After Midnight Kau Berikan Mimpi Indah, Namun Kenyataan Tak Seindah Mimpi

Kau Berikan Mimpi Indah, Namun Kenyataan Tak Seindah Mimpi

“Batalkan pernikahanmu dengannya dan menikahlah denganku.”

“Nggak akan!”

Perempuan itu, Lavia, menjawab sambil menahan desahan yang akan lolos dari bibirnya saat merasakan bagaimana Jagat bergerak, membuat tubuh mereka semakin mendamba satu sama lain.

“Kamu masih mau berbohong?” Jagat menggigit ceruk leher Lavia hingga perempuan itu mendesis pelan. “Matamu nggak bisa berbohong, Lav. Kamu masih mencintaiku dan aku masih mencintai kamu.”

“Just shut up and fuck me!”

Lavia tak bermaksud sekasar itu, tapi lebih baik apa yang mereka mulai karena sebotol wine ini cepat berakhir daripada rasa bersalahnya semakin tinggi hingga menyentuh langit.

Sudah sejak tadi mereka berciuman dan saling menyentuh meskipun masih dengan pakaian lengkap.

Hasrat Lavia sendiri sudah membuatnya pusing, tapi selempang ‘bride to be’ di sofa yang tadi diberikan temannya, membuat Lavia sadar kalau sebentar lagi ia akan menikah.

Dan bukan dengan Jagat.

“I ain’t fucking anyone,” geram Jagat sambil menjauh dari leher jenjang Lavia yang selalu menggodanya—sejak dulu sampai sekarang.

“This is making love, Lav. Ingat itu, camkan baik-baik kalau aku tengah mencintai kamu dengan semua yang aku punya.”

Dengan tangan yang gemetar karena ini pertama kalinya lagi ia bercinta setelah bertahun-tahun lamanya, Jagat membuka membuka ritsleting pakaian Lavia yang terletak di punggung.

Matanya langsung disuguhi dengan pemandangan tubuh Lavia yang masih sama indahnya, seperti yang ia ingat ketika dulu pertama kali melihatnya.

“Warna merah jadi benar-benar keliatan bagus di kamu,” komentar Jagat setelah menepis tangan Lavia yang berusaha menutupi dadanya, yang berbalut bra berwarna merah dengan kancing yang terletak di bagian depan.

Jagat dan Lavia dulunya adalah sepasang mantan kekasih ketika tahun pertama kuliah dan putus setahun kemudian karena salah paham.

Bertahun-tahun kemudian, keduanya kembali bertemu. Jagat masih mencintai Lavia, sedangkan Lavia harus menikah dengan lelaki pilihan orangtuanya. Saat ini posisi mereka yang sebenarnya adalah klien dan fotografernya.

Lavia menghukum Jagat atas kandasnya hubungan mereka saat kuliah dulu, dengan menjadikan Jagat fotografer pernikahan bisnisnya.

Jagat menerima tawaran itu karena berharap bisa meminta maaf atas sikapnya yang dulu kasar saat hubungan mereka kandas dan berharap... mungkin masih ada kesempatan yang tersisa untuknya.

“Nggak usah berisik—“

“Dulu kamu selalu berisik setiap aku memanjakan kamu, jadi sekarang nggak usah protes.”

Jagat membungkam bibir Lavia yang dipulas dengan Hermes Rouge A Levres berwarna merah gelap dengan hint kecokelatan dan burgundy tersebut.

Ciuman itu menggebu dan penuh hasrat. Lavia sendiri kewalahan mengikuti ritme Jagat. Kepalanya yang masih tersisa sedikit kewarasan itu mulai berteriak untuk menyuruh Lavia mendorong Jagat.

Tapi hatinya yang tak bisa berbohong kalau ia masih memiliki perasaan untuk Jagat, mencoba menutup mulut sisi warasnya dan menyuruh Lavia meneruskan apa yang sudah mereka mulai.

“Lav….”

“Jangan panggil aku begitu.” Lavia menggeleng pelan. “Sejak dulu semua orang memanggilku ‘Lavia’ atau ‘Vi’, cuma kamu yang memanggilku seperti itu.”

“Karena memang cuma aku yang berhak.” Jagat berkata dengan tegas. “Do you want it, Love?”

“What?”

“Bercinta denganku.”

Saat ini posisi mereka sudah berada di kamar Merlion Hotel, tempat di mana teman-teman Lavia mengadakan bridal shower dan Jagat ditugaskan oleh teman-teman Lavia menjadi fotografer.

Semua berjalan lancar, sampai hanya tersisa mereka berdua dan Lavia sudah terlalu mabuk.

Perempuan mabuk itu mengatakan kalau ia tersiksa dengan kehadiran Jagat di sekitarnya, tapi ia sendiri ingin menyiksa Jagat dengan membuat lelaki itu menyaksikannya menikah dengan lelaki lain.

Ketika tadi Jagat membentaknya dengan mengatakan, “Aku juga tersiksa karena bisa memiliki semua perempuan di dunia ini kecuali kamu!”, Lavia jadi tak bisa berpikir dan mencium Jagat hingga lelaki itu merebahkannya ke ranjang.

Dan di sinilah mereka, saling membutuhkan namun terhalang ego Lavia yang sebesar truk.

“Aku masih menghargai kamu.” Suara Jagat menyentak lamunan Lavia.

Berbeda dengan ciumannya yang kasar tadi, kini ibu jari Jagat mengusap bibir Lavia yang lipstiknya sudah berantakan dengan lembut.

“Aku nggak akan bercinta denganmu tanpa persetujuan kamu—hell, aku nggak akan memperkosa kamu.” Tatapan Jagat melembut saat bertemu dengan iris mata Lavia yang menatapnya dengan ragu.

“Yang perlu kamu tahu adalah setiap aku melakukannya denganmu, ini bukan seks semata. Aku bercinta denganmu. Aku memuja kamu dan akan selalu begitu. Tapi sekali kamu menyetujuinya, aku nggak akan berhenti sampai kita selesai.

“Sampai kamu meneriakkan namaku dan jujur dengan perasaanmu.”

Lavia menoleh ke samping, mendapati sisa-sisa properti bridal shower dari teman-temannya masih ada di sana.

Kenapa juga mereka mengadakannya di suite ini sih? Harusnya di restoran saja supaya tak ada kesempatan untuk otaknya jadi rusak karena pengaruh kehadiran Jagat!

“Lav….” Panggilan Jagat mau tak mau membuat Lavia menoleh padanya. Perempuan itu tertegun, masih ada cinta di mata Jagat dan orang buta sekalipun bisa merasakannya.

“Aku cinta sama kamu, dulu sampai sekarang.” Lelaki bertubuh tegap dengan tato di dada kirinya tersebut mencium kening Lavia cukup lama.

“Rasanya kamu jahat sekali saat memintaku menyaksikan kamu menikah di depan hidungku.

“Tapi aku tahu, apa yang bertahun-tahun lalu aku lakukan ke kamu, juga sama jahatnya. Untuk yang terakhir kalinya… sebagai usahaku yang terakhir untuk meyakinkan kamu, maukah kamu meninggalkan calon suamimu?”

Lavia menggeleng pelan. “Jagat….”

“Tinggalkan dia atau bercinta denganku.”

Terasa ada yang memberati dada Lavia saat mendengar ucapan Jagat yang putus asa tersebut tertuju padanya. Ia tak bisa membatalkan pernikahannya begitu saja.

Meninggalkan calon suaminya hanya akan membuat Jagat dan Lavia bahagia sesaat, namun menyakiti hati banyak orang.

Bercinta dengan Jagat hanya akan membuat mereka berdua menderita, tapi tetap bisa membahagiakan semua orang.

Orang lain tak perlu tahu ia bercinta dengan Jagat tiga minggu sebelum pernikahannya—yang penting, pernikahan bisnis ini akan tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Jika ia bisa menyenangkan ayahnya sekali saja dengan menikahi lelaki pilihan ayahnya, maka hal itulah yang akan Lavia lakukan.

“Kalau begitu bercintalah denganku.” Lavia telah memilih dan langsung mencium bibir Jagat yang bengkak karena sebelumnya ia lumat habis-habisan.

Tangannya bergerak dengan cepat untuk melepas kemeja denim yang dikenakan Jagat, membuat Jagat menggeram di dalam ciuman mereka saat merasakan sentuhan jemari lentik dengan kuku panjang milik Lavia menyentuh tubuhnya dengan sensual.

Di antara desah napas yang tak teratur dan teriakan nama satu sama lain ketika mereka bergerak untuk saling mengisi kekosongan, ada derak hati yang patah karena keputusan Lavia.

Jagat memang ingin Lavia bercinta dengannya. Tapi ia tak ingin Lavia bercinta hanya untuk membuatnya tak bisa menarik perempuan itu untuk hidup bersamanya.

“Jagat,” desis Lavia saat Jagat menyentuh titik yang membuat Lavia hampir hilang akal, karena lagi-lagi lelaki itu membawanya ke puncak kenikmatan yang selama ini hanya ia rasakan jika bersama Jagat.

“Teruslah sebut namaku.” Jagat bergumam pelan sambil terus bergerak. “Sebelum akhirnya kamu menyebut nama laki-laki lain dan melupakanku.”

Bersambung....

Selamat datang di buku keenam Sara! Kayaknya cerita ini bakal mainstream banget deh, HAHAHA (ceritamu mainstream semua woooy!), tapiii semoga kalian enjoy dan bisa nangkep pesan yang mau aku sampaikan. :D Ini tentang Jagat dan Lavia, playboy ibukota dan mantan yang sakit hati. :)

Judul bab ini diambil dari lirik lagu Yovie & Nuno yang judulnya Sakit Hati.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin