Love and Contract Diantar Pulang

Diantar Pulang

Rena melihat telepon genggamnya,

"Yaaa... Di cancel" gumamnya masih terdengar oleh Andra dan Ricko.

"Kamu lagi nunggu ojeg online? " tanya Ricko kembali menoleh kepada Rena setelah Andra tidak memberikan jawaban.

"Iya tapi di cancel... Aku harus pesen lagi! Pak Ricko sudah sadarkankan? saya tinggal pulang duluan ya! Pak Ricko.. Pak Andra saya duluan.., " pamit Rena lalu membalikan tubuhnya dan mulai melangkah meninggalkan kedua pria tampan tersebut.

"Hey... Tunggu dulu nona! Biar kami antar pulang, sebagai ungkapan rasa terimakasih" usul Ricko yang sudah beranjak dari duduknya, ia menyipitkan mata memfokuskan pandangannya yang sempat kabur dan memijit tengkuknya yang terasa berat.

Rena menghentikan langkahnya, "Terimakasih Pak Ricko, saya bisa pulang sendiri!" jawab Rena, membungkukan sedikit tubuhnya.

"Tidak... Tidak... Kami antar pulang saja" Ricko memaksa dan mulai melangkah mendekati Rena.

"Betul Nona, kami antar saja nanti ada yang menganggu lagi seperti tadi, boleh ya Pak Andra?" sela Pak Syam seraya berjalan menghampiri, rupanya supir Andra itu telah selesai membersihkan jok mobil yang terkena muntahan Ricko.

"Siapa yang mengganggu? " tanya Ricko memperlihatkan ekspresi bingun.

"Masuk semua ke mobil!! " titah Andra dengan suara baritonnya seraya berlalu masuk ke dalam mobil.

Pertahanan pria itu goyah setelah Pak Syam mengingatkan tentang kejadian pelecahan yang baru saja dialami gadis itu.

Tanpa berkata apa pun semua masuk kedalam mobil termasuk Rena, suara yang tegas dengan penakanan di akhir kalimatnya, tidak ada yang bisa membantah perintah Andra.

Ricko, Pak Syam dan juga Rena seperti anak bebek yang digiring induknya untuk masuk kedalam mobil tanpa bantahan.

Rena mengambil duduk di depan samping Pak Syam karena setaunya hanya Bos besar yang duduk dibelakang.

Ia memposisikan dirinya seperti seorang karyawan dikantor, setiap Pak Rudi minta ditemani bertemu nasabah, Rena selalu duduk didepan disamping Pak Dede, sang driver kantor.

"Bro.. Kita berhenti di coffe shop 24 jam di depan ya? kepala gue masih sakit, biar efek alkoholnya hilang, kita ngopi dulu lah ya! " pinta Ricko memelas kepada Andra.

Tidak ada jawaban dari Andra, pria itu hanya melirik Ricko sekilas sambil menipiskan bibirnya.

"Nona manis boleh pulang pagi kan? Temani kami minum kopi dulu! Mau Ya? Aku mohoooon" Ricko kembali memelas dan memperlihatkan puppy eyesnya kepada Rena.

"Orang ini maksa banget sie" gerutu Rena dalam hati tapi ia juga masih trauma pulang sendiri, terpaksa Rena mengiyakan ajakan Ricko.

"Boleh deh.. " jawab Rena dengan terpaksa sambil tersenyum pelik.

5 menit kemudian mereka sampai di coffeshop 24 jam, Ricko berjalan pergi ke kasir dan memesan Kopi sedangkan Andra dan Rena mencari meja yang kosong.

"Mau kopi apa nona manis?" teriak Ricko dari meja kasir.

"Caramel Machiato... " Jawab Rena setengah berteriak dari tempat duduknya.

Ricko tidak perlu menanyakan kopi apa kesukaan Andra, pria itu sudah hapal betul apa yang akan di pesan sahabatnya.

Sementara itu Rena dan Andra berada di satu meja dan tanpa sadar mereka duduk berhadapan.

Rena tidak berani melihat ke arah Andra sedikit pun, ia hanya melihat kekanan dan kekirinya lalu menunduk, menghindari tatapan pria berparas tampan didepannya.

Gadis itu benar-benar menghindari tatapan keduanya bertemu karena Rena merasa tatapan Andra sangat tajam hingga bisa menembus jantungnya.

"Aduuuuh...salah ambil kursi nih, kalau aku pindah dia tersinggung ga ya? jangan liat matanya jangan liat..., " batin Rena seperti merapal mantra.

Rena berharap Ricko segera kembali memecah ke canggungan yang ia rasakan, tapi Andra malah terlihat santai, duduk dengan tegap di depan Rena tanpa ekspresi, kedua tangannya di simpan dimeja saling betautan, Andra terus memperhatikan Rena dan merasa aneh melihat gadis didepannya yang seperti salah tingkah.

Ia mengerutkan dahinya, kepalanya sedikit miring ke kiri lalu ke kanan memperhatikan gadis cantik dihadapannya yang terlihat gugup.

Diperhatikan seperti itu membuat jantung Rena berdetak marathon, kakinya terasa lemas untung sekarang ia dalam posisi duduk bila sedang berdiri mungkin ia sudah jatuh berguling-guling di lantai.

Tidak lama kemudian, Ricko datang membawa kopi pesanan mereka yang sebelumnya sudah meminta Pak Syam untuk mengambil kopi yang dipesan Ricko untuknya.

"Nah.. Nona manis ini kopinya, silahkan diminum!" Ricko menyimpan dengan hati-hati kopi pesanan Rena dimeja.

"Terimakasih...mulai sekarang Pak Ricko cukup memanggil saya Rena" pinta gadis itu sambil tersenyum hingga menyipitkan matanya.

"Oh baiklah... Jadi kenapa kamu bekerja disana? Kamu sudah keluar dari Bank BUMN?" Tanya Ricko to the point.

"Ini hanya kerja sambilan saja, Pak Ricko! Saya sedang membutuhkan uang untuk membayar uang sekolah adik, kebetulan Bapak saya sudah pensiun dan sakit-sakitan jadi sudah tidak bisa bekerja lagi" sesuai janji bila diluar jam kerja Rena akan menjelaskannya, maka tanpa beban gadis itu menjawab pertanyaan Ricko dengan jujur diiringi senyum tipis dibibirnya.

Sebetulnya ia enggan menceritakan masalahnya kepada orang yang baru ia kenal, tapi Ricko adalah seorang yang gigih.

Pria itu tak akan melepaskan Rena begitu saja sebelum menjawab semua pertanyaannya.

"Dia gila apa? menceritakan sesuatu yang sedih tapi bibirnyanya masih bisa tersenyum" batin Andra dengan mengerutkan keningnya.

"Oh kamu lagi butuh uang? Kenapa ga bilang dari tadi? Bagaimana jika Andra memberikan 5 Milyar?" tanya Ricko bersemangat sambil menepuk dada Andra dengan punggung tangannya.

Andra terhenyak dan memelototkan mata kearah Ricko.

"Banyak sekali 5 Milyar, Pak! Saya hanya butuh 4juta... Tidak perlu Pak, terimakasih! Saya masih bisa cari sendiri dengan bekerja sampai hari minggu besok, uang saya sudah terkumpul!" jawab Rena dengan senyum khasnya.

Mata Andra membulat sempurna ke arah Ricko, Andra tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Pasti Ricko akan mengajak Rena untuk kawin kontrak dengannya.

"Sebentar Rena, saya belum selesai bicara" sela Ricko sambil mengangkat telapak tangan.

Andra sengaja menginjak kaki Ricko dan sontak Ricko berteriak kesakitan.

"Awww... "

"Cuma 5 Tahun Andra... Apa salahnya kita coba?!" Ricko berbisik, tapi bisikan pria itu masih terdengar jelas oleh Rena.

Andra memalingkan wajah kemudian melipat tangan di dada, lengan kemejanya menyempit, otot-otot di lengan Andra terliat sangat seksi seperti meronta ingin merobek lengan kemeja itu.

Andra memang idaman setiap wanita, tidak ada wanita yang tidak menoleh bila Andra lewat termasuk kasir coffeshop ini yang sedari tadi melihat ke arah Andra hanya sekedar menikmati ketampananya.

"Begini Rena, sekarang aku tanya, apakah kamu sudah punya pacar?" tanya Ricko serius seraya menjorokan tubuh ke arah Rena.

"Emm... Be.. belum, memangnya kenapa Pak Ricko? Saya tidak tertarik untuk berpacaran saat ini, karena masih harus fokus bekerja sampai adik saya lulus kuliah" balas Rena dengan dahi mengernyit dan mata memicing.

Andra melirik tajam ke arah Rena,"Perempuan apa yang sudah seumur ini tidak pacaran?" batin Andra lagi.

"Jadi, Andra ini sedang mencari wanita untuk di nikahi hanya sampai 5 Tahun saja dan bila kamu bersedia, Andra akan memberikan 5 Milyar untuk kompensasi, dicicil 1 Milyar setiap satu tahun dan bila kamu melanggar perjanjian dengan menyebarluaskan pernikahan ini hanya pernikahan kontrak, kamu akan terkena denda sebesar 10 Triliun" tutur Ricko memberikan penjelasan, wajah kocak itu kini berubah serius.

Seketika Rena tersedak caramel machiato yang baru saja diseruputnya dan langsung menyambar tissue yang ada di meja.

"10 Triliun? Bahkan di brangkas kantor kami saja hanya boleh hingga 1 milyar" ucap Rena sambil menutup mulut dan hidungnya dengan tissue.

"Kalau begitu, kamu tidak perlu memberitahukan orang-orang tentang kawin kontrak kamu dengan Andra, bereskan?!" tambah Ricko lagi, kini pria itu menaikan kedua alisnya berkali-kali kembali dengan wajah kocaknya.

"Tapi untuk apa Pak Andra membutuhkan wanita yang dinikahi hanya selama 5 tahun saja?" tanya Rena dengan wajah polosnya.

"Jadi para klien dan beberapa pemegang saham diperusahaan Andra ingin perusahaannya dipimpin oleh seseorang yang bijaksana dalam mengambil keputusan dan bijaksana menurut mereka adalah seorang yang sudah menikah.....Mungkin karena pria yang sudah menikah itu terlihat lebih dewasa dan bertanggung jawab! " tutur Ricko.

"Oooh... Kenapa tidak cari istri yang sebenarnya saja? Kenapa harus pura-pura?" tanya Rena lagi sembari menyeruput caramel machiatonya.

"Panjang kalau diceritain mah" saut Ricko malas membicarakan Monica karena memang dinginnya Andra terhadap wanita disebabkan trauma yang Monica torehkan.

Rena hanya bisa ber Oh ria tanpa puas dengan jawaban Ricko.

Rena menatap Andra dalam-dalam, membandingkan Andra dengan dirinya yang seperti bumi dan langit.

Dari ujung matanya, Andra bisa merasakan Rena sedang menatapnya intens tapi ia pura-pura tidak tau dengan memperlihatkan ekspresi datarnya.

"Pak Ricko, saya hanyalah orang biasa... Tidak pantas untuk menjadi istri Pak Andra bahkan walau jadi istri pura-puranya sekalipun... Pak Andra akan malu nanti bersanding dengan saya di pelaminan, Pak Andra itu sempurna dan Pak Andra bisa mendapat kan wanita mana pun yang ia mau, maaf Pak Ricko... Tanpa mengurangi rasa hormat dan berat hati, saya menolak" tutur Rena formal sambil memaksakan senyumnya

Deg

Andra merasa terhina tapi juga sangat bangga mendengar perkataan Rena. Ternyata ia semempesona itu dimata wanita.

"Semua wanita cantik yang jauh lebih kaya dari dia berlomba nyari perhatian gue, menginginkan uang dan kekayaan gue tapi sekarang gadis miskin dan biasa saja ini menolaknya, sombong sekali dia!" batin Andra kesal, entah kenapa pria itu harus kesal.

Sedetik kemudian, Rena merasa menyesal telah menolak tawaran Ricko. Tapi ia masih mempunyai harga diri untuk dijadikan permainan Ricko dan Andra.

"Baiklah Nona Rena, ini kartu nama saya. Bila Nona berubah pikiran bisa hubungi saya" Ricko menyerahkan kartu namanya dengan penuh harap dan Rena langsung mengambil kartu nama itu dan menyimpannya di dalam tas.

"Terimakasih Pak Ricko...," ucap Rena tulus sambil tersenyum memamerkan deretan gigi putih dan dua gigi kelincinya didepan.

"Ayo kita pulang sudah hampir pagi" ajak Andra kemudian beranjak dari kursinya lalu keluar dari coffeshop.

Ricko membuka pintu mobil bagian depan agar Rena duduk kembali didepan karena ia tidak enak bila Rena mencium bau muntahannya di jok belakang dan tidak mungkin juga Andra mau duduk bersama Rena dibelakang.

Sikap pria dingin itu hanya akan membuat Rena sakit nantinya.

Di dalam mobil hanya Rena, Ricko dan Pak Syam yang berbincang-bincang sambil sesekali Rena menunjukan jalan arah kosannya dan Andra hanya termenung mencerna perkataan Rena tadi.

"Kenapa jual mahal sekali perempuan ini? sudah harus cari kerja tambahan, ayahnya sakit, harus bayar kuliah adiknya tapi masih menolak uang 5 Milyar, siapa dia sebenarnya?" yang hanya bisa Andra tanyakan dalam hati, pria itu begitu Intovert untuk bisa menanyakan langsung semua pertanyaan yang berseliweran dalam pikirannya.

Andra yang digilai setiap wanita hingga selalu dibuat kesal dengan prilaku berlebihan wanita-wanita tersebut merasa aneh, ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.

Hati kecilnya tidak terima ditolak oleh Rena dan mulai tumbuh perasaan tertarik dalam hatinya yang masih belum ia sadari.

"Sudah sampai!! Kosan saya masih di dalam beberapa meter dari sini jadi cukup diantar sampai sini aja karena jalannya gang sempit ga masuk mobil, terimakasih sudah diantar ya Pak Syam, terimakasih juga kopinya Pak Ricko, dan terimakasih juga Pak Andra untuk....., " Rena tidak melanjut kan kalimatnya karena bingung harus berterimakasih untuk apa dari tadi Andra hanya diam saja.

" Terimakasih untuk tumpangan mobilnya" Ricko menambahi.

Rena tersenyum dan keluar dari mobil, gadis itu melambaikan tangan dan masuk perlahan kedalam gang menuju kosannya.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin