Love and Contract Menerima Tawaran

Menerima Tawaran

Setelah Rena puas menangis menumpahkan semua kesedihannya, ia tersadar Ricko dan Andra sedang memperhatikan dirinyanya dengan wajah bingung dan khawatir. Kedua pria tampan itu hanya bisa saling tatap dan hening selama Rena menangis.

"Maaf... Pak Ricko, harus melihat saya seperti ini" ucap Rena setelah tangisnya mereda.

"Hey.. Hey.. Jangan seperti itu! Ayo kita ngobrol di cafe sana" ajak Ricko sembari membantu Rena berdiri.

Andra beranjak dari duduknya dan pergi kearah Cafe mendahului Rena dan Ricko lalu mereka duduk di kursi meja yang kosong.

"Kamu mau pesan apa?" tanya Ricko sambil memberikan buku menu kepada Rena.

"Saya air mineral saja, Pak...," jawab Rena cepat.

"Kenapa hanya air mineral? kita makan siang dulu lah..." pinta Ricko mencoba menenangkan gadis cantik yang sedang bersedih itu.

"Ga bisa Pak, saya buru-buru! Saya harus mencari Pak Imam petugas donor di Rumah Sakit ini" tolak Rena seraya beranjak dari duduknya. Ia baru teringat tujuan utamanya berada disini.

Ricko menahan Rena dengan menarik tangannya dan meminta gadis itu untuk duduk kembali.

"Donor? Kamu mau donor atau bagaimana? Coba ceritakan dulu ada apa sebenarnya? " tanya Ricko dengan dahi mengernyit dalam.

"Tadi adik saya telepon dari Bandung, katanya Bapak masuk ICU karena jantungnya anfal dan harus segera di operasi, membutuhkan biaya 100 juta tapi 50 jutanya harus dibayarkan dulu untuk jaminan saat ini juga, jadi saya berpikir untuk menjual ginjal saya agar Bapak bisa operasi secepatnya" tutur Rena dengan suara berat seraya mengusap air mata di pipinya yang tidak bisa berhenti mengalir.

Andra dan Ricko saling pandang dengan ekspresi wajah kedua pemuda tampan itu terkejut tapi juga tak kuat menahan tawa.

"Apa kamu pikir segampang itu menjual ginjal? di Rumasih Sakit lagi?!" Ricko berucap sambil menahan tawa.

"Semangat nya sie oke tapi otaknya ga dipake" batin Andra yang juga setengah mati menahan tawa.

"Lalu harus bagaimana?" Tanya Rena dengan ekspresi bingung dan polosnya.

Andra menggelengkan kepala kemudian mengalihkan pandangannya dengan bibir sedikit melengkung masih menahan tawa.

Rena merasa Andra dan Ricko sedang meledeknya. Ia mengerucutkan bibir dengan wajah ditekuk.

"Malah ngetawain,elu mah enak orang kaya, mau apa tinggal menjentikan jari...Nah gue?!" gerutu Rena dalam hati.

"Sudah, tidak usah membahas ginjal!! Kenapa kamu ga telepon aku dan mau meneriama Kawin Kontrak ini? Kenapa kamu harus mengorbankan ginjal kamu? Kamu ga perlu khawatir masalah uang lagi kalau menerima Kawin Kontrak ini" tutur Ricko, sungguh ia merasa gemas dengan kebodohan gadis berponi didepannya ini.

Andra hanya diam saja tidak membantah semua perkataan Ricko. Ia pun merasa iba, sebetulnya bisa saja meminjamkan uangnya tapi ia juga butuh orang untuk menjadi istri pura-puranya dan melihat kepribadian Rena, ia berpikir kalau Rena termasuk gadis yang bisa diperhitungkan.

"Kenapa kamu ga pinjam uang ke Bank tempat kamu bekerja? " pria dingin itu bertanya sambil melipat tangannya di dada.

"Gaji saya masih kecil Pak, hanya cukup untuk biaya hidup di Jakarta dan sebagian untuk di kirim ke keluarga di Bandung, malah itu pun masih kurang jika Bapak kambuh sakit jantungnya atau adik harus bayar kuliah" jawab Rena lirih dengan tatapan nanar dan kedua tangannya saling menggenggam.

"Kalo begitu kamu terima ya tawaran ini, sekarang juga kita bisa transfer 100 juta ke keluarga kamu di Bandung" Ricko serius dengan perkataannya karena ia merasa iba dengan keadaan Rena.

Ia tidak pernah tau jika seseorang bisa mengalami keadaan seperti ini. Ricko dibesarkan oleh Tante Mery dan Om Salim dalam keluarga berada, ia tidak pernah merasakan sekali pun tentang yang namanya kekurangan uang.

Rena menatap Andra dalam, ia ragu dengan tawaran Ricko karena seperti yang sudah ia bilang. Kastanya sangat jauh berbeda dengan Andra, dan apakah orang tua Andra akan menyetujuinya menikahi Rena? Apa orang tua Andra juga tau mengenai ini dan membiarkan anaknya mencari istri kontrak?Benak Rena dipenuhi dengan ribuan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.

Rena menghela nafas, kemudian menunduk menatap sneaker belel yang ia kenakanbeberapa detik kemudian ia mendongak kembali menatap Andra.

"Ya Tuhan aku akan menikahi pria tampan nan kaya raya ini? Tapi apa aku pantas untuknya? Apa wanita sejagat Indonesia tidak akan mengutuk ku?" batin Rena.

Andra mengalihkan pandangannya yang sebelumnya sedang menatap Rena. Wajah tanpa ekspresi itu membuat Rena enggan menerima tawaran Ricko.

"Isshh... Aku juga harus bertahan selama 5 Tahun dengan pria dingin sedingin gunung es ini?" gerutu Rena dalam hati.

Tapi hanya ini jalan yang bisa ia tempuh dan dengan sangat terpaksa Rena menganggukkan kepalanya pelan.

Telepon genggam Rena berdering, ia segera menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.

"Kaaaaak, gimana?" Tanya lia begitu panggilan itu tersambung.

Suara panik di sebrang telepon kini menguatkan keputusan Rena untuk menerima tawaran Ricko.

"Iya de sekarang Kaka transfer" jawab Rena panik

Teriakan Lia disebrang telepon sana bisa terdengar oleh Andra.

"Berapa nomor rekeningnya? " tanya Andra dengan ponsel ditangannya siap mengetik. Pertanyaan itu spontan mengalir begitu saja dari bibir tipisnya.

Ricko terkejut tidak percaya mendengar pertanyaan Andra kepada Rena.

"Berarti Andra setuju dengan Kawin Kontrak ini" gumam Ricko dalam hati, Ia merasa puas.

Rena memberikan nomor rekening adiknya diikuti Andra yang mengetik nomor rekening Lia di aplikasi Online Bank rekeningnya.

TRANSFER BERHASIL.....

Andra memperlihatkan layar ponsel kepada Rena.

"Done ya! 100juta" ucap Andra tanpa ekspresi.

"Terimakasih Pak Andra...," jawab Rena cepat dan kini sesuatu tak kasat mata yang menghimpit dadanya sedari tadi dan telah membuat Rena sesak seolah menghilang, ia sudah bisa bernafas dengan lega.

Rena langsung menelepon Lia kembali dan mengabarkan jika ia sudah mentransfer uang yang adiknya minta untuk operasi Bapak. Disaat yang bersamaan telepon Andra pun berdering.

"Haloo tante... " jawab Andra

"Sayang... Tante udah selesai diperiksa dokter ayo kita pulang, biar obatnya di antar ke rumah saja oleh petugas rumah sakit, Tante tunggu di lobi ya sayang" ucap Tante Mery dari sebrang telepon.

"Tante sudah selesai di periksa, kita antar Tante pulang dulu" ucapnya pada Ricko sambil berlalu.

Baru beberapa langkah Andra membalikan tubuhnya, kemudian mencondongkan tubuh tegapnya ke arah Rena yang lebih pendek darinya. Rena bisa merasakan harum nafas mint Andra menyentuh wajahnya jangan lupakan wangi woody dan musk dari parfum masculin pria tampan didepannya berhasil membuat jantung Rena salh tingkah.

"Berikan nomor telepon mu kepada Ricko, besok Ricko yang menghubungi untuk bertemu dengan pengacara ku" titah Andra pada Rena dengan tatapan tajam seolah menagih hutangnya, kemudian berlalu menuju Lift.

Mendapat serangan mendadak seperti itu membuat Rena hanya bisa mengedipkan matanya berkali-kali, teggorokannya tercekat bahkan lidah pun bekerjasama untuk bungkam.

"Sabar ya Nona Rena... Semoga Bapak Nona lekas sembuh dan lekas pulih, sekarang Nona sudah tidak perlu khawatir lagi... Dan tolong ketikan nomor ponsel mu di sini!" pinta Ricko seraya memberikan benda pipih berwarna silver ditangannya.

Tanpa berkata apapun Rena langsung mengetikan nomor ponselnya di layar ponsel milik Ricko.

"Oke Nona manis, jangan bersedih lagi ya! Sekarang pulang lah ke kosan dan malam ini jangan bekerja lagi di Restoran itu karena Nona sudah menjadi milik Andra" Ricko mengambil kembali ponselnya kemudian berlalu sambil tersenyum.

Deg

MILIK ANDRA

"Apa maksud nya? memangnya aku barang?" gumam Rena, bergidik ngeri.

"Ya sudah lah yang penting Bapak bisa langsung di operasi" Rena menghembuskan nafasnya perlahan.

Gadis itu pulang ke kosannya dengan perasaan sangat lega, tak menyangka satu masalahnya selesai tapi kemudian timbul masalah baru.

Dalam perjalanan kembali ke kosan ia termenung, masih ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, ia memikirkan kedepannya harus menikah dengan Andra pria dingin tanpa ekspresi yang sepertinya tidak menyukainya sama sekali dan bagaimana cara menyampaikannya kepada Bapak, Ibu juga adik-adiknya?

"Oke, aku hanya akan pura-pura menikah, tapi apakah akan tinggal satu rumah? satu kamar? atau bahkan satu kasur? lalu apa aku harus melayani pria itu? tapi apa dia mau?" Rena menggelengkan kepala membuang pikiran erotis dikepalanya.

Setelah sampai di kosan, perut Rena berbunyi kencang dan baru ingat ternyata dia belum makan sedari pagi. Rena pun kembali keluar untuk mencari makan, ia melewati beberapa pemuda yang sedang nongkrong di pos ronda. Mereka menggoda Rena tapi untungnya Jody, pemuda pengangguran anak dari preman setempat yang biasanya menggoda sambil mencegat Rena tidak ada, sehingga Rena masih bisa melanjutkan perjalanan ke warteg langganannya.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin