Wanita Pengganti Laki-Laki yang Mencari Perempuan

Laki-Laki yang Mencari Perempuan

Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan uang itu. Aku harus mendapatkannya.

Elma berjalan sambil berpikir kalut di lorong rumah sakit. Masih terngiang ucapan dokter yang menangani penyakit ibunya, berkata:

“Lima ratus juta. Itu biaya yang harus disiapkan untuk transplantasi ginjal ibumu, Elma.”

Kepala Elma kembali berdenyut, mendengar angkanya saja sudah membuat dadanya sesak dan terhimpit.

Tapi ke mana aku harus mencari uang sebanyak itu? Kalau memang ada caranya. Apa pun, apa pun akan aku lakukan untuk menyelamatkan nyawa Ibu. Termasuk menjual nyawaku sendiri.

Gadis itu menangis sepanjang koridor, melewati tempat ramai hingga sepi dengan isakkan yang terdengar sesenggukan. Elma benci menjadi dirinya yang tidak berdaya, Elma benci mengakui bahwa dirinya tidak mampu, dan Elma benci dengan keadaannya saat ini.

Derasnya tangis membuat gadis itu tidak memerhatikan sekitar, hingga dia tidak sadar bahwa dari arah berlawanan ada seseorang yang juga berjalan sejalur dengannya. Celakanya, laki-laki itu sibuk dengan layar handphone di tangan, hingga tanpa bisa dicegah keduanya bertabrakan cukup keras.

Dua orang itu sama-sama terkejut. Pria yang menabrak Elma refleks memegang pundak gadis itu agar tidak terjatuh. Dalam keadaan seperti itu, Elma masuk ke dalam dekapan laki-laki itu tanpa sengaja. Sempat terdiam sejenak, pria itu mendorong tubuh Elma lebih dulu hingga Elma kembali berdiri tegak, lantas mata mereka bertemu dalam kecanggungan.

“Maaf,” kata Elma spontan. “Maaf, saya tidak melihat.” Gadis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang berlinang air mata.

Elma melanjutkan langkahnya, sama sekali tidak menoleh lagi ke belakang meski laki-laki yang ditabraknya tadi menyaksikan punggungnya yang berlalu menjauh. Pria itu penasaran, apa yang membuat gadis itu menangis? Tapi kemudian logikanya membalas lantang, ini rumah sakit, dan wajar untuk seseorang menangis dengan situasi apa pun di tempat seperti ini.

Elma terus melangkah, melarikan diri menuju kursi taman yang saat ini telah berada di pelupuk mata. Secara kebetulan, gadis itu menemukan Jenny –dokter yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, menunggunya di tempat itu.

Minuman kemasan bervarian rasa pisang itu disodorkan Jenny pada gadis sembilan belas tahun yang lantas duduk termenung di kursi taman sejak kedatangannya. Wajahnya terlihat kacau dengan bekas-bekas air mata, pun tampak pada kelopak matanya yang bengkak karena menguras banyak cairan dari sana.

Elma mendongak, menatap sedih sosok yang menghampirinya, meski setelahnya ia beralih pada minuman kemasan yang Jenny sodorkan. Gadis itu terlihat enggan, tapi toh Elma menerima pemberian itu, meletakannya dalam pangkuan dan mencengkeramnya erat di sana.

“Kak Jenny sudah tahu, kan? Tahu jauh sebelum hari ini? Kenapa kakak nggak kasih tahu Elma?” tanya gadis itu mengeratkan genggamannya pada minuman kemasan yang tadi dia terima. Meski menerimanya, Elma sama sekali tidak berniat untuk meminumnya saat ini.

“Kakak tahu Tante akan membutuhkan transplantasi pada akhirnya, tapi kakak juga baru tahu kalau harus secepat ini, El...”

Elma menoleh dengan genangan air mata yang kembali terlihat di pelupuk matanya. Ingin memastikan langsung bahwa ucapan Jenny bukan alasan atau sekadar pembenaran agar wanita itu tidak disalahkan. Dan tak lebih dari dua detik berlalu, Elma tidak bisa menyangkal, apa yang dikatakan Jenny jelas benar adanya.

Gadis itu kembali menunduk, mengeratkan cengkramannya semakin menjadi, bahkan tanpa khawatir wadah minuman kemasan dalam genggamannya itu akan rusak karena tenaganya yang terlalu kuat.

“Bagaimana ini, Kak? Ibu harus operasi, aku nggak mau kehilangan Ibu—” isakan Elma kembali, tersedu melanjutkan kata-katanya. “Apa pun akan aku lakukan agar Ibu bisa operasi. Tapi, sekali pun aku bilang begini, aku tetep nggak tahu apa yang harus aku lakukan untuk dapat uang sebesar itu...”

Elma benci karena dipikirkan seperti apa pun tak ada jalan keluar baginya untuk masalah ini. Mereka tidak punya cukup uang, dan itu cukup untuk menarik kesimpulan bahwa transplantasi ginjal yang harus dilakukan ibunya itu mustahil dilakukan.

“Aku benar-benar harus melakukan sesuatu, Kak. Aku harus melakukan sesuatu untuk bisa memenuhi seluruh biaya transplantasinya.” Elma tenggelam dalam tangisnya, sementara Jenny di sampingnya tak tahu harus mengatakan apa. Sebagai orang yang menganggap dirinya sendiri kakak untuk Elma, Jenny merasa sama sekali tak berguna sekarang. Karena jujur, dirinya pun tidak punya uang sebesar itu.

Getar di saku jas dokternya membuyarkan lamunan Jenny. Cairan yang semula menggenang di pelupuk mata ia paksa kembali masuk tanpa membiarkannya turun barang setetes. Jenny mengalihkan perhatiannya agar tidak ikut menangis dengan mengambil ponselnya, berjaga-jaga karena bisa saja itu dari rekan sejawatnya yang membutuhkan pertolongan—bagaimanapun, saat ini dirinya masih dalam jam jaga, jadi sudah seharusnya Jenny waspada dengan pekerjaan yang bisa memanggilnya kapan saja.

Jenny adalah salah satu dokter di rumah sakit tempat ibunya Elma dirawat, namun gadis itu berada di bagian obgyn yang tentu saja tidak berkaitan dengan penyakit ginjal yang diderita ibunya Elma. Mereka bisa saling mengenal dan sangat dekat karena kedua ibu mereka tumbuh di panti asuhan yang sama, dan begitulah hubungan bagai saudara itu terjalin.

Layar ponsel Jenny yang menyala menampilkan pop up pesan. Dan tidak seperti yang dia perkirakan, orang yang mengiriminya pesan justru bukan teman-teman dokternya, melainkan pria yang baru beberapa jam lalu dia jumpai untuk berdiskusi masalah pribadi pria itu. Pesan itu berasal dari Liam—Liam Tanubrata.

Liam:

Aku akan melakukan pemeriksaannya malam ini.

Pastikan siapa pun yang terlibat dalam hal ini menutup mulut mereka rapat-rapat. Kalau perlu buat perjanjian. Kalau sampai hal ini bocor mereka bisa kutuntut sampai mati ke penjara.

“Orang gila,” pikir Jenny. Kalau bukan karena mereka teman, Jenny pasti tidak akan melakukan perbuatan yang akan mencoreng gelarnya ini. Tapi apa boleh dikata, Jenny punya hutang budi pada Liam—pada keluarga pria itu hingga rasanya sulit untuk menolak pekerjaan berat yang dititahkan padanya.

Tenggelam jauh dengan pikirannya, Jenny berusaha berpikir keras. Bagaimana dirinya bisa menemukan seseorang yang Liam pinta dengan segala kriterianya itu? Sementara di negeri ini jelas praktek macam ini dilarang, alias illegal—itu kenapa Liam meminta siapa pun yang terlibat di dalamnya untuk tutup mulut. Menemukan yang bersedia saja sudah pasti sulit, apalagi dengan tuntutan Liam dengan syarat-syarat yang harus—tunggu!

Kepala Jenny berputar cepat menghadap Elma, gadis itu masih terisak dan berusaha menghentikan tangisannya meski terlihat kesulitan. Ide gila itu tiba-tiba memang muncul di kepalanya, merasa menjadi solusi jitu untuk permasalahan yang Liam dan Elma hadapi. Tapi melihat gadis itu... ‘Dia baru 19 tahun, Jenny! Sembilan belas! Kamu tega membuatnya melakukan hal macam ini—?’

Belum selesai benaknya bertarung di kepala, suara Jenny lebih dulu terdengar mengalahkan akal sehatnya.

“El, kamu pernah dengar tentang ibu pengganti?”

Bersambung...

Jangan lupa baca cerita saya yang lain ya! Judulnya "BE MY BABY" udah ada loh di sebelah! Yuk ramein cerita di sana sama seperti di WP, karena mungkin di sana ada jawaban yang nggak kalian dapetin di sini #ups

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin