Cinta Untuk Nada Pertemuan Pertama

Pertemuan Pertama

Klek

Pintu kamar telah di buka

Langkah kaki seseorang yang berjalan memasuki kamarnya, membuat Nada sangat ketakutan. Jantungnya berdetak sangat kencang, sudah tergambar jelas apa yang akan terjadi dalam bayangannya. Nada hanya tertunduk dengan kedua jari tangannya saling berpegangan dan meremas. Keringat dinginpun sudah tak terelakkan. Nada begitu takut, tapi saat ini, sudah tak ada lagi yang dapat menolongnya. Ini sudah menjadi keputusannya. Pilihan yang terpaksa dipilihnya untuk menyelamatkan ibunya.

Aroma parfum maskulin sudah tercium dari tubuh pria yang mendekat kepadanya. Pria itu berdiri satu meter di samping kiri Nada, entah apa yang dilihatnya, dia diam di sana mengamati Nada yang masih menunduk, meremas dan memainkan jari tangannya.

'Apa yang dilakukannya di sana? kenapa dia berdiri dan hanya diam seperti itu?' Nada tak menatap wajah pria yang berdiri tadi. Nada hanya menunduk dan semakin dalam menunduk. Nada berusaha menutupi semua rasa yang mencuat dihatinya.

"Denada Aprilia?" suara serak khas pria dewasa yang tegas menunjukkan aura rajanya terdengar di telinga Nada.

"Iya tuan," jawab Nada dengan suara yang bergetar.

'Ya Tuhan ... dia mulai mengajakku berbicara!' hati Nada ciut. Nada sangat khawatir dan tambah gemetaran.

"Kamu tahu siapa saya?" tanya pria yang berdiri dan masih menatap Nada dengan tangan melipat di dadanya.

"Tahu, Anda tuan Raditya Abimanyu Prayoga." Nada masih menunduk tak berani menatap pemilik suara.

"Apa hubungan kita?" tanya Radit masih memandangi Nada.

"Rahim saya akan menjadi tempat dimana tuan akan menaruh benih dan saya akan melahirkan anak untuk tuan."

"Sssssh ...." Radit mendesah. "Yang saya tanyakan, apa kamu tahu hubungan kita?" Radit mengulangi pertanyaannya.

"Hubungan?" Nada mengulangi kata-kata Radit.

Radit tersenyum simpul, lalu duduk di ujung kasur, di samping Nada, menatap ke arah tembok yang ada di depan mereka.

"Apa tadi yang saya lakukan di bawah dengan ayahmu dan penghulu sebelum datang ke kamar ini?" tanya Radit, mencoba memberi pengertian pada Nada.

'Anak ini, terlalu polos. Dia juga terlalu takut padaku, apa dia bisa, ya? Huffffh ... Viola ... Maafkan aku. Kalau bukan karena permintaan keluargaku supaya aku memiliki seorang anak yang berasal dari benihku sendiri, aku tak akan menyakitimu dengan ini. Aku sangat mencintaimu, Viola. Kaulah satu-satunya wanita yang aku cintai dan ini akan selesai setelah wanita ini melahirkan anakku. Kau tak perlu menangis lagi, sayang!' hati kecil Radit bergumam. Dia sangat mencintai istri yang sudah dinikahinya selama sepuluh tahun, Viola Andromeda. Wanita blasteran, dari kelas bangsawan dengan darah keturunan Asia, Rusia dan Spanyol, sangat cantik dan merupakan sebuah keberuntungan bagi Radit bisa menikah dengan wanita sepertinya. Kehidupan rumah tangga Radit dan Viola juga sangat harmonis. Sayangnya, karena kecelakaan di Spanyol delapan tahun lalu, terjadi sesuatu yang sangat mengerikan bagi rumah tangga mereka. Viola yang saat itu sedang mengandung anak Radit, mengalami keguguran dan pendarahan hebat. Rahimnya sudah tak lagi bisa diselamatkan, sehingga tim dokter melakukan operasi bedah untuk pengangkatan rahim.

Saat itu, hari-hari kebahagiaan rumah tangga mereka menjadi berkurang. Kecaman dari keluarga Radit, sangatlah mengganggu. Raditya Abimanyu Prayoga, berasal dari Keluarga Prayoga yang bukanlah keluarga sembarangan. Keluarganya memiliki kekayaan di luar batas wajar. Bisnis yang besar, baik di bidang pariwisata, penambangan minyak, batu bara, emas, dan nikel, transportasi baik darat, laut maupun udara, properti, elektronik, IT, media elektronik dan berbagai macam sumber bisnis lainnya, menjadikan keluarga Prayoga menjadi keluarga dengan kekayaan nomor satu di Indonesia, dan menduduki peringkat nomor enam di dunia. Radit adalah satu-satunya penerus kerajaan bisnis mereka. Anak satu-satunya dari pasangan Riyanti dan Bambang Prayoga, cucu satu-satunya dari Prawiryo Prayoga, membuatnya mengemban beban yang cukup berat dipundaknya. Penerus dengan darah keturunan Prayoga, ini tak lagi bisa untuk dinegosiasi.

Prawiryo tidak bisa menerima saran keluarga Viola untuk mengambil anak angkat. Prawiryo ingin cicit dari darah Raditya. Dia tak peduli, kalau Viola, istri Radit tak lagi bisa memiliki anak. Dia tetap menginginkan cicit dari darah Raditya. Sejak Viola kehilangan rahimnya, Prawiryo selalu berusaha untuk menekan Radit untuk menikah lagi, tanpa meninggalkan Viola. Tapi, Radit enggan dan menolak, bahkan Radit memilih hengkang dari mengurus perusahaan keluarganya dan memilih untuk bersusah payah selama delapan tahun ini untuk membangun usahanya sendiri. Hingga akhirnya, Radit tak lagi dapat menolak, karena Prawiryo menekan perusahaan yang didirikan Radit hingga mengalami krisis. Prawiryo juga menekankan akan menghancurkan karir Viola, istri Radit yang merupakan seorang designer papan atas di kelas Internasional, apabila menolak permintaannya yaitu Radit memberikan cicit dari benihnya.

"Baiklah, aku setuju untuk menikah dan mengikuti keinginan Eyang. Tapi dengan beberapa syarat!" Radit berupaya bernegosiasi dengan Prawiryo. Viola di samping Radit, sudah menangis dengan keputusan yang dibuat Radit.

"Pertama, aku ingin kekuasaan penuh sebagai penerus Prayoga. Kedua, aku ingin menikah dengan wanita yang akan melahirkan anakku, walaupun pernikahan itu hanya sah menurut agama. Aku tak ingin anakku lahir sebagai anak haram. Ketiga, setelah anak itu lahir, wanita itu akan pergi meninggalkan aku dan keluargaku, sejauh mungkin hingga tak memungkinkan lagi baginya untuk menemui anakku dan mengakuinya sebagai anaknya di kemudian hari kelak. Keempat, cari wanita yang mudah diatur, karena aku tak ingin ada wanita pengganggu nantinya." Inilah permintaan Radit di depan Eyang Prawiryo, yang akhirnya disanggupi oleh Eyang.

Malam ini adalah malam dimana Radit akhirnya menikahi wanita pilihan Eyang, sesuai dengan kriteria yang Radit inginkan.

"Fuuuuuuh ...." Radit menghela napasnya, mencoba melupakan perjanjiannya dengan Eyang Prawiryo yang baru saja melayang di otaknya. 'Baiklah, aku ingin ini cepat selesai, aku akan melakukan sesuai dengan keinginanmu, Eyang. Dalam satu bulan aku harus bisa membuatnya hamil, sehingga aku tak perlu lagi menyentuhnya. Viola sayang, bersabarlah ... Aku akan lakukan secepatnya, dan aku tak akan menyakitimu terlalu lama, Viola ...,' gumam Radit.

"Saya menunggumu menjawab, tapi lama sekali jawaban itu keluar, Nada?" Radit menengok ke arah Nada dan kembali menyadarkannya kalau dirinya belum menjawab pertanyaan Radit.

"Maaf, Tuan. Ehmm ... T-tadi, tuan sudah melakukan ijab qabul pernikahan dengan orangtua saya dihadapan penghulu," jawab Nada masih menunduk, bahkan Nada terlihat semakin ketakutan.

"Jadi apa hubungan kita?" Radit memberikan penekanan.

"Suami istri," jawab Nada lirih.

'Oh Tuhan ... Berat sekali aku mengatakan itu. Suami ... Hahaha. Aku bahkan tak mencintainya. Tapi aku ga ada pilihan demi ibuku. Kuatkanlah hatiku ....' doa Nada dalam hatinya.

"Bagus, kalau kamu sudah paham, Nada. Saya akan menjadi suamimu, hingga benih saya tumbuh menjadi bayi dan kamu melahirkan bayi itu untuk saya. Setelah itu, kamu bisa pergi, kamu bebas pergi kemanapun kamu inginkan. Dengan satu syarat, kamu tak boleh lagi muncul di hadapan saya, istri saya, dan anak dari benih yang saya titipkan di dalam rahimmu. Apa kamu paham?"

Nada menggigit bibirnya dan mengangguk.

"Saya paham, tuan."

"Bagus kalau begitu. Kamu jangan khawatir, setelah bayi itu lahir, saya akan memberikan materi yang cukup untuk memenuhi kebutuham hidupmu, bahkan kamu tak perlu lagi bekerja untuk hidupmu. Hanya menjauh dan menghilanglah, itu saja syaratnya." Radit kembali menekankan maksud hatinya.

Nada mengangguk.

'Oh Tuhan, semoga yang dikatakannya benar, setelah anak itu lahir. Setelah anak itu keluar dari rahimku, aku akan bebas kembali. Aku rela menjauh darinya, sejauh-jauhnya,' bisik hati Nada lirih.

"Kalau begitu, bersikap rilekslah, lakukan tugasmu, dan saya akan melakukan tugas saya. Kita selesaikan setiap harinya dengan cepat, supaya benih itu segera ada dalam rahimmu. Dan saya tak akan lagi menyentuhmu setelah benih itu ada di sana! Kamu paham?" kedua tangan Radit memegang kedua pipi Nada, membuat Nada menengok menatap Radit, membuat mata mereka bertemu, dan Nada melihat jelas wajah suaminya.

'Oh Tuhan ... Dia ini manusia atau malaikat ya? Kenapa dia tampan sekali. Jantungku ... Kenapa jadi bedetak kencang sekali. Apa ini ga salah? Dia ... Raditya? Dia ... Suamiku?' Nada tak tahu apa yang ingin diperintahkan hatinya kepada pikirannya sehingga membuat respon saraf tubuhnya menghasilkan loncatan- loncatan listrik diseluruh neuron sarafnya membuat Nada hampir kehilangan akal saat menatap wajah bak malaikat di hadapannya.

"Denada, apa kamu paham?"

"I-iya paham tuan. Sangat paham." Nada akhirnya merespon dan bicara setelah kesadarannya telah kembali.

"Baiklah, kita mulai sekarang!"

Radit segera membuka jas, dasi dan kancing bajunya.

"Ah ...!" Nada memalingkan wajahnya kembali menatap tembok dan menutup matanya.

"Kenapa memalingkan wajahmu?" tanya Radit yang masih membuka pakaiannya.

Nada hanya menggigit bibirnya dengan air mata mengalir membasai pipinya.

'Ya Tuhan ... Aku habis malam ini. Inikah nasibku yang tertulis dalam suratan takdir sebelum aku lahir ke dunia? Apa tak ada takdir lain yang lebih baik untukku?' Nada memprotes nasibnya sendiri.

"Jangan buang waktu, kita harus selesaikan cepat, karena saya harus kembali menemui istri saya!" tangan Radit sudah memegang kancing kebaya Nada dan membukanya satu persatu. Nada yang hanya bisa pasrah menangis dan diam saja membiarkan tangan Radit melucuti pakaiannya satu persatu. Radit juga membuka sanggul rambut Nada, yang menurutnya dapat mengganggu kalau nanti Nada akan menolak dan menggunakan sesuatu disana untuk menusuknya.

'Hmmm ... Tubuhnya boleh juga, kulitnya putih bersih, sesuatu disana masih sekal, dan hufff ... cukup menggoda, walaupun tak seperti milik istriku. Ah, kamu tetap yang terbaik untukku, Viola. Anak ini hanya untuk menaruh benihku. Kamu jangan khawatir. Aku tak akan kemana-mana ... Hatiku akan selalu menjadi milikmu!'

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin