One Night Surprise Wajah Tampan di Depan Mata

Wajah Tampan di Depan Mata

Seluruh tubuh Prisa terasa sangat pegal. Rasanya seperti maling yang habis dipukuli warga sekampung.

Prisa membuka matanya dengan perlahan sambil menahan nyeri di sekujur tubuhnya. Tiba-tiba, wajah tampan dengan garis-garis yang hampir sempurna muncul di depan matanya. Bisa dibilang, wajah ini merupakan karya Tuhan yang terindah. Bahkan, ketika tertidur pun masih terlihat seksi dan menawan.

Awan di langit perlahan bergerak turun menutupi sinar matahari yang menyeruak ke dalam kamar melalui jendela, menciptakan bayangan yang begitu dalam di bawah dahi pria tampan itu. Bayangan tersebut memperlihatkan karakter dingin dan arogan.

Prisa sangat mengagumi pemandangan indah ini. Namun, beberapa saat kemudian, sekelebat kejadian tadi malam tiba-tiba membanjiri pikirannya. Dia pun terkesiap dan segera menutup mulutnya yang hampir berteriak.

“Di... dia...”

Prisa teringat, semalam dia pergi ke bar untuk minum-minum. Karena dikhianati sang pacar, dia pun mencari seorang laki-laki sewaan untuk melampiaskan amarah dan rasa kecewanya. Kemudian, dia bertemu dengan seorang gigolo tampan dan menghabiskan sepanjang malam dengannya.

Prisa berusaha menenangkan dirinya. Akan tetapi, kedua matanya masih tertuju pada pria itu. Ketampanannya benar-benar berada di level yang berbeda. Gadis itu pun turun perlahan dari tempat tidur. Pakaian yang berserakan di lantai mengingatkannya kembali pada kegilaan yang terjadi tadi malam.

Jam menunjukkan pukul 11 pagi. Gawat! Pukul 12 dia ada kelas. Prisa masih menyandang status sebagai mahasiswa asing di sebuah universitas di Taiwan. Berkat nilai-nilai memuaskan yang dia peroleh sejak SMP, dia berhasil mendapatkan beasiswa di luar negeri.

Prisa meraih dompet dan mengeluarkan dua lembar uang dengan nominal seratus ribu. Setelah berpikir sejenak, dia pun menarik dua lembar seratus ribuan lagi dan meletakkannya di atas meja. Dia mengumpulkan pakaiannya yang berserakan dan mengenakannya dengan tergesa-gesa. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Prisa segera keluar dari ruangan tersebut.

Tiga tahun kemudian ….

Di sebuah ruangan yang rapi di lantai lima komplek rumah susun blok A, ada banyak mainan anak-anak di setiap sudutnya. Seluruh lantai ruangan itu dilapisi matras empuk dengan gambar animasi yang lucu dan menggemaskan.

Prisa berdiri dengan satu kaki di atas matras tersebut, sedangkan sebelah kaki lagi dia naikkan ke kepala. Dia berusaha keras menstabilkan postur itu untuk beberapa saat sambil mengatur ritme napasnya.

Ketika Prisa sedang melakukan yoga untuk menikmati masa-masa sendirian yang tenang dan sunyi, tiba-tiba pintu terbuka lebar. Enam bocah kecil berlarian berebut masuk ke dalam ruangan.

“Mama!”

“Mama!”

“Mama!”

“Mama!”

“Mama!”

“Mama!”

Enam bocah kecil itu bersahutan memanggil Prisa. Mereka berlarian menuju sang ibu dengan kaki mereka yang pendek dan lucu.

Iya, mereka semua adalah anak-anak yang lahir dari rahimnya. Awalnya, Prisa sangat terkejut ketika mengetahui bahwa dia sedang mengandung enam orang anak. Akan tetapi, dia tidak tega jika harus menyingkirkan keenam nyawa tak berdosa tersebut.

Trauma masa kecilnya menjadi salah satu alasan mengapa Prisa tetap mempertahankan bayi-bayinya. Waktu kecil, dia kerap disiksa oleh ayah kandungnya sendiri. Sementara itu, ibunya yang sudah tidak tahan lagi akhirnya mengajukan cerai dan tega meninggalkan putrinya. Prisa tidak ingin melakukan hal yang sama kepada anak-anaknya.

Awalnya, Prisa berniat mencari gigolo yang menjadi ayah dari anak-anaknya ini. Namun, dia yakin kejadian ini murni kesalahan dia sendiri. Tidak mungkin dia meminta seorang gigolo yang tidak jelas asal usulnya, dan sama sekali tidak dia kenal untuk menghidupi dirinya dan anak-anak. Bagaimanapun, mereka hanya menjalani one night stand, tidak lebih. Prisa juga agak takut anak-anaknya akan diperlakukan dengan kasar seperti ayahnya memperlakukan dirinya ketika kecil.

Prisa yakin, dia bisa mengurus bayi-bayinya seorang diri.

Prisa yang masih dalam posisi yoga pun panik. “Tunggu, tunggu, tunggu! Ah ah ah!” Terdengar suara gedebuk yang lumayan keras. Prisa dan anak-anak itu jatuh ke atas matras. Seorang anak kecil nan imut terlempar dan berguling beberapa kali ke sudut ruangan. Wajahnya yang tembam tertegun untuk beberapa saat.

Juna dan Jani naik ke atas tubuh Prisa. Si kembar identik Arga dan Argina juga ikut berbaring di atas perutnya. Sementara si adik memeluk pinggangnya. Lima bayi menempel di tubuh Prisa sambil tertawa riang.

Bibi Ratih, pengasuh anak-anak imut tersebut tidak bisa menahan tawa ketika melihat pemandangan menggelikan itu.

Kamael yang terguling ke sudut berjuang untuk bangkit dan menghampiri Prisa lagi. Wajahnya terlihat berkerut, seolah-olah sedang berpikir keras, “Haruskah aku naik juga?”

Prisa akhirnya bangkit dengan anak-anak yang masih menempel di tubuhnya. Anak-anak itu pun jatuh ke matras empuk satu per satu.

Juna berbalik terlentang dan segera bangkit untuk memanjat tubuh Prisa lagi. Kaki-kakinya yang pendek terus berusaha keras untuk naik ke tubuh ibunya.

“Juna, jangan nakal! Nanti jatuh, lho,” Prisa mengingatkannya.

“Aku tidak takut. Aku kan seorang majulit,” ujar Juna sambil mengangkat tangannya membentuk gerakan hormat. Sesaat kemudian, dia jatuh lagi dari tubuh prisa.

“Prajurit,” koreksi Prisa.

“Ma, aku punya bunga merah kecil! Aku baru memetiknya hari ini di taman!” Jani memegang sebuah bunga merah kecil di tangannya. Matanya berbinar-binar penuh harap, menunggu untuk dipuji oleh Prisa.

“Hebat!” puji Prisa.

“Aku juga punya bunga merah kecil!” Arga juga mengambil sekuntum bunga merah dari sakunya.

“Aku juga,” bisik Argina dengan lembut.

Prisa memandang Kamala sambil menunggunya berbicara. Kamala pun berkata, “Mama, aku memberikannya …”

Prisa tertawa. Anak perempuannya itu pasti memberikan bunganya kepada anak laki-laki lain, kan?

Juna akhirnya berhasil naik ke punggung prisa lagi setelah berusaha dengan susah payah. Dia melambaikan tangannya sambil berseru, “Ma, aku juga punya bunga merah kecil! Tapi Kamael enggak punya!”

Kamael hanya berdiri terpaku dengan perutnya yang buncit. Raut wajahnya terlihat bingung.

Prisa pun menghibur anak menggemaskan itu agar tidak terlalu kecewa. “Kamael, enggak apa-apa! Lain kali usaha lebih keras supaya bisa dapat bunga, ya! Pasti bisa!” serunya sambil tersenyum lebar.

“Oke!” Kamael mengangguk dengan penuh semangat. Sorot matanya dipenuhi tekad yang kuat.

Prisa menoleh pada Bibi Ratih yang masih berdiri di ambang pintu. “Bibi boleh pulang sekarang,” ujarnya sambil tersenyum.

“Baik, Non. Besok Bibi ke sini lagi jam delapan ya,” sahut Bibi Ratih.

“Oke, Bi,” jawab Prisa.

Bibi Ratih sudah pulang. Kini tersisa Prisa dan enam anak kecil di dalam rumah.

Halo teman-teman :). Terima kasih sudah mau mengintip novel baru saya. Ditunggu feedbacknya ya!

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin