Dirty Secret Pria Dingin Itu Bernama Chen

Pria Dingin Itu Bernama Chen

“Aku dibawa ke vila untuk dijual ya?” tanya Sana tanpa memikirkan apa yang dia katakan.

“Iya,” jawab Rangga dengan santai.

“Hah? Aku tanya bercanda lho,” ujar Sana sambil menatap pacarnya dengan pandangan tidak percaya.

Sana masih sempat tertawa dengan jawaban Rangga sebelum akhirnya pacarnya itu kembali menjawab.

“Tapi aku jawab dengan serius,” kata Rangga masih dengan wajah santai.

Mereka berhenti di depan sebuah rumah bertingkat dua dengan arsitektur yang terlihat elegan.

Komplek perumahan itu sendiri terlihat sangat mewah dan tenang karena tidak banyak mobil yang lalu lalang.

"Ayo turun." Rangga membuka pintu mobil dan bergegas keluar.

Pada hari-hari biasanya, Rangga akan berjalan ke pintu penumpang dengan tergesa dan membukakan pintu untuk kekasihnya.

Namun saat itu, dia hanya berdiri mematung menunggu Sana turun dan mendekatinya.

"Ingat, jangan ngomong macam-macam kalau nggak aku suruh ngomong," ucapnya kemudian melangkah masuk ke dalam gerbang.

“Kamu nggak serius kan?” tanya Sana yang akhirnya turun dari mobil dan menatap kekasihnya dengan tatapan masih tidak mengerti.

“Jangan banyak bicara, ikuti aja apa yang aku suruh.”

Rangga yang berjalan tanpa menggandeng tangan Sana juga menjadi salah satu hal yang membuat perasaan Sana semakin tidak nyaman.

"Silakan masuk," kata seorang pria berkemeja hitam yang pas di badan. Ototnya tampak menonjol di balik kemeja yang dia pakai.

"Sudah ditunggu di dalam." Pria itu melanjutkan.

Keduanya dibawa masuk ke sebuah ruangan di lantai dua di mana seorang pria dengan tubuh tinggi berdiri di depan jendela menatap ke kejauhan.

"Selamat malam." Rangga menyapa pria itu.

Sebuah dokumen di atas meja dapat ditangkap langsung oleh mata Sana yang jeli.

Tertulis nama Chandra Kirana Adiluhung pada bagian depan dokumen di atas meja tersebut. Sebuah nama yang terlihat sangat familier bagi Sana.

Meskipun Sana tidak bisa mengingat di mana dia pernah mendengar atau melihat nama itu.

"Hai...," sapa pria itu.

Senyuman terukir di wajahnya yang, di luar dugaan Sana, sangat tampan.

Meskipun wajah tampan itu menunjukkan senyuman, ada sesuatu yang membuat darah Sana berdesir takut.

"Ini?" Pria itu menunjuk ke arah Sana. Rangga mengangguk.

"Ini Sana, yang tempo hari saya ceritakan," jawab Rangga sambil membalas senyuman dingin pria itu.

"Hai, saya Chen." Pria itu menyebutkan namanya.

"Sana," jawab Sana memperkenalkan dirinya dengan suara yang pelan dan hampir tidak terdengar.

"Kamu pasti pernah dengar nama beliau sebelumnya," kata Rangga pada kekasihnya. "Chandra Kirana Adiluhung."

Pria tampan dengan wajah penuh misteri itu sebenarnya tampak masih muda. Mungkin usianya sama dengan Rangga yang saat itu baru memasuki usia 28 tahun.

"Oke, Sana. Kamu layani beliau dengan baik ya," kata Rangga tiba-tiba.

Sana langsung terlihat bingung. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya.

“Aku masih nggak ngerti apa maksud dari semua ini?" tanya Sana yang langsung memegangi lengan Rangga yang sudah siap melangkah pergi.

"Kamu pengen jadi penulis terkenal kan? Diam di sini, lakukan apa yang beliau minta," kata Rangga dengan sangat dingin.

Dia melepaskan tangan Sana dan melangkah meninggalkan kekasihnya, bersama dengan pria asing yang hanya dengan berdiri di dekatnya saja sudah membuat bulu kuduk Sana berdiri.

"Tunggu!" Sana berniat ingin mengikuti kekasihnya pergi. Tapi belum sempat dia melangkah, tangan kuat sudah terlebih dahulu menahannya.

"S-saya, nggak tahu. Ini mungkin salah paham, saya nggak ngerti," kata Sana dengan tergagap.

Dia buru-buru berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan pria yang menyebut dirinya dengan nama Chen itu.

Bahkan namanya yang berubah dari Chandra Kirana menjadi Chen saja sudah cukup membuat Sana tidak mengerti, kali ini ditambah dengan sikap pacarnya yang tiba-tiba meninggalkannya bersama pria asing.

“Nggak ada yang salah. Memang tempat kamu sekarang di sini,” kata pria bernama Chen yang masih memegangi tangan Sana dengan kuat.

“Maksudnya?” Sana kembali bertanya.

“Kamu paham tentang peraturan jual-beli kan?” tanya Chen sambil tersenyum.

Sana memandang pria itu sambil mengernyit, tidak mengerti dengan apa yang baru saja dia dengar.

Tidak mengerti dengan semua yang dialaminya dalam waktu sangat cepat ini.

Sana adalah mahasiswa jurusan sastra yang sudah berpacaran dengan Rangga, yang juga merupakan seniornya saat dia baru masuk kuliah.

Keinginannya untuk menjadi penulis yang juga merupakan hobinya lah yang membuat Sana setuju untuk ikut dengan pacarnya itu, saat dia mengajaknya pergi menemui Chen.

Pertemuan yang membuat semuanya berubah dalam waktu singkat.

“Saya nggak tahu apa yang dikatakan Rangga dan perjanjian apa yang dia buat, tapi saya nggak akan setuju dengan semuanya.” Sana langsunng berdiri dari duduknya.

Chen menarik tangan Sana dan menyuruhnya kembali duduk.

“Saya sudah membeli sesuatu dan saya nggak pernah berniat untuk mengembalikan barang yang sudah saya beli.”

Sana memiringkan kepalanya, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh pria itu.

“Maaf, tapi apa yang sudah Anda beli?” tanya Sana. “Dan kenapa saya harus dilibatkan?” tambahnya masih dengan wajah bingung.

Meskipun ada rasa takut setiap kali bertatapan mata dengan Chen, kepala Sana lebih dipenuhi dengan rasa penasaran kenapa nasibnya bisa berubah dalam waktu sekedip mata.

Tidak terjadi apa pun dengan hubungan percintaannya.

Hidupnya memang tidak penuh bunga warna-warni, tapi semuanya masih berjalan dengan cukup baik.

Keluarganya memang bukan keluarga yang bisa menghidupi semua kebutuhannya, tapi Sana masih bisa hidup walaupun masih harus ikut berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.

"Jangan panik, we can have fun tonight," ucap Chen dengan senyuman yang semakin membuat lutut Sana terasa lemas dsn akhirnya membiarkan semuanya terjadi tanpa perlawanan.

“Jangan macam-macam ya,” ancam Sana.

“Nggak ada yang macam-macam, saya hanya mencoba menggunakan hak saya,” kata Chen yang kembali menunjukkan senyumannya dan memaksa Sana duduk di sampingnya.

“Saya bisa laporkan Anda ke polisi kalau berani macam-macam ke saya,” tegur Sana dengan suara meninggi.

Chen akhirnya melepaskan tangannya dan meletakkannya di depan dada.

Dia menggelengkan sambil kembali memamerkan senyuman. Wajah Sana yang tanpa riasan tebal menarik perhatiannya. Tubuh mudanya tidak bisa pergi dari kepala Chen.

“Kayaknya kamu belum paham juga dengan situasinya.” Chen berbicara dengan nada yang membuat Sana menatapnya dengan tajam.

Sebagai orang yang terbiasa dilatih untuk menjadi orang yang berdarah dingin sejak kecil, serta terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan, melihat Sana langsung membuatnya merasa harus memiliki Sana saat itu juga.

“Kamu sudah diserahkan pada saya dan selesai. Nggak ada yang harus diperdebatkan lagi,” ujar Chen dengan tenang seperti sedang membicarakan tentang barang yang baru saja dia beli dari toko online.

“Saya yakin Anda bisa cari perempuan di mana pun dan kapan pun Anda mau, tapi itu jelas-jelas bukan saya orangnya,” kata Sana sambil berusaha tenang.

Chen menggeleng. “Bukan begitu cara kerjanya,” sanggah Chen.

“Kamu nggak bisa protes lagi. Kamu milik saya sekarang.” tambah Chen tiba-tiba mendekati Sana.

Wajah mereka hampir tidak berjarak, Sana bahkan bisa merasakan hembusan napas pria itu di wajahnya.

Bulu kuduknya terasa berdiri saat wajah Chen berada di hadapannya, ada sesuatu yang membuat nyali Sana terasa ciut ketika melihat wajah Chen sedekat itu.

“Kamu tinggal menuruti apa yang saya bilang, dan semua akan berjalan dengan baik.” Chen menyentuh pipi Sana.

Sana memberanikan diri untuk menggelengkan kepala, berusaha bertahan dengan keberaniannya melawan keinginan pria yang baru pertama kali ditemuinya tapi sudah menyatakan diri sebagai ‘pemilik’ Sana itu.

“Kamu akan dapatkan apa pun yang kamu mau kalau kamu menuruti semua yang saya minta.”

Pria itu berdiri dan menggandeng tangan Sana yang dengan terpaksa mengikuti langkah Chen. Mengikuti Chen yang membawanya ke ruangan lain di dalam villa besar itu.

“Kamu akan dapatkan semuanya malam ini.” Chen setengah berbisik, hampir tidak bisa didengar oleh Sana yang berjalan sambil beberapa kali tersandung oleh kakinya sendiri.

Chen bersikap seolah dia hanya menginginkan tubuh Sana, namun dalam hatinya ada perasaan familier yang membuatnya tidak ingin melepaskan tangan Sana.

Ada perasaan aman yang tiba-tiba menyelimuti hatinya yang keras dan dingin itu saat pertama kali melihat wajah Sana.

‘Siapa dia?; kata Chen dalam hati sambil melanjutkan perjalanan menuju kamar membawa Sana yang tertatih-tatih mengimbangi langkahnya.

Bersambung....

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin