Beautiful Mistress What Is This Feeling?

What Is This Feeling?

Gendarly membawa Ariel ke klinik hewan sesuai dengan janjinya kemarin. Dia memaksakan diri untuk pergi meski kondisi keram di perutnya semakin menjadi.

“Kita ke tempat mengadopsi hewan yang dulu itu, Non?” tanya Ujang sambil melirik majikannya dari spion tengah.

“Iya, Mang.”

Tanpa banyak kata, Ujang melajukan mobil yang di kemudikannya keluar dari gerbang. Tadinya Gendarly pikir dia bisa pergi sendiri, tapi dia urungkan mengingat kondisi tubuhnya sedang lemah.

Setelah melewati tiga puluh menit perjalanan, gadis itu akhirnya sampai di Animal Shelter. Dia berjalan menuju gedung dua tingkat yang terpisah di sayap kiri, sebagai klinik hewan tempat untuk memerika kondisi Ariel.

Seorang lelaki yang terlihat tampan menyambut dan tersenyum padanya. Sesaat ekspresi lelaki itu berubah, berganti dengan lipatan yang timbul di dahinya. Dia seperti sedang menerka-nerka gadis yang baru saja datang.

drh. Rangga Kanigara. Gendarly membaca nama lelaki itu pada name tag di atas meja. Dia pun mulai menceritakan gejala yang dialami kucingnya, saat dokter bernama Rangga itu bertanya.

“Apa kamu sakit?” tanya Rangga sesaat setelah dia selesai memeriksa Ariel.

Gendarly mengangkat alis. Kemudian balik bertanya, “Udah jelas dia sakit, Dok. Dokter sudah lihat kondisinya, ‘kan?”

Rangga mengarahkan matanya pada gadis itu dan menatapnya dalam-dalam. “Saya nanya sama kamu, Gendarly. Kalau kucing kamu, saya rasa nggak perlu ditanya lagi.”

“Hah?”

Gadis itu tercengang dengan mulut setengah terbuka. Gimana caranya dokter ini tahu namanya?

“Kita pernah berkenalan saat kamu mengadopsi kucing ini,” ujar Rangga seakan tahu apa yang dipikirkan gadis di hadapannya.

Lelaki berkemeja kotak-kotak itu mengusap-usap kepala Ariel yang masih berada dalam pangkuannya. Dan anehnya kucing itu terlihat nyaman. Dia seperti bertemu dengan pemilik yang membesarkannya sejak lahir.

“Ah, iya.” Gendarly menggaruk belakang kepalanya, canggung. Rangga ternyata mengingat namanya dan hal itu membuatnya terkesan.

Gendarly tersentak ketika punggung tangan dokter hewan itu menyentuh keningnya.

“Dingin,” gumam Rangga, “Kamu harus segera periksa ke dokter.”

Ucapan Rangga memang ada benarnya. Gendarly merasa tubuhnya semakin lemah akibat menahan nyeri yang kian intens. Suhu badannya juga terasa dingin. Jika dirinya tidur cukup semalam, mungkin tidak akan selemah sekarang.

“Iya, Dok. Saya akan ke rumah sakit nanti,” ucapnya dengan bibir gemetar.

Sepertinya tidak perlu menunggu nanti. Karena ketika gadis itu pamit dan berjalan menuju pintu keluar, tubuhnya tiba-tiba ambruk hingga menyentuh lantai. Setelahnya dia tidak mengingat apa-apa lagi.

Rangga yang menyaksikannya buru-buru menghampiri dan meraup tubuh gadis itu ke dalam pangkuannya. Lalu bergegas menuju mobilnya. Sebelum keluar, Rangga memberi pesan pada sang asisten untuk memasukkan Ariel ke rawat inap. Untung saja dia tidak punya jadwal lagi setelah ini.

Ujang yang sedang asyik bermain facebook di dalam mobil, terlonjak kaget saat majikannya berada dalam pangkuan lelaki lain. Terlebih lagi tubuhnya yang terlihat lemah.

“Non Darly! Kenapa, Non?”

Ujang setengah berlari menghampiri Rangga yang kesulitan membuka pintu mobil. Dia melemparkan lirikan pada dokter hewan itu dengan tatapan curiga.

Apa yang sudah dokter ini lakukan sama Non Darly?

“Anda siapa?” tanya Rangga.

“Saya sopirnya,” sahut Ujang khawatir. “Non Darly kenapa, Dok?”

“Oh, baguslah. Kita bawa dia ke rumah sakit. Tadi dia pingsan di dalam.”

Ujang mengusulkan mereka menggunakan mobil yang dikendarainya dan Rangga pun setuju.

***

Sopir berusia lima puluh tahunan itu tampak mondar mandir di koridor rumah sakit. Dia bimbang harus memberitahu tuannya atau tidak. Ujang sempat meminta saran dari Mbak Leni dan jawabannya dia harus mengabari Axl.

“Halo, Tuan. Anu... Non Darly—“

“Ada apa?” Suara dingin dari seberang telepon menyahut.

“Non Darly pingsan, Tuan. Sekarang kami ada di rumah sakit. Dan dokter sedang—“

Tut!

Suara sambungan terputus menghentikan kalimat Ujang. Lelaki tua itu sedikit kaget lalu menatap layar handphone-nya dengan dahi berkerut. Axl sudah memutus sambungan secara sepihak. Sejujurnya dia sangsi tuannya itu akan datang ke sini. Mengingat betapa sibuk dan tidak pedulinya Axl pada nyonya mudanya.

***

Rangga menatap Gendarly khawatir yang terbaring lemah di atas kasur berseprai putih. Wajahnya masih tampak pucat. Beberapa saat lalu dokter sudah memberi beberapa cairan obat yang disuntikkan lewat selang infusan.

Bibir rangga mengulas senyum hangatnya pada gadis itu. Sejak pertemuan pertamanya, dia sudah tertarik pada keceriaan Gendarly, saat gadis itu berinteraksi dengan beberapa hewan di tempat penangkarannya.

Pertemuan yang dia inginkan lagi dan lagi.

Tatapan Rangga teralihkan ketika seseorang mendorong pintu. Axl muncul dari pintu yang setengah terbuka lalu berjalan dengan tegap menghampiri gadis itu.

Sebelum Axl mengecek kondisi Gendarly, dia lebih tertarik pada lelaki yang duduk di kursi samping tempat tidur pasien.

“Anda siapa?” tanyanya dingin dengan tatapan tajam dan menilai.

Rangga berdiri dan mengulurkan sebelah tangan untuk menyapa. Namun Axl tampak tidak berniat membalas uluran tangan lelaki itu. Hingga Rangga harus menarik kembali tangannya dengan canggung.

“Saya dokter yang memeriksa hewan peliharaan Nona ini. Dia pingsan ketika sedang berkonsultasi dengan saya,” ucap Rangga tanpa merasa terintimidasi oleh tatapan Axl.

“Oh.”

“Maaf, apa anda kakaknya Gendarly?” Rangga mengira seperti itu karena Axl tampak lebih matang dari Gendarly.

“Ya. Anggap saja begitu.”

Sejujurnya Axl enggan untuk menjawab, dia ingin lelaki yang berprofesi sebagai dokter hewan itu segera pergi dari ruangan ini.

Keinginannya langsung terkabul saat sebuah panggilan telepon masuk ke handphone Rangga. Lelaki itu pamit keluar sebentar untuk mengangkat panggilan.

‘Sekalian saja langsung tinggalkan ruangan ini, nggak perlu balik lagi,’ geram Axl yang tidak dilisankan.

Setelah pintu kembali tertutup, Axl mendekati tempat tidur yang ditempati Gendarly. Dia baru selesai rapat ketika Ujang mengabarinya. Tadinya dia tidak memiliki niat untuk datang ke sini, tapi ingatan tentang semalam saat gadis itu bilang perutnya sakit, membuat Axl mau tidak mau menyeret langkahnya ke rumah sakit.

Axl berdiri dengan kedua tangan bersembunyi di dalam saku celana. Mata elangnya memperhatikan wajah gadis itu yang terlelap tidak berdaya. Aura polosnya terpancar dari wajah putih mulus milik gadis yang sepuluh tahun lebih muda darinya.

Axl terpaku.

Dia sadar betul bahwa gadis polos inilah yang selalu memuaskan dirinya di atas ranjang. Namun selama pergumulan mereka, Axl tidak pernah menatapnya se-intens sekarang. Karena saat di atas ranjang, matanya berkabut oleh nafsu yang menggebu.

Ternyata jika diperhatikan, struktur wajah gadis ini begitu sempurna.

Axl menyentuh ujung bulu mata Gendarly yang panjang dan lentik. Gerakannya ringan seringan kapas dengan menggunakan punggung jari telunjuk.

Anehnya, bulu mata lentik itu seakan memiliki aliran listrik. Sengatannya menjalar melalui lengan, pundak, dada, lalu berakhir di dalam jantungnya. Menyebabkan organ penting itu berdetak lebih cepat dari biasanya.

Perasaan apa ini? Aneh. Benar-benar aneh.

Kelopak mata yang tertutup itu tiba-tiba bergerak perlahan. Mungkin dia juga merasakan sentuhan tangan Axl.

Menyadari hal itu, Axl buru-buru menarik tangannya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celana. Lantas mengalihkan tatapannya ke arah lain.

“Mas?”

Suara lirih Gendarly membuat Axl gelagapan. Apa dia menyadari sikapnya barusan? Apa gadis itu tahu?

Axl hanya berdehem sebagai jawaban darinya.

“Aku di mana, Mas?” tanya gadis itu lagi. Dia merasa asing dengan ruangan yang ditempatinya sekarang.

“Rumah sakit,” jawab Axl sekenanya.

“Rumah sakit?” Gendarly mengulang kalimat Axl. Ia berusaha mengingat penyebab kenapa bisa sampai di bawa ke rumah sakit. Dan hal yang terakhir dia ingat, ketika berada di ruang praktik milik Rangga.

“Kalau sudah tahu sakit, kenapa nggak langsung pergi ke dokter?!” hardik Axl tiba-tiba dan berhasil membuat gadis itu tersentak. “Bukannya malah ngurusin kucing itu dari pada ngurusin diri kamu sendiri!”

“Tapi aku nggak apa-apa, Mas,” sahut Gendarly waspada.

Axl berkacak pinggang dan menatap gadis itu tajam. “Kalau nggak apa-apa kenapa harus pingsan segala, hah?”

Gendarly menunduk dan menggigit bibir bawahnya. Kalau Axl sudah marah, bisa apa dia?

Rangga yang sudah selesai mengakhiri panggilannya, kembali masuk ke dalam ruangan dan menghampiri mereka. Senyumnya merekah ketika melihat gadis itu sudah sadar.

“Gimana keadaan kamu sekarang? Sudah baikan?” tanya Rangga dengan ramah.

Gendarly tersenyum dan mengangguk. “Apa Dokter yang membawaku ke sini?” tanyanya memastikan.

“Iya. Syukurlah kalau sudah baikan. Dokter yang meriksa kamu bilang, kamu harus banyak istirahat dan tidur yang cukup,” petuah Rangga diiringi senyuman hangatnya.

Gendarly masih mengulum senyumnya. “Makasih banyak, Dokter. Oh, iya di mana Ariel?”

Axl yang masih berdiri, memperhatikan interaksi mereka dengan perasaan tidak suka. Apalagi Gendarly terus-terusan melemparkan senyum pada dokter hewan itu. Axl geram. Gigi-giginya bergemeretak dan rahangnya tampak mengeras.

“Sebenarnya siapa pasienmu?”

Suara dingin Axl berhasil membuat Gendarly dan Rangga menoleh ke arahnya. Menatapnya penuh tanya.

“Kuulangi sekali lagi. Sebenarnya pasienmu itu hewan atau gadis ini?” desisnya lagi pada Rangga.

Rangga mengerti maksud dari ucapan Axl lantas tersenyum tipis. “Saya hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja.”

Axl semakin geram dan rasanya ingin melemparkan bogem mentah detik ini juga pada lelaki itu.

“Bukankah kamu bilang dia harus istirahat? Mana bisa dia beristirahat kalau kamu terus menerus mengganggunya?!” hardik Axl tanpa mempedulikan tatapan bingung dari gadis yang dia bicarakan. “Keluar dari ruangan ini sekarang juga!”

Pada akhirnya Rangga menurut perintah Axl. Dia tidak ingin membuat keributan di sini. Setelah pamit pada Gendarly dan Axl yang tidak mempedulikannya, dia lalu pergi dari ruangan itu.

“Mas...?”

Gendarly tidak suka Axl berbuat semaunya pada orang yang sudah menolongnya. Namun lidahnya kelu untuk protes.

Tanpa banyak kata, Axl mendekat dan mencondongkan tubuhnya. Menipiskan jarak diantara mereka. Tangannya mengangkat dagu gadis di hadapannya agar sedikit mendongak.

“Dengar, aku ini suamimu. Dan aku nggak suka kalau kamu berinteraksi dengan laki-laki lain seperti yang barusan terjadi!”

***

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin