The Perfect Bride Tawaran Paling Absurd

Tawaran Paling Absurd

“Yasinta!”

Sebuah suara bariton menyapa pendengaran Yasinta, yang baru saja akan keluar dari gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tempat ia kuliah selama tiga tahun terakhir ini.

Secara spontan Yasinta membalikkan badan, dan mendapati Arka—ketua jurusan Manajemen sekaligus dosennya—berjalan ke arahnya dengan seorang wanita cantik bak model di sampingnya.

“Kamu sudah selesai kuliah?” tanya Arka basa-basi saat ia sudah sampai di depan Yasinta.

“Iya. Bapak ada perlu dengan saya?”

Arka melirik wanita cantik di sampingnya, yang sedang menatap penuh minat pada Yasinta. “Bukan saya yang ada perlu dengan kamu, tapi istri saya.”

Wanita yang berdiri di sebelah Arka itu tersenyum pada Yasinta, sembari mengulurkan tangannya. “Hallo, saya Elvira. Istrinya Arka.”

‘Ah, jadi wanita cantik ini adalah istri Pak Arka. Mereka berdua terlihat sangat cocok. Yang laki-laki ganteng, dan yang perempuan cantik,’ batin Yasinta dalam hati.

“Saya Yasinta,” balas Yasinta sambil menjabat tangan Elvira.

“Bisa kita bicara berdua?” tanya Elvira. “Tentu bukan di sini. Hanya saya dan kamu,” lanjut Elvira lagi.

Merasa tak punya alasan untuk menolak, Yasinta hanya menganggukkan kepalanya. Elvira yang tampak lega melihat Yasinta mengiakan ajakannya, memberi isyarat pada Arka agar laki-laki itu kembali ke ruangannya.

“Oke, see you at home,” bisik Arka sambil menepuk puncak kepala Elvira pelan, lalu berbalik dan meninggalkan mereka berdua.

“Ayo ikut dengan saya," ajak Elvira setelah bayangan Arka menghilang dibalik tangga menuju lantai dua.

Yasinta buru-buru mengangguk dan berjalan di samping Elvira yang jauh lebih tinggi darinya.

***

“Jadi, apa kamu mau menjadi istri kedua suami saya?”

Yasinta yang sedang menekuri lembaran kertas di hadapannya, langsung mendongak begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Elvira.

Sejujurnya, sampai sekarang Yasinta masih belum mengerti, mengapa wanita cantik bak supermodel di hadapannya ini menyodorkan tawaran paling absurd padanya. Padahal mereka tidak saling mengenal sebelumnya.

“Mengapa saya?” Yasinta bertanya balik.

Kening Elvira mengernyit mendengar itu. “Mengapa saya memilih kamu untuk menjadi istri kedua suami saya?”

Yasinta mengangguk samar, sambil memperhatikan wanita yang sedang duduk di hadapannya itu. Memakai dress berwarna nude selutut, riasan simpel dengan lipstick merah yang kontras dengan kulitnya yang putih, rambut panjang bergelombang, wanita itu terlihat begitu cantik, elegan, sekaligus misterius.

Sangat mencolok untuk berada di lingkungan kampus.

“Jawabannya simpel. Kamu dan suami saya sudah saling mengenal. Tentu situasinya tak akan secanggung jika kalian belum kenal, bukan?”

Tentu saja Yasinta mengenal Arka yang notabene adalah dosennya. Memangnya siapa yang tidak mengenalnya? Apalagi Arka adalah Dosen Pembimbing Akademik (DPA) Yasinta, sekaligus mengajar di beberapa kelas yang masih gadis itu ikuti. Tapi rasanya itu tidak cukup kuat untuk jadi alasan memilih Yasinta sebagai istri kedua Arka.

“Hanya itu alasannya?”

Elvira mengedikkan bahu. “Yeah, as simple as that. Apa kamu sudah membaca surat perjanjian itu sampai selesai?”

Yasinta termangu. Ia sudah membaca sampai lembar terakhir, tapi tetap tak memahami maksudnya.

“Saya sudah baca semuanya, tapi saya tetap tidak mengerti. Mengapa anda meminta saya untuk mengandung buah hati kalian berdua lewat proses bayi tabung? Bukankah surrogate mother termasuk illegal di negeri ini?”

Elvira mengulas sebuah senyum rahasia di bibirnya yang semerah darah itu. “Siapa yang menyebutkan tentang surrogate mother? Apakah disebutkan dalam klausul di surat itu?”

Yasinta mengerjap bingung, lalu kembali membaca lembar dua, yang berbunyi.

PIHAK KEDUA akan:

1. Menjadi istri kedua dari PIHAK PERTAMA sampai batas waktu yang ditentukan.

2. Batas waktu yang ditentukan adalah sampai PIHAK KEDUA melahirkan seorang bayi laki-laki atau perempuan yang sehat.

3. Menjalani program bayi tabung di rumah sakit yang ditunjuk, sampai berhasil hamil seorang bayi. Semua biaya selama proses tersebut akan ditanggung oleh PIHAK PERTAMA.

4. Mematuhi perintah PIHAK PERTAMA demi kelancaran program bayi tabung tersebut.

“Tapi poin nomor tiga mengatakan saya harus menjalani program bayi tabung?” Yasinta menunjukkan kertas itu pada Elvira.

“Ya, memang. Tapi di sana tidak disebutkan tentang surrogate mother. Itu artinya, yang menjalani program bayi tabung adalah kamu dan Arka, bukan dengan saya.”

Yasinta membeku di tempat duduknya.

“Artinya, sel telur saya yang akan diambil?” Yasinta memastikan dengan dahi mengernyit.

Elvira mengangguk sambil menggerai rambutnya yang bergelombang. Entah mengapa, wajah cantik wanita itu kini justru terlihat mengerikan di mata Yasinta.

Mengapa ada wanita yang rela melakukan itu? Apakah ia punya penyakit yang melarangnya untuk hamil dan melahirkan?

Bukankah jika sel telurnya yang diambil, itu artinya bayi yang dikandungnya adalah darah dagingnya sendiri? Wanita gila mana yang mau melakukan itu.

Yasinta sendiri belum siap untuk mengandung dan melahirkan di usianya yang baru menginjak 21 tahun. Ia masih ingin bekerja setelah lulus kuliah. Pernikahan sama sekali tak ada dalam rencana jangka pendeknya.

Bahkan, sebenarnya Yasinta tidak ingin menikah untuk selamanya. Luka dan traumanya terlalu dalam pada sebuah ikatan bernama pernikahan.

“Tapi, kenapa bukan sel telur anda saja?” tanya Yasinta lagi.

Elvira mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Yasinta, lalu mendesis tajam. “Kamu tidak perlu tahu alasannya. Kamu hanya perlu melakukan ini, tanpa banyak tanya.”

Yasinta mengalihkan pandangannya dari wajah Elvira yang terlihat kesal dengan pertanyaannya tadi. Meskipun wanita itu sangat cantik, tapi ada kilasan kejam dan juga ambisius yang bisa Yasinta tangkap dari matanya, dan itu membuat gadis itu tidak nyaman.

“Itu artinya saya harus cuti dari kuliah jika program bayi tabung itu berhasil?”

“Terserah kamu. Kalau kamu punya keberanian untuk kuliah dengan perut buncit, kamu tidak perlu cuti.”

Yasinta meremas tangannya gelisah. Sejenak ia mengedarkan pandangan pada seluruh kafe yang untungnya masih lengang. Ia tidak ingin dipergoki orang lain saat sedang membicarakan sebuah tawaran absurd seperti ini.

Jangankan menjadi istri kedua, berpacaran saja Yasinta belum pernah. Tiga tahun ini ia sibuk kuliah sambil bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri.

“Saya tahu kamu butuh uang banyak untuk pengobatan adik kamu,” cetus Elvira melihat Yasinta yang sedari tadi lebih banyak diam dengan kening berkerut.

“Darimana anda tahu?” sambar Yasinta cepat.

Elvira berdecak sambil mengibaskan tangannya. “Nggak penting darimana saya bisa tahu. Yang harus kamu ingat, tawaran ini akan sangat menguntungkan untuk kamu. Arka juga akan membiayai kuliah dan biaya hidup sehari-hari kamu selama perjanjian ini berlangsung. Jadi, kamu tidak perlu lagi kerja part time di restoran milik teman kamu itu.”

Yasinta terkesiap. Wanita di depannya ini bahkan tahu tentang pekerjaannya di restoran milik Nala—sahabatnya.

Mendadak, Yasinta merasa ngeri dengan istri dari dosennya itu. Ia tahu, orang-orang sejenis Elvira bisa melakukan apapun untuk memuluskan keinginan mereka.

Tipikal orang-orang dari kaum jetset yang bisa melakukan apapun dengan uang yang mereka punya.

Meskipun Yasinta sangat benci dengan orang-orang sejenis itu, tapi tawaran menjadi istri kedua ini bisa menjadi jalan keluar bagi Agil—bocah laki-laki berusia sembilan tahun yang sudah ia anggap seperti adik sendiri—untuk mendapatkan pengobatan atas leukimia yang ia derita sejak bertahun-tahun yang lalu.

Yasinta tidak bisa langsung menolaknya begitu saja.

Ada harapan untuk kesembuhan Agil yang ia pertaruhkan di sini.

Apalagi dalam salah satu klausul disebutkan, tak boleh ada hubungan intim antara Yasinta dan Arka. Seharusnya tidak perlu ada yang dikhawatirkan, bukan?

Yasinta hanya perlu mengandung seorang bayi yang kelak akan menjadi anak mereka, lalu setelah itu ia bisa melenggang pergi dari kehidupan mereka untuk selamanya.

Paling lama hanya satu tahun itu tejadi. Ia hanya perlu bersabar selama itu.

“Apa Pak Arka sudah tahu tentang perjanjian ini?” tanya Yasinta sambil menyebutkan nama dosennya itu.

“Tentu saja. Ini keputusan kami berdua. Meskipun hanya saya saja nanti yang akan tanda tangan di atas surat itu.”

Yasinta menghela napas panjang. Ia butuh waktu untuk berpikir. “Saya tidak bisa memutuskan ini sekarang. Beri saya satu minggu untuk memikirkannya.”

“No way. Satu minggu terlalu lama. Tiga hari sudah cukup untuk bisa memutuskannya.”

“Jika saya menolak?”

“Well, saya bisa cari wanita yang mau melakukannya,” jawab Elvira enteng.

“Kalau begitu, mengapa menawarkan ini pada saya?” Yasinta masih belum bisa melupakan rasa penasarannya, tentang alasan Elvira dan Arka memilihnya untuk menjadi istri kedua.

“Karena saya tahu kamu akan menerimanya. Kamu gadis yang pintar, Yasinta. Saya tahu kamu tidak akan melewatkan tawaran langka ini tanpa memikirkannya matang-matang,” pungkas Elvira sambil tersenyum miring.

Setelah itu, ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam tas mahalnya, lalu menggesernya ke depan Yasinta. “Kamu bisa hubungi Arka kalau kamu menyetujui tawaran ini. Tapi jika kamu menolaknya, kamu bisa telpon saya di nomor yang tertera di kartu itu.”

“Baiklah.” Yasinta mengambil kartu nama itu dan membaca nama Elvira Damayanti yang tertera di atasnya. Setelah itu ia memasukkannya ke dalam ransel.

“Oiya, sesuai klausul dalam perjanjian itu, kamu dilarang memberitahukan tentang tawaran ini pada siapa pun, meskipun kamu belum memutuskan untuk menerima atau menolaknya. Saya bisa tahu jika kamu berani melakukan itu dan saya tidak akan tinggal diam.”

Bulu kuduk Yasinta seketika meremang ketika mendengar ancaman yang terdengar sangat serius itu.

***

Entah sudah berapa lama Yasinta membolak-balik surat perjanjian yang ada di tangannya itu. Sejak pulang dari kafe di dekat kampus tadi, ia bahkan belum keluar dari kamar kos karena sibuk mencermati klausul demi klausul dalam surat itu.

Meskipun kompensasi sebesar delapan miliar yang Elvira terdengar sangat menggiurkan, tapi ia tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan penting yang berkaitan dengan masa depannya.

Selain ia harus cuti selama satu tahun, ia juga harus rela menikah di bawah tangan dan mengandung di usia muda. Satu gagasan yang sama sekali tak pernah Yasinta bayangkan.

Tapi, lagi-lagi ini adalah harapan besar bagi Agil. Dengan uang sebanyak ini, Agil bisa mendapatkan kemoterapi dan obat-obatan yang bisa menyembuhkannya dari leukimia. Yasinta juga bisa memberikan kehidupan yang layak bagi adik kecilnya itu.

Tapi, ada satu hal lagi yang membuatnya bimbang.

Ada salah satu klausul yang menyebutkan bahwa, selain tidak boleh ada kontak fisik yang berlebihan seperti hubungan intim, Yasinta juga tidak boleh jatuh cinta pada Arka.

Pertanyaannya adalah, bisakah Yasinta menekan perasaannya pada Arka, orang yang diam-diam ia kagumi sejak tiga tahun yang lalu?

Bersambung..

Selamat datang di novel keduaku, setelah Sekretaris Lola.

Kalian juga bisa baca novel terbaruku yang berjudul Only You.

Selamat membaca :)

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin