Love and Contract Pertemuan Ke dua

Pertemuan Ke dua

"Selamat Pagi Pak Rahmat...," sapa Rena kepada Satpam kantornya.

Setiap pagi Rena selalu menyapa teman kantornya tidak terkecuali Satpam sekalipun, gadis itu tidak pernah membeda-bedakan status seseorang dan selalu ramah pada semua karyawan disana.

"Pagi juga Bu Rena..., " jawab Pak Rahmat, sedikit membungkukan tubuhnya.

Pagi itu Andra pergi ke Bank dimana Rena bekerja untuk mengganti kartu ATM yang tertelan tadi malam, satpam sudah memberikan nomor antrian nomor 9 kepadanya ketika dirinya duduk di kursi tunggu.

Andra melihat salah satu customer service disana yang menurutnya tidak asing, namun ia tidak ingat pernah bertemu dengan gadis itu dimana.

Beberapa saat Andra sempat larut dalam lamunannya dan terhenyak saat mendengar suara mesin antrian menyebutkan nomor antrian yang sedang dipegangnya.

"No 9 ke meja 3" suara mesin antrian.

Andra beranjak melangkahkan kaki panjangnya berjalan menuju meja 3. Semua mata wanita tertuju padanya mulai dari nasabah hingga karyawan disana, bagaimana tidak? Pria muda tampan memakai stelan jas mahal lengkap dengan dasi, di Indonesian sangat jarang stelan jas dipakai bekerja, mereka memakainya untuk acara perayaan pernikahan.

Melihat Andra memakai stelan jas seperti itu semua orang berpikir kalau Andra bukanlah orang sembarangan.

"Selamat pagi Pak, Saya Rena! Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu? " Tanya Rena sangat ramah.

Saat itu Rena masih belum mengenali pria dihadapannya.

"ATM saya tertelan mesin ATM, saya mau ganti ATM" jawab Andra datar.

"Baik Bapak, boleh saya minta KTP dan buku tabungannya?"

Andra mengeluarkan KTP dan memberikan buku tabungannya dan seketika Rena terkejut setelah membaca kartu identitas yang diberikan kepadanya karena ternyata yang ada di hadapannya adalah nasabah prioritas di kantor pusat tempatnya bekerja, juga pria dingin yang membuatnya menunggu lama beberapa hari yang lalu.

Bukan Rena namanya bila tidak bisa bersikap profesional, bahkan ekspresi terkejut bisa ia tutupi dengan mudah.

"Tolong Bapak lengkapi terlebih dahulu data pada form ini" Rena memberikan form aplikasi penggantian kartu ATM.

Tanpa berkata apapun, Andra langsung mengambil pena yang tertancap di meja tersebut dan mengisi juga menandatangani form sesuai dengan yang diminta Rena.

"Apa mereka ga tau gue itu pemilik perusahaan besar di negara in? masa masih harus ngantri trus ngisi form kaya gini?" gerutu Andra dalam hati.

Rena menatap wajah Andra yang terlihat begitu kesal, lalu berusaha membuka pembicaraan.

"Pak Andra, untuk kedepannya Bapak tidak perlu mengantri, langsung saja masuk ke ruang prioritas dan nanti akan kami bantu secepatnya" tutur Rena ramah dengan senyum khasnya.

Andra sempat terkejut tapi ia berusaha tetap tenang,

"Hah?! dia bisa baca isi pikiran gue?" tanyaya dalam hati

Andra tidak menjawab sedikit pun bahkan melihat Rena pun tidak, ia hanya fokus mengisi form lalu menandatanganinya.

Rena berdecak kesal dalam hati.

"Ck! Sombong nyaaa Bapak ini, beruntung wajahnya tampan jadi aku maafkan, Pak!"

Setelah mengisi form tersebut, Andra memberikannya kepada Rena, bankir cantik itu langsung mengetik sesuatu di komputernya dan selama beberapa menit perhatiannya fokus pada layar komputer.

Sang nasabah prioritas itu bisa melihat wajah cantik Rena yang terkena pantulan cahaya dari layar pipih didepannya, Rena merasa seperti sedang diawasi maka ia refleks melirik kearah Andra dan pria dingin itu langsung mengalihkan pandangannya menyapu sekitar ruangan.

"Ini kartu ATM Bapak yang baru, nanti Bapak bisa ganti pin di ATM di depan kantor kami dan ATM Bapak sudah bisa langsung dipergunakan, terimakasih! Ada yang bisa saya bantu lagi? " tanya Rena masih berusaha ramah.

Lagi-lagi Andra tidak menjawab pertanyaan gadis cantik itu dan langsung pergi tanpa sepatah kata pun.

Rena hanya menghela napas panjang, security yang membukakan pintu untuk Andra tersenyum seperti memberi semangat kepada Rena.

Ya, Rena disayang oleh beberapa orang di kantornya, tapi tidak semua.

Ada beberapa temannya juga yang iri kepada Rena dan selalu senang bila Rena tertimpa masalah.

Tapi gadis berbulu mata lentik itu tidak pernah memperdulikannya karena ia bekerja untuk keluarga dan tidak berniat sedikit pun mencari masalah dengan mereka, masih ada Mia temen sesama customer service yang selalu baik kepadanya.

"Rena makan siang dulu gih nanti gantian sama aku" Mia berujar sambil membereskan mejanya.

Kamu aja duluan, aku nanti aja setelah tutup cabang" tolak Rena secara halus.

"Emang kamu ga lapar? " tanya Mia lagi.

"Tadi aku sarapan nasi kuning ko Mia, jadi masih kenyang"

"Ya sudah aku duluan ya" pamit Mia sambil mengedipkan satu matanya.

Rena membalas dengan menganggukan kepala, padahal Rena hanya ingin mengirit saja karena uang gajinya sudah ia kirimkan kepada keluarga di Bandung.

*Sore itu di depan kantor Rena

Rena menelepon Ibu setelah pulang kerja.

"Hallo Bu, Ibu sehat? Bagaimana keadaan Bapak? Adik-adik apa kabar? Kaka kangen, Bu! " ucap Rena sambil menundukan kepalanya.

"Iya Ka, semua kita disini sehat kecuali Bapak yang kadang masih suka kumat sakit jantungnya...Oh iya Ka, uang yang Kaka transfer udah masuk! Terimakasih banyak ya anak Ibu tersayang.... Minggu ini Kaka pulangkan? Ibu juga sudah rindu" jawab Ibu dari sebrang sambungan telepon.

"Maaf Bu, minggu ini ada acara kantor jadi Kaka ga bisa pulang! Minggu depan Kaka pulang ya Bu" tutur Rena berbohong, padahal mulai malam ini hingga minggu malam ia akan bekerja sampingan menjadi resepsionis di restoran mewah.

"Ya sudah, Kaka baik-baik di sana! Jangan sampai lupa beribadah ya sayang, ibu disini selalu berdoa semoga Kaka selalu sehat dan diberikan kebahagian, Aamiin" kata Ibu dengan suara parau menahan tangis.

Ibu disana sudah tidak kuat membendung air matanya karena ia tau penderitaan sang anak sulung yang harus bekerja keras di Ibu Kota menjadi tulang punggung keluarga setelah Bapak pensiun dan sakit-sakitan.

"Aamiin Bu, doain Kaka terus ya Bu... Kaka sayang Ibu" tutup Rena mengakhiri sambungan teleponnya.

Gadis cantik berbulu mata lebat itu memejamkan mata, diam-diam dalam hati berdoa,

"Ya Tuhan, sembuhkan lah Bapak"

Rena menyeka air mata yang tak meminta ijin jatuh kepipinya.

Tiba-Tiba dari belakang terdengar suara mengejutkannya, "Dooor.... " teriak Mia sambil menepuk pundak sahabatnya itu.

"Ya Tuhan Miaaaa... Kaget tau!!" Seru Rena seraya menyimpan telapak tangannya di dada dengan mata melotot.

"Jangan sedih donk! kan ada aku...," celetuk Mia dengan tangan yang sudah melingkar dipundak sahabatnya.

"Siapa yang sedih, aku kelilipan tauuu!!" sanggah Rena berbohong.

Mia sangat tau perasaan Rena sekarang karena hanya dirinyalah tempat Rena mengeluarkan keluh kesah.

"Nanti malam kamu jadi kan menggantikan Citra teman aku yang sakit jadi resepsionis di Namas Dining? Cuma sampe hari minggu dan bayarannya gede loh!"

Mia bertanya sambil menggesekan ibu jari dan telunjuknya kedepan wajah Rena.

"Jadi donk, aku butuh banget duitnya, Mi!"

"Ya udah nanti langsung dateng ke Restoran lalu temui Manager Restoran tersebut namanya Pak Ryan, kamu bilang kalau kamu itu mau gantiin Citra, baju seragamnya ada di kosan aku, jadi sekarang kamu ke kosan aku dulu ya!" ajak Mia diakhir kalimatnya.

"Okkaayyy...," balas Rena singkat dan kini senyum terbit di bibir tipisnya.

Rena bersukur di akhir minggu ini bisa mendapat kerja sambilan, walau hanya menjadi resepsionis tapi setidaknya ia mempunyai penghasilan tambahan untuk biaya kuliah Adik.

Setelah pulang dari Kosan Mia mengambil seragam untuk menjadi Resepsionis nanti malam, dengan langkah cepat Rena menuju kosannya karena tidak ingin terlambat di hari pertama bekerja.

Jarak dari jalan besar ke kosannya cukup jauh jadi Rena harus setengah berlari agar cepat sampai.

Sesampainya di kosan, Rena bergegas mandi lalu berdandan, ia bimbang, bila berdandan berlebihan dan menggoda takut disangka wanita panggilan tapi kalau berdandan biasa saja ia juga takut kalo tidak cocok dengan pekerjaannya.

Rena pun memejamkan mata, "Ya Tuhan, lindungilah aku... Engkau yang Maha Tau, hamba mu ini hanya ingin membahagia kan ke dua orang tua" gumamnya.

Kemudian gadis cantik itu bergegas berdandan tipis tidak berlebihan tapi kelihatan cantik dengan poni dan rambut kuncir kuda.

Setelah mengecek tampilannya di depan cermin, Rena melangkah keluar diiringi doa yang ia lantunkan didalam hati kemudian mengunci pintu kamar kosannya lalu berjalan menuju jalan besar untuk mencari ojeg online.

Sesampainya di Restoran, Rena bertanya kepada pegawai disana dan meminta bertemu dengan Pak Ryan Manager Restoran.

Salah satu pegawai Restoran yang baik hati, bersedia mengantar Rena ke Ruangan Pak Ryan.

Saat itu Restoran sedang ramai untuk makan malam dan Rena bekerja untuk menggantikan shift ke dua.

Sambil berjalan ke ruangan Pak Ryan, Rena begitu terkesima melihat tatanan ruang Restoran termewah di Jakarta ini, kursi yang dilapisi kain putih dengan pita merah dibelakangnya, lampu kristal besar ditengah ruangan menjuntai cantik membuat silau mata siapa saja yang melihat, untuk satu menu saja belum tentu Rena mampu membayar.

Mungkin sekali makan disini bisa menghabiskan satu bulan gajinya.

Tok.. Tok...

Ceklek... Rena membuka pintu.

"Masuk... Kamu pengganti Citra ya? " tanya Pak Ryan tepat sasaran.

"Iya Pak, perkenalkan saya Rena... " jawab Rena dengan senyumnya.

"Waw, kamu cantik sekali Rena... Kamu mau kan selamanya bekerja disini? Bayarannya besar loh" jawab Pak Ryan lalu tertawa renyah.

"Ah enggak Pak, saya hanya weekend ini saja menggantikan Citra yang sedang dirawat karena thypus" tolak Rena lembut.

"Waah, sayang sekali yaa... Ya sudah kamu baca dulu jobdesk kamu dimeja Resepsionis di depan... Kamu bertugas angkat telepon bila ada yang memesan tempat lalu koordinasikan dengan supervisor kamu, nama nya Dinda... Nanti dia yang akan menemui kamu didepan" ucap Ryan dengan lugas.

"Baik Pak terimakasih arahannya, saya akan bekerja dengan baik" tutur Rena kemudian pamit dari ruangan Pak Ryan.

Setelah mempelajari jobdesk dengan bantuan resepsionis sebelumnya juga Dinda sang supervisor, Rena langsung menguasai pekerjaan barunya.

Sedari tadi Rena sibuk mengangkat telepon dan beramah tamah dengan tamu yang baru datang.

Untuk masalah service Rena memang jagonya karena di kantor setiap hari ia dituntut seperti itu.

Rena yang sibuk berkoordinasi dengan Dinda supervisornya dikejutkan oleh suara pria yang sangat dikenalnya.

"Renaaa... Kamu ngapain disini? " tanya Dio dengan ekspresi terkejut yang berlebihan.

"Aduh Dio, aku lagi kerja nanti kita ngobrol ya! Kamu ngapain disini?" Rena balik bertanya.

"Aku mau ketemu nasabah... " jawab Dio tanpa perlu berpikir.

Dio memang bagian prioritas dan sering bertemu dengan nasabah-nasabah besar jadi tidak heran bila pria itu berada di Restoran semahal ini.

"Namanya siapa? Aku bantu cari meja nya... " tanya Rena membantu

"Nama nya Mr. Chung.. " Jawab Dio

"Oh Meja 13, dipojok baris ke 2" jawab Rena sambil memberikan arah melalui tangannya.

"Tapi kenapa kamu jadi Resepsionis gini Rena? Kamu masih kerja di Bank BUMN kan?" cecar Dio lagi.

"Masih Dio... Ini hanya kerja sampingan, aku butuh uang, Bapak aku sakit!" jawab Rena singkat karena beberapa tamu sudah mengantri dibelakang Dio

Lalu Rena mempersilahkan tamu dibelakang Dio tanpa memperdulikan Dio lagi dan pria itu pun masuk kedalam Restoran dengan masih diliputi kebingungan.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin