Romantic Traps Tertangkap Basah

Tertangkap Basah

“Sayang. Aku kangen,” bisik Aluna manja agak mendesah di sisi telinga Bastian.

Bibir merah muda alami itu semakin dirapatkan di telinga Bastian, menggoda dengan hujaman ciuman dari bibir panas Aluna pada suami yang baru saja terduduk di tepian ranjang.

Kedua tangan dengan jemari panjang nan indah bergerak merayap melewati sela-sela ketiak lalu berlabuh di dada bidang yang tertutupi setelan piyama. Tubuh ramping yang mengenakan kimono satin berwarna maroon semakin mendesak merapat hingga menghimpitkan kedua si kembar sintal di punggung Bastian.

Satu tangan kembali bergerak. Seolah tak betah berlabuh di dada bidang Bastian. Gerakan merayap tangan Aluna turun lalu menyelinap masuk ke dalam piyama Bastian.

Kulit bertemu kulit. Kehangatan tubuh Bastian yang sudah lama dirindukan Aluna terasa nyata hingga memanaskan gairah Aluna, meronta-ronta ingin lebih sekadar pertemuan kulit.

Tetapi, hasrat Aluna yang meronta-ronta memiliki kendala. Tangan Aluna tertahan. Jemari yang ingin meremas lembut dada bidang berbulu halus Bastian tak tersampaikan dikarenakan tangan Bastian menahan cepat.

“Aku capek! Hari ini banyak kerjaan di kantor. Jadi, aku mau tidur.”

Gairah yang sudah memanas meredup. Fantasi liar yang sudah menguasai pikiran segera lenyap. Bibir panas yang menempel di sisi telinga seketika mendingin bagaikan sebuah bongkahan es.

Lagi-lagi ajakan Aluna ditolak oleh Bastian dengan alasan yang sama. Ajakan minta dicumbu, minta disentuh, minta dijamah, minta dipuaskan lagi-lagi tak terpenuhi oleh suami tercinta.

Sudah hampir satu bulan Bastian tak meminta jatah apalagi menyentuh istri yang dinikahi selama dua tahun. Bastian juga tak pernah lagi menghadiahkan ciuman-ciuman mesra di pipi juga di bibir Aluna.

Keduanya memang terbilang pasangan baru dalam sebuah mahligai pernikahan. Namun, kedekatan keduanya bukanlah terbilang baru dikarenakan sebelum menikahi Aluna, Bastian telah berpacaran selama lima tahun dengan Aluna.

Lalu apa yang terjadi? Bukankah Aluna wanita yang Bastian pilih sendiri untuk menjadi istri? Menjadi teman hidupnya?

Kehangatan Bastian yang dirasakan sejak berpacaran hingga di awal-awal pernikahan pun tak lagi dirasakan. Rumah minimalis yang sudah dua tahun menjadi atap berteduh bagi keduanya kini tak sehangat dulu. Kamar tidur yang dulu bermandikan keromatisan, jerit kenikmatan, dan desahan saling memburu kini lenyap perlahan.

Perubahan sikap Bastian menjadi dingin, acuh pada apapun yang terjadi pada Aluna seketika semakin menimbun pertanyaan di benak perempuan cantik berkulit putih itu.

“Jujur saja. Sebenarnya ada apa? Sudah satu bulan kita...”

“Kau tak dengar dengan yang aku ucapkan? Aku capek! Aku lelah seharian dihadapkan tumpukan pekerjaan!” sela Bastian membentak kasar. “Harusnya sebagai istri kau mengerti dan memahami keadaan suami! Bukan malah merengek minta ini itu, lah!”

“Jika ada masalah dengan kerjaanmu, kau bisa membaginya denganku, Sayang. Bisa dibicarakan dengan baik-baik, tak harus memarahiku seperti ini, Sayang.” Suara Aluna bergetar menyuarakan isi hati yang tersakiti.

“Kau tahu apa tentang pekerjaan? Peranmu sudah sangat enak mengurus rumah dan mengurus suami. Tugas begitu mudah saja kau tidak becus!” Bastian malah mengoreksi Aluna, tak menerima bentuk protes yang wajar Aluna suarakan.

“Aku tak tahu apapun tentang pekerjaan?” Aluna tercengang mengulangi pernyataan getir Bastian. “Kau sendiri yang melarangku untuk bekerja dan berhenti dari pekerjaanku sebelum kita menikah, Sayang. Kau sendiri yang meminta aku untuk tak mengejar karirku dan menjadi ibu rumah tangga. Lalu kenapa lagi-lagi kau menyalahkan aku? Ini bukan pertama kalinya kau mempermasalahkan aku yang tak lagi bekerja.” Aluna membela diri dikarenakan hati tak terima disalahkan.

“Aku malas ribut. Sudah sebulan ini kita selalu meributkan hal yang sama. Aku capek! Aku mau tidur.”

Tanpa peduli dengan Aluna yang berkaca-kaca dan merasa sesak akan pernyataan getirnya, Bastian merebahkan tubuhnya dengan acuh. Memaksa Aluna untuk bergeser dan memberi ruang lebih untuk tubuhnya merebah nyaman di atas ranjang. Bed cover berwarna abu-abu di bawah kaki tak luput dari perhatian Bastian. Bed cover itu ditarik dengan satu tangan untuk menghangatkan tubuhnya sendiri.

Sementara wanita cantik yang tampil seksi dengan kimono maroon di sebelahnya hanya bisa mengalah. Lagi dan lagi memahami Bastian yang lelah, Aluna tak mau menyerang sosok pria yang dicintai dengan ribuan pertanyaan di dalam hati. Tak mau nantinya Bastian marah apalagi membenci Aluna yang sudah begitu tulus mencintainya.

Buliran airmata menggenangi kedua mata jatuh membasahi pipi. Tak mampu tertahan di pelupuk mata dikarenakan perihnya luka sayatan di hati akan bentakan dan pernyataan menyakitkan Bastian.

Janji yang terucap dua tahun lalu untuk menjadi istri baik bagi Bastian menghilangkan sisi keras kepala Aluna. Segala bayangan sosok hangat Bastian dan kenangan indah di awal pernikahan dijadikan penghibur hati Aluna hingga menjauhkan segala pikiran buruk mengenai sosok suami tercinta.

Airmata yang menodai pipi cantik Aluna diseka lembut oleh jemarinya. Perempuan cantik yang menyandang gelar magister manajemen Harvad University itu beranjak turun dari ranjang tidur.

Kedua kaki mengenakan alas sandal kamar itu melangkah menuju kamar mandi lalu membasuh wajahnya yang ternodai oleh buliran airmata. Kembali merengkuh kesegaran di wajah dengan memasang senyuman manis yang dipaksa, Aluna kembali menuju ranjang tidur dan mengistirahatkan tubuh rampingnya di atas sana. Membelakangi Bastian yang sudah terlebih dahulu terlelap ke dunia mimpi.

***

Pukul 1 dini hari, Aluna terbangun dari tidurnya. Tenggorokan yang terasa kering membuat Aluna beranjak dari alam mimpi yang memanjakan jiwa. Belum lagi Aluna turun dari ranjang tidur, fokus Aluna beralih cepat pada sisi ranjang tidur yang kosong. Sisi ranjang tidur yang tadi ditiduri oleh Bastian.

Rasa haus yang dirasakan pun seketika lenyap. Berganti penasaran yang datang menyerbu hati serta jiwa.

Kedua telinga Aluna masihlah sehat dan baik dalam mendengar suara apapun. Aluna pun menyegerakan turun dari ranjang tidur dan berjalan mendekati asal suara dari dalam kamar mandi. Begitu penasarannya Aluna hingga tak mempedulikan sepasang kaki yang bertelanjang kaki demi memastikan suara-suara aneh yang sudah seminggu ini Aluna perdengarkan.

“Ahhh..., Sayang. Buka dalaman atas itu! Aku rindu susumu itu, Sayangku. Menyusu milikmu pagi buta seperti ini pasti akan sangat menyenangkan.”

“Dasar, Bayi Besar! Tambah besar dong kalau kamu menyusu terus!”

“Arahin kameranya ke bawah lagi dong, Sayang. Aku rindu ingin melihatnya sambil... ahhh... Valerie Sayang, akan sangat menyenangkan jika kau sendiri yang mencengkram lalu menjilati milikku ini.”

Telinga Aluna yang menempel di daun pintu tak lagi salah mendengar. Malah mendengar baik-baik segala pembicaraan vulgar menjijikkan di dalam kamar mandi.

Jantung Aluna tersentak. Dadanya seketika sesak, diremas paksa oleh fakta baru yang membuat sekujur tubuhnya lemas. Kedua mata yang membeliak seketika memerah, terasa panas akan genangan buliran airmata yang kembali menggenangi.

“Ahhh... Valerie-ku Sayang. Remas susu itu, Sayang! Aku ingin melihatmu merasa enak juga!” pinta Bastian mendesah sambil tangannya mempercepat tempo irama kocokan tangan yang mencengkram miliknya.

“Besok menginap di rumahku dong, Sayang. Enggak enak tahu kalau dari video call terus. Aku kan enggak bisa muasin kamu, Sayang.” Suara Valerie terdengar jelas menggoda Bastian.

“Besok aku akan beralasan pada Aluna kalau aku dinas ke luar kota supaya bisa kita enak-enak berdua.” Bastian mengabulkan tanpa ragu permintaan Valerie, sekretaris sekaligus wanita selingkuhannya.

Hancur sudah hati Aluna mendengar segala pembicaraan menjijikkan itu. Kesabaran tak lagi tertahan. Keinginan hati menjadi sosok istri baik bagi Bastian tak lagi diinginkan. Aluna bukanlah sosok wanita bodoh yang diam saja mengetahui suami tercinta berselingkuh dan mengkhianati ketulusan cintanya.

“Bastian sialan! Bastian kurang ajar! Keluar kau, Bastian!” teriak Aluna sekencang-kencangnya.

Tangan Aluna yang mengepal kuat pun tak ragu menggedor daun pintu itu sekuat tenaga. Kepalan tangan yang bercampur amarah meledak di dalam jiwa. Saking kuatnya, sampai-sampai daun pintu itu seperti mau rontok dari tempatnya.

Sontak saja Bastian tekejut. Tubuhnya bahkan mencelat dan handphone ios di genggaman tangan pun terjatuh ke atas lantai. Miliknya yang menegang seketika melemas. Gairah dan nafsu yang menggebu langsung pucat berlari ke tempatnya dikarena shock mendengar suara gaduh yang dibuat oleh Aluna.

Bastian ketangkap basah. Segera lelaki itu merapikan diri, memungut kembali handphone ios-nya yang terjatuh lalu memutuskan sambungan video call itu.

“Ada apa...”

Plak!

Tamparan keras didapatkan langsung di pipi Bastian setelah lelaki itu muncul dari balik pintu.

“Suami kurang ajar! Bastian sialan! Berani-beraninya kau selingkuh di belakangku!” Aluna berteriak marah dan tanpa ragu mengeluarkan kata-kata umpatan pada lelaki yang berdiri tegak di depan mata.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin