Beautiful Mistress Makan Malam

Makan Malam

Axl baru saja keluar dari ruangan dokter untuk berkonsultasi, terkait kondisi yang dialami Gendarly.

Ada perasaan lega saat pria berseneli itu berkata padanya tidak ada masalah serius dalam tubuh atau rahim istrinya. Hanya saja selama masa menstruasi diusahakan banyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran.

Masuk kembali ke ruang rawat, dahi Axl tiba-tiba berkerut. Dia lihat makanan yang tadi siang diantar oleh petugas belum tersentuh sama sekali. Sementara gadis itu hanya sibuk menonton acara televisi yang menempel di dinding.

“Kenapa nasinya gak dimakan?” tanya Axl ketus sesaat setelah dia berdiri di samping Gendarly.

“Males, Mas. Aku nggak suka makanan rumah sakit, nggak enak,” gadis itu menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tipis yang sedang menampilkan film kartun.

Tanpa basa-basi Axl mematikan televisi, mengambil makanan itu kemudian duduk di sisi tempat tidur.

Gendarly ingin protes saat suaminya itu mematikan televisi, tapi tatapan tajam Axl mengenyahkan niatnya.

"Makan atau aku paksa kamu?” desak Axl ketika satu sendokan nasi dan sayur tiba di depan mulut gadis itu.

Gendarly menelan ludah dan melirik Axl sekilas. Dengan berat hati dia membuka mulutnya lalu mengunyah makanan yang terasa hambar di lidahnya.

Suapan demi suapan yang Axl berikan, meluncur lancar ke dalam mulut Gendarly.

“Mas, udah.”

Satu sudut bibir Axl terangkat begitu melihat wajah gadis di hadapannya mengernyit dan memelas agar makannya disudahi.

“Dokter bilang kamu nggak perlu dirawat dan bisa pulang hari ini juga,” ujar Axl memberitahu.

“Yesss!”

Mendengar hal itu tentu saja Gendarly bahagia. Artinya dia tidak akan bertemu lagi dengan makanan hambar ini.

Axl menatap sekilas air muka Gendarly yang berseri-seri.

‘Dia langsung senang karena dibolehkan pulang?’

***

Axl tiba di mobil terlebih dahulu, meninggalkan Gendarly yang masih berjalan jauh di belakangnya.

Terlalu beresiko jika dia berjalan bersama gadis itu karena wajahnya sudah dikenali oleh masyarakat pecinta gosip. Akibat seringnya ia muncul di layar TV, sebagai suami dari seorang model sekaligus artis papan atas.

Gendarly tampak mencari-cari SUV yang sudah jadi kesayangan Mang Ujang, tapi dia tidak menemukannya.

Kemana Mang Ujang? Tadi sopirnya itu mengirim pesan akan menunggu di parkiran.

Tiba-tiba saja sebuah Maserati GranTurismo yang sangat ia kenal, berhenti di depannya. Kacanya perlahan terbuka dan menampilkan Axl dengan kacamata hitamnya. Kemudian memberi isyarat agar Gendarly masuk.

Gadis itu terbengong-bengong.

Apa dia sedang bermimpi?

Atau apa karena pandangan Mas Axl sudah gelap, akibat kacamata hitam yang menghalangi matanya?

Benar-benar suatu kejadian yang teramat langka. Ini pertama kalinya Gendarly naik mobil lelaki yang berstatus sebagai suaminya. Aroma maskulin yang sudah familiar di hidungnya, menguar begitu kuat ketika dia memasuki mobil mewah itu.

Axl melirik Gendarly sekilas sebelum akhirnya dia melajukan kendaraannya.

‘Aku kira Mas Axl udah pulang ninggalin aku,’ ucap gadis itu dalam hati.

Kecanggungan begitu senang melingkupi mereka berdua di dalam ruangan kecil yang mereka tumpangi. Tidak ada yang bersuara dan tidak ada yang berinisiatif mengawali percakapan.

Kaku. Sepi. Dingin. Mencekam.

Gendarly merasakan bulu kuduknya kembali berdiri ketika dia melirik Axl sekilas, wajah suaminya itu tampak dingin dengan rahang yang tegas. Sangat jauh berbeda dengan Axl yang lembut ketika mereka berada di atas ranjang.

“Mas...?” panggil Gendarly ragu-ragu.

“Ada apa?” Axl menyahut ketus.

Gendarly menggigit bibir, dia sebenarnya takut meminta hal ini. “Bisa kita ke shelter dulu? Aku mau ngambil Ariel di klinik,” pintanya.

“Ariel? Siapa?” Kali ini Axl memalingkan wajahnya, menatap penuh tanya.

“Kucing aku, Mas. Dia lagi sakit jadi aku bawa ke sana tadi pagi,” jelas Gendarly.

Axl tidak bisa menahan senyum tipisnya, sangat tipis sampai-sampai Gendarly tidak akan menyadari kalau dia sedang tersenyum. Dia merasa lucu ketika tahu kalau Ariel itu kucing. Padahal sebelumnya dia mengira pemilik nama itu adalah seseorang.

Axl juga baru tahu akhir-akhir ini, Gendarly punya hewan peliharaan. Lantaran dia selalu menemui istri simpanannya malam-malam saat semuanya sudah tidur, termasuk kucing itu. Jadi dia tidak pernah tahu.

Axl menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah Animal Shelter lalu melepas seat belt ketika mesin sudah dimatikan.

“Lho, Mas mau ke mana?” tanya Gendarly heran saat Axl mau membuka pintu.

“Ikut ke dalam,” jawabnya tidak ramah.

Pergi ke klinik, itu artinya Gendarly akan bertemu dengan dokter hewan yang ditemuinya di rumah sakit. Dan Axl tidak akan membiarkan mereka berduaan.

Gendarly pikir Axl akan membukakan pintu untuknya, seperti di drama-drama ataupun cerita di dalam novel romantis. Rupanya dia kecele. Lelaki itu malah melengos pergi meninggalkan mobilnya.

“Mau ke mana, Mas?!” gadis itu berseru ketika kakinya sudah menapaki paving blok.

Langkah Axl terhenti kemudian berbalik. Raut mukanya sulit sekali diartikan.

“Kliniknya di arah sana.” Gendarly menunjuk arah yang berlawanan dengan arah yang dituju oleh Axl.

“Oh.” Axl menggaruk belakang kepala, menyembunyikan kecanggungannya.

Gendarly menahan senyum. Ini pertama kalinya dia melihat ekspresi berbeda yang Axl tunjukkan padanya.

Keduanya pun memasuki klinik milik Rangga dan langsung disambut oleh pemiliknya.

“Kamu sudah boleh pulang memangnya?” Kalimat pertama yang dilontarkan Rangga.

Gendarly mengikuti langkah Rangga menuju ruang rawat Ariel. Axl menyusul di belakangnya, memperhatikan mereka dengan tatapan waspada.

“Sudah, Dok. Dokter bilang aku harus banyak istirahat aja,” jawabnya sebelum dia berhamburan meraih Ariel ke dalam pangkuannya.

Gendarly tertawa mendapati Ariel yang langsung bermanja-manja padanya. Kucing berbulu tebal itu sepertinya rindu dengan majikannya.

Axl sempat tertegun memperhatikan Gendarly yang tertawa, dan lesung pipinya terbentuk sempurna. Air muka gadis itu pun berubah ceria.

Beberapa saat Gendarly dan Rangga terlibat obrolan seputar kesehatan Ariel. Dokter itu menyarankan untuk membawa Ariel lagi kalau ada gejala seperti sebelumnya.

Axl yang duduk di kursi penunggu, melirik penunjuk waktu di tangan kirinya. Dia geram dan sudah tidak nyaman melihat interaksi mereka berdua. Lelaki itu mendekati Gendarly dan berkata, “Kita pulang sekarang!”

“Oh?” Gendarly hampir lupa kalau ada Axl yang sedang menunggunya. Menuruti perintah Axl, kemudian dia pamit pada Rangga.

“Nggak bisa ya kalau ngobrolnya gak lama-lama?” cecar Axl ketika sudah melajukan lagi kendaraannya.

“Nggak bisa, Mas. Banyak yang harus aku tahu tentang kesehatan kucing soalnya,” jawab Gendarly polos. Tidak sadar jika jawabannya itu mengundang emosi suaminya.

Axl memegang kemudi kuat-kuat. Dari sudut matanya, dia melihat Gendarly sedang bermain-main dengan Ariel. Tawa gadis itu yang terdengar renyah memenuhi seisi mobil. Tawa yang seketika membuat dada Axl sesak dan membuat jantungnya berdebar.

Shit!

Demi menyamarkan gelak tawa gadis itu, Axl lalu menyalakan musik DJ keras-keras. Awalnya Gendarly kaget, tapi karena dirinya sudah terbiasa dengar musik itu di club, dengan ringan kepalanya bergerak mengikuti tempo.

Rupanya walaupun gerakan Gendarly terlihat ringan, hal itu malah semakin menyesakkan dada Axl. Dia sendiri bingung, kenapa jadi seperti ini?

Axl lalu mematikan lagi musiknya.

Gendarly menoleh. “Kenapa musiknya dimatiin, Mas? Udah enak kayak tadi.” Karena kalau keadaan di sekitar mereka sepi, akan membuat Gendarly merasa canggung.

“Diam. Atau aku akan menurunkanmu di sini.”

Mendengar ancaman dari mulut Axl, sontak Gendarly mengatupkan mulutnya dan tidak berkutik lagi sampai mereka tiba di rumahnya.

Mang Ujang yang membukakan gerbang tampak tidak heran dengan kedatangan tuannya, karena tadi dia pulang pun disuruh oleh Axl. Berbeda dengan Mbak Leni, wanita itu tercengang melihat Axl yang melenggang masuk ke dalam rumah.

Benar-benar pemandangan yang langka.

Gendarly yang berjalan di belakang, memandangi punggung suaminya dengan tatapan penuh tanya.

“Aku mau makan malam di sini,” ucapnya tanpa ekspresi lalu duduk di ruang santai. Ia melepas tiga deret kancing kemeja bagian atasnya dan menggulung lengan baju sampai siku.

Gendarly dan Mbak Leni saling berpandangan dari kejauhan. Namun gadis itu buru-buru menghampiri pelayannya di dekat mini bar, sesaat setelah ia melepas Ariel.

“Mbak, makan malamnya udah siap?”

“Udah, Non. Beres.” Mbak Leni tersenyum sumringah. “Eh, tapi Non Darly udah baikan?”

Gendarly mencuci tangan dan mengeringkannya dengan handuk kecil. “Udah, Mbak. Efek obatnya masih ada, jadi sakitnya belum kerasa lagi,” jawabnya.

Mata elang milik Axl tampak mengamati Gendarly, yang bolak balik membantu Mbak Leni menyiapkan makan malam di atas meja. Tatapannya menilai dan seolah tidak ingin terlepas dari gadis itu.

“Kamu lupa ucapan dokter?”

“Eh?”

Gendarly hampir menjatuhkan mangkuk di tangannya ketika dia berbalik dan menubruk dada Axl. Tangan lelaki itu kemudian meraih mangkuk dari tangan Gendarly dan memberikannya pada Mbak Leni.

“Dokter nyuruh kamu buat istirahat. Bukan kerja kayak begini,” desis Axl dengan tatapan tajamnya.

Gendarly mengerjap. “Tapi... aku nggak kerja, Mas. Aku cuma bantu Mbak Leni doang,” sahutnya ragu-ragu.

“Sama aja!”

Axl lalu menarik kursi dan mendaratkan tubuhnya di sana.

Mbak Leni yang sudah selesai menyiapkan semuanya, memilih pergi menjauh dari kedua majikannya.

Mereka pun mulai sibuk dengan makanan masing-masing tanpa ada yang bersuara. Hanya terdengar dentingan sendok dan piring yang beradu memenuhi seisi ruang makan.

Ditengah kunyahannya, Gendarly mengarahkan matanya pada Axl. Pria itu terlihat makan dengan santai dan tidak terburu-buru. Rahang tegasnya bergerak-gerak seiringan dengan rongga di dalam mulutnya mengunyah makanan.

“Kenapa menatapku?” celetuk Axl membuat Gendarly sedikit tersentak. “Kamu mulai tertarik padaku?” tanyanya lagi percaya diri.

“Huh?” Gendarly membulatkan mata.

“Jangan ge-er dulu. Aku mau nganterin kamu pulang dan makan malam di sini, itu tanggung jawabku sebagai suami. Nggak ada perasaan lebih,” ujar Axl santai.

Gendarly mengalihkan pandangannya. “Nggak kok, Mas. Tenang aja,” sahutnya, “Mas nggak usah khawatir, karena aku nggak akan pernah tertarik atau menyukai Mas Axl. Aku juga nggak akan lupa sama perjanjian kita.”

Uhukk!! Uhukk!!

Axl tersedak oleh makanan. Dia menepuk dadanya sendiri lalu meneguk segelas air putih. Setelahnya dia mengarahkan tatapan tajamnya pada gadis di hadapannya. Saking tajam, sampai-sampai Gendarly merasa mata Axl ingin menyakiti kulit wajahnya.

Tiba-tiba Axl menjauhkan piringnya lalu berdiri. Tanpa banyak kata dia melangkah pergi dari ruangan itu.

“Mas, mau ke mana?! Mas Axl belum ngabisin makanannya!” seru Gendarly ketika lelaki itu sudah menjauh.

Axl tampak tidak mau peduli. Dia terus melanjutkan langkah menuju mobilnya. Axl tidak mengerti kenapa dia merasa marah oleh kalimat yang diucapkan gadis itu?

Dengan emosi yang hampir meledak, kakinya menginjak pedal gas dalam-dalam. Kemudian menjalankan mobilnya dengan kecepatan hampir penuh.

Di ruang makan, Gendarly tercenung melihat piring Axl yang masih terisi setengahnya.

Kenapa Mas Axl marah?

Gendarly mengambil napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.

***

To be continued.

Jangan lupa star vote-nya ya readers ^^

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin