyum ke arah ku sekarang!" bisik Andra.

Rena terkejut, apa ia tidak salah dengar?

"Hah??" tanyanya dengan wajah yang masih terlihat bingung.

"Cepat senyum ke arah ku sekarang, mereka sedang memperhatikan kita!" bisik Andra lagi sambil menatap Rena.

Barulah Rena mengerti maksud Andra, lalu gadis itu melengkungkan senyum manis ke arah Andra, senyuman itu membuat Rena makin cantik dengan memamerkan dua gigi kelincinya. Beberapa detik Andra terpesona hingga tidak sadar menatap Rena lekat. Lalu menunduk tersipu menyelesaikan makannya.

Weny dan teman-temannya masih memperhatikan mereka dari meja sebrang, Andra yang menyadari hal itu ingin lebih menegaskan bila mereka sedang kencan.

Entah setan mana yang menggerakan tangan kekar Andra untuk menggapai rambut Rena, menarik cepol rambut gadis itu hingga membuat rambut Rena tergerai, makin menambah kecantikan gadis dihadapannya, kemudian Andra tersenyum dengan tatapan hangatnya.

Rena tidak terkejut dengan perbuatan Andra tadi, ia sudah sadar sesadar sadarnya tengah berakting saat ini, dan untuk yang pertama kalinya Rena terpesona dengan senyuman Andra, senyum hangat yang setelah beberapa pertemuan baru kali ini ia melihatnya. Senyum yang melengkapi ke tampanan pria berahang tegas di depannya ini mampu membuat jantung Rena berdebar kencang.

"Oh Tuhan sangat sempurna ciptaan mu! " batin Rena

Seketika Rena tersadar, mungkin pria tampan didepannya ini pintar berakting mengingat kontrak yang beberapa hari lalu ia tandatangani, tapi Rena tak bisa membohongi hati dan perasaanya, pipinya memerah tersipu dengan perlakuan Andra.

"Perasaan ini...perasaan ini Tuhan...tolong bunuh...bunuh...dia hanya purat-pura!"

teriaknya dalam hati.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin