Love and Contract Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah

*Kediaman Om Salim

"Mah... Telepon Andra sama Ricko, suruh mereka makan malam disini, ada yang mau Papa bicarakan dengan mereka" pinta Om Salim lembut kepada istrinya yang sedang duduk di taman sambil meminun secangkir wedang jahe.

"Kenapa ga Papa saja? Berantem lagi sama Andra?" Tante Mery memicingkan matanya penuh selidik, pasalnya sang suami dengan keponakannya itu sering beradu argumen mengenai bisnis walau sekarang keponakannya itu telah mandiri membangun bisnisnya kembali dari nol.

"Pa... Andra itu sudah dewasa ga bisa Papa atur paling Papa kasih saran, biar dia yang menentukan, Papa jangan paksa nanti dia ga mau ketemu kita lagi" tambahnya lagi dengan raut wajah sedih.

Om Salim adalah adik dari Sonny, Ayah kandung Andra, setelah kedua orang tua Andra meninggal, Om Salim dan Tante Mery lah yg merawat Andra dan mengajarkan bisnis Ayah Sonny kepadanya.

Tante Mery tidak bisa mempunyai anak sehingga membuat Tante Mery dan Om Salim sangat menyayangi Andra seperti anaknya sendiri.

Mery mengambil telepon genggam miliknya tidak berapa lama panggilan tersebut tersambung.

"Hallo Andra sayang... Hari ini makan malam di rumah Tante ya! Jangan lupa ajak Ricko... Tante kangen banget sama kalian berdua sampai tadi malem Tante memimpikan kalian saking tidak kuatnya menahan Rindu" Tante Mery berujar dengan dilebih-lebihkan.

"Oke Tante... Nanti aku kesana sama Ricko" jawab Andra datar kemudian memutuskan sambungan teleponnya lebih dulu.

Setelahnya Tante Merry menyimpan telepon genggamnya diatas meja, "Dingin sedingin gunung es" gumam Tante Mery sambil berlalu meninggalkan sang suami yang tengah asyik menyesap kopi hitam kegemarannya.

"Mau kemana Ma? " tanya Om Salim dengan kening berkerut.

"Masak!! anak kesayangan ku mau datang!" saut Mery sedikit berteriak dari dalam rumah karena langkahnya sudah hampir tiba di dapur.

Malam harinya...

Ting.. Tong...

Bel rumah Om Salim berbunyi.

"Bi, tolong bukain pintu" titah Tante Mery yang saat ini sedang sibuk dengan spatula dan wajan.

"Baik Bu " jawab Bi Inah, bergegas berlari menuju ruang tamu.

"Apa kabar Bi Inah sayang?" sapa Ricko sambil memeluk Bi Inah dari samping dan wanita paruh baya yang sempat mengasuhnya pun meronta.

"Aduuuh... Tuan Muda Ricko jangan seperti ini,Bi Inah jadi ga enak hati" Bi Inah berusaha melepas tangan Ricko dengan wajah merah padam.

Bi Inah selalu saja menjadi objek ke jailan Ricko bila pria itu berkunjung, tak heran Ricko bersikap seperti itu karena merasa Bi Inah memang ikut andil dalam mengurusnya ketika ia kecil.

Ricko hanya tergelak melihat tingkah Bi Inah, sedangkan Andra merasa risih melihat kelakuan sahabatnya itu dan lebih memilih terus berjalan untuk masuk lebih dalam munuju ruang keluarga sambil mendelik tajam ke arah Ricko saat melewatinya.

"Apa Kabar Om? " sapa Andra sekenanya, saat melihat Om Salim yang sedang sibuk mematuti layar macbook diruang keluarga.

"Oh baik, kamu sudah datang? Masih inget Om ya? " saut Om Salim sarkas.

Andra berlalu ke dapur mencari Tantenya tanpa memperdulikan Om Salim lagi, ia pikir percuma melawan orang tua hanya akan menambah dosa yang sudah menumpuk saja.

"Halo Tante..." sapa Andra seraya memeluk Tante kesayangannya dan mencium keningnya lembut.

Wanita sosialita dengan wajah judes itu memiliki hati yang baik dan tulus walau sedikit cerewet, tapi Andra menyayanginya.

"Halo Sayang... Kenapa udah lama ga mampir kesini? Tante kesepian...," Tante Mery berujar dengan ekspresi wajah berakting menangis.

"Andra sibuk Tante... Maaf ya" balas sang keponakan dengan ekspresi datar sambil mencicipi masakan Mery lalu duduk di kursi meja makan.

Tidak lama Om Salim dan Ricko beriringan menghampiri ke ruang makan untuk makan malam bersama.

Sambil makan malam, mereka berbincang-bincang bertukar pikiran mengenai bisnis dan perusahaan namun Andra memilih mendengarkan dalam diam, Ricko lah yang banyak bicara.

Bila diperhatikan, Ricko lebih seperti keponakan Salim dan Mery, tapi sebetulnya Ricko hanya anak dari supir Ayah Sonny yang sudah dianggap keluarga Gunadhya seperti bagian dari mereka setelah Ayah Ricko meninggal karena kecelakaan mobil.

Setelah makan malam, mereka duduk di taman belakang dengan pemandangan kolam ikan sambil mencicipi kue buatan Mery. Taman yang luas dengan kolam ikan Koi yang besar juga tanaman yang indah terdapat pepohonan yang rindang membuat mereka betah berlama-lama disana.

"Andra, kemarin Om meeting dengan para klien, dan mereka menginginkan kamu segera menikah, karena kamu adalah pimpinan diperusahaan tersebut, bila kamu sukses memimpin keluarga kamu... Maka menurut mereka, kamu juga akan sukses memimpin perusahaan. Mereka tidak mau melihat klien bisnisnya masih lajang, pergi ke NightClub lalu main perempuan tidak jelas..." Om Salim menjeda perkataannya sambil membenarkan posisi kacamatanya.

"Cari lah istri Nak, Om dan Tante pun ingin segera mempunyai menantu, sudah saatnya kamu menikah" imbuh Om Salim lembut seraya menundukan kepalanya, dalam hati Om Salim tidak ingin Andra membencinya karena sudah mengatur kehidupan pribadi keponakannya itu, Om salim hanya ingin yang terbaik untuk Andra.

"Apa hubungannya kehidupan pribadi Andra dengan kinerja Andra Om? Andra yang merintis bisnis ini dan dalam tujuh tahun bisa berkembang hampir menyamai keberhasilan perusahan milik Om dan sudah banyak klien yang puas dengan kinerja Andra, jika mereka tidak suka Andra yang memimpin perusahaan suruh mereka mencari perusahaan lain saja untuk menjadi rekan bisnisnya!" Andra berseru dengan penuh penekanan.

Om dan Tante Mery juga Ricko terkesiap tidak percaya Andra akan berkata seperti itu, Om Salim beranjak dari duduknya dan pergi meninggal kan mereka.

Pria paruh baya yang hampir seluruh rambutnya sudah memutih itu tidak mau melanjutkan pembicaraan karena ia tau Andra adalah anak yang keras kepala.

Di Umurnya yang sudah tua, Om Salim tidak ingin mendengar perkataan yang menyakiti hatinya.

*Masih di taman itu

Mery menggenggam tangan Andra

"Andra sayang, Om hanya ingin yang terbaik buat mu... Dan Om juga tau apa yang terbaik untuk kamu, kita ini adalah orang tua yang sudah lanjut usia, mungkin besok atau lusa kita meninggal semua kekayaan ini untuk kamu sayang... Jadi kita sedang mempersiapkan mu untuk menjalankan semuanya, tolonglah pertimbangkan permintaan Om mu itu!" tutur Tante Mery sambil mengelus tangan Andra lembut dengan tatapan sendu.

"Lagian yang main perempuan itu aku loh tante bukan Andra, Andra hanya ikut-ikutan saja" aku Ricko lalu tergelak menghangatkan suasana.

"Dasar kamu ya! Kamu juga kapan mau nikah? Keburu tua nanti ga laku loh" ledek Mery disusul tawa renyah.

Mereka masih berbincang hingga beberapa menit kemudian Mery mengalihkan pembicaraan tidak ingin terlalu menekan keponakannya tapi Andra hanya termenung mencerna perkataan Om dan Tantenya tadi.

Setelah mereka puas berbincang-bincang, Andra dan Ricko pamit. Mereka pulang dengan menggunakan mobil Ricko setelah sebelumnya Mery mengantar mereka hingga halaman depan.

* Di dalam Mobil

"Ndra... Masih sore, Ayo kita ke NightClub dulu! Gue janjian sama Weny disana! " Ricko memelaskan wajah berharap sang sahabat mau menemaninya.

"Terserah lo lah.. " saut Andra malas.

Tidak lama mereka pun sampai disambut Valet dan masuk ke dalam salah satu Night Club termewah di Jakarta.

Mereka duduk di Meja VIP, keduanya adalah member disana sehingga membuat mereka tidak sulit menemukan meja.

Ricko memesan minuman, setelah itu kembali dan secara tiba-tiba menggebrag meja membuat Andra terkejut hingga spontan mengalihkan pandangan kearah Ricko yang sebelumnya sedang mematuti layar ponselnya mengecek email.

"Gue ada ide!!" teriak Ricko mencoba mengalahkan dentuman suara yang DJ mainkan.

"Ga perlu gebrag meja juga donk Ricko, kaya ide lo akan bagus aja! " Andra menjawab ketus lalu memalingkan kembali wajahnya kearah ponsel tidak terlalu tertarik dengan apapun ide dari sahabatnya itu.

Namun Ricko sudah imun dengan sikap dingin dan ketus Andra.

"Ini idenya briliant sekali Andra makanya gue semangat..., " ucap Ricko dengan mata berkorbar penuh semangat.

"Ide apa sih? " Andra mulai penasaran kemudian menoleh kembali kearah Ricko.

"Gimana kalau lo kawin kontrak selama 5 Tahun, cari perempuan biasa yang ga matre trus kasih dia 5 Milyar untuk tutup mulut, perjanjian itu tertulis diatas materai dihadapan pengacara kita...Jika dia menyebarkan berita bahwa pernikahan kalian ini hanyalah pernikahan kontrak, maka dia harus membayar ganti rugi sebesar 10 Triliun, Gimana?" tanya Ricko percaya diri dengan menaik turunkan alisnya berkali-kali.

Dia tau sahabatnya ini pernah terluka karena cinta, wanita yang dicintainya hanya menginginkan kekayaan saja, beberapa tahun lalu Andra sempat terpuruk karena wanita itu membawa hampir seluruh harta peninggalan orang tuanya, tapi sahabatnya itu terus bangkit dan menjalankan perusahaannya hingga lebih besar seperti sekarang karena Andra begitu fokus tapi dampak dari kekecewaan itu membuat Andra menjadi dingin kepada wanita.

"Nanti lah gue pikirin dulu!" jawab Andra malas.

Tidak lama suara lembut seorang perempuan mengalihkan perhatian keduanya.

"Hai...hai Ka Ricko, apa kabar?" sapa gadis cantik bertubuh mungil itu dengan suara manjanya.

Ternyata itu Weny dan beberapa teman wanitanya ikut menghampiri Ricko dan Andra , mereka adalah anak dari Bos besar perusahaan di Indonesia bukan wanita murahan biasa.

Dan entah kenapa sedikit pun Andra tidak tertarik dengan mereka, pria berahang kokoh itu hanya diam sambil memainkan telepon genggamnya.

"Baik..., " jawab Ricko

"Kamu apa kabar cantik?" imbuhnya lagi.

Ricko dan Weny berbincang, tapi mata Weny tidak lepas memandang Andra.

"Ka Andra ko diam aja? Lagi ada masalah kerjaan ya?" Weny bertanya dengan suara manjanya.

"Bukan, Ka Andra lagi bingung cari cewe untuk di jadiin istri" sela Ricko terkekeh.

"Ayo Ndra, pilih salah satu" bisik Ricko kemudian.

Tapi Andra hanya melototkan matanya seolah ingin menerkam Ricko sedang kan Weny begitu antusias hingga melupakan harga dirinya.

"Kita semua disini lajang loh Ka Andra, termasuk aku. Apa perlu kita kencan dulu untuk mengenal satu sama lain?" Weny berujar dengan mata berbinar penuh harap.

Andra membalas dengan senyum terpaksanya dan gadis itu nampak sedikit kecewa.

Hampir dini hari mereka pun akhirnya pulang, Ricko mengantar Andra ke rumahnya di kawasan Elite di Jakarta Selatan.

Sebelumnya dua pria tampan itu mampir di minimarket untuk membeli air mineral.

Andra lupa, dia jarang membawa uang cash, dengan malas ia melangkahkan kaki menuju atm disamping minimarket tapi sialnya ia lupa pin ATM sehingga ATMnya tertelan mesin tersebut karena biasanya ia menggesek kartu kredit.

"Kalau gesek kartu kredit disini hanya beberapa ribu rupiah kan konyol" batin Andra.

Lalu Andra kembali ke mobil dan meminjam beberapa puluh ribu rupiah kepada Ricko untuk membeli air mineral

"Ko...ada receh? gue ga bawa uang cash, ATM gue ketelen tadi lupa pin!" ucap Andra sambil menggaruk kepalanya merasa bodoh.

"Yaaaa....elu, Presdir lupa pin ATM" ledek Ricko seraya memberikan beberapa puluh ribu rupiah kepada Andra.

Setelah membeli air mineral mereka melanjutkan perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah, security membuka pagar rumah peninggalan orang tua Andra yang mewah.

Rumah berlantai dua dengan cat putih bersih mendominasi, terdapat jendela-jendela kaca yang besar di bagian depan dan samping rumah tersebut.

Kolam renang dibagian belakang dan ada kolam ikan dihalaman sebelah kirinya.

Dibagian depannya terdapat garasi besar dengan deretan mobil mewah dan motor sport koleksinya.

"Ndra, pertimbangkan aja dulu permintaan Om dan Tante Mery juga Ide gue tadi ya! Kan ga ada salah nya... kalau lo bangkrut gue gimana Ndra? " pria itu memohon dengan ekspresi kocaknya.

"Iya berisik ah... Lo tuh kaya emak-emak komplek ya cerewet banget!!" seru Andra seraya keluar dari mobil Ricko yang dibalas kekehan oleh sahabatnya.

Setelah melihat Andra menghilang dibalik pintu besar bercat putih, ia pun menginjak pedal gas menuju apartemen miliknya.

Andra masuk ke dalam rumah di sambut para maid yang terlihat seperti bangun tidur, sebelumnya security dari pos langsung menelepon paviliun dimana para maid tinggal untuk mengabarkan Tuannya sudah tiba agar segera membukakan pintu lalu menunggu perintah selanjutnya bila Tuannya membutuhkan sesuatu.

Andra naik ke kamarnya tanpa sepatah kata pun kepada para maid, semua penghuni rumah itu sudah terbiasa dengan sikap dingin sang Tuan Muda.

Setelah membersihkan dirinya dan berganti pakaian, Andra menjatuhkan tubuhnya di ranjang.

Pekerjaan dan permintaan Om Salim hari ini sangat membuat pikirannya lelah.

Tidak menunggu lama dengan mudahnya Andra memasuki alam mimpi yang dalam dan tenang.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin