100 Days of Marriage Deal Dimana Perempuan Itu?

Dimana Perempuan Itu?

Rainer melompat dari kasurnya mendapati berita mengejutkan itu dari kekasihnya sendiri. Ia berusaha menelepon gadis itu, tetapi panggilannya tidak terhubung. Lagi ia mencoba. Begitu pula ketika ia membalas chat yang berujung dengan tanda ceklis satu saja. Nomor wanita itu tidak bisa dihubungi. Apa Sera sedang membuat prank untuknya?

Otak dan hatinya berusaha tenang. Pria tinggi itu berjalan mondar-mandir di samping kasurnya sembari menggigit ujung ponselnya. Rainer memutuskan untuk keluar kamarnya, berlari kecil menuruni tangga, ia mencari keberadaan ayahnya.

“Dad! Dad!” panggil Rainer panik mencari ayahnya di lantai dasar rumah.

“Daddy masih di masjid, kenapa sih panik gitu?” tanya Ajeng, ibunda Rainer.

“HP daddy dimana, Mom?” tanya Rainer.

“Mau apa kamu?”

“Aku mau tanya nomor Om Syaiful, atau Mommy punya nomor Tante Sally gak?” Pria berusia 26 tahun benar-benar terlihat gusar.

“Kamu belum save nomor calon mertua kamu, Rain?” tanya Ajeng sambil berlalu menuju kamarnya. Rainer mengikuti ibunya.

“Belum, Mom. Lagian aku kan jarang ngobrol sama mereka.”

Ajeng mencari kontak di ponselnya. Lalu memperlihatkan deretan dua belas angka dengan kontak bernama Sally. Rainer langsung menyambar ponsel ibunya, dan mengetikkan nomor itu di ponselnya.

Cemas. Ia menempelkan ponselnya di telinga. Ajeng masih memperhatikan lekat pada anak keduanya itu, belum mengerti apa yang terjadi.

“Monyet!” umpat Rainer.

“Heh! Ngomong yang bener, Rain!”

“Sorry, Mom!” Rainer mengusap wajahnya berkali-kali. Jantungnya masih berada pada posisi abnormal, karena terus berpacu cepat. Lelaki itu terus merutuki apa yang terjadi.

“Kenapa sih?” Ajeng benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi pada anaknya.

“Sera, Mom!”

Rainer menunjukkan pesan terakhir Sera di aplikasi whatsappnya. Hal itu berhasil membuat wanita berusia 53 tahun itu melongo tidak percaya.

“Is this serious?!” tanya Ajeng. Tubuhnya menegang. “Bahkan hari pernikahan kamu tinggal 10 hari lagi.”

“I don’t know, Mom. Tapi kenapa nomor mereka gak aktif semua coba?!”

Ajeng bergegas mencari ponsel suaminya. Ia hafal kode buka kunci di ponsel canggih itu. Dengan lihai, ia mencari kontak Syaiful, ayah Sera. Untung saja, Ferdian, ayah Rain, masih menyimpan kontak nomor Syaiful. Wajar, karena keduanya adalah teman dekat saat dulu di kampus.

Ajeng menekan tombol ‘call’. Rasa was-was menggelayutinya. Rainer mencoba membaca raut wajah ibunya yang cemas, apakah sambungan itu terhubung atau tidak.

“Damn! Gak aktif juga, dong!” ucap Ajeng ikut kesal.

“So, what should I do, Mom?!” tanya Rainer panik.

“Pergi ke rumah mereka. Om Syaiful sama Tante Sally pasti masih ada di Bandung,” seru Ajeng memberi ide segar pada anaknya yang tengah dilanda kecemasan.

“Ya ampun, kenapa gak kepikiran?! Ya udah aku berangkat sekarang!”

“Good luck, sweetheart!” Ajeng mengelus lengan putra keduanya itu.

Rainer berlari menuju kamarnya lagi untuk mengambil jaket dan kunci motor miliknya. Hatinya gusar, dan pikirannya berlalu kemana-mana. Mengapa Sera tega sekali melakukan ini padanya? Padahal ia pikir Sera telah cinta mati dengannya sejak dulu.

Ajeng mewanti-wanti anaknya untuk tetap berhati-hati di jalanan. Rainer pergi dari rumah menuju kediaman orangtua Sera yang berjarak cukup dekat. Tidak terlalu dekat sebenarnya, hanya saja malam ini setidaknya ia tidak akan terjebak kemacetan. Jadi, ia bisa memacu laju motornya lebih kencang.

Jalan raya yang remang dan sepi juga basah, karena sebelumnya turun hujan membuat motor matik hitam itu melaju kencang. Rainer tetap waspada meski jalanan lengang. Bisa saja jalanan licin, atau ada begal tiba-tiba. Ia harus mawas diri.

Motornya dibelokkan ke dalam sebuah komplek perumahan sederhana. Sera, memang bukan berasal dari keluarga kaya seperti dirinya. Ayahnya seorang pengusaha, tetapi bukan pengusaha besar, seperti keluarga besar Rainer. Hanya saja, ayah Sera adalah teman dekat ayah Rainer saat kuliah dulu. Seharusnya, kepergian Sera tidak pernah terjadi. Bagaimana dengan silaturahmi mereka nanti? Rainer dibuat geram gara-gara masalah ini.

Pria itu menyusuri jalanan berpaving block yang penuh dengan genangan air, karena paving block yang sudah banyak terlepas. Hingga ia tiba di sebuah rumah bergaya sedikit mediterania.

Rumah berwarna gold dan coklat itu terlihat gelap. Tidak ada satupun lampu menyala. Tidak dengan lampu luar, apalagi lampu dalam. Jantung Rainer semakin tidak karuan saja bunyi detaknya. Keringat dingin mengucur di balik ketiaknya, ia bisa merasakannya.

“Sial! Sera! Dimana lo?!” umpatnya pelan.

Pria itu turun dari motornya, berharap di dalam nanti ia mendapat kejutan ulang tahun atau apa lah, meskipun ia tidak berulang tahun hari ini atau di bulan ini. Rainer mencoba membuka pagar, yang ternyata tidak terkunci, sehingga ia bisa sedikit mengintip jendela.

Gelap dan pekat. Ia tidak bisa melihat apa-apa di dalam sana karena tidak ada cahaya sama sekali. Tangan kekar kurus itu menggedor pintu kayu yang sudah lapuk lapisan catnya.

“Om Ipul! Tante Sally! Kalian ada di dalam?!” seru Rainer.

Kali ini gedoran lebih kencang ia daratkan.

“Om! Buka, Om!” Rainer mulai frustrasi.

“Om! Jelasin semuanya Om!”

Gedoran itu mungkin akan membuat sedikit keributan bagi tetangga sekitar. Rainer tidak peduli. Ia tetap menggedor dan meneriakkan nama calon mertuanya itu.

Benar saja, tetangga sebelah kiri rumah itu keluar untuk mengecek keadaan. Seorang bapak tua berjanggut dan bersarung, berdiri di depan pagar rumah orangtua Sera.

“Kamu siapa?” tanya bapak itu, terlihat menyeramkan dengan perut besarnya yang seperti akan meletus. Rainer menghentikan gedorannya.

“Saya kerabat Pak Syaiful, Pak!” jawab Rainer. Tentu saja, ia tidak ingin membongkar identitasnya sebagai calon menantu Syaiful. Ia akan menjaga itu sebelum semuanya jelas.

“Bapak tahu kemana Bapak Syaiful dan keluarganya?” tanya Rainer berharap mendapat sedikit saja petunjuk keberadaan mereka.

“Pak Syaiful udah pindah dua hari lalu. Tapi gak bilang mau pindah kemana. Cuma denger-denger, katanya karena dikejar debt collector. Mungkin itu yang bikin dia gak bilang mau pindah kemana,” ujar bapak berjanggut, berhasil membuat mata kecil Rainer membesar.

“Ya Allah.” Rainer benar-benar tidak percaya. Apa mungkin berita itu benar? Lalu mengapa Om Syaiful tidak cerita atau meminta bantuan kepada orang tua Rainer, yang notabene adalah sahabatnya? Pria muda itu benar-benar tidak habis pikir. Ia akan menyelidiki keberadaan Sera dan keluarganya sebelum tanggal pernikahan mereka dilangsungkan. Masih ada 10 hari lagi, setidaknya masih ada kesempatan.

“Terima kasih banyak, Pak,” ucap Rainer dan akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.

Rainer kembali menuju rumahnya dengan hati kacau, kalut, dan pikiran tak menentu. Tega sekali Sera meninggalkannya. Padahal dulu ketika mereka masih belum LDR, cerita pernikahan selalu diselipkan dalam setiap obrolan. Memang, kadang Rainer merasa heran dengan respon Sera yang datar ketika membicarakan permasalahan ini. Apa gadis itu tidak benar-benar serius menjalani hubungan dengannya? Pria itu menggeram keras walau angin meredam suaranya di perjalanan.

***

Next yaa

Jangan lupa subscribe dengan klik masukan ke rak

Jangan lupa tulis review kamu dan kirim bintang untuk dukung aku

Thank you ^_^

Baca juga "After The Second Marriage Life" (tamat)

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin