Beautiful Mistress (Bukan) Malam Pertama

(Bukan) Malam Pertama

“Kondisi ayahmu nggak memungkinkan untuk jadi walimu. Jadi akan diwakili oleh wali hakim.”

Ucapan Axl pagi tadi melalui panggilan telepon, benar-benar telah membuat Gendarly khawatir dengan keadaan ayahnya. Sejak kepulangannya ke Indonesia dia memang belum pernah bertemu dengan pria yang sudah melahirkannya.

Gendarly kira ayahnya itu sudah mengabaikannya, tapi dia salah. Lelaki tua yang dirindukannya kini terbaring lemah di rumah sakit, dengan berbagai peralatan menempel di beberapa bagian tubuhnya.

Kemarin Gendarly bicara pada Axl bahwa dia harus mencari sang ayah dulu untuk menjadi wali. Namun Axl bilang tidak perlu. Karena ternyata Axl sendiri bisa menemukan ayah Gendarly dalam hitungan jam melalui koneksinya.

Berdasarkan penuturan dokter, ayahnya itu mengalami cedera di bagian otak dan menyebabkan koma. Dia tertimpa bagian bangunan ketika sedang mengawasi proyek konstruksi.

Tante Hana alias ibu tirinya, pergi meninggalkan ayahnya sejak kecelakaan itu. Sehingga selama tiga bulan ayahnya sakit, dia terbaring seorang diri tanpa ada yang menjenguk atau merawatnya.

Hati Gendarly benar-benar terasa hancur baru mengetahui keadaan ayahnya sekarang. Dan amarahnya pada Tante Hana semakin tidak terkendali. Bagaimana pun caranya dia harus bertemu dengan wanita licik itu.

“Ayah, semoga Ayah nggak marah dengan keputusanku.” Gendarly berkata lirih mengenai keputusannya untuk menikah dengan Axl.

“Selama ini biaya pengobatan ditanggung pihak asuransi tapi itu tidak membantu. Karena ada beberapa obat dan tindakan yang tidak bisa ditanggung oleh asuransi. Tapi tadi pagi ada yang membayar dan menjamin pengobatan Bapak Aria, Mbak. Jadi beliau kami pindahkan ke VIP.”

Dahi Gendarly berkerut mendengar kalimat terakhir dari karyawan di bagian kasir. “Siapa yang sudah bayar pengobatannya, Mbak?” Tidak mungkin kalau Tante Hana.

“Atas nama Bapak Matteo,” ujar karyawan tersebut setelah mengecek di layar monitor.

Gendarly tentu saja kaget. Matteo bertindak pasti atas dasar perintah tuannya. Gendarly berjalan gontai menghampiri mobil yang dikemudikan Ujang, sopir yang diberikan Axl padanya.

Menghela napas dalam-dalam dengan tatapan menerawang dari balik jendela mobil. Sekarang bertambah lagi beban yang harus dia ganti pada Axl. Sudah pasti Axl akan meminta dia untuk membayar dengan tubuhnya.

Menyedihkan.

***

Gendarly menatap refleksi dirinya di depan cermin dengan raut wajah yang tampak sendu. Dia harus membuang jauh-jauh mimpinya memakai gaun dengan ekor yang menjuntai indah. Dia juga harus melupakan resepsi yang mewah dengan dihadiri oleh kerabat-kerabatnya.

Semua hanya tinggal mimpi sekarang.

Pada kenyataannya, pernikahannya hanya dilaksanakan di rumah. Tidak ada dekorasi mewah. Tidak ada tamu undangan. Dan tentu saja, tidak ada kebahagiaan di dalamnya.

Menghapus air mata dengan tisu, Gendarly melangkah keluar kamar ditemani oleh Mbak Leni. Dia tidak tahu seperti apa Axl mengucapkan ijab qobul di bawah sana, dan dia tidak mau tahu.

Dengan gaun putih sederhana, tertutup namun mampu menampilkan lekuk tubuhnya begitu sempurna, Gendarly menghampiri beberapa orang yang dia ketahui sebagai penghulu, wali hakim, saksi dan juga Axl.

Seperti pernikahan pada umumnya, Axl menyematkan cincin di jari manis Gendarly. Sesaat Axl terpaku. Cincin itu sangat cocok melingkar di jemari lentik yang mulus nan putih. Pandangan Axl lalu tertuju pada wajah Gendarly yang kini sudah jadi istri sahnya. Dengan refleks dia menarik tubuh gadis itu agar mendekat, lalu menciumi kening layaknya seorang mempelai pria dalam hubungan yang normal.

Gendarly sempat menahan napas saat bibir hangat Axl menempel di dahinya cukup lama. Dia tahu, perlakuan Axl ini hanya kamuflase saja agar terlihat normal di depan orang-orang yang masih ada di hadapan mereka. Tidak perlu didramatisir.

***

Menapakkan kaki di atas keramik putih, Gendarly menyusuri pinggiran kolam. Langit malam tampak cerah dihiasi taburan bintang dan bulan yang melengkung indah. Dia menengadah, memandang lukisan Sang Pencipta dengan penuh kekaguman.

Dia baru bisa bernapas dengan lega di sini. Di dalam rumah dadanya terasa sempit oleh kehadiran Axl yang kini sudah berstatus sebagai suaminya. Saat Axl sibuk menelepon, Gendarly memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur ke belakang rumah. Tepat di mana kolam renang berada.

Saking asyik memandangi kerlap-kerlip bintang, Gendarly tidak sadar jika pijakan kakinya sudah mencapai batas kolam renang. Tubuhnya oleng dan ...

“Aaaaakkkkkk!!!”

Gendarly nyaris tercebur ke dalam kolam kalau saja sebelah tangan yang kuat dan kekar tidak menarik tubuhnya. Sepersekian detik tarikan itu berhasil menyelematkan Gendarly dan kini tubuhnya sudah ada dalam pelukan si pemilik tangan kekar. Dia merasa jantungan, syok dan gugup dalam waktu bersamaan.

Aroma maskulin yang berasal dari tubuh berbalut kemeja dengan tiga deret kancing terbuka, menguar memenuhi indera penciumannya. Gendarly mendongak. Menatap sepasang mata elang yang siap menerkamnya. “Te-terimakasih sudah menolongku, Tuan.”

“Jangan coba-coba menghindariku dengan lari ke sini. Ingat, kamu harus melayaniku sebagai suamimu. Dan kamu harus bertanggung jawab dengan keputusan yang sudah kamu buat,” ujar Axl dengan nada penuh ancaman. Axl menudingkan sepenuhnya bahwa pernikahan ini Gendarly yang menginginkan.

“Eh? Aku... aku nggak menghindarimu. Aku ke sini cuma mau mencari udara segar aja,” kilahnya dengan alasan yang terdengar klise di telinga Axl.

Axl mengeratkan pelukan tangannya di pinggang Gendarly, seolah ingin menegaskan bahwa apapun dan siapapun yang sudah jadi miliknya tidak bisa lari darinya.

Sepasang mata Axl menelusuri bibir ranum yang ingin dia lahap saat itu juga. Bibir yang rasanya tentu saja berbeda dengan para wanita yang sudah dia jelajahi selama ini.

Keinginan Axl untuk menyecap rasa manis bibir gadis dalam dekapannya harus tertahan ketika seekor serangga tiba-tiba merayap di kakinya. Dia merasa geli dan mengibaskan sebelah kaki untuk mengusir serangga itu.

Tubuh Axl hilang keseimbangan lalu....

BYUUR!!!

Mereka berdua akhirnya tercebur ke dalam air kolam yang terasa dingin di malam hari. Axl mengumpat begitu seluruh tubuhnya sudah basah kuyup.

Kejadian yang tiba-tiba itu sempat membuat Gendarly kaget. Kepalanya menyembul ke atas permukaan dan mengambil napas dengan mulut terbuka, lalu mengusap wajahnya yang basah menggunakan telapak tangan.

Dia pun berenang dengan gaya kupu-kupu untuk menepi ke pinggir kolam. Sebelum naik ke darat, dia menyempatkan diri bersandar di dinding kolam. Mencari keberadaan Axl yang luput dari pandangannya.

Awas aja kalau laki-laki itu lari setelah membuatku basah kuyup begini. Ah iya, memangnya aku bisa apa kalau dia lari? Aku nggak punya kuasa untuk marah.

Gendarly berjengit kaget. Tiba-tiba saja tubuh penuh otot liat Axl yang tanpa busana menyembul keluar dari dalam air. Tepat di hadapannya. Kapan lelaki itu melepas kemejanya?

Axl mengusap wajahnya yang basah dengan telapak tangan lalu menyugar rambutnya ke belakang. Otot-otot di lengannya semakin terlihat mengeras karena posisi lengan yang tertekuk ke atas.

Air berjatuhan dari rahang juga dagu, menerpa dada berotot liat yang menonjol dan tampak licin mengkilap. Gendarly sempat tercengang menyaksikan gerakan Axl yang terlihat begitu sensual dan maskulin. Dia tidak menyangkal sebuah fakta bahwa lelaki ini memang hot juga seksi.

Tanpa diduga, Axl memangkas jarak diantara mereka. Dalam sekali hentakan kedua tangannya berhasil mengangkat tubuh Gendarly hingga membuat gadis itu memekik terkejut, dan sontak Gendarly melingkarkan tangannya di leher Axl sebagai pegangan berat tubuhnya. Perutnya kini menempel pada dada Axl.

“Kenapa menatapku seperti itu, hm? Kamu tertarik padaku?” Axl harus sedikit mendongak untuk bersitatap dengan gadis itu.

Gendarly menggeleng keras. Barusan dia memang terpana melihat Axl, tapi bukan berarti dia tertarik atau menaruh rasa padanya. “Aku nggak akan pernah tertarik padamu, Tuan.”

Axl menyeringai samar. “Bagus kalau gitu.” Pandangannya lalu turun pada bagian dada yang nyaris tidak berjarak dengan wajahnya. Buah dada bulat sempurna itu tercetak jelas di dalam baju tidur berbahan satin, yang menempel pada kulit akibat kebasahan.

Gendarly menyaksikan bagaimana kilatan mata Axl menggelap oleh hasrat yang sudah menguasainya. Dia memang sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, tapi kenapa jantungnya harus berdebar-debar?

Bulu roma Gendarly meremang saat mulut Axl yang terbuka menyusuri dan berhenti pada puncak buah dadanya. Napas yang keluar dari mulut Axl mentransfer kehangatan melalui celah-celah kain, menelusup hingga terasa di kulit lembut gundukan kembarnya, dan perlahan kehangatan itu menyerang setiap sel dalam tubuhnya.

Axl menahan tubuh Gendarly menggunakan sebelah tangan. Sementara tangan yang lain, dengan lihainya melepas kancing-kancing pada baju yang dikenakan gadis itu.

Axl kembali mendongak. “Mau melakukannya di sini?”

***

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin