Menantu Impian Menantu yang Tak Dianggap

Menantu yang Tak Dianggap

"Papa selamat ulang tahun," Igo mengulurkan tangan menyalami mertuanya.

"Gak usah sok akrab," hardik Nata kasar sambil menepis tangan Igo. “Jangan kira karena sudah menikahi anakku terus bisa panggil aku papa,” desis Nata saat Igo berjalan di sampingnya.

Di hari ulang tahunnya yang ke 55, Nata Susiawan membuat pesta dengan mengundang keluarga dan teman-temannya.

Igo yang baru kena PHK pusing karena tidak bisa memberikan hadiah yang layak untuk mertuanya.

Sofie, istrinya yang merupakan putri bungsu Nata berkali-kali berusaha menenangkan suaminya supaya tidak terlalu merisaukan hadiah.

"Sudah, gak usah dipikirin. Kasih saja hadiah semampunya, gak perlu dipaksain," Sofie mengusap lengan suaminya lembut.

Dibenak Igo masih terbayang jelas saat Nata menepis tangannya di depan pintu tadi.

"Sofie..." terdengar suara Nata dari ujung ruangan, "Ada Tante Yona nih."

"Iya, tunggu sebentar," Sofie memandang suaminya lalu berkata, "Ayo nemuin Tante Yona dulu," Sofie bergegas menuju arah suara panggilan papanya.

"Hai Sofie, ya ampun makin cantik aja keponakan tante ini."

Mereka berangkulan dan saling mencium pipi.

Tak sekali pun Tante Yona menyapa Igo. Bukan apa-apa, dari awal memang ia tidak suka dengan Igo yang dia anggap sebagai lelaki gak berguna.

"Igo," Tante Yona tiba-tiba menghardik Igo, "Kamu apa kegiatannya sekarang, udah ada perubahan belum?"

"Aku juga nggak tahu. Pusing mikirin dia. Gak ada produktif-produktifnya jadi orang. Ngelamar kerja ke sana ke mari tapi gak pernah ada kejelasan," sambar Nata sebelum Igo sempat menjawab pertanyaan Tante Yona.

"Hmmm..." Tante Yona manggut-manggut kemudian melanjutkan, " Itulah makanya aku bilang, cari menantu harus jelas bibit, bobot, dan bebetnya. Jangan asal tampan aja. Kalau udah kejadian begini gimana? Emangnya istri bisa dikasih makan tampang?"

"Iya. Beda banget kamu sama Daniel, Igo," cecar Nata sambil mendorong tubuh Igo.

"Lho jelas, pilihanku mana bisa salah. Mas lihat sendiri sekarang, berkat kerja keras dan ketekunannya, bisnis Daniel maju pesat. Tadi aku ketemu Treksi, ya ampun udah kayak toko perhiasan berjalan."

"Daniel memang pandai memanjakan istrinya. Coba Sofie punya suami yang kreatif kayak Daniel, pasti hidup aku makin terasa sempurna."

"Udah deh Sofie, mending kamu cerai aja sama Igo suami kamu yang gak jelas juntrungannya itu. Mumpung belum ada ekornya. Nanti kalau udah ada anak bakal makin blangsak hidup kamu," Tante Yona menarik Sofie ke dekatnya, sementara Nata mendorong Igo menjauh dari mereka.

Perlahan ruang pesta dipenuhi tamu undangan.

Setelah berhasil melepaskan diri dari Tante Yona, Sofie menghampiri suaminya yang terlihat begitu tampan dalam balutan kemeja berwarna biru, dipadu dengan celana casual berwarna krem.

Igo memiliki hidung mancung, alis tebal dan rahang kokoh yang dipertegas dengan pilihan Igo untuk memelihara bulu janggutnya. Bulu-bulu yang dipangkas rapi itu tumbuh menyambung dari dagu hingga cambang di pelipis kanan dan kirinya.

"Hei," sapa Sofie pada suaminya yang terlihat asik menyesap minuman dari gelas bertangkai.

"Udahan ngobrol sama Tante Yona?"

"Udah, nggak asik."

"Hush! Gak boleh gitu."

"Sofie..." Kembali terdengar teriakan Nata dari ujung ruangan.

"Duh, kenapa lagi sih," Sofie berjalan kembali menyeberangi ruangan dengan menggerutu.

Igo mencari kursi kosong untuk beristirahat.

Agak jauh dari tempat Igo duduk, Treksi, kakak Sofie tengah asik bergunjing dengan gerombolannya.

"Tuh lihat suami si Sofie," Treksi menunjuk ke arah Igo dengan pandangannya. Perlahan gerombolan Treksi datang menghampiri Igo.

"Igo, ngapain di sini?"

"Nemenin Sofie."

"Gak penting banget sih kamu. Perasaan kamu gak ada di daftar undangan deh, pengangguran kayak kamu mah gak layak ikut pesta papa," Treksi mengibaskan tangannya di hadapan Igo.

"Lho? Beneran ya dia pengangguran?"

"Ya beneran lah."

"Sayang ya."

"Duh amit-amit deh, jangan sampai gue punya suami pengangguran."

"Terus apa kegiatannya setiap hari?"

"Di rumah doang. Ngebabu. Ngepel, nyuci baju," Treksi melotot ke arah Igo. Seolah ingin menelan Igo bulat-bulat.

Igo merasa darahnya memanas. Diteguknya minuman dalam gelas untuk mendinginkan kepala dan bergegas menjauh.

Tamu-tamu pesta berbisik pada temannya saat melihat Igo lewat. Sebisa mungkin Igo menahan diri supaya tidak menanggapi para kerabat Sofie yang bergunjing tentang kemiskinannya.

Tanpa sengaja Igo bertemu dengan istrinya yang tengah berdiri di samping Nata.

Mengetahui Igo mendekat, obrolan seketika terhenti. Semua kepala mendongak dan memandang kepada Igo dengan tatapan 'pergi jauh-jauh dari sini'.

Merasa dirinya tidak diinginkan, Igo segera memutar badannya. Tangan Sofie terulur untuk menarik suaminya, tapi segera ditepis oleh Nata dan segera menarik putrinya menjauhi suaminya.

Igo mengeluarkan dari sakunya kado yang sudah ia persiapkan. Kotak kayu tempat tembakau, karena Nata adalah perokok. Ia menimbang-nimbang dalam hati sebelum meletakkannya bersama kado lain pada tumpukan di meja.

Sofie Susiawan yang cantik dan lincah adalah putri bungsu Nata Susiawan. Nata memiliki dua orang putri, Treksi adalah kakak Sofie.

Berbeda dengan Igo dan Sofie terseok-seok mengatur keuangan, Treksi dan Daniel adalah pasangan yang jadi favorit Nata karena bisnis Daniel tengah naik daun.

Meski sebenarnya kesuksesan bisnis Daniel adalah berkat bantuan dari Igo dan Sofie.

Sebelum bisnisnya sesukses sekarang, Daniel pernah bangkrut karena ditipu rekannya. Tak hanya bangkrut, hutangnya juga menumpuk di sana-sini.

Igo dan Sofie yang saat itu masih pengantin baru tidak tega melihat kakaknya terpuruk. Atas saran Igo, Sofie meminjamkan perhiasan mas kawinnya untuk digunakan Daniel sebagai modal awal menjalankan bisnisnya kembali.

Perlahan bisnis Daniel bangkit. Karena Nata yang selalu membanding-bandingkan Daniel dan Igo, akhirnya Daniel berubah menjadi seseorang yang kelewat berpuas diri dan selalu berusaha membuat dirinya terlihat lebih hebat dibanding Igo.

Daniel dan istrinya sudah lupa dengan bantuan yang pernah mereka terima dari Igo dan Sofie. Belakangan malah mereka turut bergabung dengan kerabat lain yang mengolok-olok Igo.

Pesta dilanjutkan dengan membuka kado. Nata membuka bungkus hadiah dari tumpukan satu per satu diiringi tepuk tangan dari para tamu.

Tibalah giliran kado dari Daniel dibuka.

"Wah, papa suka sekali hadiah ini," Nata memegang pipa rokok di tangannya seperti tengah menimang bayi. Pipa rokok berwarna putih yang anggun dan halus sekali buatannya.

Nata memasukkan pipa itu ke dalam saku bajunya dan melanjutkan membuka kado yang lain hingga akhirnya ia sampai pada kado dari Igo.

Dari tempatnya berdiri di bagian belakang kerumunan, Igo dapat melihat wajah Nata mengernyit saat membaca nama pada bungkus kado.

Dengan kasar Nata menyobek bungkus kado dan melihat sekilas pada kotak kayu pemberian Igo, lalu cepat-cepat meletakkannya kembali ke meja. Nata menyeka kedua tangannya dengan tisu sebelum membuka kado selanjutnya.

Acara membuka kado selesai dan dilanjutkan dengan acara makan bersama. Seluruh tamu dipersilakan untuk bergegas ke ruang makan.

Nata mengumpulkan semua kado ke dalam keranjang dan pergi dengan wajah semringah.

Igo berjalan menuju ruang makan dan tanpa sengaja melihat sesuatu di dalam kotak sampah di samping meja tempat mengumpulkan kado tadi. Ia mendekatinya dan melihat kotak kayu pemberiannya teronggok di dalam tempat sampah.

Ia menengok ke kiri dan ke kanan, setelah yakin tak ada yang memperhatikan, diambilnya kotak kayu itu dan menyimpannya ke dalam saku kembali.

Hatinya bimbang. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk tetap mengikuti pesta sampai selesai. Karena Igo tidak ingin memberi keluarga Sofie satu bahan lagi untuk dipergunjingkan.

Dengan menahan semua hal itu Igo turut bergabung bersama tamu-tamu lain di ruang makan.

Diego Andrea Moreno, dipanggil Igo, tak seorang pun dalam keluarga Sofie yang tahu bahwa sebenarnya Igo adalah putra Sandro Moreno. Konglomerat paling berpengaruh di Jakarta. Bisnisnya di bidang migas dan infrastruktur membuat Klan Moreno mampu mengendalikan perekonomian di Jakarta semudah ia membalikkan telapak tangan.

Tak hanya di Jakarta, kekuatan Klan Moreno dengan kepemilikan saham mayoritas pada beberapa maskapai penerbangan internasional sebenarnya mampu mengendalikan perekonomian dunia.

Karena satu kesalahan fatal, Igo dihukum tidak dapat mengakses seluruh aset Klan Moreno. Karena merasa tertantang, Igo menerima hukuman itu dengan senang hati dan menjalani hidup seperti orang kebanyakan. Hal yang selama ini ingin ia coba.

Selama dihukum oleh keluarganya inilah ia bertemu Sofie. Dari hanya saling sapa di coffee shop langganan, akhirnya bertukar nomor ponsel. Sebelum tahun berganti, mereka telah berganti status menjadi sepasang kekasih, dan berlanjut ke jenjang pernikahan pada tahun selanjutnya.

Semenjak awal bertemu sampai sekarang, Igo tidak pernah bercerita tentang siapa dirinya sebenarnya. Karena sejujurnya ia juga mulai menikmati hidup sebagai orang yang biasa-biasa saja.

Selain tentu saja, bahwa Igo sendiri tidak tahu kapan hukuman penutupan akses ini akan berakhir.

Di ruang makan ia bertemu Sofie dan tidak menceritakan perihal kadonya yang dibuang ke tempat sampah.

Ponsel Igo bergetar. Pesan dari asisten keluarga Moreno yang memberitahukan bahwa mulai pukul 00.00 malam ini, penutupan akses untuk Igo telah dicabut. Semua kartu kredit dan debit miliknya sudah aktif dan bisa dipergunakan kembali.

Ponsel kembali bergetar. Satu pesan M-Banking masuk yang berisi pemberitahuan: SALDO ANDA SAAT INI ADALAH SENILAI Rp. 100.000.000.790.000,00

Seratus trilyun. Batin Igo. Hmmm...

"Pesan dari siapa?" Tanya Sofie ingin tahu karena melihat senyuman di wajah suaminya.

"Dari teman," jawab Igo seraya merengkuh Sofie ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepalanya.

Bersambung....

Hai sahabat Novelme, ketemu lagi sama Ostrich San.

Yuk jadi teman perjalanan cinta Diego bersama Sofie, dengan terus ikuti tiap episode Menantu Impian ini.

Oh iya, saya juga menerima dukungan berupa star, subscribe, dan hadiah dari Sahabat pembaca yang suka sama cerita sederhana yang saya tulis ini.

Diego dan Sofie akan setia menunggu Sahabat di episode selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya lagi...

Salam,

Ostrich San

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin