Beautiful Mistress Dia, Axl Sevastian Ivander

Dia, Axl Sevastian Ivander

Seorang lelaki bertubuh tinggi tegap terlihat berjalan memasuki sebuah rumah. Lebih tepatnya ke dalam sebuah mansion. Rumah super mewah dengan pilar-pilar penyangga berdiri kokoh, seakan menyiratkan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki sang pemilik mansion tersebut.

Ekspresi tegas dari wajah yang terpahat sempurna seolah menggambarkan kepribadiannya yang angkuh, arogan dan tidak berperasaan.

Dia, Axl Sevastian Ivander.

Seseorang yang disegani dan ditakuti oleh para kaum elite dan pengusaha Indonesia. Seorang penguasa perusahaan raksasa yang sudah menggurita ke berbagai manca negara. Tiger Corp.

Namun benarkah lelaki itu tidak berperasaan? Sepertinya tidak benar kalau itu menyangkut orang-orang terdekat yang disayanginya.

“Papa...!” Seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berteriak senang di atas tempat tidurnya, mengetahui lelaki yang berstatus sebagai ayahnya sudah datang.

Axl menutup pintu kamar yang ditempati anak itu, lantas berjalan dan duduk di tepian tempat tidur. “Ken? Kenapa belum tidur, hm?” Kepala mungil anak bernama Kenan, menjadi sasaran telapak tangan Axl untuk mengusap-usapnya.

“Mama bilang hari ini Papa udah pulang dari Paris, jadi aku nungguin Papa dari tadi,” ucap Kenan merengek.

Axl tersenyum memperhatikan bagaimana bibir mungil anak itu mengerucut. Dia lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Kenan.

“Mau Papa bacain cerita?” tawarnya agar anak itu mau tertidur.

Kenan mengangguk cepat dengan senyum antusiasnya. Jarang-jarang ayahnya itu mau meluangkan waktu sebelum tidur begini.

Tangan Axl meraih buku cerita bergambar di lemari rak yang teronggok tidak jauh dari tempat tidur. Setelah mendapat cerita yang diinginkan Kenan, Axl lalu membacakan cerita tersebut sambil menepuk-nepuk punggung anak itu.

Belum sampai lima manit Axl bercerita, Kenan sudah tertidur pulas. Kalau saja dia tidak menunggu ayahnya, mungkin sudah tidur dari beberapa jam yang lalu.

Untuk sesaat Axl memandangi wajah polos Kenan yang terlihat damai. Dilihat dari segi mana pun, wajah itu sama sekali tidak ada mirip-miripnya dengan Axl.

Bagaimana mau mirip, kalau tidak ada setetes pun darah Axl yang mengalir di tubuh anak itu?

“Dia sudah tidur?” tanya seorang perempuan yang baru saja membuka pintu.

Suara lembut perempuan itu membuat Axl menoleh. Senyumnya mengembang ketika melihat perempuan cantik itu menghampiri sisi ranjang berlawanan dengan dirinya.

Wajah cantik yang tampak kelelahan tapi tidak mengurangi kadar kecantikannya sedikit pun. Bibir merah cabainya mendarat di kening Kenan dan mengelus kepalanya sesaat.

“Kenapa nggak nyuruh sopir untuk jemput kamu? Kamu ‘kan, nggak perlu nyetir malam-malam begini sendirian,” ucap Axl dengan lembut ketika keduanya sudah keluar dari kamar Kenan.

Axl lalu menggiring perempuan itu untuk masuk ke kamar mereka.

“Atau perlu aku sendiri yang menjemputmu?” Diamnya perempuan itu membuat Axl bersuara lagi.

Axl melepas kancing kemejanya, membiarkan otot-otot dadanya mengintip dari balik kain putih itu. Tatapannya tetap fokus pada perempuan yang sedang membersihkan make up di wajahnya.

Wajah cantik itu yang selalu memenuhi kepala dan hati Axl. Kecantikan dan kesempurnaannya tidak pernah membuat Axl merasa bosan menatapnya lama-lama.

Perempuan itu terlihat menghela napas sebelum melangkah ke kamar mandi. Axl dengan cepat menyusul, meraih tangan lalu membalikkan tubuh perempuan itu agar mereka saling berhadapan.

“Kamu belum jawab ucapanku, Calya.”

Perempuan bernama Calya itu menghentakan tangannya tapi genggaman Axl terlalu kuat.

“Kamu nggak perlu khawatir, Axl. Dia selalu nganterin aku pulang,” sahut Calya dengan santai.

“Dia siapa?” desak Axl, “Oh... laki-laki bajingan itu?” Axl melepaskan tangan Calya dari genggamannya. Air mukanya berubah keruh.

Calya menatap Axl dengan tatapan datarnya. “Jangan menyebutnya seperti itu, Axl. Bagaimana pun juga dia laki-laki yang aku cintai,” ujar Calya jujur dan apa adanya.

Axl selalu tidak suka setiap kali Calya mengucapkan hal yang sama. “Lalu kapan kamu akan mengakhiri hubunganmu dengan laki-laki itu, Cal? Coba kamu buka mata dan hati kamu, di depan kamu itu ada aku, ada Kenan. Kapan kamu akan mengerti aku, Cal? Jelas-jelas aku bisa berikan semuanya yang kamu mau, jauh lebih baik dibanding laki-laki itu. Kamu juga tahu, aku cinta sama kamu.”

“Aku tahu. Aku sangat tahu semuanya. Tapi kamu juga jangan lupa perjanjian awal pernikahan kita,” ucap Calya mencoba mengingatkan Axl. “Kita menikah hanya untuk urusan bisnis.”

Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Calya masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Axl yang terdiam membeku di tempatnya berdiri.

Lelaki yang tampak tidak berperasaan pada orang lain itu ternyata hatinya sudah luluh oleh satu wanita. Dan dia adalah Calya. Istri sahnya yang tidak pernah menerima cinta Axl.

Memang benar pernikahan mereka hanya sekadar pernikahan bisnis antara perusahaannya dan perusahaan orang tua Calya. Namun Axl sudah mencintai Calya sejak mereka bersekolah di SMA.

Calya adalah kakak kelasnya, dua tahun lebih tua dari Axl. Dia mencintai Calya yang saat itu menjadi primadona di sekolah mereka. Aura yang terpancar dari diri Calya yang tampak dewasa, membuat Axl selalu menghormatinya, bahkan sampai sekarang.

Axl selalu menghormati setiap keputusan juga keinginan Calya.

Saking cintanya dia pada wanita itu, sampai-sampai Axl rela menikahi Calya yang saat itu tengah berbadan dua. Dan membesarkan Kenan seperti anaknya sendiri.

Axl tahu, siapa lelaki yang dicintai dan dipacari oleh istri sahnya itu. Lelaki itu tidak lain adalah pemilik agensi yang menaungi Calya sendiri. Bahkan darah lelaki itu mengalir dalam tubuh Kenan.

Calya sudah tertidur ketika Axl keluar dari kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Posisi tidur wanita itu membelakangi Axl. Karena kesibukan pekerjaan Axl juga pekerjaan Calya sebagai model dan aktris, mereka jarang sekali satu ranjang seperti malam ini.

“Aku akan selalu nunggu kamu, Cal,” bisik Axl di telinga Calya, lantas mendaratkan bibirnya di pipi istrinya itu.

Layaknya seorang istri, Calya seharusnya memberikan kepuasan di atas ranjang pada sang suami. Namun Axl tidak pernah mendapatkannya dari wanita itu.

Karena alasan itulah, Axl mencari kesenangan dan kepuasannya sendiri di luaran sana. Menjajaki wanita-wanita dari yang muda sampai yang senior sekali pun. Dari wanita lokal sampai wanita berambut pirang khas benua barat pun dia sudah tahu rasanya.

***

Axl menegakkan badan lalu mempertemukan kancing di kedua sisi tuxedo hitamnya. Pakaian itu tampak pas di tubuh kekarnya, karena memang dirancang sendiri oleh desainer terbaik Indonesia.

Sementara wanita di sampingnya tampak percaya diri dengan memakai dress hitam berbelahan dada rendah, sebagian buah dadanya mengintip dari balik kain hitam itu. Dress tersebut berlengan panjang dan bawahnya menjuntai sampai mata kaki. Namun ada belahan memanjang sampai paha. Sehingga berhasil menonjolkan bagian kakinya yang jenjang.

“Kamu siap?” Axl melirik Calya yang duduk di sebelahnya.

Calya mengangguk.

Keduanya akan memenuhi undangan salah satu aktor senior Indonesia yang menikah dengan wanita dari kalangan aktris juga.

Axl keluar dari mobil setelah sang sopir membukakannya. Disusul oleh Calya yang langsung disambut oleh uluran tangan Axl.

Keduanya saling memandang dengan senyuman mesra begitu cahaya kamera mengarah pada mereka, yang baru saja keluar dari dalam mobil.

Click! Shutter!

Suara jepretan kamera saling bersahutan, berusaha menangkap pose terbaik dari pasangan model dan pengusaha itu, yang mendapat julukan pasangan ter-romantis di seantero bumi pertiwi.

Ekspresi Calya pada Axl bertransformasi seratus persen ketika berhadapan dengan para wartawan yang saat ini sedang mengerubungi mereka berdua. Berbeda sekali dengan ekspresi yang dia berikan semalam pada Axl.

Sementara Axl tetap dengan ekspresi datarnya, sesekali tersenyum tipis menanggapi berbagai serangan pertanyaan dari para pemburu informasi.

“Kami akan memberi kesempatan pada kalian untuk mewawancarai kami, tapi nanti. Sekarang biarkan kami bertemu dengan pengantinnya dulu,” Calya menjelaskan dengan senyuman ramah yang terukir di bibirnya.

***

Gendarly menyeret langkah menuruni tangga dengan Ariel di pangkuannya. Bulu panjang dan tebal milik kucing manisnya, terasa halus di tangan gadis itu yang tidak tertutupi lengan baju.

Dia menghampiri kulkas dan mengambil jus stroberi yang dibuat oleh Mbak Leni. Telinganya sayup-sayup mendengar celotehan presenter gosip di TV yang menyala di ruang santai.

Pasti kerjaannya Mbak Leni. Hampir setiap hari pelayannya itu nonton gosip dan tidak pernah mau ketinggalan.

Mumpung Mbak Leni lagi ke kamar mandi, Gendarly buru-buru meraih remote untuk mengganti channelnya. Dari pada nonton ghibah, dia lebih suka nonton Sponge Bob atau Upin Ipin.

Niat Gendarly untuk mengganti saluran, terhenti, karena melihat foto wanita yang tampak tidak asing baginya, terpampang di layar TV.

Eh, bukannya dia wanita yang pernah ditemuinya di mall kemarin, ya? Siapa namanya? Ah, iya Calya. Kalau nggak salah sih Irene bilangnya begitu.

“Woww....” Gendarly berdecak kagum. Acara gosip tersebut sedang menampilkan foto Calya dalam berbagai pose. Kebanyakan memakai pakaian kurang bahan, yang mengekspos bagian tubuh yang mampu membuat para lelaki kesulitan mengedipkan matanya.

Cuplikan Calya sedang diving dengan hanya memakai bikini. Cuplikan video Calya sedang melenggak lenggok di atas stage Miss Universe empat tahun lalu. Dan beberapa foto lainnya. Semuanya berhasil membuat Gendarly tercengang.

Merasa tertarik dengan gosip perempuan itu, Gendarly duduk di atas sofa, mengambil posisi yang paling nyaman. Ariel sudah lepas dari pangkuannya dan sekarang kucing itu sedang bermain dengan bola kecil di sampingnya.

Gendarly mengakui, wanita itu memang cantik dan bertubuh seksi. Tidak heran dia jadi runer-up Miss Universe. Namun karena first impression Gendarly pada wanita itu jelek, jadinya ada rasa tidak suka di hatinya pada Calya.

Katanya model yang ramah. Sering ngadain charity di mana-mana, tapi giliran nggak ada kamera, juteknya minta ampun. Huh!

Gendarly masih sebal pada kejadian di mall kemarin.

Well, selama ini Gendarly tidak suka menyombongkan diri akan kecantikannya. Namun melihat Calya di televisi, membuat Gendarly tanpa sadar membandingkan kecantikan mereka.

“Ariel! Lihat aku!” Gadis itu mencondongkan wajahnya pada Ariel. “Aku cantik, ‘kan? Nggak kalah cantik sama wanita itu, ‘kan? Banyak kok cowok yang ngejar-ngejar aku dan bilang aku cantik,” ucapnya percaya diri.

Dasar namanya juga hewan, Ariel tidak mengerti ucapan majikannya, dia hanya mengeong saja, mungkin sebagai jawaban darinya.

Oke tubuh Calya memang sempurna, tapi dia juga nggak kalah sempurna, kok. Gendarly berdiri dan mematut diri di depan cermin masih di ruangan yang sama.

Meneliti refleksi dirinya dari ujung kepala. Leher jenjang, dadanya yang berukuran besar menurutnya, perut rata, pinggang ramping, bokongnya juga bagus. Apalagi kakinya. Gendarly paling suka mengekspos kaki jenjangnya dengan memakai celana pendek.

Ah, ngomong-ngomong celana pendek, Gendarly jadi ingat suaminya yang tidak suka dia memakai celana hot pants kayak gitu.

Lagi apa Mas Axl sekarang, ya? batinnya dalam hati.

“Nah, pemirsa itu tadi sekilas tentang Calya. Bagaimana? Kalian bangga padanya yang sudah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional?” ocehan presenter laki-laki membuat fokus Gendarly beralih pada televisi.

“Dan ada kabar baik nih bagi kalian penggemar Calya, salah satu presenter kami sedang berbincang-bincang dengan model cantik itu yang saat ini sedang menghadiri upacara pernikahan Dhea dan Steve. Kalian pasti udah nggak sabar, ‘kan, pastinya? Apalagi nih, Calya datang bersama suaminya. Waaah... luar biasa. Oke deh, kita lihat bagaimana perbincangan mereka. Check it out!”

***

To be continued.

Jangan lupa dukung karyaku dengan vote, subscribe dan komennya ya guys.

Komentar kalian selalu membuat Author semangat. Thank you....

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin