DOSEN GILA ITU SUAMIKU Awal Semester 7

Awal Semester 7

“Fizaaa!”

“Liaaa!” balas Fiza sembari menyambut pelukan sahabatnya itu.

“Gue rindu banget sumpah, apa kabar lo?”

“Sama gue rindu banget, baik-baik, lo gimana?”

“Masih jomblo.”

“Lha yang ditanyain apa yang dijawab apa, emang yang nggak jomblo siapa?”

“Iya sih hehe.”

Lia menarik bangku tepat di sebelah sahabatnya itu Fiza. Setelah libur semester, akhirnya mereka bertemu kembali di Semester 7 jurusan Ilmu Komtputer di salah satu Universitas Negeri di Jakarta.

“Gilak sih, nggak nyangka udah di semester 7 aja. Padahal baru kemaren diospek.”

“Gue juga jantungan sih Li, nggak sabar mau cepat-cepat lulus, tapi takut juga mau ngadepi skripsi.”

“Eh tapi denger-denger ada dosen gilak loh yang bakal masuk ke kelas kita.”

“Kok lo nggak bilang dari awal sih, kan kita bisa pindah kelas waktu masa pengambilan mata kuliah.”

“Yee, gue juga tau kali kalo soal itu, masalahnya doi masuk di semua kelas, dari A sampek D dia doang dosennya,” jelas Lia dengan nada meyakinkannya.

“Bentar-bentar, ini gilak yang gimana ya maksud lo?” tanya Fiza memastikan dugaan sahabatnya itu. Sembari membentuk kutip dua jari telunjuk dan tengah dengan kedua tangannya di sisi kanan-kiri kepalanya.

“Gua juga nggak tau persis sih Fiz, ” suara Lia melambat, “tapi kalo nggak salah dengar dari senior, dia selain nakutin, suka ngasih banyak tugas yang deadlinenya nggak masuk akal, plus banyak peraturan,” sambungnya kembali dengan antusias dan meyakinkan.

Fiza menimbang-nimbang gambaran yang sahabatnya itu maksud, “Ah, bukannya semua dosen kayak gitu ya perasaan?”

“Iya jugak sih,” balas Lia meragui argumennya.

“Nah kan, yaudah mending doain aja deh semoga pas di kelas kita dosennya bisa jadi baik,” ucap Fiza pasrah.

“Gue tadi papasan sama maba (*mahasiswa baru), unyuk banget deh.” Lia memulai topik pembicaraan baru. Sementara Fiza tidak mendengar ucapan sahabatnya itu.

“Eh, lo kok ngelamun? Denger nggak yang gue bilang barusan?”

“Ah, iya apa tadi?”

“Lo mikirin apa sih Fiz, ada masalah?” tanya Lia yang melihat raut perubahan di wajah sahabatnya itu.

“Nggak Li, ini gue cuma baca chat dari adik gue, katanya Mama udah baikan.”

“Astaga, emang sakit apa Fiz, terus kondisinya sekarang gimana?”

“Dah lah Li, itu karena faktor usia dan kecapean juga sih, kayaknya.”

“Hm yaudah tapi kalo lo butuh apa-apa lo jangan segan-segan cerita ke gue ya, siapa tau gue bisa bantu.”

“Makasih yah Li, lo emang terbaik.”

“Uhhhh.”

Merekapun kembali berpelukan.

“Apasih jijik banget peluk-peluk mulu.”

“Yaudah baku hantam yok.”

Merekapun tertawa mengakhiri percakapan hangat mereka setelah lama libur kuliah.

***

“Sekian dulu pertemuan hari ini, minggu depan kita mulai mata kuliahnya.”

Dosen perempuan sekitar usia tiga puluhan itu keluar dari ruangan setelah masuk hanya beberapa menit.

“Gini dosennya enak yah, pengertian.”

“Tau gitu mending gue nggak buru-buru datang tadi pagi,” umpat Fiza membalas ucapan Lia.

“Lo tuh yang aneh Fiz, udah semester 7 masih aja on time. Sekali-kali telat kek.”

“Ajaran lo tuh ya, ampun, gimana kalau dosen yang masuk dosen gila yang lo maksud, kan syukur gue udah datang dari pagi.”

“Eh, maksud gue dosen gila itu bukan cewek loh, tapi cowok.”

“Duh siapa sih, udah deh bosan ngomongin yang nggak tau siapa, kantin yuk.” Wajah Fiza memelas mengingat perutnya yang masih kosong dan memilih mengabaikan dosen yang di gossip-gosipkan itu.

“Makan apa nih jam 10 pagi?” tanya Lia yang memastikan angka yang ditunjuk jarum jam di pergelangan tangan kirinya.

“Gue belum sarapan,” balasnya singkat.

“Kasian banget sih anak kos,” cela Lia mengusiknya.

“Seneng lo,” balas Fiza dan langsung mengambil langkah meninggalkan Lia.

“Eh, canda kalii hyung.” Sambil berlari kecil ia menyamakan langkahnya dengan Fiza.

Sesampainya di kantin, dahi Fiza berkerut sedikit kesal bercampur kecewa. Ditambah Lia yang menghembuskan napas keluh.

“Gilak sih, masih pagi udah rame aja nih kantin jurusan, ini semua anak kos yang nggak sarapan ya?”

“Udah deh lapar, cus ajaaa,” sambar Fiza menarik lengan Lia yang lebih kurus darinya.

“Eh… tunggu-tunggu,” balas Lia menarik lengan Fiza yang membuat langkahnya terhenti.

“Lo yakin?”

“Yah mau gimana Li, gue laper banget.”

“Gimana kalo kita ke kantin sebelah aja, manatau dapat anak jurusan lain,” cengir Lia.

“Alasan aja lo,” balas Fiza tertawa sembari menepis tangannya di depan kepala Lia, dengan cepat Lia mengelak pukulan yang tidak benar-benar mengenainya.

***

Fiza Rumaisa. Anak kedua dari 3 bersaudara. Masuk Universitas yang dia impikan adalah salah satu hal yang paling membanggakan di hidupnya. Masih begitu lekat diingatannya detik-detik hari bahagia itu ia dapatkan meski sebelumya gagal melalui jalur undangan. Usaha dan doanya yang sungguh-sungguh membuahkan hasil. Meski berbeda pulau, ia terbang ke Jakarta untuk menjemput cita-cita.

Namun saat-saat pengharapan dan mimpinya kian nyata, malang menghampiri hidupnya. Ayahnya meninggal, sementara ia tidak mendapatkan tiket pulang untuk terbang ke Medan. 2 hari kemudian, ia pun sampai di rumah. Isak tangis tak dapat lagi ia tahan. Semua tumpah bersama lelah menangisi hari yang kian seolah menyiksa.

Sekarang Mamanya sakit. Ketakutan selalu menghantuinya. Masa pahit itu mengingatkannya, seolah bumi enggan ia pijaki, lelah mendengar tangisnya. Ia takut itu terjadi lagi saat dirinya jauh di Jakarta. Belum lagi kini kakaknya, Hasan yang berjuang untuk membantu perekonomian keluarganya di Negeri Jiran. Kehidupan keluarganya benar-benar diuji semenjak kepergian ayahnya 3 tahun lalu.

[Dek, gimana kabar Mama?]

Menunggu pesanan datang, ia menyempatkan mengetik di layar ponselnya untuk ia kirimkan kepada adiknya, Kiyah.

[Udah baikan kok Kak, sebetulnya Mama cuma kecapekan aja.]

[Berarti besok udah bisa sekolah kan, Dek?]

[Iya Kak, besok Kiyah sekolah.]

“Chat-an sama siapa sih Fiz, tegang banget tuh muka,” tanya Lia penasaran.

“Ini Li, nanyain kabar Mama, mudah-mudahan besok Kiyah bisa sekolah.”

“Jadi, Kiyah juga sakit?”

Fiza menggeleng, “Yang sakit itu nyokap gue, adik gue nggak sekolah supaya ada yang jagain Mama, lemot deh Li.”

“Oh maklum makanannya belum datang jadi gak bisa mikir hehe,” balas Lia memelas.

“Ayam penyetnya Mbak,” tegur pelayan menghampiri mereka.

“Iya Mbak, makasih.”

Saat makan, Fiza meletakkan handphonennya di pinggiran meja. Seperti biasa, Fiza dan Lia makan dengan lahapnya. Namun Fiza hanya dengan waktu yang cukup singkat dibanding Lia yang sedikit membutuhkan waktu lebih lama untuk menghabiskan menu di piringnya.

Tak ingin berlama-lama, usai kenyang dan memperbaiki lipstick yang menghilang ikut termakan, Fiza dan Lia menuju kasir untuk membayar pesanan mereka. Saat segera keluar, Fiza menyadari Handphonenya yang tertinggal di atas meja.

Ia terhenti, “Li, Hp gue.” Cepat ia berbalik arah kembali menuju meja tempat ia dan Lia tadinya. Ia menyadari bahwa sudah ada seorang pria yang duduk di sana. Jantungnya semakin berdegup kencang, takut kalau ia kehilangan handphonenya. Tapi jelas ia ingat, ia meletakkannya tepat di posisi tas laki-laki yang sudah menempati meja kosong itu.

“Maaf tadi lihat Hp nggak di sini, tadi di situ.” Ia menunjuk letak tas ransel yang dipinggir meja itu.

“Gak ada lihat tuh,” balasnya ketus.

“Maaf boleh geser tasnya nggak?” pinta Fiza memohon.

“Apa-apaan sih? Modus ya?, udah ketahuan deh mahasiswa sekarang banyak tingkahnya.” Laki-laki itu mengumpat, lalu mengangkat tasnya sekali hentak.

Trakk!

Handphone Fiza terlempar. Laki-laki itupun terkejut. Ia tidak tahu karena saat ia meletakkan tasnya, ia sangat fokus dengan handphonenya.

“Tuh kan Hp gue!” Fiza duduk meraih handphone yang layarnya telah retak.

“Makanya kalo punya barang itu dijaga dong. Gue mana tau.”

“Lo harusnya sadar dong! Kalo lo tadi nggak ngehentak seenaknya ni hp nggak bakal jatuh, jangankan ganti rugi, maaf aja nggak ada, nggak ada rasa bersalahnya lo!”

“Kalau gue bilang sih, lo sengaja ninggalin supaya gue ganti rugi hp lo, iyakan? Mahasiswa zaman sekarang tuh ya banyak triknya demi gaya.” Lelaki itu berdehem mengakhiri pendapatnya. Tidak ada ekspresi dari setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulutnya.

“Apa-apan sih!” Fiza mulai membentak.

Cepat Lia memegangi sahabatnya sembari berbisik, “Fiz, udah-udah, kita pulang yuk. Nggak usah ditanggepin.” Terbesit rasa khawatir di wajahnya.

“Tapi dia yang salah, Li.”

“Iya iya tapi udah yuk, nggak ada gunanya berdebat,” bujuk Lia menenangkan sahabatnya yang tengah emosi itu.

“Ya Allah, ini handphone satu-satunya, syukur masih mau hidup, tapi nggak tau bertahan lama nggak ya,” keluh Fiza menatapi layar ponselnya yang telah membentuk garis-garis abstrak itu.

“Sabar ya Fiz, tapi lo perhatiin nggak sih, tuh cowok tampangnya lumayan yah, cuma dia nggak ada ekspresi gitu, serem hii,” ungkapnya berkidik.

“Apaan sih Li, gue lagi gak mood bahas kejombloan lo deh.”

“Iya-iya Fiz, duh gue nggak maksud kali.”

***

Fiza meletakkan tas di meja kamarnya. Mengganti pakaian dan langsung mengambil wudhu untuk sholat dzuhur. Usai salam, ia pun mengadu kepada Sang Pencipta atas segala keresahan hatinya. Memohon kesehatan untuk Mamanya dan Rezeki untuknya dan keluarganya.

Ia melipat mukenanya. Sesudahnya ia melemparkan tubuhnya di atas kasur yang nyaman itu. Meski sudah memasuki usia 4 tahun, kasur mungil itu masih nyaman karena ia sangat merawat barang-barangnya.

“Hah ngantuk.” Ia menatap langit kamarnya. Teringat ia akan kondisi ponselnya, ia pun meraihnya dan melihat kondisinya.

“Takut banget kalau kondisinya udah retak sampai layar, tapi mudah-mudahan nggak kenapa-napa,” bisiknya dalam hati.

Cuaca yang begitu panas di luar sana, membuatnya sangat amat mencintai kamar kosnya. Tidak lama, ia pun tertidur.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin