MY HUSBAND NOT FOR SALE! Takdir

Takdir

"Kamu selalu beruntung Serena, sejak lahir keberuntungan selalu berpihak padamu."

Serena tersentak, wajah cantiknya kini menatap Risa serius.

Apakah sahabatnya itu terlalu lelah? mungkin karna hampir seharian menemani dirinya dan Brian mengurus baju pengantin hingga bicara nya melantur tidak jelas.

"Apa maksudmu Risa?" Serena mengulur lagi minuman agar lelah Risa hilang dengan istirahat sejenak di cafe ini.

Risa menghela nafas.

"Kamu terlahir cantik dan dari keluarga berada, dan setelah dewasa pun punya calon suami yang tampan dan tajir seperti Brian, sempurna bukan?" ada nada iri yang terdengar dari suara Risa.

"Lalu bagaimana dengan mu? kamu punya cowok sebaik Damar yang tampan tapi setia dan sangat mencintai kamu." kata Serena lembut.

"Dan juga kere!" potong Risa mendengus kesal, tapi matanya takjub melirik Brian yang agak jauh dari mereka dan nampaknya sedang serius mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Damar.

Risa mendesah sambil membatin.

Andai Damar bukan seorang pegawai biasa, tapi bos setajir dan se sukses Brian.

"Kamu harusnya bersyukur Risa, semua yang di tuliskan takdir adalah hal terbaik yang kita butuhkan, bukan hal terbanyak yang kita inginkan." kata Serena ikut memusatkan perhatian nya pada Brian sambil tersenyum.

Risa menatap Serena tak percaya.

"Sejak kapan Serena yang manja punya kata kata bijaksana?" tanya Risa heran.

"Sejak mendengarnya dari mama." jawab Serena tertawa.

Risa jadi ikut tertawa.

"Sayang ...."

Serena menoleh, ia sangat hafal suara Brian.

"Aku harus kembali ke kantor, kamu bisa kalau harus pulang sama Damar dan Risa saja?" tanya Brian hati hati.

"Harus sekarang kah?" tanya Serena manja..

Brian merangkul bahu Serena lembut.

"Maaf sayang, sebentar lagi kita menikah, jadi aku harus buru semua, toh urusan baju pengantin nya sudah beres." kata Brian, tangan nya kini membelai lembut rambut Serena.

"Ya sudah, kamu pergi saja lebih dulu, selesaikan semuanya dengan cepat oke?" Serena memberikan senyum termanisnya untuk pria tercintanya itu.

"Terima kasih sayang, aku tenang sekarang, maaf ya." Brian mengecup lembut kening Serena.

"Hedehhh yang pengen nikah ... mesra nya di umbar terus." gerutu Risa, ia benar benar iri.

Serena dan Brian tertawa.

"Oh ya sayang, Damar punya saran yang bagus tuh buat nikahan kita nanti, kalau kamu suka, ajukan langsung ke WO nya ya?" Brian melepas rangkulan nya lalu menoleh ke arah Damar.

"Makasih Damar, titip ratuku ya ...." kata Brian

melambai setelah Damar mengangguk.

"Senangnya punya calon suami sekeren Brian." kata Risa setelah sosok Brian menghilang.

Serena tersentak, cepat cepat ia melirik Damar yang berdiri kaku di belakang Risa dengan wajah terlihat sedih.

"Risa, jaga ucapan mu." Serena merasa tidak enak hati pada Damar.

"Lho, memang kenapa?" tanya Risa cuek.

"Semua manusia itu ada kelebihan dan kekurangan nya." Serena mengingatkan.

"Sayangnya semua kelebihan diambil Brian, dan meninggalkan kekurangan pada Damar dan membuat ku kebagian sial nya." keluh Risa melirik Damar tajam.

"Risa!" tegur Serena, ia tak ingin mendebat Risa soal Damar langsung di depan orang nya.

"Apa?" protes Risa tak senang.

"Ya sudah, sekarang kita pulang saja yuk ...." ajak Serena lembut, meski ia terbiasa melihat perlakuan semena mena Risa pada Damar, tetap saja ia merasa risih.

"Ya, aku juga ingin cepat cepat pulang, capek." kata Risa sambil tersenyum.

Ia bangkit dengan cepat dan melenggang santai sambil membentak Damar.

"Damar! bawa cepat barang barang nya." lalu Risa mengulurkan tangan mengajak Serena pergi.

Serena menghela nafas, ia menatap iba pada Damar yang buru buru membawakan barang mereka dengan patuh.

"Maaf ...." bisik nya membuat Damar tersenyum.

"Tidak apa ... Risa hanya sedang kesal karna tidak jadi berangkat liburan." Damar terlihat sedih.

"Tentu saja batal, aku punya kekasih semiskin kamu, sekedar ke Bali saja tidak sanggup membiayai, coba aku punya pacar setajir Brian, aku pasti setiap minggu bisa jalan jalan ke Singapore." rajuk Risa kesal.

Mata indah Serena langsung membulat.

"Risa, enggak gitu juga kali." ucap nya sambil menggeleng tak habis pikir.

Damar tidak menjawab, seperti biasa ia hanya melangkah diam diam menjauh.

***

Kini semua persiapan sudah siap, pernikahan sudah di depan mata, bahkan beberapa acara adat sudah mulai di laksanakan.

Hanya dua hari lagi acara puncak, kebahagiaan itu jelas terpancar di wajah Brian, ia semakin terlihat tampan.

Wajahnya akan selalu tersenyum setiap membayangkan sebentar lagi ia akan memiliki seutuh nya gadis yang empat tahun belakangan ini telah menjadi kekasihnya.

"Serena ...." desahnya untuk kesekian kali dengan dada membuncah bahagia.

"Aku tau dia ngangenin." suara Damar yang duduk disampingnya, menarik nya kembali dari dunia hayalnya, saat ini mereka lagi berdua di kamar Brian yang hanya bisa menertawakan dirinya sendiri yang aneh.

"Tapi harus di tahan juga, cuma tinggal dua hari, kamu langsung memilikinya utuh." sambung Damar sambil tersenyum geli.

"Kamu enggak ingin cepat cepat menikahi Risa?" tanya Brian.

"Tentu saja ingin, sayangnya Risa menolak, katanya kondisi dompetku saat ini, tidak bisa meyakinkan nya untuk rela hidup dan mati untukku." jawab Damar kecewa.

Brian tertawa.

"Sabar bro! tapi sebenarnya apa yang membuatmu begitu bertekuk kutut padanya? padahal kamu punya fisik yang di gilai para wanita."

Damar terkekeh pelan.

"Karna aku sudah memilih nya dan memutuskan mencintainya, tentu aku harus tanggung jawab pada keputusan ku."

"Dan membiarkan dia menghinamu terus?" tanya Brian tak percaya.

"Aku di jodohkan orang tuaku dengan gadis tidak kukenal, aku menolak hingga terusir dari keluarga, saat luntang lantung itulah aku bertemu Risa." Damar menghela napas.

"Dia membiayai hidupku, dan memilihku jadi pacarnya, bagaimana aku bisa bersikap jahat pada gadis itu?" tanya Damar.

"Ku rasa kita berdua sudah menjadi budak cinta para gadis itu." kata Brian membuat mereka terbahak tak karuan.

Suara ponsel mengalihkan perhatian Brian.

"Ponsel mu?" tanya Damar.

Brian mengangguk.

"Tapi lagi di sita, karna kemarin aku kepergok diam diam menghubungi Serena." kekeh Brian.

Damar ingin menjawab, tapi mulutnya terbungkam saat papa Brian masuk dengan wajah panik.

"Hei nak! cargo pengiriman kemarin dari perusahaan kita mengalami musibah di perairan Singapore." seorang pria paruh baya menerobos masuk dengan wajah panik, tangan nya mengangsurkan telpon ke arah Brian.

"Maksud papa?" Brian mengambil cepat ponsel dari tangan papa nya dan langsung berbicara serius.

"Kita harus bagaimana pa?" keluh Brian menutup ponselnya kebingungan.

"Kita harus segera kesana." kata papa Brian tegas.

"Tapi pa ... pernikahanku lusa pa." wajah Brian mulai pucat.

"Tapi nak, kalau usahamu hancur dan bangkrut, bagaimana kamu bisa menafkahinya?" sela si papa keras

"Lagi pula masih ada waktu dua hari, kita kesana lalu selesaikan secepatnya dan kembali untuk pernikahan mu."

"Aku telfon Serena dulu pa." kata Brian akhirnya.

"Cepatlah, papa tunggu di depan." si papa langsung keluar dengan tergesa.

Brian menghubungi Serena secepatnya dan menjelaskan nya dengan singkat.

Damar bisa mendengar perdebatan kecil mereka, lalu berakhir dengan kata kata ampuh Brian meyakinkan Serena.

Kemudian kepala Brian berpaling pada Damar.

"Damar tolong aku ...."pinta Brian memelas.

Damar diam menunggu Brian melanjutkan kata kata nya.

Tolong bantu Serena meyakinkan orang tuanya kalau aku akan kembali sebelum acara di mulai." kata Brian panik.

Damar mendekati Brian dan menepuk bahu nya pelan.

"Aku usahakan, pergilah dan cepatlah kembali." ucapnya berusaha menenangkan.

Andai Brian tau kalau keputusan itu justru akan di sesali nya seumur hidup.

Dan andai Brian bisa membaca ramalan nasib nya, pasti Brian akan tinggal, pasti Brian memilih menunda keberangkatan nya.

Dan Brian takkan pernah meninggalkan Serena sendirian di pelaminan.

BERSAMBUNG

Yuk lanjut

Dukung Aku Ya ....

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin