Love and Contract Hari Yang Melelahkan

Hari Yang Melelahkan

Pagi itu Shareena Azmi Zaina dibangunkan oleh suara alarm, matanya masih tertutup rapat tapi tangannya meraba-raba jam weker yang berada di meja sebelah ranjang.

Diluar sana tepatnya di ufuk timur, sinar mentari masih berwarna jingga sedang bersiap menggantikan sang rembulan kembali ke peraduan.

Senin hingga jum'at keseharian gadis itu hanya antara kostan dan tempat kerjanya, bekerja keras di Kota besar untuk menopang perekonomian keluarga.

"Hmm... Maless nyaaaaa, " keluh Rena seraya menggeliatkan tubuh.

Setelah mengucek ke dua mata indahnya, Rena langsung menuruni tempat tidur untuk kemudian melakukan ritual mandinya.

jam menunjukan pukul 7 pagi, Rena yang bekerja sebagai Karyawan di Bank BUMN terbesar di negaranya itu tidak mau terlambat tiba di kantor, ia tak ingin Kepala Cabangnya datang mendahului, karena kini Rena sedang dalam masa penilaian agar bisa menjalani tes promosinya.

"Selamat pagi Pak Rahmat..., " sapa Rena kepada security kantor.

"Selamat pagi Bu Rena..., " balas Pak Rahmat dengan senyum ramahnya

Setelah Brifing pagi bersama Kepala Cabang dan teman sekantor, Rena duduk dimeja kerja bersiap melakukan pelayanan.

Ia membalikan papan close berwarna biru dimejanya menjadi nama panggilannya yaitu 'Rena' pertanda ia siap melakukan pelayanan.

Hari ini adalah hari rabu dan hari jumat nanti, Rena akan bekerja di Restoran mewah menggantikan Citra, teman satu kos Mia yang sedang sakit dan hasil dari kerja sampingan itu akan ia gunakan untuk membayar biaya kuliah adiknya.

Rena ingin sekali pulang ke Bandung menemui keluarganya, apa lagi Bapak yang sedang sakit membuat pikiran Rena bercabang memikirkan biaya berobat yang sudah tidak bisa di cover oleh asuransi dan adik yang masih kuliah semester lima belum membayar biaya kuliah.

Rena adalah anak pertama dari tiga bersaudara dan merupakan tulang punggung keluarga namun ia tidak pernah mengeluh, Rena merasa semua ini adalah tanggung jawabnya.

Sebagai anak pertama, ia berkewajiban membantu orang tua apalagi setelah Bapak pensiun dan sakit-sakitan.

"Selamat pagi, saya Rena... Silahkan duduk Ibu, ada yang bisa saya bantu?" sapa Rena pada seorang nasabah wanita paruh baya yang menghampirinya.

"Mba, saya mau komplain! Kenapa ketika saya masuk ke VIP longe di bandara dan mengggesek kartu kredit, dikenakan charge 1 rupiah? Sedangkan di Bank lain tidak! " seru nasabah itu dengan nada suara tinggi tidak lupa kedua bola mata yang ada dibalik kacamata itu hampir saja keluar dari rongganya.

"Ini Bank apa sih? katanya gratis jika saya menjadi nasabah prioritas disini! Anda mau menipu saya ya?!!" tambahnya lagi, kali ini nasabah itu menggebrag meja Rena, membuat gadis cantik itu menjengit terkejut.

Serentak semua orang yang berada di dalam ruangan melihat ke arah Rena dan nasaba yang duduk didepannya.

Wajah Rena memucat, ia tak menyangka pagi harinya di mulai dengan "sarapan" di marahi orang seperti ini.

"Maaf Ibu, peraturan di Bank kami seperti itu, maksud dari Kartu Kredit Ibu di gesek dan terkena charge 1 rupiah adalah untuk membuktikan jika kartu kredit ibu masih aktif" Tutur Rena menjelaskan, nada suaranya ia tahan serendah mungkin.

Rena pun terus menjelaskan dengan lembut dan sabar, tidak lupa senyumnya dengan tulus selalu mengembang di bibirnya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa nasabah tersebut sedang marah akan peraturan perusahaan bukan dengan dirinya.

Akhirnya setelah penjelasan panjang lebar dan masuk akal, nasabah tersebut mengerti dan pergi walau masih dengan ekspresi wajah kesal.

"Mia, aku kebelakang dulu ya sebentar" bisik Rena kepada teman Customer Service disebelahnya,

"Iya...Sabar ya Rena" ujar Mia berbisik karena didepan gadis itu pun kini tengah duduk seorang pria yang sedang mengisi kertas aplikasi pembukaan rekening.

Setelah Rena keluar dari toilet, Pak Rudi yang merupakan Kepala Cabang di kantor tersebut menghampirinya.

"Ren, kamu sekarang ke perusahaan AG Group ya! Kata bagian keuangannya, beberapa karyawan di perusahaan tersebut akan payroll di Bank kita, baru saja Pak Irfan kepala bagian human capital telepon dan jangan lupa bawa formnya nanti... Minta diantar sama Pak Dede supir kita ya!" perintah Pak Rudi kepada Rena.

"Baik Pa Rudi" saut Rena mengiyakan.

Setelah Rena pamit kepada Pak Rudi dan Mia, Rena berangkat menuju perusahaan AG Group.

Sampailah Rena didepan sebuah gedung yang menjulang tinggi, ia begitu terpesona melihat interior mewah didalam gedung tersebut. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan terbesar yang ikut andil dalam menopang perekonomian negaranya, perusahaan yang memiliki beberapa anak perusahaan tersebut memang sudah menjadi nasabah prioritas di Kantor pusat dimana ia bekerja.

Setelah berbicara dengan resepsionis, Rena langsung menemui Pak Irfan dilantai yang sudah ditunjukan oleh wanita dibelakang meja resepsionis.

"Selamat Pagi, Pak Irfan...Saya Rena diutus Pak Rudi untuk mendata karyawan yang akan Payroll di Bank kami" sapanya dengan senyum khas sambil merentangkan tangan untuk dijabat.

" Oh Ya, Rena ya? baru saja saya bicara dengan Pak Rudi ditelepon...silahkan duduk, saya akan membawa berkasnya" Pak Irfan menjabat tangan Rena setelah itu meminta sekerterarisnya mengambilkan beberapa berkas kebutuhan Payroll yang sudah diinfokan oleh Pak Rudi sebelumnya.

Sambil membereskan berkas dan mengisi aplikasi payroll, Pak Irfan dan Rena berbincang, sesekali Rena menawarkan produk Bank dimana ia bekerja.

Jiwa marketing Rena selalu muncul setiap bertemu dengan nasabah, gadis itu selalu bekerja totalitas tak heran bila Pak Rudi memberi penilaian yang bagus dan akan berdampak pada bonus tahunannya.

"Ini berkasnya sudah lengkap semua, aplikasi sudah diisi dan di tanda tangani oleh Bapak, tinggal minta tanda tangan Direktur perusahaan ini" tutur Rena smabil merapikan berkas yang baru saja diperiksanya.

"Bu Rena bisa langsung minta ke Pak Andra Pimpinan tertinggi perusahaan ini, ruangan beliau ada diujung lorong, nanti tanya Bu Santi sekretarisnya, bilang saja mau minta tanda tangan untuk pengajuan payroll ke Bank" ucap Pak Irfan, jari telunjuknya diarahkan ke pintu ruangan Andra.

"Baik Pak terimakasih" pamit Rena seraya menjabat tangan Pak Irfan.

Rena langsung menuju ruangan Presiden Direktur perusahaan tersebut, sebelumnya ia menemui Bu Santi sang sekertaris dan meminta ijin untuk menemui Bosnya itu.

"Silahkan masuk saja Bu Rena, Pak Andra ada di dalam" ucap Santi sekeretaris Andra dengan senyum manisnya.

"Baik Bu Santi terimakasih" saut Rena disertai senyum.

tok...tok...tok

Gadis itu mengetuk pintu besar berbahan kayu jati didepannya, kemudian perlahan mendorong pintu tersebut kemudian tatapannya langsung tertuju pada sebrang ruangan dimana pria tampan dengan rahang tegas itu berada.

Tubuh atletis pria itu terlihat dari stelan jas mahalnya yang menyempit dibagian lengan karena kedua ltangan kokoh itu sedang menumpu membuat sudut siku-siku diatas meja sambil memegang kertas berisi data yang harus diperiksanya.

Rambut tebal nan hitam disisir kebelakang, tapi terlihat ada sejumput anak rambut yang nakal keluar dari tatananan rambut itu mengenai keningnya.

Rena tidak menyangka pimpinan tertinggi di perusahaan sebesar ini masih sangat muda, yang ada dipikirannya adalah lelaki paruh baya dengan kepala botak dan berperut buncit, mungkin terdapat kumis tebal dibawah hidungnya juga postur tubuh yang sedikit pendek, bukan tubuh menjulang dan tegap yang seperti ia liat sekarang ini.

"Selamat siang Pak, saya Rena dari Bank BUMN, mau minta tanda tangan Bapak untuk persetujuan payroll" ucap Rena sambil tersenyum.

Andra yang sedang fokus menatap layar laptop dan sesekali membaca sambil menanda tangani berkas yang ada di tangannya hanya berucap

"masuk!!! Duduk !!" tanpa melihat kearah Rena,.

Rena pun duduk di sofa yang ada di sebrang meja Andra sesuai perintah.

10 menit...

20 menit...

Rena masih duduk menunggu Andra selesai mengerjakan tugasnya.

Sesekali ia mencuri pandang kearah Andra, tapi Presiden Direktur tampan itu seperti tenggelam dalam dunianya sendiri.

Jam sudah menunjukan waktu makan siang, cacing diperut Rena sudah meronta minta diberi makan, tadi pagi ia hanya sarapan susu murni saja karena tak ingin terlambat.

Ingin sekali Rena berdehem atau mengintrupsi, tapi aura yang terpancar dari pria tampan itu begitu dingin dan kelam.

Bahkan Rena mengatur nafasnya agar tidak bersuara.

30 menit

45 menit kemudian

Terdengar suara pintu terbuka dan masuklah pria yang tidak kalah tampannya dengan Andra menyapa Rena dengan sangat ramah.

"Hai Nona manis, sedang apa disini? Saya Ricko Direktur Pemasaran" sapa Ricko sambil menyodorkan tangannya.

Mata Rena mengerjap beberapa kali, kesempatannya terbuka lebar untuk menyadarkan Andra bahwa ia makhluk kasat mata yang menapak di bumi ini dan sedari tadi berada satu ruangan dengannya.

"Saya Rena dari Bank BUMN, saya mau meminta tanda tangan Pak Andra untuk persetujuan Payroll di Bank Kami" jawab Rena sambil menjabat tangan Ricko dengan senyum yang juga tidak kalah ramah.

Andra teperanjat, ia lupa sedari tadi ada gadis cantik yang menemainya diruangan itu.

"Kenapa dari tadi kamu diam saja?! Kemarikan berkas yang harus saya tanda tangani!" seru Andra seraya mengernyitkan dahi dengan tatapan dalam nyaris membuat Rena tenggelam.

Rena berjalan menghampiri Andra perlahan dengan hati kesal, berusaha keras gadis itu berekspresi seramah mungkin tidak lupa melengkungkan senyum dibibirnya.

Berdekatan dengan pria itu membuat Rena bisa mencium aroma parfum maskulin yang menguar dan seketika membuat jantung Rena berdetak kencang.

"Apa aku terlalu dekat?" batin Rena kemudian sedikit memberi jarak setelah memberikan aplikasi yang harus Andra tanda tangani.

Setelah sang Presdit tampan selesai menandatangani form yang diberikan Rena, gadis cantik itu pun pamit kepada Andra dan Ricko.

"Hey nona manis, punya permen?" panggil Ricko setengah berteriak karena Rena sudah hampir sampai diujung ruangan membuat gadis itu menghentikan langkahnya melewati pintu untuk kemudian berbalik.

"Ah..Ga punya!" balas Rena polos.

"Kalau nomor handphone punya?" teriak Ricko lagi dengan senyum penuh harap dan mata berbinar.

Rena menjawab dengan memberikan senyum penuh kemakluman kemudian membungkukan sedikit tubuh lalu berjalan mundur sambil menutup pintu ruangan Andra.

Cukup sering Rena mendapat godaan receh seperti itu, dan dirinya tidak memiliki kewajiban untuk memberikan nomor ponselnya, berharap seulas senyum yang tadi ia berikan bisa membuat pria tampan itu mengerti.

"Lo tuh ya, setiap cewe lo godain minta nomor handphone lah minta no rekening lah... Sampe Office Girl di kantor Om Salim aja lo tanyain nomor handphone" seru Andra ketus setelah Rena keluar dari ruangan tersebut.

"Yaaa namanya juga usaha Bro" jawab Ricko sambil berlalu hendak meninggalkan Andra.

api sebelum ia melangkahkan kaki nya lebih jauh menuju pintu, Andra sedikit berteriak dari kursi kebesarannya.

"Hey, Ngapain lo kesini tadi?" tsuara kencang itu mampu menghentikan langkah Ricko.

"Barusan Santi bilang, ada cewe cantik nan montok udah 1 jam diruangan lo belum keluar juga, gue cuma mau mastiin itu cewe ga kenapa-kenapa" jawab Ricko santai dan benar-bernar berlalu tidak lupa menutup pintu ruangan sahabat yang merangkap sebagai bosnya itu.

"Sialan..., " gumam Andra mengumpat dan entah kenapa ujung bibirnya tertarik membuat lengkung senyuman.

* Kantor Rena

Sesampainya di kantor, Rena langsung menyerahkan semua berkas dan aplikasi yang baru saja ia bawa dari kantor AG Group kepada Pak Rudi Kepala Cabangnya setelah itu ijin untuk istirahat makan siang.

Krubuk... Krubuk... Perut Rena kembali berbunyi, Rena mempercepat langkahnya sambil memegang perut menuju kantin dibelakang gedung kantornya.

Sesampainya di kantin Rena memesan makanan kesukaanya dan duduk disudut kantin sambil berharap tidak ada yang mengganggu, karena kali ini ia akan berkonsentrasi melahap makanan untuk mengisi perutnya.

Tapi kecantikan Rena membuat setiap orang selalu ingin menyapa dan berbincang dengannya, beberapa menit setelah Rena duduk, Dio dari bagian prioritas duduk pula didepannya.

"Makan apa Ren? " tanya Dio basa-basi.

"Tuuh, pesen lotek sama tempe mendoan" saut Rena sambil mengendikan dagu kearah makanan didepannya.

Rena sedikit malas tapi ia tidak bisa mengusir Dio karena pria itu begitu baik padanya maka akhirnya keduanya berbincang dan Rena bercerita tentang kelelahannya hari ini mulai dari nasabah prioritas yang marah-marah tadi pagi dan Presdir tampan yang sudah membuatnya menunggu lama.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin