Istri Bayaran Kau akan bertekuk lutut padaku

Kau akan bertekuk lutut padaku

Setelah puas bermain dengan wanita Sean tidak lupa meninggalkan beberapa uang di atas meja sebelum pergi, meninggalkannya begitu saja. Begitulah seorang Sean memperlakukan semua wanita selama ini. Ia keluar dari kamar meninggalkan wanita malam itu, yang masih terlelap.

Mobil sport berwarna kuning, membela jalan yang masih terlihat lengang. Suara dering ponsel yang terus berdering membuat Sean engan untuk mengakat terlihat panggilan dari sang Mami.

"Apa lagi sih, pagi-pagi sudah mencari?" grutunya. Namun ibu jarinya menggeser icon hijau, mengarahkan pada telingganya.

"Kamu dimana! Kenapa tidak pulang sean?" teriak disebrang sana, hingga dirinya menjauhkan dari telinganya.

"Apa sih Mi, ini masih terlalu pagi jika hanya untuk ceramah. Sean akan pulang tidak usah Mami tunggu,"

"Cepat pulang Papimu ingin bicara! Kenapa kamu selalu tidak bisa merubah, kebiasaan burukmu Sean, apa kamu tidak takut semua akan mencoreng nama keluarga?" serunya dibalik telpon. Sean seakan dibuat prustasi, ia memutuskan panggilan sepihak.

"Pagi-pagi, sudah mendengar nasihat ibu negara. Selalu itu terus yang diucapkan. Mobil Sean berhenti tepat di sebuah cafe. Sebelum pulang dirinya ingin menikmati kopi karena sedikit mengatuk. Ia memilih menikmati kopi sebelum akhirnya pulang.

"Selamat pagi Tuan, ingin pesan apa?" tanya seorang Nadia begitu ramah, saat Sean berdiri untuk memesan secangkir kopi.

"Berikan satu espresso," pinta Sean matanya begitu terpanah, melihat seoarang Nadira. Dengan tubuh seperti gitar. Tatapan Sean begitu buas dipikirannya hanya membayangkan hal mesum.

"Ini Tuan. Kopinya," ucap Nadira namun, Sean tidak menggubris dirinya sibuk dalam lamunan mesumnya. Terlihat sudut bibir terangkat mengejek ibu jari mengusap sudut bibir.

"Tuan!" ulang Nadira. Saat tidak mendapat respon, Sean tersentak lalu mengambil kopi itu dari tangan Nadira. Namun jari nakalnya yang menggesekkan pada punggung tangan Nadira.

"Maaf Tuan," ucap Nadira. Melepas tangan dengan paksa dirinya begitu takut melihat wajah mesum Sean.

"Satu malam, berapa hargamu?" celetuknya. Nadira membukatkan mata mendengar ucapan Sean, yang begitu diluar dari kata sopan.

"Maaf Tuan. Jika tidak ada pesanan lagi harap pergi. Masih banyak yang ingin memesan dibelakang Anda." Cetus Nadira begitu tidak suka pada pria dihadapannya.

Sean tersenyum getir, menanggapi wanita yang ada didepannya begitu jual mahal. Menolak pesona seorang Sean, pewaris tahta keluarga pratama.

"Kamu tidak tau saya Nona?" tanya Sean dengan bibir tersenyum mengejek.

Nadira menarik nafas, lalu menghembuskan dengan begitu kasar. Bola mata yang terlihat jegah menghadapi pria dihadapannya begitu sombong.

"Maaf, Tuan disini hanya menyediakan coffee jika tidak ada lagi yang akan di pesan silahkan, pergi. Anda tau dimana jalan menuju keluar," ucap Nadira yang sudah begitu kesal namun ia tahan.

Sean tersenyum getir, menanggapi Nadira harga dirinya begitu terinjak oleh seorang pelayan rendahan dihadapannya.

"Wow ..., luar bisa membuatku sangat tertantang," ucap Sean sebelum akhirnya memilih pergi.

"Dasar pria kurang ajar! Memang dia pikir aku ini wanita panggilan. Senaknya nawar harga, Dasar manusia tidak guna. Untuk apa tampan terlihat kaya, tapi tidak punya etika kesopanan ceh, menjijikan sekali hidupnya." gumam Nadira melihat kepergian Sean.

Nadira memasang wajah ramah kembali pada pelanggannya, melayani dengan begitu ramah.

Dimobil Sean bersandar di kursi kemudi tatapannya tidak lepas, memandang Nadira dari dalam Mobil. Jarinya mengusap sudut bibir. Seiring senyum licik dikepalanya.

"Aku sangat yakin, dia masih perawan. Dan aku pastikan, kamu akan masuk dalam cinta Sean. Kau akan bertekuk lutut untuk meminta ditiduru olehku." ucap Sean menatap Nadira begitu terpanah pada kecantikan Nadira seorang pelayan cafe.

Ia kembali pada kemudi, siap menancapkan gas pergi meninggalkan cafe. Sepanjang perjalanan Sean tidak lepas dari wajah Nadira begitu natural. Terlihat cantik alami bibir yang tak lepas dari senyum menghiasi wajah tampan Sean.

Mobil Sean berhenti sempurna dihalaman yang begitu luas, rumah mewah bercat gold. Sean turun dari mobil, masuk dengan langkah panjang kedalam rumah.

"Dari mana saja kamu?" Suara Jack menghentikan langkah Sean. Yang akan menaiki tangga. Sean berbalik melihat pada pemilik suara berat itu. Jack berjalan mendekati Sean yang kini berdiri di atas tangga.

"Dari mana kamu pulang sepagi ini?!" pekik Jack yang sudah muak dengan kebiasaan anaknya, selalu berpoya-poya dan meniduri banyak wanita.

"Biasa Papi, memangnya apa lagi. Kebiasaan Sean?"

Plak ....

Tamparan mendarat pada pipi Sean, yang tidak siap menerima tamparan dari Jack. Ia memegang pipi yang kini terlihat memerah dan perih.

"Kapan kamu akan berubah sean?"

"Sudah lelah saya mengurus dirimu yang seperti ini. Apa kamu tau itu semua merusak nama keluarga? Lebih baik kamu menikah dari pada selalu meniduri wanita!" Seru Jack yang sudah lelah melihat tingkah anaknya yang seperti itu.

"Pi, ini hidup Sean. Mau Sean seperti apa. Itu Aku yang rasakan asal Papi tau. Setidaknya aku tidak pernah menyakiti Mami, karena menikah diam-diam," ujar Sean memegang pipinya lalu pergi, meninggalkan Jack yang saat ini terkejut. Mendengar Sean mengetahui dirinya menikah lagi tanpa sepengetahuan sang istri.

"Anak itu memang tidak bisa di atur, dari mana dia tau jika aku menikah lagi? Semua akan buruk, jika Mami tau aku harus mengakhiri semua sebelum nama keluarga hancur tanpa sisa. Jack pergi dari tangga melanjutkan niatnya akan kekantor.

Sean masuk kedalam kamar membanting tubuhnya keatas kasur. Moodnya mendadak buruk, setalah bertemu dengan Papinya. Pasalnya dulu Sean begitu menghormati Jack. Namun semua itu berubah saat dia mengetahui jika Jack memiliki wanit simpanan. Sejak saat itu ia begitu benci. Rasa kagumnya pada Jack, memudar. Bagaimana pun Jack telah melukai hati orang terdekatnya termasuk, istri dan anaknya.

"Jika Papi tidak melakukan itu mungkin aku masih menghormati Papi, sebagai orang tua. Namun Papi begitu jahat. Menduakan cinta Mami hanya untuk wanita simpanan yang tidak tau diri. Hanya mengharapkan harta Papi menjijikan." desisnya lalu bangkit membuka lemari mengambil kemeja, serta jas untuk bersiap ke perusahaan.

"Sean! Anaknya Mami yuhuuu ...." teriak Monika dari arah luar kamar, dengan semangat membuka hendel pintu dengan tangan membawa roti serta segelas susu untuk Sean.

"Mami ..., selalu seperti itu. Mengejutkan kenapa tidak mengetuk pintu? Kan Sean lagi ganti baju Mi," protes Sean yang terkejut saat memakai celana Monika menerobos masuk kedalam kamar.

Monika tidak ambil pusing, ucapan Sean. Karena sudah sering kali mendengar seperti itu yang Sean katakan.

"Mami membawakan sarapan untuk anak Mami yang tampan ini," Monika menyimpan nampan keatas meja. Lalu membantu Sean memakaikan kemeja karena rutinitas seperti ini sudah biasa, sering kali terjadi. Tidak jarang Monika membantu Sean memakai kemeja. Bahkan dasi sekalipun. Menurut Monika anaknya belum dewasa dan masih membutuhkan bantuannya.

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin