My Introvert Presdir One Night Stand

One Night Stand

Hari ini malam terakhir Elrick di Jakarta. Miliarder blasteran Belanda-Indonesia itu menghabiskan malamnya di sebuah club ekspatriat, hanya CEO dari perusahaan besar lah yang bisa menjadi member club eksklusif ini, baik pria maupun wanita. Dan hanya member tertentu yang di perkenankan membawa satu saja non member untuk mendampinginya.

Syarat memasuki club ini pun harus mengenakan topeng setengah wajah, dan anggotanya bebas melakukan apa saja. Topeng itu menutupi identitas mereka, dan tentu saja data mereka juga aman di tangan pengurus club.

Elrick sendiri sudah menjadi member di club ini sejak tiga tahun yang lalu, dan ia selalu menyempatkan diri datang ke club ini setiap kali berkunjung ke rumah Omanya, sekaligus mendatangi kantor cabangnya di Jakarta.

"Tuan, Mr. Colin berhalangan hadir malam ini, tapi ia janji akan mendatangi anda ke Amsterdam," seru Jack, asisten pribadi sekaligus kaki tangan Elrick.

"Kau percaya dengan omong kosong pria tua itu? Saya berani menjamin dia tidak akan menampakkan batang hidungnya di Amsterdam. Segera akuisisi perusahaannya, saya sudah memberinya tenggang waktu yang lama, dan pria tua itu tidak memanfaatkannya dengan baik," tegas Elrick sambil memutar-mutar gelas winennya sebelum menyesapnya, dan Jack mengangguk.

"Baik, Tuan."

"Ya sudah, saya mau kembali lagi ke kamar. Kau urus pembayarannya dan saya mau istirahat jadi jangan ganggu saya."

Setelah mengatakan itu, dengan santai Elrick melangkahkan kakinya ke arah private lift, yang akan membawanya ke penthousenya di lantai teratas gedung ini. Ia mengabaikan para wanita yang menggoda dan menatap penuh minat padanya di sepanjang jalan menuju lift.

Elrick meletakkan telapak tangannya di sensor lift, pintu lift pun terbuka dan ika melangkah masuk ke dalamnya.

Tapi saat pintu lift nyaris tertutup, tangan seseorang menahannya hingga pintu itu kembali terbuka, dan seorang wanita muda, dengan langkah gontai ikut masuk ke dalam private liftnya, sambil dengan panik jemarinya terus menekan tombol close hingga pintu lift tertutup lagi.

Elrick bersandar pada dinding lift, sambil melihat wanita itu yang mulai menghela nafas lega, kejadiannya begitu cepat hingga Elrick tidak sempat mencegah wanita itu untuk ikut masuk bersamanya.

Sambil bersedekap dan menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi, Elrick melihat wanita itu secara menyeluruh, wanita itu mengenakan mini dress hitam seatas lutut, dengan model kerah sabrina, topengnya sendiri tidak mampu menutupi kecantikan alami wanita itu. Sementara rambut dark brown panjangnya dibiarkan tergerai indah, menutupi sebagian bahunya yang terlihat putih mulus, semakin menambah anggun penampilannya.

"Apa kau juga pemilik salah satu penthouse, Sayang?" tanya Elrick tapi wanita itu menggeleng.

"Tidak, tolong biarkan saya ikut ke atas dulu, ada yang berniat menjebak saya. Saya, Ohh!" wanita itu mengerang pelan dan langsung memeluk dirinya sendiri.

"ada apa denganmu?" tanya Elrick lagi sambil melangkah maju mendekati wanita itu, dan menyentuh bahunya yang terbuka.

Wanita itu kembali mengerang saat telapak tangan Elrick menyentuh kulitnya. Layaknya magnet, wanita itu langsung tertarik ke arahnya lalu memeluk dan berusaha menciumnya.

Elrick berhasil menghindar dan mendorong wanita itu hingga jatuh terduduk, mini dressnya tersingkap hingga memperlihatkan lebih banyak kulit mulusnya.

"Aww!!" pekik wanita itu.

"Apa tujuan kau kesini sama dengan wanita lainnya? Menginginkan anak dari pria asing yang mapan tanpa ikatan pernikahan? Maaf saya bukan pria yang kau maksud!" geram Elrick. Meski begitu matanya tidak bisa beralih dari wanita itu, seolah-olah sesuatu telah menguncinya.

"Tolong! Panas. Aku merasa panas, tolong bantu aku," rintih wanita itu sambil menekuk dan memeluk kedua lututnya.

Elrick mengerti apa yang tengah dialami oleh wanita itu saat ini, "Ya Tuhan! Apa ada yang memberimu obat perangsang?" tanyanya.

"Panas, tolong aku," hanya kata itu yang keluar dari mulut wanita itu.

Sejurus kemudian pintu lift terbuka, tidak mau terlibat masalah di negara lain, Elrick bergegas keluar melewati wanita itu, dan langsung mengumpat pelan saat membayangkan wanita malang itu bisa saja di gilir di bawah sana kalau ia tidak menolongnya.

Ia memang bukan pria suci, tapi lebih baik wanita itu melewati malam ini bersama dengannya, alih-alih dengan para pria hidung belang di bawah sana. Dan ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak mau melepaskan wanita ini begitu saja.

Sambil menggerutu kesal, Elrick membopong wanita itu di lengannya, lalu membawanya masuk ke Penthousenya. Wanita itu terus saja menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Elrick, dan erangan protes keluar dari mulutnya saat Elrick menurunkannya.

"Jangan pergi, kamu harus membantuku, aku sedang sekarat," pinta Aliana sambil menahan tangan Elrick.

"Aku mau mengambilkanmu minum, tenggorokanmu pasti kering," ujar Elrick sambil menepis tangan wanita itu, dan bergegas ke area dapur lalu menuang segelas air dingin untuk wanita itu.

"Apa yang kau lakukan? kenapa membuka pakaianmu?" tanya Elrick saat kembali ke ruang tamu dan melihat wanita itu sudah terlihat polos.

"Aku tidak tahu, semua di luar kendaliku. Tolong selamatkan aku dari neraka ini. Aku sudah tidak tahan lagi, tolong bantu aku..."

"Minum ini!" seru Elrick dengan suara serak sambil mengulurkan gelas berisi air dingin. Wanita itu langsung meneguknya hingga habis, dan meyerahkan kembali gelas kosong itu ke Elrick.

"Apa kau tahu hanya ada satu cara untuk membantumu dari siksaan itu?"

"Cara apapun akan aku lakukan, selama aku bisa bebas dari rasa panas ini. Cepat bantu aku."

Elrick menaikkan sebelah alisnya, "Kau sedang memerintah atau sedang minta tolong?" tanyanya.

"Cepat lakukan apa yang harus kamu lakukan, aku sudah tidak tahan!" teriak wanita itu.

"Kalau itu maumu!" seru Elrick sebelum membopong lagi wanita itu dan membawanya ke kamarnya, lalu merebahkannya di atas tempat tidur.

"Kenapa kau membawaku ke kamar? Apa kau mau melecehkanku?!" tanya wanita itu dengan panik.

"Inilah satu-satunya cara untuk meringankan penderitaanmu itu, Saayang. Aku berada di dalam dirimu," jawab Elrick sambil tersenyum tipis dan menanggalkan semua pakaiannya, wanita itu menjerit sambil menutup wajahnya.

"Kau bertingkah seperti seorang gadis baik-baik saja, tidak ada gadis baik-baik yang akan memasuki club ini!" cibir Elrick sambil mendekati wanita itu.

"Apa tidak ada cara lain lagi?" tanya wanita itu sambil menarik selimut hingga menutupi badannya, tapi Elrick menyibak dan membuang selimut itu ke lantai.

"Ini satu-satunya cara, Sayang!"

"Kau!!" geram wanita itu sambil melotot ke arah Elrick.

Elric membuka laci meja nakasnya, lalu mengumpat pelan saat tidak dapat menemukan apa yang ia cari.

'Sial! Aku belum pernah berhubungan tanpa alat pelindung' rutuknya dalam hati.

Wanita itu menggeleng kuat, "Tidak, itu tidak boleh."

Elrick mengangkat bahunya, "Terserahmu, kalau begitu aku tidak bisa membantumu, biar kita sama-sama menderita."

Wanita itu dengan keras kepala menolak permintaan Elrick, dan menahan gairahnya sendiri sekuat tenaganya, meskipun pada akhirnya wanita itu menyerah juga.

"Cepat lakukan sialan, apapun itu selama bisa membebaskanku!" perintahnya.

'Wanita ini luar biasa, mampu meminta tolong dalam bentuk perintah' gumam Elrick dalam hati sambil memposisikan diri di atas wanita itu.

Elrick mencium bibir wanita itu, awalnya wanita itu memekik kaget, tapi lama-kelamaan bisa menikmatinya juga, lalu membalas ciuman Elrick itu, hingga erangan pelan keluar dari tenggorokannya, dan pinggulnya terus terangkat mendesak ke arah Elrick.

Tidak ingin membuang waktu lagi, Elrick dengan cepat menyatukan tubuh mereka, "Arrrggghhhh!!!" jerit wanita itu.

Terlambat....

Dengan kedua siku yang menopang badannya, Elrick mengangkat sedikit badannya, "Ya Tuhan! Ini pertama kalinya untukmu? Kenapa kau bisa berada di club itu?" tanyanya dengan nada tidak percaya.

'Siapa yang dengan tega telah menjebak wanita ini?' lanjutnya dalam hati.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin