Love and Contract Sandiwara

Sandiwara

Setelah menurunkan Rena di pinggir jalan, Ricko bergegas kembali ke kantor dan melaporkan hasil pertemuannya tadi dengan Om Bimo juga Rena. Sepanjang jalan bibirnya seperti lupa berhenti tersenyum, ia yakin Rena bisa meluluhkan hati sahabatnya itu karena Rena bukan cewe matre dan seorang gadis mandiri yang merupakan tipe wanita yang Andra sukai.

"Lo akan jatuh sejatuh jatuhnya dalam pesona Rena, Ndra! Gue ga sabar ngeliat lo bahagia dan sudah waktunya lo bahagia!" batin Ricko

*Ruangan Andra

"Done ya Bro!! Rena sudah menandatangani Kontraknya, dia juga ga banyak permintaan atau pertanyaan, hanya satu permintaannya yaitu masih diperbolehkan bekerja selama menikah, katanya ia tidak ingin menjadi pengangguran setelah bercerai nanti karena harus menghidupi keluarganya, seperti nya dia sudah pasrah dengan 100 Juta yang lo transfer untuk operasi Bapaknya kemarin" Ricko berujar seraya melangkah masuk ke dalam ruangan Andra.

Andra sempat membatu mendengar penjelasan Ricko bahwa Rena minta diperbolehkan tetap bekerja karena tidak ingin menjadi pengangguran setelah bercerai.

"Belum juga menikah tapi perempuan itu udah ga sabar pengen cerai aja" batin Andra kesal

Tapi seperti biasa Andra menampilkan dengan sempurna ekspresi datarnya seolah tidak peduli akan permintaan Rena dan alasannya, ia fokus pada laptop di depannya dan itu tidak membuat Ricko berhenti menyampaikan maksud dan tujuannya datang keruangan sahabat tapi Bosnya itu.

"Selamat Bro, sekarang lo udah punya calon istri" tambah Ricko lagi, sembari duduk bersandar di sofa dengan menumpangkan satu kaki. Kepalanya ia sandarkan di sandaran sofa. Pria itu merasa bangga pada dirinya sendiri seperti sudah menyelamatkan bumi dari tabrakan meteor.

" Tadi juga gue udah minta Rena untuk datang ke Café Milan sepulang kerja, kita bicarakan detail mengenai sandiwara ini kedepannya, gue udah urus semua, lo tinggal nurut aja sama gue ya!" Ricko lalu tertawa puas, Andra yang akan menikah entah kenapa ia yang merasa bahagia. Mungkin itulah perasaan seorang sahabat sejati, yang akan bahagia hanya bila melihat sahabatnya bahagia.

Andra hanya melirik Ricko, ada sedikit senyum di bibirnya. Presdir tampan itu tidak tau apa yang akan ia lakukan bila tidak ada Ricko disampingnya, Ricko selalu ada dalam setiap suka dan duka juga selalu bisa membereskan semua masalahnya.

Tok...Tok...Tok

Pandangan kedua pria tampan didalam ruangan itu sontak mengarah pintu.

Ceklek...

Om Salim masuk ke dalam ruangan Andra.

"Om Salim?" sapa Andra dengan ekspresi sedikit terkejut.

"Apakabar Om? Kapan Pulang?" tanya Ricko sambil menyalami Om Salim.

"Baik...Om baru pulang dari London kemarin sore" Jawab Om Salim lalu mendudukan tubuhnya di sofa.

Om Salim baru pulang dari London untuk memeriksa bisnis disana, karena itu Andra dan Ricko lah yang mengantar Tante Merry ke Rumah sakit pada saat Tante Merry mengalami pusing karena tekanan darah rendahnya kambuh kemarin dan akhirnya ia bertemu Rena hingga terjadilah Kawin Kontrak ini, takdir kadang suka bercanda.

"Ada apa Om kesini? kalau Om ada perlu biar Andra yang datang ke kantor Om!" Tanya Andra sopan, Andra masih merasa bersalah karena sudah membentak Om Salim pada makan malam minggu lalu.

"Om kesini mau minta maaf karena sudah mengatur hidup mu Andra, memaksa untuk segera menikah, Om hanya ingin yang terbaik untuk kamu saja" tutur Om Salim dengan tatapan nanar.

"Om tidak perlu khawatir, sekarang Andra sudah punya calon istri" celetuk Ricko.

"Apa betul Ricko? Benarkah Andra? secepat itu kamu bisa jatuh cinta?" tanya Om Salim dengan memicingkan matanya kearah dua pemuda tampan itu.

"Sebetulnya udah lama Andra tau dia Om, dia sering kesini untuk membantu Andra mengenai masalah perbankan, dia pegawai di Bank BUMN, perempuan yang baik, dan sopan...Om dan Tante pasti suka" tutur Andra setengah berbohong, berusaha meyakinkan Omnya karena dengan status pria dingin yang melekat pada dirinya selama 7 tahun ini, semua orang tidak akan langsung percaya bila ia tiba-tiba mempunyai pacar apa lagi akan menikah.

" Kalau begitu ajak dia makan malam di rumah Om hari sabtu ini ya? Om ingin sekali mengenal calon istri mu!" ajak Om Salim dengan binar dimatanya.

"Oke Om Salim,laksanakan!" teriak Ricko mengambil sikap hormat seperti seorang tentara kepada Komandannya.

Andra hanya menganggukan kepala dan mengulas senyum tipis.

"Cantik ga orangnya?" bisik Om Salim sambil mengangkat kedua alisnya berkali.

"Ya Tuhan..... Om Salim!!!" Andra mengusap wajahnya yang sudah memerah dengan kedua tangan.

"Cantik donk Om, matanya bulat, bulu matanya lentik kaya barbie, idungnya ga mancung tapi proporsional, bibirnya tipis, garis wajahnya lembut. tubuhnya tidak terlalu tinggi tidak juga pendek, rambutnya hitam legam, dia juga bukan cewe matre dan termasuk wanita mandiri, percis seperti wanita tipe Andra, Om" Ricko menjelaskan ciri-ciri Rena secara detail, bahkan Andra sendiri sampai ternganga mendengar penjelasan sedetail itu yang bahkan ia pun belum menyadari semua ciri tersebut dari gadis yang akan menjadi istrinya itu.

"Oke...oke cukup" Om Salim tergelak,

"Nanti ga surprise lagi" imbuh Om Salim

*Kantor Rena

Setelah pekerjaannya selesai Rena menelepon Lia menanyakan keadaan Bapak, hari ini Rena baru sempat menghubungi Adiknya itu.

"Hallo de? gimana Bapak? apa operasinya berjalan lancar?" cecar Rena dengan nada khawatir.

"Lancar ka, sekarang Bapak sudah dipindahkan ke ruang Rawat Inap...Bapak juga udah sadar dari pengaruh obat biusnya, tinggal pemulihan" Lia memberikan penjelasan sedetail mungkin.

"Syukurlah de, dari tadi Kaka kepikiran Bapak terus tapi baru sempat telepon!" ujar Rena lirih

" Ga apa-apa Ka, yang penting ada duit, semua lancaaar...!" canda Lia menghibur Kakanya.

"Oke deh, Kaka titip Bapak ya de, akhir minggu ini Kaka usahain pulang" pesan Rena kepada adiknya.

"Asyiiikkk....ade udah kangen Kaa!"

"Iya Kaka juga kangen,De!" imbuh Rena kemudian Kakak beradik itu memutuskan sambungan telepon.

Rena bergegas memesan ojeg online untuk pergi ke Café Milan, ia tak ingin terlambat karena tau Andra akan memperlihatkan muka super jutek tapi tampannya.

Sayangnya jalanan sore di kota Jakarta tidak bisa diajak kompromi. Beberapa menit sekali Rena melihat kearah jam tangannya, ia hanyut dalam lautan kendaraan dengan polusi udara yang menyesakkan.

"Bang...ngebut donk, nyalip gitu Bang, biar cepet sampe"

"Elah Neng, mau ngebut gimana? jalanannya padet ini"

Rena menghela nafas, "Abis gue ntar di jutekin Presdir songong itu" rutuk Rena dalam hati.

*Café A

Jam menunjukan pukul tujuh, Ricko dan Andra sudah beberapa menit menunggu dan Andra mulai merasa kesal karena Rena masih belum terlihat batang hidungnya. Duduknya mulai gelisah karena ia tidak terbiasa menunggu.

"Kemana perempuan itu?!" Andra bergumam dengan menyatukan alis tebalnya.

"Sebentaaaar...kantornya jauh dari sini, jam pulang kerja itu macet Ndra" celetuk Ricko menenangkan sahabatnya itu, dalam pikiran Ricko, Andra pasti sudah tidak sabar akan bertemu dengan calon istrinya seperti yang sudah ia sebutkan detailnya tadi siang kepada Om Salim.

Walaupun Andra sudah beberapa kali bertemu Rena, pria itu tidak akan memperhatikan secara rinci seorang gadis karena tembok dihatinya terlalu menjulang ia bangun untuk makhluk bernama wanita. Setelah menyebutkan ciri-ciri fisik Rena tadi entah kenapa Ricko menangkap sinyal ketertarikan dari Andra.

Selang beberapa menit kemudian, dari dinding kaca besar di Cafe tersebut, Ricko dan Andra melihat Rena turun dari ojeg online dengan terburu-buru masuk kedalam Café.

"Maaf saya terlambat, tadi ada masalah sedikit di kantor " sapa Rena dengan wajah pucat dan ia sudah menyiapkan diri dengan semua kekesalan Andra.

Keduanya masih terbengong dengan penampilan Rena. kemudian di kejutkan oleh driver ojeg yang mengejar Rena sambil berteriak.

"Neng...itu helm saya belum dikembalikan!"

"Oh iya maaf Bang..." Rena terkejut, ia segera membuka helm dan memberikannya pada driver ojeg online yang baru saja mengantarnya.

"Ga apa-apa Neng, udah biasa" saut driver ojeg itu sambil tersenyum.

Ternyata ia belum sempat membuka helm dan sudah masuk kedalam Cafe. Wajah Rena merah padam menahan malu, ia merasa ingin menghilang atau menguap begitu saja dari muka bumi ini.

"Makanya nanti lagi naik ojeg bayar sama helmnya, biar ga sampe dikejar gitu sama driver ojegnya" ledek Ricko lalu tergelak, bahkan beberapa pengunjungpun sempat menertawakan Rena.

Apalagi beberapa wanita yang sedang berkumpul dalam satu meja, yang sudah mengicar Andra dan Ricko sebelumnya dengan sengaja mengeraskan tawanya.

Andra  hampir tak kuat menahan tawa, dia berdehem untuk menghilangkan rasa ingin tertawa terbahak-bahak.

"Ekheem..."

Rena duduk sambil memaksakan senyumnya. Kakinya lemas menahan malu dan penghinaan dari beberapa pengunjung disana, tapi Rena bisa apa? gadis miskin sepertinya sudah terbiasa menerima segala bentuk cacian dan hinaan orang-orang, walaupun ia masih saja merasakan sakit dihatinya saat itu terjadi.

"Mau makan apa Ren?" tanya Ricko berusaha membuka pembicaraan, dia tidak mau Rena merasa tidak nyaman karena ia sudah menertawakannya.

"Apa aja deh Pak Ricko.." saut Rena sedikit jutek.

"Oke aku pesenin ya.." Ricko pergi ke arah kasir untuk memesan makanan

Kesempatan itu Andra gunakan untuk memperhatikan Rena dengan intens, memindai gadis yang digadang-gadang akan menjadi istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki walau terhalang meja tapi tempat duduk yang merupakan sofa dan meja kopi itu masih bisa memperlihatkan sebagian besar tubuh Rena. Dan sialnya, semua detail yang dikatakan Ricko tadi siang sangat tepat, terlepas dari kejadian konyol barusan, Rena memang sangat cantik natural tapi ada yang lupa Ricko sebutkan, gadis cantik didepannya memiliki alis yang tebal sehingga tidak perlu memolesnya dengan pensil untuk menegaskan alis seperti kebanyakan wanita yang berada di cafe ini yang malah keliatan menor dan berlebihan.

Sedangkan Rena yang sadar pria didepannya sedang menatapnya dengan intens hanya tertunduk tidak berani balas menatap. Ia tau tatapan itu tidak menghina atau melecehkan, tatapan itu hangat dan penuh rasa ingin tau tapi Rena merasa risih. Jantungnya selalu berdetak kurangajar setiap bertemu dengan pria tampan calon suami pura-puranya itu. Bila ada kamera disana, mungkin Rena sudah melambaikan tangan, menyerah.

"Mengapa dia terlihat seperti takut pada ku? atau dia tidak percaya diri seperti apa yang diungkapkannya pada saat di coffeshop tempo hari sewaktu dia menolak Kawin Kontrak ini?" guman Andra dalam hati

"Aduuuh, ngapain dia ngeliatin gitu? Mana muka aku kucel pulang kerja...trus ini rambut berantakan ga ya? ga sempet sisiran tadi, lagian kenapa sih tadi ga ijin ke toilet aja? lipstik...lipstik...masih nempel ga ya dibibir?" batin Rena gelisah.

Kenapa sih Rena jadi peduli dengan penampilannya didepan Andra? Kan mereka hanya akan melakukan Kawin Kontrak yang 5 tahun kemudian akan bercerai.

Tak lama Ricko mulai bergabung kembali dan menghilangkan kecanggungan juga menyelamatkan Rena dari Andra yang terus saja menatapnya. Sambil menunggu makanan mereka berbincang mengenai detail Sandiwara Kawin Kontrak ini kedepannya.

"Mulai sekarang kalian pura-pura pacaran ya! Kalu Lo sempat..Lo harus jemput Rena pulang kantor, kasih dia bunga, weekend kencan dengan Rena...kita harus rapih agar orang lain tidak bertanya-tanya karena hanya akan membuat curiga orang-orang dan para klien saja! Setelah beberapa bulan kalian pacaran barulah lo melamar Rena...Kita jangan gegabah, jangan sampai publik mengira ini hanya settingan, lo tau kan mulut Netijen gimana? Setiap ada acara pesta lo harus ajak Rena, perkenalkan kesemua teman dan klien kita" Tutur Ricko panjang kali lebar.

"Kenapa jadi seribet ini sih?" Andra mulai bertanya dengan nada ketusnya.

Rena hanya diam saja menjadi pendengar sejati, sesekali Rena menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Jadi lo mau instan gitu? tiba-tiba nikah? nanti akan ada yang mencari tau tentang ini karena terlihat tidak natural, kalo gagal ditengah-tengah kan repot, reputasi lo juga yang ancur!" seru Ricko serius, ia benar-benar gemas dengan sahabatnya itu, entah kenapa otak cerdasnya seolah tidak berfungsi bila menyangkut wanita dan menikah.

"Gimana Nona Rena?" tanya Ricko, karena bila diperhatikan sedari tadi gadis itu hanya diam saja tidak komentar sedikitpun.

Rena hanya mengangguk lalu menggit bibir, sambil memaksakan senyum.

"ko perasaan aku ga enak ya?" batinnya.

Makanan akhirnya tiba, tanpa komando mereka melahap makanan yang disajikan pelayan dengan Ricko masih memberikan aturan dan detail sandiwara Kawin Kontak ini kedepannya, membuat nafsu makan Rena menghilang begitu saja padahal siang ini ia tidak istrirahat untuk makan siang karena antrian customer service sangat panjang.

"Bermesraan lah..pegangan tangan lah..cium kening lah...apaan itu? sekalian aja perawanin aku!" celetuk Rena dalam hati hingga membuatnya tersedak karena terkejut dengan pikirannya sendiri.

"Uhuk..uhuk..."

"Pelan-pelan Nona Rena..." Ricko menepuk pundak Rena dari sebrang meja dan Andra spontan memberikan air mineral dalam gelas miliknya. Rena pun meneguknya hingga tandas.

"Yaaa...." gumam Andra.

"Sorry...." Rena terkekeh, "Aku pesenin lagi ya..."

"Eh bukan, itu bekas aku..." ucapan Andra menggantung.

"Iya tau...." jawab Rena polos

"Itu berarti secara ga langsung kalian ciuman" celetuk Ricko sambil menikmati Sphagety Bolognesenya yang mendapatkan tatapan tajam dari Andra dan Rena.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin