Beautiful Mistress Papa?

Papa?

Setelah main kucing-kucingan dengan bodyguard-nya, Gendarly akhirnya bisa bernapas dengan lega. Dia tersenyum puas membayangkan bagaimana dua lelaki itu kelabakan mencarinya.

Gendarly tahu akibat dari ulahnya ini bisa berakibat pada kemarahan Axl, tapi masa bodoh, saat ini suaminya itu sedang berada di luar negeri. Tidak mungkin, ‘kan, lelaki itu marah-marah dari kejauhan?

Dia hanya ingin menikmati kebebasan sesaatnya. Hang out dengan sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa.

Gendarly melenggang menuju sebuah restoran di Mall yang kini sedang dipijaknya. Rupanya kehadiran gadis itu mengundang perhatian banyak lelaki yang sedang menikmati makanan mereka.

Entah karena celana mininya yang menampakkan kaki jenjang nan mulus, atau karena wajah cantiknya. Atau mungkin karena dua-duanya, Gendarly tampak tidak peduli.

“Darly!” Seorang perempuan bertubuh mungil melambaikan tangannya pada Gendarly.

Gadis yang dibalut kemeja putih dipadukan dengan jeans hot pants, buru-buru menghampiri meja di sudut kiri. "Ireeeene... apa kabar lo?”

Kedua perempuan itu saling berangkulan melepas rindu yang lama tertahan.

“Kalau gue nggak baik, gak mungkin ada di sini sekarang,” ujar Irene setelah melepas rangkulan mereka.

Gendarly berdecih mendengar jawaban sahabatnya itu. Keduanya pun lalu duduk dan memesan makanan masing-masing.

Pelayanan di restoran itu sangat baik, sehingga tidak perlu menunggu lama sampai akhirnya pramusaji mengantarkan makanan yang mereka pesan.

“Lo kemana aja, sih, susah amat pengen ketemu,” Irene menggerutu dengan mulut penuh makanan.

“Gue di pingit.”

“Hah? Lo mau nikah? Kok gak bilang-bilang? Sama si jepang itu, ya?” goda Irene dengan mengangkat alis berkali-kali.

“Gue udah nikah, kok,” sahut Gendarly enteng. “Tapi bukan sama Ryu sialan itu.”

“What? Nikah? Nggak salah lo?” Irene menganggap bahwa Gendarly sedang bercanda.

Gendarly menyesap greentea latte-nya perlahan, sebelum akhirnya menjawab, “Iya. Jadi istri simpanan orang.”

“WHAT??” Irene menjatuhkan sendok di tangannya, hingga menimbulkan bunyi nyaring ketika benda itu dan piring beradu. Matanya membelalak tidak percaya.

Mulut Gendarly persis seperti ember bocor jika sudah bertatap muka dengan Irene. Dia bahkan sulit untuk menyembunyikan rahasianya sendiri.

“Lo jangan tatap gue kayak gitu, gue aja jijik sama tubuh sendiri,” cetus Gendarly ketika mata Irene menyusuri tubuhnya.

“Bukan gitu, Ly,” sanggah Irene. “Sayang aja gitu. Tubuh lo yang selalu bikin para cowok netesin iler, lo kasih sama om-om berkumis? Oh, come on, Beb. Apa lo gak sayang sama diri lo?”

Gendarly menegakkan tubuhnya mendengar penuturan Irene. “Wait, wait! Om-om berkumis?” Oke Gendarly tahu apa yang ada di pikiran sahabatnya itu sekarang. “Dia bukan kayak yang lo pikirin, Ren. Bukan om-om tua berkumis, botak dan berperut buncit, ya. Catet!”

“Terus kayak gimana? Om-om ganteng kayak Chris Evan gitu maksud lo?”

Otomatis Gendarly membayangkan bagaimana visual aktor pemeran Captain America tersebut. Dia lantas tersenyum. “Ya kalau dia udah tua, pasti mirip sama Chris Evan.”

Membahas fisik suaminya, tanpa sadar pipi Gendarly terasa menghangat ketika tubuh dan wajah Axl memenuhi otaknya. Hei, jangan aneh-aneh! Hanya mengagumi saja, kok.

“Udah, ah. Jangan bahas masalah itu. Gue mau ke toilet dulu.” Gendarly memutus topik pembicaraan mereka dan bergegas menuju toilet.

Di dalam toilet, Gendarly merapikan rambut dengan jemarinya di depan cermin lebar. Dirasa lipstiknya sudah luntur akibat mengunyah makanan, dia lantas mengaplikasikan lagi lipstik merah bata di bibirnya.

Perhatian Gendarly kini tertuju pada seorang perempuan yang baru saja keluar dari WC dan berdiri di sampingnya. Merapikan rambut dan pakaiannya sambil mengecek make up yang menempel di wajah cantiknya.

Gendarly terpana melihat kemolekan tubuh serta wajah perempuan itu. Tubuh tinggi semampai dengan lekukan di setiap tubuhnya hampir sempurna. Aroma yang menguar darinya pun tercium begitu elegan dan bikin meleleh.

Parfumnya pasti mahal. Atau bisa jadi hanya ada satu di dunia. Yeah, mungkin saja.

Perempuan itu pun berjalan keluar dengan langkah melenggak-lenggok bak model. Ketika tubuhnya sudah menghilang di balik pintu, Gendarly baru sadar, ada yang tertinggal di atas keramik wastafel.

Dompet ini, pasti milik perempuan itu.

“Mbak!” Gendarly segera berlari keluar.

“Mbak!!” panggilnya lagi lebih keras. Larinya dipercepat agar dia bisa menyusul perempuan berpakaian serba mini itu.

Merasa ada yang berteriak berkali-kali, perempuan itu pun berhenti dan membalikkan badan. Hampir saja Gendarly menabrak tubuhnya karena saking cepat berlari.

“Kamu manggil saya?” tanyanya pada Gendarly.

“Ini....” Gendarly ngos-ngosan sambil menyerahkan dompet yang dia temukan. “Dompet milik Mbak ketinggalan di dalam.”

“Oh. Iya ini milik saya.” Menyambar dompet itu lantas pergi meninggalkan Gendarly yang melongo tidak percaya.

Bahkan perempuan itu tidak mengucapkan terima kasih. Jangankan berterima kasih, senyum pun sama sekali tidak. Ya Tuhan, penampilannya memang sempurna tapi sikapnya kurang sempurna.

Gendarly memekik kaget saat dia berbalik, dan menemukan Irene sedang terbengong-bengong dengan mata berbinar.

“Irene, ngapain bengong gitu? Kayak kesambet hantu aja lo. Awas ilernya netes tuh.” Gendarly melanjutkan langkah menuju meja mereka.

“Ly! Lo, kok, bisa damai tentram aja gitu berhadapan sama cewek tadi?”

“Lah, terus gue harus gimana? Gue aja kagak kenal sama tuh cewek.”

“Lo gak tahu dia siapa? Ck ck ck. Bener ya, lo udah lupain Indonesia saking lamanya tinggal di Jepang. Denger ya, Ly. Gue ngefans sama cewek tadi. Namanya Calya. Dia itu cewek yang mewakili Indonesia di Miss Universe, dan dia jadi runner up, Ly. Keren, kan?” ujar Irene panjang lebar sambil berdecak kagum. Keduanya sudah duduk kembali di meja mereka.

“Oh. Sorry, gue bukan pecinta Miss-Miss-an, jadi gue gak kenal.” Lagi pula untuk apa nge-fans sama orang yang tidak punya etika seperti dia?

“Ya udah nih gue kenalin dia, ya. Calya itu jadi panutan para model di Indonesia. Dia udah nikah dan udah punya satu anak. Dan lo tau, Ly? Suaminya itu lho, kece badai. Udah ganteng, hot, romantis, setia dan konglomerat pula. Bener-bener suami idaman banget pokoknya,” Irene nyerocos panjang lebar.

“Pernikahan mereka itu adem ayem gak pernah ada skandal sama sekali. Keluarganya juga kelihatan bahagia banget.”

“Oh. Mungkin karena public figure aja kali, jadinya masalah rumah tangga mereka ditutup-tutupin.” Gendarly kembali berdecih. Dia tidak percaya dengan kehidupan para artis yang kebanyakan gimmick-nya.

***

Hari sudah gelap ketika Gendarly sampai di rumah. Dia merasa bahagia bisa melakukan ini itu seharian. Hang out dengan Irene membuatnya lupa akan masalah dan beban yang sedang dia hadapi.

Rumahnya sudah terasa sepi dan sepertinya Mbak Leni sudah tidur. Dia menyempatkan diri untuk mengecek Ariel sebentar di ruang santai. Ruangan di mana tempat tidur Ariel berada. Rupanya kucing kesayangannya juga sudah tertidur.

Gendarly lalu memasuki kamarnya dan mendapati ruangannya itu gelap gulita.

Kenapa Mbak Leni nggak nyalain lampunya, sih? dia membatin sambil meraba-raba saklar lampu.

Begitu lampu sudah menyala, sontak Gendarly terlonjak kaget dan hampir berteriak.

Pemandangan di depan matanya membuat gadis itu membeku seketika. Bulu kuduknya kembali merinding.

“Mas...?!” panggilnya pelan pada Axl yang sudah duduk di tepian ranjang.

Lelaki itu bersedekap dada sambil menyilangkan kakinya dengan angkuh. Mata elangnya seolah ingin menyakiti setiap inci kulit Gendarly dengan tatapan tajamnya.

“Mas, kapan dateng? Bukannya tadi pagi masih di Paris? Kenapa nggak nge-chat dulu kalau Mas mau ke sini?” tanyanya takut-takut. Gendarly masih mematung di tempatnya berdiri, tidak berani melangkah.

“Emangnya kenapa kalau aku udah pulang?” Suara dingin Axl membuat Gendarly semakin menciut. “Kamu pikir dengan aku pergi ke luar negeri, kamu bisa seenaknya pergi-pergian, hah?”

“Ng-nggak... bu-bukan gitu, maksudku—“

“Come!” Axl memberi isyarat tangan, agar Gendarly mendekat. Gadis itu menurut dan berdiri di depannya. Tatapan mematikannya, memindai setiap inci tubuh Gendarly dengan raut tidak suka.

Axl masih duduk di tepian ranjang lalu meraih tangan gadis di hadapannya dan menariknya agar semakin mendekat.

Telapak tangannya kemudian menyusuri kedua kaki jenjang yang hanya di balut celana mini. Menyusuri dari bagian bawah sampai bagian atas kaki dengan sentuhan seduktif. Membuat bulu roma Gendarly meremang seketika.

"Apa yang kamu lakukan di luar sana?"

"Aku beli keperluanku, Mas." Gendarly melirik kantong yang tadi dibawanya, teronggok di dekat pintu.

"Oh. Beli keperluanmu rupanya butuh waktu seharian, ya?" ujar Axl dengan senyum sinisnya.

Gendarly lalu menjelaskan semua aktifitasnya seharian tadi di mall. Mulai dari makan-makan, keliling mall, shoping, duduk-duduk nongkrong dan terakhir menghabiskan waktu untuk menonton di bioskop.

Axl tampak semakin tidak suka mendengarnya. Apalagi gadis itu berjalan kesana kemari dengan pakaiannya yang terbuka.

“Lalu siapa yang mengijinkanmu memakai celana kayak gini?” desis Axl tajam.

Gendarly menunduk. Jujur saja dia sudah tahu aturan yang Axl berikan. Salah satunya dengan tidak memakai pakaian seksi ketika keluar rumah.

Dia berani memakainya karena dia pikir Axl sedang di luar negeri dan kalau pun lelaki itu tahu, Axl tidak bisa marah-marah karena jarak mereka sangat jauh. Namun rupanya perkiraan Gendarly meleset.

“Jawab!” desak Axl karena Gendarly tak kunjung bersuara.

“Aku... aku pakai ini karena sangat nyaman buatku,” jawabnya jujur.

“Lalu bagaimana dengan ini—“ Axl menarik tubuh Gendarly hingga terbaring di atas tempat tidur, membuat gadis itu memekik kaget.

Dengan beringas Axl melepaskan semua kain yang membaluti tubuh Gendarly. Tanpa ampun, sampai-sampai kancing kemejanya terlepas dan berjatuhan ke lantai.

Gendarly memberontak tapi Axl sudah berhasil membuat tubuh keduanya menjadi tampak polos. Tanpa banyak kata, Axl memaksa miliknya masuk ke dalam lembah yang masih kering. Hingga gadis itu meringis kesakitan.

“Bagaimana? Apa ini juga membuatmu nyaman?”

Gendarly menggeleng lemah. “Tolong... hentikan, Mas,” ucapnya memohon.

Namun, mana mau Axl mendengarkan ucapan istri simpanannya itu. Di bawah sana dia terus memberikan hukuman pada Gendarly yang tidak mengindahkan larangannya.

“Dengar, aku nggak suka kalau kamu mengabaikan ucapanku,” desisnya dengan napas terengah.

“I-iya... aku akan selalu dengerin kamu mulai sekarang, Mas.” Dahi Gendarly berkerut menahan rasa perih.

Axl menyeringai samar. “Terlambat untuk hari ini."

Dengan buas Axl melancarkan aksinya bertubi-tubi, melampiaskan semua amarahnya di sana. Gendarly hanya bisa pasrah dengan lelehan air mata yang mulai keluar dari sudut matanya.

***

Baru saja beberapa menit Axl tertidur, dering panggilan masuk menyakiti telinganya. Terpaksa Axl membuka mata dan melihat siapa yang menelepon.

Axl menarik lengannya dari bawah kepala Gendarly yang sudah tertidur. Gadis itu tampak kelelahan akibat hukuman yang diberikan Axl padanya.

Setelah menyelimuti tubuh Gendarly, Axl memakai kembali pakaiannya dan berjalan menuju balkon kamar.

“Halo, Boy,” sapanya ketika dia sudah mengangkat panggilan tersebut. Namun tidak ada sahutan sama sekali.

“Boy?” panggilnya lagi.

“Papa!” Akhirnya terdengar suara nyaring dari seberang telepon. “Kapan pulang, Pa?”

Axl menghela napas dalam-dalam. “Papa pulang sekarang, Ken. Barusan masih ada pekerjaan,” kilahnya.

“Oke deh, Pa. Aku mau tidur sama Papa. Mama juga bilang dia masih ada pekerjaan soalnya.”

“Mama belum pulang?” tanya Axl lagi memastikan.

“Iya belum, Pa.”

“Ya sudah, kalau gitu Papa jalan dulu.” Axl lalu mematikan sambungan lantas kembali ke dalam kamar.

Mengambil jas di atas sofa, lelaki itu berjalan pergi tanpa mengacuhkan Gendarly yang sedang tertidur pulas. Hanya sekadar melirik saja Axl tidak melakukannya.

***

To be continued.

Nah lhooo... anaknya nungguin di rumah tuh, Pak. :-D

Follow IG Author yuk => @uchiyamanarosa

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin