Love and Contract Khawatir

Khawatir

Malam itu Rena kembali diantar pulang oleh Andra dan Ricko. Sesampainya di depan gang kosan, Andra memarkirkan mobil dan menunggu Rena turun.

"Terimakasih Pak Andra...Pak Ricko " pamit gadis itu kemudian membuka pintu mobil.

"Ndra...anter donk sampai depan kosannya! Masa lo ga pengen tau kosan cewe lo? biar ibu kosnya juga tau kalo Rena punya pacar! Misi kita kan dalam tahap mempublikasikan hubungan lo dan Rena" Ricko mengingatkan Andra yang sangat kurang peka.

Andra menghela napas panjang, walau enggan tak ayal ia turun dari mobil. Ucapan Ricko memang benar, sebelum nikah tentunya ada tahap pacaran dan tahap ini yang sedang pria itu lalui bersama Rena agar semua orang tidak curiga.

"Rena tunggu..." suara bariton sexy itu menghentikan langkah Rena, dengan kaki panjangnya Andra sudah tiba sepersekian detik didepan Rena.

"Ada apa Pak?" Tanya Rena dengan dahi terlipat dalam, apa ia melupakan sesuatu? atau pria itu akan mengatakan sesuatu kepadanya?

"Aku antar sampai depan kosan!" ucapan Andra mampu menjawab semua pertanyaan dalam pikiran Rena.

Wajah cantik itu tersenyum,

"Mungkin ini salah satu misi yang dijelaskan oleh Pak Ricko tadi" batin Rena

"Tapi kedalemnya cukup jauh loh, Pak!"

"Ga apa-apa" jawab Andra datar tanpa ekspresi.

Keduanya pun berjalan berdampingan, Andra memasukan tangannya kedalam saku celana. Bola mata jernih milik pria itu memindai keadaan gang yang ia lalui, membayangkan gadis mungil disisinya setiap hari melewati jalanan ini setiap pergi dan pulang kerja. Hati Andra merasa iba kepada calon istri pura-puranya itu, keadaan gang yang sedikit jorok juga terdapat selokan besar disisinya membuat indra penciuman Andra menolak bernafas dengan normal.

"Apa dia tidak merasa jijik?" batin Andra sambil melirik Rena sekilas yang tampak baik-baik saja. Lampu temaram yang menerangi gang tersebut sepanjang perjalanan mereka tidak bisa menyembunyikan wajah elok disampingnya.

"Mulai sekarang jangan panggil aku dan Ricko dengan sebutan Pak!" pria itu membuka pembicaraan, untuk yang pertama kalinya saat mereka sedang berdua.

"Lalu saya harus manggil apa?" tanya Rena polos.

"Mas aja...Ricko juga!" jawab Andra singkat dan padat.

"Bicara seperti biasa aja, jangan seperti sedang menghadapi nasabah!" imbuh pria itu dengan ekspresi datarnya. Yang dibalas dengan anggukan dan senyum manis gadis Rena.

Tanpa terasa, kini keduanya sudah dekat dengan pos ronda. Suatu tempat yang paling Rena hindari selama tinggal disini karena tempat itu merupakan tempat nongkrong anak-anak gang sana yang selalu mengganggu Rena setiap pulang kerja sedikit larut, dan beberapa meter di depan mereka sudah berdiri Jodi menghadang jalan. Entah apa yang ada dipikiran pria itu, hingga dengan percaya diri tingkat dewanya berani berdiri menghadang jalan.

Andra begitu heran melihat seorang laki-laki yang menghadang jalan yang akan ia lalui, terlihat dari kerutan diantara alisnya. Andra melirik Rena sekilas dan ia bisa menangkap ekspresi terkejut dan takut secara bersamaan diwajah cantik Rena. Bahkan tanpa sadar, kini gadis itu sudah sedikit menggeser tubuh merapat mendekati Andra, seolah meminta perlindungan.

"Apa lelaki itu mantannya Rena?" terka Andra dalam hati.

"Mau apa lagi dia sekarang?" gumam Rena geram.

Langkah Rena dan Andra sudah sangat dekat dengan Jodi, Andra tidak gentar bahkan ia terlihat begitu tenang menatap Jodi dengan tatapan remeh.

"Siapa pria ini Rena?" tanya Jodi dengan ketus, seolah pria itu adalah pemilik Rena.

Andra menghentikan langkahnya diikuti Rena,

"Dia...dia..." Rena menjawab terbata-bata. Sebetulnya ia bingung harus menjawab apa, gadis itu tidak berani mengaku duluan bila pria tampan disampingnya adalah calon suaminya mengingat Rena adalah orang biasa sedangkan Andra dengan stelan jas yang kini masih ia pakai seperti berada jauh diatas kastanya, mungkin Jodi pun tak akan percaya begitu saja kepada Rena.

Andra menangkap ekspresi wajah Rena dan tau apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Ia pun merutuki dirinya kenapa tidak membuka jas dan dasinya saja tadi mobil. Pakaiannya mencolok sekali sekarang ini, bahkan sangat kontras dengan keadaan sekitar.

"Saya pacar Rena" Andra menjawab dingin dengan tatapan tajam ke arah Jodi, kemudian merangkul pundak Rena, dengan santai Andra membawa Rena melanjutkan perjalanan melewati Jodi bahkan sedikit menyenggol lelaki yang lebih pendek darinya itu. Andra terlihat tenang tidak tersirat sedikitpun ketakutan dimatanya berbanding terbalik dengan Jodi yang sudah menggertakan gerahamnya tapi diam saja saat Andra menyenggolnya. Aura Andra memang begitu dahsyat, ternyata bukan hanya bisa membungkam para karyawannya tapi Jodi yang notabene seorang preman saja tidak bisa secara langsung menghadapi Andra.

DEG

Jantung Rena berdetak tak karuan, ia masih tidak percaya Andra mengakuinya sebagai pacar juga tangan Andra yang masih bertengger dengan gagah merangkul pundaknya, pipi Rena merona. Untung lampu di jalanan gang tidak begitu terang sehingga bisa menyamarkan rona merah di wajahnya.

"Sadar Rena, ini hanya pura-pura!!" teriaknya dalam hati

Jodi hanya terdiam melihat Andra dan Rena lewat begitu saja di hadapannya, seperti ada rasa takut menjalari hati pria dengan tubuh tambun itu, tapi ia tidak mau terlihat pengecut didepan teman-temannya. Lelaki itu memikirkan cara untuk menghajar kekasih dari wanita yang sudah lama ia incar.

Rena menghentikan langkah saat sudah sampai didepan pintu kosannya dan seketika membuat langkah Andra ikut terhenti.

"Ini kosan aku Mas...nanti Mas pulang gimana? Yang menghadang kita tadi itu namanya Jodi dan memang sering bikin onar, anaknya kepala preman disini. Aku anter mas balik ke mobil ya?" tanpa canggung Rena tidak sadar sudah berkali-kali memanggil Andra dengan sebutan Mas, sesuai dengan yang pria itu minta. matanya berkedip berkali-kali selama ia berbicara mengibas bulu mata lentiknya. Andra tau gadis itu sedang mengkhawatirkannya.

Mendengar suara merdu yang memanggilnya dengan sebutan Mas juga rasa khawatir yang terlihat jelas, seluruh tubuhnya seperti tersengat listrik membuat hati Andra merasa hangat, sudah lama tidak ada wanita yang mengkhawatirkannya seperti itu.

"Mengapa dia harus sekhawatir ini? malah mau mengorbankan diri mengantar ku kembali ke depan jalan?" batin Andra sambil menatap manik Rena dalam, terpancar kekhawatiran di manik mata indah milik Rena juga dahi yang mengkerut menandakan gadis itu tak ingin hal buruk terjadi pada Andra. Tak ada kebohongan disana, gadis itu benar-benar tulus sedang mengkhawatirkannya, Andra menunduk sekilas kemudian menatap Rena kembali dan memasukan kedua tangan kedalam celana kainnya.

"Masuklah... sudah malam!" titahnya tegas dan berbalik meninggalkan Rena yang masih berdiri di depan pintu kosan.

Rena tak bergeming, ia belum mau beranjak dari tempatnya berdiri, gadis cantik itu terus saja memperhatikan Andra karena khawatir Jodi dan teman-temannya berbuat buruk kepada Andra.

Dan benar saja dari belakang Andra, salah satu teman Jodi mengacungkan balok hendak memukul pundak pria bertubuh atletis itu tapi dengan sigap Andra berbalik menangkap balok tersebut lalu balas menghajar.

Rena berteriak sekencangnya meminta pertolongan berharap  semua warga disekitar kosan Rena keluar termasuk Pak RT dan Ibu Kos. Tak menunggu lama beberapa warga berdatangan, mereka melerai teman-teman Jodi yang sedang mengeroyok Andra, sedangkan anak dari kepala preman yang sok jago itu hanya duduk di pos ronda melihat teman-temannya mengeroyok Andra.

Walau Andra dikeroyok oleh lebih dari 3 orang, ia tidak lecet sedikit pun. Rena yang melihat merasa terkesima dan kagum, Andra terlihat sangat tampan dan gagah berani. Rambutnya yang sedikit berantakan, peluh yang mengucur dari dahi, dasi yang sudah melonggar dan juga kancing kemeja yang terbuka sebagian membuat Andra terlihat seksi seperti difilm-film mafia. Rena memejamkan mata menggelengkan kepala berusaha mengenyahkan pikiran sensualnya dan segera menghampiri Andra.

"Mas ga kenapa-napa?" tanya Rena khawatir dengan nafas tersengal karena ia sempat tidak menahan nafas saat Andra sedang berkelahi melawan anak buah Jodi tadi. Andra hanya menggelengkan kepalanya, tatapan tajam ia arahkan kepada Jodi dan bergantian menatap orang-orang yang sudah mengeroyoknya tadi.

Rena mulai menjelaskan kejadiannya kepada warga termasuk Pak RT.

"Pak RT, ini teman saya Andra, tadi dia dikeroyok pada saat pulang setelah mengantar saya!" Tutur Rena menjelaskan dengan kesal sambil melotot kearah Jodi, tanpa perlu dijelaskan pun warga disana sudah tau jika Jodi dan teman-temannya sering berbuat onar kepada orang baru yang bertamu kesana.

"Maafkan warga kami Nak Andra...saya selaku RT disini mewakili adik-adik yang sudah menyerang Nak Andra, memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga Nak Andra tidak menindaklanjuti masalah ini...adik-adik ini belum mengerti..." Pak RT terlihat tulus meminta maaf sambil menyatukan kedua telapak tangannya.

"Tidak apa-apa Pak RT, mudah-mudahan kedepannya ketika saya mengantar Rena pulang tidak ada kejadian seperti ini lagi" balas Andra merendah.

Kemudian Andra pamit dan Pak RT seketika itu juga menasehati Jodi dan teman-temannya. Jodi sangat geram, dia masih mengepal kan tangan walau Pa RT sedang menasihatinya. "Lain kali gue akan buat lo menderita" janjinya dalam hati.

"Masuk lah Rena dan kunci pintunya" sekali lagi Andra meminta Rena masuk dengan tatapan tak terbaca. Entahlah, Rena tidak bisa mengartikan tatapan itu.

Rena sempat membantu beberapa detik kemudian menganggukan kepala dan mengulas senyum tipis, ingin sekali ia mengulurkan tangan mengusap peluh di dahi pria tampan itu, tapi sekuat tenaga ia menahannya.

Warga pun akhirnya bubar masuk ke dalam rumah masing-masing dan setelah melihat Andra menjauh, Rena masuk ke dalam kamar kosannya dengan perasaan bersalah dan tidak enak hati.

"Bagaimana bila dia berubah pikiran dan menagih 100Juta nya? Aaarrggghhh...." pekik Rena seraya menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang.

Tok...Tok...

Rena terkejut mendengar sura pintu kosannya diketuk.

"Siapa yang mau bertamu malam-malam begini?" gumamnya penasaran.

Ceklek...

"Eeehh Ibu Kos, ada apa bu?" Rena terlihat heran, pasalnya jarang sekali Ibu kos mendatanginya selain menagih uang kos setiap awal bulan dan baru seminggu yang lalu ia membayar uang kosnya.

"Siapa Pria tadi itu Rena? sangat tampan! " tanya Ibu kos penasaran, ada senyum melecehkan tersungging di bibirnya. Harusnya Rena sudah tau maksud dan tujuan kedatangan Ibu kos bertubuh ramping itu. Mungkin Ibu Kos berpikiran tidak mungkin seorang Rena yang ngekos ditempat kumuh seperti ini diantar oleh pria tampan menggunakan stelan jas lengkap dengan dasi.

"Itu teman saya, Bu" jawab Rena dengan senyum ramahnya. Ya begitulah Rena, mojang Bandung dengan hati selembut sutra yang tidak bisa menyakiti perasaan orang sekalipun orang itu menyakitinya.

"Ooohh...laki-laki dilarang masuk kosan ya Rena!" Ibu kos mengingatkan lalu pergi kembali ke dalam rumahnya.

"Baik Bu..." jawab Rena kepada Ibu kos yang sudah hampir masuk kedalam rumah.

"Siapa juga yang mau masukin laki-laki kekamar!" gerutunya dalam hati

*Disaat yang sama

Andra masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobil itu kencang, lalu menarik dasinya yang sudah hampir terlepas dengan kasar, ia masih kesal oleh ulah Jodi dan teman-temannya.

"Ada apa Ndra? kenapa lo berantakan begini?" Ricko yang sudah duduk dibelakang kemudi, menatap Andra dengan penuh tanda tanya

"Tadi gue dikeroyok sama preman sini, sepertinya bos mereka menyukai Rena jadi ga terima Rena diantar pulang oleh pria lain!" saut Andra dengan wajah ditekuk.

Ricko tergelak,

"Resiko punya cewe cantik!! " ledek Ricko

Andra hanya menghela napas dengan kesal.

"Besok suruh Rena pindah ke salah satu apartemen gue, gue males urusan sama mereka!" titah Andra lalu menyandarkan tubuhnya.

"Ga bisa Ndra, nanti orang-orang merasa aneh! Biar mereka gue yang urus ya! Lo tenang aja, Oke?!" Ricko pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang mengantar Andra pulang.

Nafas Andra masih tidak beraturan, rahangnya mengetat. Ia belum bisa melupakan kejadian yang baru saja ia alami. Ada sedikit rasa khawatir disudut hati Andra, ia takut Rena mendapat perlakuan buruk dari preman-preman itu kedepannya.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin