Gairah Cinta Mulai Malam Ini, Kamu Jadi Milikku

Mulai Malam Ini, Kamu Jadi Milikku

“Malam ini kamu harus menemani tamu pertamamu.”

Emma yang saat ini sedang bercermin usai merias diri akhirnya menoleh ke belakang. Dirinya mendapati Cece yang saat ini sedang berjalan menuju ke arahnya. Emma tidak menjawab dan hanya menatap wanita itu dengan tatapan sendu.

“Nanti kamu akan dijemput dan diantar ke kediaman Tuan Rai. Layani dia dengan baik. Setelah itu kamu tidak perlu lagi datang ke sini. Kamu, mengerti!?” Cece, selaku pemilik rumah tempat para wanita bayaran ini berada tampak senang saat mengatakannya.

Emma masih menahan tangisannya, lalu berbalik dan menatap Cece dengan memelas. “Tidak! Aku tidak mau dibawa ke sana. Aku mohon, tolong lepaskan aku. Aku tidak mau melayani siapa pun!” ucapnya terus memberontak.

Mendapati Emma yang tidak menurut, Cece seketika berdecak kesal. “Kamu ini ya! Memangnya kamu siapa berhak mengaturku begitu!? Dengar, selama ini aku sudah berbaik hati untuk menampungmu di sini. Jika tidak ada aku, mungkin kamu akan jadi gembel di luar sana. Sebagai gantinya, sudah sepantasnya kamu melakukan semua itu. Lagi pula, aku sudah diminta agar kamu bisa melayani para tamu dengan baik! Jadi, jangan membantah lagi! Malam ini kamu harus melayani tamu istimewa itu. Mengerti!?”

Emma langsung menciut saat Cece memarahinya. Dia tidak pernah menyangka nasibnya akan semalang ini setelah diusir dari rumah. Dia tiba-tiba teringat saat pertama kali dia menginjakkan kaki di rumah bordir ini.

Hal itu bermula saat dia memergoki jika kekasihnya menjalin hubungan dengan adik tirinya. Emma saat itu merasa dikhianti dan bertanya pada adik tirinya kenapa dia tega berselingkuh dengan kekasih kakaknya sendiri. Namun, adik tirinya itu dengan mudahnya berkata jika mereka saling mencintai dan Emma tidak pantas bersanding dengan kekasihnya itu.

Emma seketika marah sekali. Dia tidak menyangka jika adiknya tega melakukan itu padanya. Dia pun bertengkar dengan adiknya. Lalu, ibu tirinya pun melihat pertengkaran mereka. Namun, ibunya justru membela adiknya dan malah mengusirnya dari rumah. Ibu dan adiknya itu menyeret paksa dirinya keluar dari rumah dan membawanya ke rumah bordir ini. Saat itu, Emma terus memberontak dan berusaha kabur dari tempat ini. Tapi, dia dihadang oleh para bodyguard Cece, hingga akhirnya ibu dan adiknya itu pun pergi dari sini dan meninggalkannya begitu saja. Dan Emma pun sadar jika mereka sudah merencanakan hal ini sejak awal untuk menjebaknya.

Sejak saat itu, Emma pun terjebak di tempat ini. Dia dipaksa untuk belajar tentang cara melayani dan menggoda laki-laki. Setiap kali dia berusaha menolak dan kabur dari tempat ini, Cece pasti akan mengetahuinya. Jadi, mau tidak mau dia pun harus melakukan hal menjijikkan itu, jika tidak, Cece pasti akan menghukumnya.

Hingga sampai pada hari ini. Cece mengatakan padanya jika sudah ada seorang laki-laki yang tertarik padanya dan memintanya untuk menemani laki-laki itu malam ini. Hal itu seketika membuat Emma ketakutan. Dia tidak menyangka hal itu akan datang secepat ini. Dia tidak ingin berhubungan dengan laki-laki yang tidak dia sukai, apalagi jika laki-laki itu adalah pria tua hidung belang. Tapi, saat ini tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menolak perintah Cece.

“Sudah, jangan menangis lagi! Cepat perbaiki riasanmu dan segeralah keluar. Sebentar lagi jemputanmu akan tiba.” Suara Cece kembali menyadarkan Emma dari lamunannya.

Setelah selesai bersiap, Cece membawa Emma keluar dengan paksa, dan pada saat bersamaan sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap berhenti di hadapan mereka. Itu adalah mobil mewah asal Prancis yang harganya mencapai miliaran! Mobil itu bahkan sudah dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan pemiliknya.

Tak lama kemudian, seseorang dengan pakaian rapi keluar dari mobil itu. Dia menunduk lalu memberi salam pada Emma dan membukakan pintu belakang mobil untuknya.

Emma bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Lalu, dia menoleh ke arah Cece. Tatapan Cece yang tajam mengartikan bahwa dia harus masuk ke dalam mobil mewah itu.

Saat memasuki mobil, Emma dikejutkan dengan adanya sesosok laki-laki muda tampan dan gagah, dengan setelan jas hitam rapi dan sepatu mengkilap yang dipakainya. Emma duduk di samping laki-laki itu. Dia tidak menyangka jika Tuan Rai yang dimaksud Cece tadi adalah seorang laki-laki tampan, dan bukan laki-laki paruh baya seperti yang ditakutkan Emma. Bahkan hanya ada satu kata yang cocok untuk mendeskripsikan penampilan laki-laki itu. Sempurna.

“Tuan Rai, apakah kita langsung ke rumah?”

“Ya,” jawab Rai singkat. Karena pada dasarnya Rai adalah laki-laki dingin, sombong dan angkuh. Tidak suka basa-basi apalagi bertele-tele.

Setelah menerima perintah, mobil itu pun melaju kembali dan pergi menuju ke kediaman Rai.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah rumah mewah. Sesampainya di sana, Emma kaget saat melihat rumah Rai yang begitu besar dan indah itu. Seumur hidup, Emma tidak pernah bermimpi akan menginjakkan kaki di rumah semewah ini. Lagi-lagi Emma merasa miris pada dirinya, karena dia datang ke rumah ini bukan sebagai tamu terhormat, melainkan karena keterpaksaan.

“Kalian pergilah, aku tidak mau ada orang yang menggangguku!” seru Rai meminta seluruh pelayan di rumahnya untuk pergi sesaat setelah mereka masuk ke rumah.

Saat seluruh pelayan sudah pergi, Rai beralih menatap ke arah Emma. “Kamu, ikut denganku!” ucapnya lalu mencengkeram tangan Emma dengan kencang.

Emma meringis kesakitan, dia menunduk dan sama sekali tidak berani menatap wajah Rai. Rai menarik paksa tangan Emma yang membuatnya semakin kesakitan. Dengan susah payah Emma mengimbangi langkah kaki Rai yang begitu lebar. Kaki Emma tak sepanjang kaki Rai, sehingga dia begitu kesulitan untuk mengimbanginya. Ditambah dengan mini dress ketat dan high heels yang dia pakai, membuatnya kesulitan saat menaiki tangga.

Emma baru melewati satu lantai, dan dia masih harus menaiki anak tangga itu hingga sampai di kamar Rai yang ada di lantai tiga.

Klik. Rai membuka pintu kamarnya lalu menarik paksa Emma untuk mengikutinya masuk.

Emma tertegun melihat seisi ruangan yang menurutnya sangat mewah itu. Seumur hidup, baru kali ini dia melihat kamar seindah itu. Sangat berbeda dengan kamar miliknya yang begitu sempit dan hanya berisikan ranjang dan lemari kecil.

Kemudian, dengan kasar Rai melempar Emma ke atas ranjang empuk yang begitu lebar berbalut seprai dan selimut hitam yang kontras dengan cat dinding kamar itu.

Emma mulai memejamkan matanya yang mulai berkaca-kaca. Dia tak ingin melihat apa yang selanjutnya akan terjadi. Emma mundur, terus mundur kala Rai mulai merangkak ke atas ranjang mendekatinya. Rai menyeringai tatkala melihat Emma yang ketakutan, menurutnya itu begitu lucu.

“Siapa namamu?” tanya Rai.

“Emma.” Tubuh Emma mulai gemetar.

“Lengkap?”

“Emma Ari Fatunnisa.”

Rai tersenyum simpul. ‘Emma Ari Fatunnisa’, nama yang begitu cantik, persis seperti pemiliknya.

“Berapa usiamu?” Rai bertanya lagi.

“19 tahun." Emma meringkuk tepat di depan kepala ranjang.

Rai mendengus kesal. Bagaimana bisa wanita itu memberinya gadis yang baru berusia 19 tahun? Masih kecil. Yang diinginkannya adalah seorang gadis minimal berusia 20 tahun.

“Kamu masih suci?”

DEG!

Seketika Emma merasa sesak, rasa takutnya mulai memuncak tatkala Rai menanyakan perihal kesuciannya. Emma mengangguk, bibirnya tak mampu mengucapkan kata-kata lagi.

Melihat anggukan gadis cantik itu membuat Rai tersenyum simpul, setidaknya hanya usia yang tidak sesuai dengan harapannya. Kalau saja Emma sudah tidak suci lagi, pasti Rai akan segera mengusirnya keluar dari rumah ini. Rai tidak mau memberikan hal pertamanya itu kepada wanita bekas laki-laki lain.

Dia melangkah ke arah Emma sembari tangannya sibuk melonggarkan dasi yang melingkar di kerah kemeja abu-abu polosnya. Rai semakin mendekat. Membuat Emma semakin gemetaran dan ketakutan.

“Tuan, tolong jangan sentuh saya.” Emma tak memiliki pilihan lain selain memohon.

Rai terkekeh. “Kamu tidak punya pilihan selain menurutiku.” Kemudian dia mulai merangkak di atas ranjang dan mendekati Emma.

Emma tak bisa mundur lagi. Tubuhnya semakin gemetar dan berkeringat dingin. Apalagi saat Rai mengunci tubuhnya.

Tangan kanan Rai bertumpu pada kepala ranjang, sedangkan tangan kirinya sibuk mengusap kepala Emma dengan lembut.

Emma berusaha memberontak saat Rai menguncinya dengan pelukan yang begitu erat. Tapi, percuma saja, lagi-lagi tenaganya tak mampu mengalahkan laki-laki kasar itu. Di sisi lain, Rai tengah asyik melancarkan aksinya. Dia membuka ritsleting dress yang dipakai Emma, lalu dengan kasar dia merobeknya. Mini dress itu terjatuh ke lantai.

Emma menyilangkan tangannya di dada. Hanya suara tangisan yang keluar dari bibir gadis itu. Rai melepas pelukannya. Sejenak dia menikmati pemandangan indah di hadapannya. Jari-jari Rai memegang dagu Emma, perlahan mengangkatnya sampai terlihat dengan jelas wajah cantik gadis yang akan segera menjadi miliknya malam ini.

“Mulai malam ini, kamu akan menjadi milikku, Emma.”

Rai tersenyum simpul. Akhirnya setelah malam ini berakhir, dia tidak akan diejek lagi oleh teman-temannya. Tempo hari, teman-temannya memberi tahu dia jika ada seorang gadis baru yang seksi dan agresif di rumah tempat para wanita bayaran itu, tapi mereka tahu jika gadis itu sangat sulit untuk didapatkan. Dan teman-temannya menggodanya jika dia tidak bisa mendapatkan gadis itu.

Dalam hatinya, Rai pun kesal dan merasa dianggap remeh oleh teman-temannya. Dia pun dengan penuh percaya diri bertaruh pada teman-temannya jika dia mampu mendapatkan gadis itu bagaimanapun caranya. Pada akhirnya, dia menyuruh asistenya untuk mencari informasi tentang gadis itu. Dan karena itulah, Emma sekarang berada di hadapan Rai.

Saat ini, Emma tak bisa melakukan apa-apa, melawan pun percuma karena dia pasti tidak akan menang. Dia hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Rai padanya. Gadis itu memejamkan mata sambil sesengggukan saat Rai mulai mendekatkan wajahnya. Bibir mereka pun semakin dekat. Rai merasa begitu bangga, menyambut kemenangan yang sebentar lagi akan dia dapatkan.

Bersambung ....

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin