Beautiful Mistress In The Swimming Pool With You (21)

In The Swimming Pool With You (21)

Hanya untuk 21 plus!

*

Gendarly tidak bisa lagi menahan mulutnya untuk tidak mendesah. Tangannya meremas rambut hitam milik Axl yang sedang memainkan lidah di puncak buah dadanya. Hawa dingin dari angin malam dan air kolam renang nyatanya tidak menyurutkan gairah pada tubuh mereka, yang tampak polos tanpa sehelai benang pun.

Axl menaikkan kepala, bibirnya menyusuri setiap lekuk tulang selangka dan leher. Meninggalkan jejak-jejak kepemilikan di sana. Bibirnya kembali naik dan berakhir pada bibir ranum yang masih mengatup rapat. Ujung lidahnya menggelitik bibir Gendarly meminta izin untuk masuk lebih dalam.

Oh, shit! Axl begitu lihai menggodanya sampai-sampai naluri Gendarly menuntut mulutnya untuk terbuka dan membalas ciuman Axl. Lidah keduanya saling membelit menghasilkan decakan-decakan halus yang memenuhi heningnya malam itu.

Tubuh Gendarly menggelenyar. Sapuan halus jemari Axl di punggungnya semakin memantik api gairahnya. Sesaat dia lupa akan harga dirinya yang murah di mata Axl. Nyatanya walaupun murah, Axl sangat menikmati dan mendamba tubuhnya yang mampu bersanding dengan para model.

Gendarly tidak buta. Dia setiap hari melihat refleksi dirinya di cermin dan yah... dia memang pantas untuk menyombongkan wajah juga bentuk tubuhnya yang berbentuk gitar spanyol. Dia tahu dirinya cantik. Namun sekali pun tidak pernah memanfaatkan kecantikannya untuk mendapat perhatian dari para lelaki.

Gendarly malah merasa risih dengan tatapan penuh nafsu yang sering lelaki lemparkan padanya. Tidak terkecuali Axl yang saat ini tengah mencumbuinya dengan panas.

“Axl....”

Erangan Gendarly semakin tidak tertahankan saat milik Axl mulai memasuki pusat tubuhnya. Kakinya sudah menapaki lantai kolam renang. Dia sedikit berjinjit dan Axl sedikit menurunkan kakinya hingga keduanya bertemu di titik yang pas.

Riak air atau gelombang yang timbul hebat pada kolam itu, seolah menandakan betapa bersemangat dan dahsyatnya pergumulan mereka yang tengah berbagi peluh. Peluh yang seketika tersapu lagi oleh air.

Desahan dan erangan nikmat terdengar saling bersahutan di tengah hening dan gelapnya malam. Axl memberikan rasa luar biasa pada Gendarly yang baru berpengalaman dalam urusan bercinta.

Tubuh Gendarly bergetar hebat ketika Axl semakin menghujamkan miliknya tanpa ampun di titik paling sensitifnya. Axl menyeringai puas. Gadis itu terlihat pasrah dan tidak berdaya di bawah kendalinya. Dia semakin menggila, melihat bibir sensual gadis itu yang setengah terbuka meloloskan desahan demi desahan dengan mata yang terpejam.

Tubuh keduanya menegang ketika sudah berada di puncak dan mendapat pelepasaan bersama. Gendarly menjatuhkan kepalanya di dada Axl, menjadi tumpuan tubuhnya yang terasa lemah. Pucuk kepalanya terasa hangat oleh sapuan napas Axl yang terengah-engah dan memburu. Sebelum akhirnya Axl menarik miliknya keluar.

Beberapa menit pada posisi yang sama, mereka pun akhirnya saling melepaskan tubuh masing-masing.

“Tunggu di sini. Jangan naik dulu,” perintah Axl sambil menepi ke sisi kolam, lalu naik ke darat. Dengan santai dia berjalan tanpa sehelai benang pun membaluti tubuhnya.

Gendarly melirik sekilas kegilaan lelaki itu yang tidak punya urat malu. Pada akhirnya dia memilih untuk tidak peduli dan menyandarkan kepalanya di tepian kolam, menatap langit. Napasnya masih belum kembali normal.

Axl mengambil gawainya di atas meja pinggir kolam dan menelepon seseorang. “Bawakan dua baju handuk ke sini. Simpan di atas meja dan setelah itu cepat pergi lagi.” Axl memutus sambungan tanpa memberi kesempatan pada orang yang di teleponnya untuk menjawab.

Lelaki itu kembali turun ke kolam. Menarik tangan Gendarly agar pindah ke sisi yang lebih gelap. Gendarly hanya menurut saja perintah Axl meski tidak tahu apa maksudnya.

“Kamu akan malu kalau pelayanmu melihat tubuhmu yang telanjang,” ucap Axl dengan ekspresi datarnya.

Gendarly hanya berdecih pelan. Sialnya ucapan Axl memang benar. Dia pasti malu kalau Mbak Leni melihat kondisi tubuhnya sekarang. Pencahayaan di kolam renang memang sengaja di buat terang. Apalagi dengan cahaya yang dipancarkan dari LED underwater, membuat kolam terlihat menyala terang berwarna ungu.

Tidak lama Mbak Leni datang dengan dua handuk di tangannya. Sesuai perintah sang tuan, dia menyimpannya di atas meja lantas kembali pergi tanpa berani menoleh ke arah kolam sedikit pun.

Axl beranjak naik lalu melilitkan handuk di pinggangnya.

Tanpa memperdulikan Gendarly yang masih berada di dalam air, Axl melenggang pergi. Sesenti pun dia tidak melirik gadis itu.

Prinsip Axl, ketika dia sudah mendapat pelepasan, maka urusannya selesai. Siapa pun wanitanya, jangan pernah terbuai oleh kelembutan Axl saat bercinta. Kelembutan yang hanya akan dia berikan pada saat menyalurkan hasratnya saja. Karena setelahnya, pria itu kembali menjadi tidak berperasaan dan dingin.

Gendarly sempat tercenung begitu melihat Axl pergi dan tidak mengacuhkan dirinya. Menolong untuk menaikkan tubuhnya ke darat juga boro-boro. Ah, apa sebetulnya yang Gendarly harapkan? Ingin lelaki itu memperhatikannya? Jangan harap.

Gendarly kemudian tersenyum kecut.

***

Several months later.

Hari ini tepat bulan ke empat Gendarly menjadi wanita atau istri simpanan Axl. Selama itu pula Axl selalu mengunjunginya satu atau dua kali dalam seminggu.

Lelaki itu selalu datang saat malam hari dan pergi sebelum dini hari. Yap... dia memang datang hanya untuk menyalurkan hasratnya saja. Menitipkan benih yang dia larang keras untuk tumbuh.

Setelahnya? Tentu saja dia pergi. Tidak pernah sekali pun Gendarly bangun di pagi hari dengan Axl ada di sampingnya. Tidak pernah!

Namun Axl tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami. Menafkahi lahir dan batin. Itu memang benar, Gendarly tidak menghilangkan fakta itu.

Selama itu pula Gendarly berusaha untuk tidak menumbuhkan sesuatu di dalam hatinya. Dia mem-block hatinya kuat-kuat.

“Ariel...!?” Suara Gendarly menggema di seisi rumah. “A-riii-eeel...!?” panggilnya sekali lagi.

“Mbak, lihat Ariel nggak?” Kaki jenjang yang dibalut jeans hot pants kini menapaki lantai dapur, menghampiri Mbak Leni yang sedang membuat puding.

“Ooh. Ariel? Lagi tidur, Non. Itu di sofa,” sahut Mbak Leni dengan kekehannya.

Gendarly akhirnya bisa bernapas lega. “Hhhh dasar kucing tukang tidur!” umpat Gendarly gemas, pada kucing yang dia adopsi tiga bulan lalu.

Axl selalu melarang Gendarly untuk pergi ke luar rumah kecuali untuk membeli keperluannya saja. Untuk hang out atau jalan-jalan sendiri, lelaki itu bersikeras melarang. Hal itulah yang memutuskan Gendarly untuk memelihara seekor kucing di rumahnya. Demi menghilangkan kejenuhan yang selalu melingkupi hari-harinya.

“Ariel, aku pergi dulu. Baik-baik sama Mbak Leni, ya.” Jemari Gendarly menggelitik leher kucing berwarna orange, yang sedang tidur dengan posisi terlentang. Ariel sempat terusik sebentar, tapi akhirnya dia tidur lagi. Gendarly tertawa ringan melihat tingkah kucing kesayangannya yang manja.

Mengibaskan rambut hitam lurusnya yang sudah sepunggung, Gendarly menghampiri BMW i8 yang Axl berikan padanya dua bulan lalu.

Melihat majikannya menghampiri mobil, Ujang yang berada di pos, sontak mematikan rokoknya lalu berlari tergopoh-gopoh menghampiri Gendarly. “Mau kemana, Non?” Ujang menyalakan SUV-nya dari kunci remote. Dia berniat untuk mengantar majikannya.

“Eh? Nggak usah, Mang. Aku mau bawa mobil sendiri, kok.”

“Tapi, Non, nanti Tuan Axl...?” Mang Ujang menggaruk belakang kepalanya.

“Nggak perlu khawatir, aku mau beli keperluan bulananku doang, Mang. Kalau Mas Axl nanya, bilang aja begitu.” Gendarly meyakinkan sambil masuk ke dalam mobilnya dan mulai menyalakan mesin.

Oh, iya. Dia sudah mengubah panggilannya pada Axl jadi ‘Mas’, lantaran terlalu kaku kalau memanggil ‘Tuan’. Dan memang Axl sendiri tidak mempermasalahkan hal itu.

“Kalau dibeliin sama saya aja gimana, Non?” Ujang masih takut mendapat amarah dari Axl jika membiarkan majikannya itu pergi sendiri.

Gendarly menghela napas dan melirik sopirnya yang masih berdiri tidak jauh darinya. “Emang, Mang Ujang tahu pembalut yang suka aku pake merk apa? Tipisnya dan panjangnya segimana?” Jujur saja, alasan itu sering Gendarly pakai untuk mengelabui sopirnya agar dia bisa pergi sendiri seperti sekarang.

Ujang menggeleng canggung dengan cengiran di bibirnya.

“Tuh, kan. Makanya biarin aku pergi sendiri. Mang Ujang nggak usah takut gitu. Aku pergi sendiri juga sebenernya nggak sendiri, kok. Tuh, buktinya!” Gendarly menunjuk ke arah mobil hitam yang ada di luar gerbang rumahnya.

“Ah, iya iya. Saya lupa, Non.” Ujang menepuk jidatnya sendiri.

Hidupku udah kayak puteri raja yang selalu dikawal ke mana-mana! batin Gendarly kesal.

Puteri raja? Ya anggap saja begitu. Karena pada kenyataannya dia bukan seorang puteri, melainkan tawanan milik seorang lelaki penikmat tubuhnya.

Menjijikan bukan? Tapi aku sudah kebal dengan kata yang satu itu.

Perlahan mobil Gendarly keluar dari rumah mewahnya. Dari balik kacamata hitam yang melindungi matanya dari sinar matahari, Gendarly melirik sekilas mobil hitam yang sudah sangat dia kenal.

Mobil hitam itu pun melaju dan mengikuti Gendarly dengan tetap menjaga jarak.

Dua orang pria bertubuh kekar di dalam mobil itu adalah bodyguard milik Axl yang ditugaskan untuk menjaga dan mengikuti ke mana pun kaki Gendarly melangkah.

***

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin