Jangan Membenci Cinta Tercetusnya Sebuah Perjanjian

Tercetusnya Sebuah Perjanjian

Devano Akbi Marthadidjaya atau yang kerap disapa Akbi, memarkirkan mobil sedan mewahnya di pelataran parkir kampus Universitas terkemuka di Jakarta.

Kedatangannya ke kampus tersebut bukan untuk menuntut ilmu tapi untuk mencari seorang gadis yang akan dijodohkan dengannya.

Ia akan membujuk gadis itu agar menolak rencana Beni-sang Papa dan memintanya mengurungkan niat Beni untuk menjodohkan mereka.

Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Beni menginginkan Akbi menikah dengan anak dari sahabatnya.

Bukan hanya karena Akbi telah memiliki kekasih, tapi gadis yang dijodohkan dengannya adalah anak dari wanita yang pernah dicintai sang Papa dan selama puluhan tahun terakhir nama wanita itu selalu menjadi bahan pertengkaran kedua orang tuanya.

Akbi tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Beni, Diana-sang Mama pasti akan sangat tersakiti dengan kenyataan ini.

Maka dari itu Akbi berusaha agar perjodohan tersebut tidak pernah terjadi.

Setelah cukup lama memperhatikan tulisan di kertas, Akbi turun dari mobil.

Semua mata para gadis langsung tertuju padanya.

Seperti gerakan slow motion, Akbi turun sambil membuka kacamata hitam yang kemudian ia selipkan ke dalam saku jas.

Dengan mata elangnya memindai sekeliling, mencari gedung fakultas ekonomi seperti yang tertulis pada secarik kertas yang ia dapatkan dari sekertaris Beni.

Nyaris saja para gadis yang berada di sekitar sana menjerit histeris karena terpukau dengan ketampanan Akbi.

Belum lagi stelan jas mahal yang Akbi kenakan dan mobil mewah yang ia kemudikan membuatnya otomatis menjadi pria idaman para mahasiswa di kampus tersebut.

“Hey, lo kenal Aurystela Akkeu Quinbee?” Akbi bertanya pada seorang laki-laki yang baru saja lewat di depannya.

Akbi tidak berharap banyak pada anak laki-laki itu namun sepertinya ia bertanya kepada orang yang tepat.

Lelaki berkaca mata itu melirik jam pada pergelangan tangannya sebelum membuka suara.

“Jam segini, Bee ada di perpus ...,” balasnya tanpa berpikir.

“Yang kaya gimana orangnya?” tanya Akbi lagi.

“Jadi lo nyari orang yang belum pernah ketemu ya Bang?” balas lelaki itu, bertanya setengah meledek.

Akbi mendengus sebal. “Lo mau kasih tau kaga?” tanyanya galak tidak sabaran.

“Cari aja perempuan yang pake baju kaya emak lo, Bang! Pake dress vintage atau cardigan rajut gitu, sepatu pantofel dan bando dengan warna senada sama baju, pokoknya kalau lo ngeliat cewe beda dari yang lain ... itu pasti Bee,” tutur lelaki itu menjelaskan.

Mendengar ciri-ciri yang diucapkan anak laki-laki itu saja sudah membuat Akbi bergidig ngeri.

Gadis yang akan dijodohkan dengannya pasti tidak secantik sang kekasih yang merupakan seorang model.

Hal itu semakin menambah keyakinan Akbi untuk melakukan segala cara agar perjodohan tersebut tidak terjadi.

Setelah mendapatkan informasi, Akbi menepuk pundak lelaki itu kemudian pergi tanpa mengucapkan terimakasih, melanjutkan langkahnya menuju gedung yang dimaksud.

Tidak sulit ternyata menemukan gedung perpustakaan.

Akbi langsung masuk ke dalam ruangan dengan penuh buku dan matanya memindai setiap penjuru.

Mencari gadis yang berbeda dengan gadis lain seperti yang dikatakan anak laki-laki yang lupa ia tanyakan namanya.

Sesaat kemudian mata elang itu terpaku pada gadis berambut sebahu dengan poni dan bando berwarna kuning cerah melintang di kepala.

Akbi melangkah perlahan, masih terus melangkah walau tatapan mata setiap orang tidak berhenti mengganggunya.

Semua orang di perpustakaan pasti terheran-heran melihat penampilan Akbi yang selain memiliki ketampanan tidak manusiawi, lelaki itu juga memakai stelan jas lengkap dengan dasi di dalam rompi.

Bukan salahnya karena setelah rapat dengan seluruh pimpinan di perusahaan yang mengharuskan berpakaian formal, Akbi juga baru saja bertemu salah satu klien besar di restoran yang jaraknya hanya beberapa meter dari kampus.

Langkahnya berhenti tepat di depan meja seorang gadis yang sedang fokus membaca sebuah buku.

Mata bengkak gadis itu memberi keyakinan kepada Akbi bila dirinya memang orang yang sedang Akbi cari.

“Kamu Aurystela Akkeu Quinbee?”

Suara berat seorang pria mengambil alih perhatian Bee.

Gadis bermata lentik seperti kucing itu mendongak.

“Iya aku Bee, ada apa Om cari aku?” tanya Bee dengan suara dan wajah polos menggemaskan namun sangat menyebalkan bagi Akbi.

“Gila nih cewe, masa gue dipanggil Om! Emang setua itu tampang gue?” umpatnya di dalam hati.

Bee masih melongo dengan wajah cantiknya menatap Akbi yang menampilkan ekspresi kesal.

“Gue mau ngomong sama lo!” Akbi berseru sambil meletakan kedua tangannya di pinggang.

“Om, siapa ya?” Bee melontarkan pertanyaan kembali membuat Akbi semakin geram hingga memejamkan mata dengan rahang mengetat.

Tentu saja ia tidak terima dipanggil Om, umurnya bahkan masih belum menginjak dua puluh enam tahun.

“Gue Akbi ... anak Pak Beni, temen bokap lo! Cepet ikut gue ke kantin!”

Nyaris saja Akbi berteriak karena kesal namun ia masih sadar bila dirinya berada di dalam perpustakaan.

“Oooo,” balas Bee tanpa suara hanya membentuk bibirnya seperti huruf O.

Bee merapihkan buku kemudian memasukan ke dalam tas sebelum berdiri, sementara Akbi telah berjalan jauh meninggalkannya.

Bee masih sempat mengembalikan buku ke rak kemudian melangkah cepat menyusul Akbi.

Ia tidak berpikir bila secepat ini anak dari sahabat mendiang sang Ayah mendatanginya.

Setelah prosesi pemakanan Johan-sang Ayah yang dilakukan kemarin, Beni menceritakan rencananya yang dibuat secara impulsif dan spontan.

Beni mengungkapkan ingin menikahkan anaknya dengan Bee untuk bisa menjadikan Bee anak menantunya.

Dengan begitu kehidupan Bee akan terjamin dan Beni bisa memenuhi janji terakhirnya untuk menjaga Bee kepada mendiang sang sahabat.

Ingin rasanya Bee menolak, tapi ia juga telah berjanji kepada Johan untuk menurut dan mengikuti keinginan Beni.

“Tunjukin di mana kantinya,” kata Akbi ketus dengan raut tidak ramah.

Bee menatap Akbi sekilas dengan tatapan tidak terbaca, dalam hati merasa kesal karena lelaki itu sangat ketus padanya padahal baru sekali ini mereka bertemu.

Akhirnya Bee berjalan di depan Akbi, menuntun lelaki itu menuju kantin.

Sepanjang jalan Akbi memperhatikan Bee dari belakang.

Apa yang dikatakan lelaki yang ditemuinya tadi memang benar.

Cara berpakaian Bee sangat ketinggalan jaman dengan dress motif bunga-bunga berwarna kuning yang melebar dari pinggang hingga bagian lutut.

Lengan dressnya bermodel balon dan di bagian lehernya terdapat tali yang dibentuk pita.

Bee juga memakai pantofel dengan hak rendah yang menghasilkan bunyi setiap ia melangkah.

Kalau diperhatikan, Bee memang seperti gadis tahun tujuh puluhan tapi bukannya style baju seperti itu sedang trend kembali di tahun ini?

Pasalnya ia pernah melihat Anggit memakai pakaian seperti yang dikenakan Bee hanya saja kekasihnya selalu memakai stiletto yang membuat tubuhnya semakin jenjang.

“Gue turut berduka cita atas kematian bokap lo,” kata Akbi memulai pembicaraan setelah keduanya menempati meja kosong dengan Akbi duduk tepat di hadapan Bee.

Bee mengangguk sekilas sambil menampilkan senyum tipis, tidak juga menjawab meski ia menghargai di balik sikap menyebalkan lelaki itu ternyata masih memiliki hati nurani.

“Hebat juga lo, kemaren bokap lo meninggal ... hari ini udah bisa kuliah,” ucap Akbi yang sebenarnya tidak bermaksud memuji.

“Terus aku harus gimana Om? Aku udah sering bolos karena nungguin Ayah di rumah sakit, banyak mata kuliah yang harus aku kejar ...,” balas Bee membuat pening kepala Akbi karena sebutan Om masih saja melekat pada dirinya.

“Kenapa sih lo manggil gue, Om? Emang gue keliatan setua itu? Lo manggil bokap gue ... baru Om,” protes Akbi kesal.

“Oh iya, maaf ... abis ngeliat pake jas gini kaya Om-om.”

“Lo juga pake baju kaya emak gue, enggak gue panggil lo Tante!”

Bee tersenyum tipis sambil menunduk melihat pakaian yang dikenakannya.

“Semenjak Ayah bangkrut beberapa tahun lalu, aku enggak pernah beli baju lagi ... ini semua baju Bunda, kebetulan belum sempat aku kasih-kasihin jadi aku pake aja ... sepatu sama tasnya juga, orang lain bilang kuno, tapi cuma ini yang aku punya,” tutur Bee dengan ekspresi sendu.

“Kata Ayah, kalau aku pake baju ini ... aku mirip Bunda,” sambung Bee lagi kemudian menatap Akbi dengan seulas senyum dan sorot mata penuh kerinduan.

Akbi yang mendengarkan sambil melipat tangannya di dada menjadi menyesal telah berkata demikian.

Ia baru ingat Papanya pernah bilang bahwa Bee adalah seorang gadis yatim piatu.

Akbi mengembuskan nafas sebelum membuka suara untuk mengungkapkan maksud kedatangannya.

“Lo tau ‘kan kalau lo dijodohin sama gue?” tanya Akbi memulai.

Bee mengangguk menatap netra pekat Akbi yang sedang serius juga menatapnya.

“Gue minta lo nolak keinginan bokap gue,” pintanya tegas.

“Enggak bisa, aku punya hutang budi sama Om Beni ... aku juga butuh biaya kuliah dan biaya hidup ...,” tolak Bee dengan nada rendah dan ekspresi menyesal.

“Jadi ini soal uang? Gue bisa kasih biaya buat lo setiap bulan sampe lo dapet kerja.”

Kalimat Akbi tadi terdengar seperti seorang dermawan namun entah kenapa Bee merasa sedang dihina.

“Tahan Bee tahan ...,” batin Bee bersuara.

“Aku enggak enak nolak Om Beni, beliau yang bayar semua biaya rumah sakit Ayah ... Om Beni juga yang bayarin tunggakan kuliah aku, aku punya utang budi sama Om Beni jadi enggak bisa nolak keinginannya ... kamu aja deh yang bilang, itu ‘kan Papa kamu,” jelasnya di akhiri saran.

Akbi berdecak sebal, tentu saja ia pun telah menolak mentah-mentah perjodohan tersebut tapi ancaman Beni membuatnya tidak bisa berkutik hingga harus menemui Bee seperti saat ini.

“Lo tinggal bilang aja kalau lo enggak mau dinikahin sama gue, apa susahnya?” tukas Akbi dengan emosi yang mulai memuncak.

“Kalau kamu enggak bisa ngomong sama Papa kamu sendiri, apalagi aku?” balas Bee masih bernada rendah dan tenang, minta dimengerti.

Akbi mendengus kesal, membuang tatapannya ke arah lain.

“Gue punya cewek dan gue cinta sama dia, harusnya gue nikahnya sama dia bukan sama lo!” Akbi berseru kembali dengan masih mempertahankan nada tinggi.

“Ceweknya bisa nunggu satu tahunan lagi enggak?”

Pertanyaan Bee tadi membuat kening Akbi mengkerut dalam.

“Gimana kalau kita buat perjanjian? Biar Om Beni enggak kecewa, kita ikutin aja keinginan Om Beni ... hanya sampai aku lulus kuliah lalu mendapatkan kerja dan bisa menghidupi diri sendiri, trus kita bercerai. Menolak keinginan Om Beni lebih sulit dari pada mengajukan perceraian ke Pengadilan ... setelah nikah nanti, hidup kita pasti akan menjadi miliki kita sendiri, kita mau cerai pun ... Om Beni enggak akan bisa ngelarang, gimana?”

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin