Beautiful Mistress I'll Do It Gently Baby (Adult)

I'll Do It Gently Baby (Adult)

Seluruh isi dalam bab ini mengandung konten dewasa. Mohon bijak dalam membaca.

*

“Bersiaplah. Malam ini aku butuh kamu.”

Dibawah guyuran air shower yang menerpa wajahnya, Gendarly memejamkan mata. Kalimat terakhir yang Axl ucapkan benar-benar seperti musik yang terus mengalun indah di telinganya.

Gendarly gugup. Apa malam ini saatnya dia menyerahkan keperawanannya pada Axl? Pada lelaki yang telah menjadi penawan tubuhnya?

Air terus mengguyur kulit putih nan mulus milik Gendarly. Dinginnya terasa menusuk melalui celah pori-pori yang tidak terlihat. Detik itu juga Gendarly merasakan sensasi hangat mendekapnya dari belakang, menempel pada punggung dan tangan penuh otot liat melingkari perutnya.

“Aku nggak bisa nunggu lama lagi. Aku menginginkanmu sekarang, Sayang.” Bulu roma Gendarly menyeruak begitu bisikan hangat Axl menerpa telinganya. Dia sempat menahan napas saat Axl menggodanya dengan gigitan kecil di lehernya.

Gendarly tidak berani berbalik. Dia hanya menggigit bibir bawahnya menahan gelenyar aneh yang tiba-tiba menguasai seluruh tubuhnya. Dari yang dia rasakan, tubuh Axl pun sepertinya sudah tampak polos.

Kedua tangan Axl yang lebar merangkak naik pada buah dada gadis itu, yang sejak kemarin sudah jadi favoritnya. Axl menggodanya dengan memberi pijatan-pijatan lembut dan memilin puncak berwarna merah kecoklatan, yang sudah terasa menegang.

Gendarly menggigit bibir dan memejamkan mata. Sekuat tenaga dia berusaha agar mulutnya tidak meloloskan lenguhan-lenguhan yang sudah tidak tertahan.

“Lepaskan, Darly. Nggak perlu ditahan.”

Tubuh Gendarly meremang. Bukan karena kalimat Axl yang berbisik di telinganya, tapi karena Axl memanggil namanya dengan begitu lembut.

Darly.

Belum pernah dia merasa terbuai ketika seseorang memanggil nama panggilannya, seperti Axl. Ryu saja tidak pernah selembut itu.

Sebelah tangan Axl turun menelusuri perut rata gadis dalam dekapannya, dan berakhir pada pusat tubuh Gendarly yang terasa hangat. Lantas mengelus-elusnya. “You’re so small, Baby. I like it.”

Tubuh Gendarly bergetar saat Axl memainkan titik sensitifnya dengan gerakan memutar. Kemudian dia merasakan satu jemari Axl tenggelam dalam lembah hangatnya dan menari dengan liar di dalam sana.

“You’re so wet.” Suara Axl terdengar begitu menggoda, hingga menimbulkan rona merah pada pipi gadis itu.

Gendarly memiringkan kepala, seolah memberi akses lebih pada bibir Axl yang melumat lehernya. Tangan kiri Axl masih betah memanjakan buah dadanya. Sementara di bawah sana, jemari Axl semakin intens bermain-main. Axl mengoyak tiga titik sensitifnya sekaligus.

“Ahh, Tuan...” Bibir Gendarly bergetar dan tampak sensual dengan posisinya yang sedikit terbuka. Jantungnya berdebar-debar. Ini pertama kalinya Gendarly merasakan sensasi asing dan aneh dalam tubuhnya.

Sebelah tangannya mencengkeram lengan Axl yang bermain di dadanya. Sementara tangan yang lain bertumpu pada dinding untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang semakin menegang.

Tubuh keduanya sudah tampak basah oleh air yang masih mengalir dari pancuran shower. Semakin menambah suasana yang begitu sensasional dalam aktifitas mereka yang semakin panas.

Gendarly merasa pusat tubuhnya semakin berdenyut. Dia menginginkan lebih dari ini. Pintarnya Axl, dia tahu apa yang dibutuhkan gadis itu saat tubuh dalam dekapannya semakin menegang. Axl mempercepat permainan jemarinya di bawah sana tanpa memberinya jeda.

Gendarly memejamkan mata. Sensasi penuh kenikmatan begitu menguasai dirinya. Jantungnya berdegup kencang.

“Ahh...” Tubuh Gendarly terkulai lemah begitu dia mendapat pelepasan pertamanya. Dia menyandarkan punggung sepenuhnya pada dada Axl.

Axl mendaratkan bibirnya pada pundak Gendarly. Dia lalu mematikan shower dan membalik tubuh gadis itu agar berhadapan dengannya. Sejenak Axl terpaku menatap tubuh polos Gendarly. Tubuh gadis ranum ini benar-benar menghipnotis dirinya. Begitu sempurna.

Gendarly merasa malu ditatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun hasrat yang menggelora tercetak jelas dalam kilatan mata Axl.

Pandangan Gendarly jatuh pada tubuh polos Axl yang tampak aesthetic. Otot-otot liat memenuhi perut juga lengannya, kalau sudah begini siapa yang sanggup menolak pesona lelaki itu? Gendarly menelan ludah, mungkin sebentar lagi tubuh kekar itu akan menguasai dirinya.

Tanpa banyak kata, dengan sebelah tangan Axl mencekal kedua pergelangan tangan Gendarly dan menyimpannya di atas kepala gadis itu. Membuat gadis itu memekik kaget. Dengan posisi seperti ini, dia leluasa mengeksplore setiap lekukan indah milik Gendarly.

“Sejak pertama melihatmu di ruanganku, aku ingin sekali memuaskanmu, Baby.” Tangan Axl menyentuh lembut pipi Gendarly. “Bersiaplah, aku akan melakukannya malam ini.”

Gendarly menahan napas ketika bibir Axl merangkum bibirnya. Menyecapnya dalam-dalam. Sekali lagi, kelihaian Axl mampu membangkitkan kembali hasratnya. Hingga Gendarly tidak sanggup membiarkan Axl bekerja keras sendiri. Dia mulai merespons setiap sentuhan bibir dan tangan Axl.

“Tuan...” Tubuh Gendarly menggelenyar ketika puncak buah dadanya tenggelam dalam mulut Axl.

Panggilan tersebut benar-benar mengganggu. Sepertinya Gendarly tidak ingat dengan perintahnya pada malam itu. Axl menaikkan kepalanya dan menatap gadis itu dengan tatapan sayu. “Call my name! Panggil namaku saat kamu mendesah.”

Gendarly menelan ludah. “A-Axl?” tanyanya ragu. Memastikan.

Axl menyeringai samar lantas menarik tubuh Gendarly agar menempel dengan sempurna. Ia membuka mulutnya dan melahap bibir Gendarly yang juga sedang terbuka. French kiss yang semakin lama semakin panas dan menuntut. Membakar tubuh keduanya yang semula basah oleh air kini bermandikan peluh.

Pagutan bibir Axl turun menelusuri leher dan meninggalkan jejak merah di sana. Perlahan turun lagi dan berakhir pada belahan dada. Melahapnya rakus saling bergantian hingga mulut Axl terasa penuh.

“Axl... Ah...”

Mendengar namanya dipanggil dengan begitu sensual, Axl semakin menggila. Pusat tubuhnya semakin menegang dan keras. Meminta untuk segera dimanjakan.

Dalam sekali hentakan, Axl berhasil menarik tubuh Gendarly untuk berada dalam pangkuannya, membuat gadis itu memekik pelan. Kedua tangan Gendarly mengalung di leher Axl, sementara kedua kakinya melingkari pinggang lelaki itu.

Axl mendudukkan Gendarly di atas marmer tempat wastafel. Rasa dingin seketika menyapa paha gadis itu ketika sudah sempurna mendarat di sana.

Kedua bola mata Gendarly membulat. Apa? Mereka akan melakukannya di sini? Posisi dirinya duduk sementara posisi Axl berdiri. Gendarly benar-benar tidak tahu fantasi seorang pria akan segila ini. Selama ini, dia hanya membayangkannya di atas tempat tidur saja.

Axl mengelus kaki bagian atas Gendarly, menekuknya dan membukanya lebar-lebar. Dia kembali tertegun melihat mahkota indah yang terpampang jelas di depan matanya. Tampak berbeda dari yang selama ini sering dia lihat. Milik Gendarly begitu ranum dengan warna pink merona.

“Sudah berapa lama nggak melakukannya?”

Pertanyaan dari suara serak Axl membuat Gendarly sadar lalu merapatkan kembali kakinya. Namun tangan Axl dengan cepat segera menahannya.

“Aku dengar kehidupanmu selama di Jepang sangat bebas, keluar masuk club dan berpacaran dengan lelaki Jepang.” Gendarly tersentak mendengar fakta pergaulannya tidak luput dari pengetahuan Axl. “Seberapa sering kamu menyerahkan dirimu pada lelaki lain, hm?”

“Ini pertama kalinya.” Suara Gendarly tercekat. Pergaulannya di Jepang memang bebas. Tapi tidak pernah sekali pun melakukan sesuatu yang lebih dari saling menempelkan bibir. Bahkan dengan Ryu, ketika kekasihnya itu meminta menyerahkan mahkotanya, Gendarly dengan keras menolak.

Axl tertawa kecil. “Selain pintar menampakkan wajah polos, ternyata kamu juga pintar berbohong.”

“Aku nggak berbohong,” sahut Gendarly pelan.

Axl memang tidak melihat ada kebohongan dalam mata gadis itu, tapi dia tidak percaya. Baginya Gendarly tidak jauh berbeda dengan perempuan kebanyakan. Murah dan liar.

“Kita buktikan saja,” ujar Axl dengan nada yang terdengar mengejek.

Detik selanjutnya, Axl mendorong miliknya ke dalam lembah hangat Gendarly. Beberapa kali terpeleset, hingga akhirnya dia bisa masuk setelah mengerahkan tenaganya.

Kenapa susah sekali? Belum pernah dia merasa kesusahan seperti ini. Biasanya hanya dengan sekali dorong saja, miliknya sudah tenggelam jauh ke dalam.

Axl tidak menyerah, dia terus mendorongnya sampai-sampai Gendarly memekik kesakitan. “Auw, sakit...” Kedua tangan Gendarly mencengkeram bahu Axl. Menumpahkan semua kesakitan di sana.

Axl menghentikan gerakannya dan menatap Gendarly dengan lekat. Gadis itu tampak begitu kesakitan dengan bibir bergetar. Ingin memastikan, Axl kembali mendorongnya dengan kuat. Pusat tubuhnya pun terasa sangat terimpit dan ngilu.

“Tolong, pelan...,” Gendarly berkata lirih.

Saat itu juga Axl menarik miliknya yang belum sepenuhnya masuk. Mereka berdua bisa melihat ada cairan kemerahan menempel di sana. “Kamu, perawan?” gumam Axl lalu mengarahkan tatapannya pada Gendarly.

Gendarly hanya tertunduk lemah. Dia masih merasakan sakit dan perih.

Tiba-tiba saja Axl meraih tubuh Gendarly ke dalam pangkuannya. Dengan gerakan seringan kapas, Axl membawa Gendarly keluar dari kamar mandi, menuju tempat tidur dan membaringkannya di sana.

“I’ll do it gently, Baby,” bisik Axl tepat di hadapan wajah Gendarly. Sebelum akhirnya, dia menghadiahi pagutan hangat dan lembut pada bibir gadis itu.

***

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin