Beautiful Mistress Rejection

Rejection

“Dan ada kabar baik nih bagi kalian penggemar Calya, salah satu presenter kami sedang berbincang-bincang dengan model cantik itu, yang saat ini sedang menghadiri upacara pernikahan Dhea dan Steve. Kalian pasti udah nggak sabar, ‘kan, pastinya? Apalagi nih, Calya datang bersama suaminya. Waaah... luar biasa. Oke deh, kita lihat bagaimana perbincangan mereka. Check it out!”

HUEEKKK!!!

“Ariel?!”

Suara Ariel yang terdengar sedang muntah, membuat Gendarly terlonjak kaget. Dia buru-buru menghampiri kucingnya di ambang pintu menuju ke luar rumah.

Gendarly tidak tahu, selepas kepergiannya dari atas sofa, acara gosip itu menayangkan secara live wawancara Axl dan Calya, yang tampak begitu mesra.

“Hei, kamu muntah?”

Gendarly berjongkok dan memeriksa tubuh Ariel. Ini aneh, tidak biasanya kucing itu muntah, banyak pula. Dia jadi mengkhawatirkan kesehatan Ariel.

Perasaan kucing itu nggak makan yang aneh-aneh, deh.

“Ariel kenapa, Non?” Mbak Leni yang sempat mendengar seruan Gendarly pada Ariel, menghampiri karena penasaran.

“Nggak tahu nih, Mbak. Tiba-tiba aja dia muntah.”

Mbak Leni ikut berjongkok di sebelah majikannya, dan mengamati tubuh Ariel. “Duh, Non. Kalau dia udah muntah pertanda nggak baik itu. Mending hubungi dokter aja, takut ada sesuatu, Non.”

Gendarly memikirkan saran Mbak Leni dan memang ada benarnya juga. Setidaknya dia harus bertanya pada ahlinya.

Kalau tidak salah, dulu di Animal Shelter tempat Gendarly mengadopsi Ariel, dia sempat berkenalan dengan dokter hewan dan menyimpan nomor teleponnya.

Setelah menemukan nama dokter itu di deretan kontak, Gendarly akhirnya menghubungi lewat panggilan telepon. Rupanya yang mengangkat adalah asistennya.

“Baik, Mbak. Kalau bisa bawa secepatnya ke sini, ya. Biar di lihat langsung sama dokter,” ujar asisten dokter di seberang telepon, setelah Gendarly menjelaskan kondisi Ariel padanya.

“Iya. Besok saya ke sana. Terima kasih.”

Setelah sambungan terputus, Gendarly meringis sambil menekan perutnya yang tiba-tiba terasa keram dan sakit. Penyakit bulanannya kambuh, karena hari ini adalah hari pertama dia mendapat jadwal rutinan seorang perempuan.

***

Setelah menghabiskan waktu di resepsi pernikahan dan berakhir dengan wawancara yang amat melelahkan, Axl dan Calya memutuskan untuk pulang.

Lelaki itu menyuruh pulang sopir yang mengantarkannya tadi, karena Axl ingin mengemudi sendiri. Dia ingin berduaan dengan istrinya.

“Kamu cantik banget malam ini.”

Sebelah tangan Axl yang terbebas dari kemudi, meraih tangan Calya dan menggenggamnya erat. Calya membiarkan saja Axl melakukan hal itu pada tangannya.

“Kamu lupa, kalau aku itu selalu cantik, Axl,” ucap Nadine sambil menatap lurus. Memperhatikan jalanan malam hari.

“Emang. Tapi malam ini jauh lebih cantik dari biasanya. Cantik dan seksi.”

Calya menanggapi gombalan suaminya dengan senyuman tipis. Lalu sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Calya, ternyata dari manajernya.

Axl melirik sekilas wajah serius istrinya, dia jengkel siapa yang berani mengganggu kebersamaan dirinya dengan Calya?

“Oke. Aku ke sana,” ujar Calya pada manajernya lalu sambungan pun berakhir.

“Nggak bisa!” tolak Axl dengan cepat. Dia seakan tahu apa yang dibicarakan Calya dengan si penelepon.

Calya menoleh dengan raut tidak suka. “Aku harus pergi sekarang, Axl. Ada syuting dadakan untuk iklan baruku. Jadi tolong turunkan aku di lampu merah berikutnya. Ada yang udah jemput aku di sana.”

“Kamu itu istri aku, Cal! Gak boleh seenaknya pergi gitu aja, apalagi kita jarang berdua kayak gini!” Axl meninggikan suaranya pertanda tidak setuju dengan rencana Calya. Sejujurnya, Axl menginginkan istrinya malam ini, dan dia berencana membawanya ke hotel agar tidak terganggu oleh Kenan.

“Tapi project ini penting banget buat aku, Axl!” Calya tidak kalah bersuara tinggi.

“Buat apa? Buat dapetin uang? Aku bisa beri kamu sepuluh kali lipat dari penghasilan project itu, Cal. Lima puluh kali lipat juga aku sanggup, kok.” Emosi Axl mulai merangkak naik.

“Kamu lupa sama yang aku ucapkan, Axl? Pernikahan kita itu nggak pernah ada, jadi kamu gak bisa ngatur-ngatur aku!”

Axl geram. Dia memegang kemudi kuat-kuat lantas membantingnya ke arah kiri, hingga mobil berhenti di pinggiran jalan. Keduanya bungkam beberapa saat, menyisakan deru mesin mobil yang masih menyala.

“Pergilah!” perintah Axl pada akhirnya. Semarah apa pun dia, tetap saja egonya kalah oleh wanita itu. Axl selalu menghormati setiap keinginan Calya.

***

Gendarly meringkuk di atas tempat tidur sambil memegangi perutnya. Wajahnya yang mengerut dan tampak pucat, menandakan sakit yang teramat sangat.

Dia memang selalu seperti ini setiap bulan.

Suara hentakan pintu yang di dorong dengan kasar, membuat Gendarly terkejut. Mau tidak mau dia harus menengok ke arah pintu.

“Mas?” ucapnya tidak percaya.

Siapa lagi yang berani melakukan hal itu selain Axl? Membuka pintu tanpa perasaan.

Namun yang membuat Gendarly heran, lelaki itu kenapa menemuinya hari ini? Dua hari berturut-turut Axl datang. Bukankah itu aneh?

“Bangun, aku menginginkanmu,” perintahnya tanpa basa-basi. Pelan tapi tegas. Dia sudah berdiri di depan Gendarly yang masih berbaring. Lalu melepas tuxedo yang dikenakannya dan melemparnya sembarangan.

Gendarly terpaksa duduk dan merapikan rambutnya menggunakan jari jemari. Kepalanya sedang memikirkan kalimat penolakan yang halus, agar Axl tidak marah padanya.

Setelah melonggarkan dasi dan membuka tiga deret kancing kemeja paling atas, Axl mendorong bahu gadis itu lalu merebahkannya. Lantas mengambil posisi di atas tubuhnya, hingga Gendarly merasa sedikit sesak akibat tertindih.

Axl lalu menghadiahi pagutan hangat pada bibir gadis di bawahnya. Gerakannya menuntut meminta lebih dari sekadar sentuhan lembut.

Sebelah tangan Axl menyelinap ke dalam pakaian tidur yang dikenakan Gendarly. Menyentuh inci demi inci kulit yang terasa halus di bawah sentuhannya.

Hingga dia menemukan benda favorit yang ukurannya begitu pas dalam genggamannya. Sangat lembut dan menggiurkan.

Axl merasakan celananya semakin mengetat. Sesuatu di dalamnya meminta untuk segera dipertemukan dengan pasangannya.

Meski Axl sangat lihai, tapi Gendarly sama sekali tidak menikmati permainan bibir mereka. Keram di perutnya sangat mengganggu. Dia hampir kehabisan napas akibat kurangnya oksigen yang masuk ke dalam saluran pernapasannya, karena Axl belum memberi kesempatan untuk mengambil napas.

“Mas...,” ucap gadis itu lirih setelah akhirnya Axl melepastkan tautan bibir mereka.

“Yes, Baby.”

Axl fokus melepaskan kancing-kancing baju Gendarly. Namun kedua tangan gadis itu memegang pergelangan tangannya, seperti sedang berusaha menghentikan aksinya. Axl tidak mau kalah, dia dengan cepat menyingkirkan tangan gadis itu.

“Aku nggak bisa ngelakuinnya malam ini, Mas.”

“Kamu nggak bisa menolakku,” bantah Axl tegas.

“Mas, tapi aku lagi dapet jadwal bulanan,” ujar Gendarly sembari meringis menahan keram, yang kian intens menyerang perutnya.

Tatapan Axl tertuju pada bibir gadis itu, lalu mengelusnya menggunakan ibu jari. “Kalau gitu lakukan dengan mulutmu,” jawabnya santai.

Kemudian Axl menurunkan lagi pandangannya, lantas menenggelamkan mulutnya di puncak buah dada gadis itu yang sudah menyembul dari balik pakaian tidurnya.

“Tapi....” Gendarly menggigit bibir, jika biasanya dia akan meremang oleh sentuhan Axl. Kali ini tidak. Fokusnya tertuju pada perutnya yang semakin terasa sakit.

Merasa sentuhannya tidak mendapatkan respons yang baik dari gadis itu, Axl menghentikan permainannya. Dia menaikkan kepala dan mensejajarkan wajah mereka. “Kamu nggak mau melayaniku?” desisnya tajam bercampur suara serak.

Gendarly menatap ragu tatapan tajam Axl lalu menjawab dengan hati-hati, “Maaf, Mas. Tapi perut aku sakit banget.”

Mendengar hal itu, Axl buru-buru bangkit. Dia tidak suka mendengar kalimat penolakan apalagi saat miliknya sudah mendesak di bawah sana. Ia bisa saja memaksa gadis itu kalau kondisinya tidak sedang ‘libur’.

Axl berdiri dan merapikan lagi pakaiannya, sementara tatapan tajamnya tidak lepas dari mata Gendarly. Ada amarah dan kecewa dalam kilatan mata lelaki itu.

Tanpa banyak kata, Axl pergi dan membanting pintu keras-keras.

Gendarly termangu melihat kepergian Axl. Baru kali ini dia menolak lelaki itu. Dan baru kali ini juga Axl menatapnya kecewa.

Dia lalu merapikan lagi pakaiannya dan tertidur.

***

Entah sudah berapa kali Gendarly berguling ke kiri dan kanan. Gelisah dan nyeri di perut terus-terusan menyerangnya. Dia memang mudah insomnia oleh hal-hal sepele. Matanya memang terpejam tapi tidak benar-benar tidur.

Otaknya tetap bekerja. Memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak dia pikirkan. Menolak Axl rupanya membuat dia merasa bersalah, apalagi status Axl sebagai suaminya.

Kenapa juga harus merasa kayak gini? Harusnya ‘kan dia merasa senang karena malam ini tidak jadi menyerahkan tubuhnya pada lelaki itu.

Namun ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya, entah apa itu. Yang jelas Gendarly merasa perlu meminta maaf.

Dia memutuskan untuk menelepon suaminya, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Waktu sudah menunjukkan pukul satu, Gendarly pikir Axl pasti sudah tidur.

Sementara di sisi lain, di sebuah kamar hotel, tidur Axl sangat terganggu oleh suara panggilan masuk yang terus-terusan berbunyi. Dengan mata terpejam dia meraba-raba gawai di atas nakas.

Tanpa melihat nama si penelepon, Axl menolak panggilan itu lalu mematikan gawainya agar tidak mengganggu lagi. Dia lalu kembali ke posisi semula dan melingkarkan tangannya di pinggang seorang wanita tanpa busana, yang terlelap tidur dalam pelukannya.

***

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin