Beautiful Mistress Bersiaplah, Malam Ini Aku Butuh Kamu

Bersiaplah, Malam Ini Aku Butuh Kamu

Seharian ini, selepas kepergian Axl, Gendarly tidak keluar dari kamar, yang pertama kali ditempatinya saat dia datang ke vila tadi malam. Dia mengurung diri dan meratapi nasibnya yang tidak tahu akan seperti apa.

Mbak Leni, kepala pelayan di vila berkali-kali datang dan menawarkan makanan, tapi selalu berakhir dengan penolakan. Sesekali wanita empat puluh tahunan itu mengajak Gendarly jalan-jalan di sekitar vila. Menghirup udara segar kawasan puncak katanya.

Lagi-lagi Gendarly menggeleng. Dia tidak mau makan. Dia tidak mau jalan-jalan! Gadis itu hanya ingin kehidupannya yang semula. Kesehariannya yang hanya memikirkan mata kuliah, hangout dan ketawa ketiwi bareng teman-temannya. Bukan kehidupan yang seperti saat ini dia ratapi.

Dia seolah bertemu dengan dunia baru. Dunia yang tidak pernah ada dalam bayangannya selama ini. Apalagi menjadi seorang wanita simpanan. Membayangkannya saja, masa depannya seketika gelap dan buntu.

“Nona harus makan, ya. Ini udah hampir malam loh, dari tadi belum ada yang masuk sama sekali.” Mbak Leni tampak begitu khawatir. Dia menyimpan makan malam untuk Gendarly di atas nakas.

“Aku nggak laper, Mbak.” Gendarly berusaha meyakinkan.

Mbak Leni menghela napas. “Kalau Tuan Axl tahu, bisa-bisa saya dipecat, Non,” ujarnya pelan. “Tuan udah meminta saya agar menjaga Non Darly dengan baik.”

Gendarly menaikkan kedua alisnya. Untuk apa juga Axl peduli padanya? Aah ... Gendarly sadar, jika dia kurang makan maka stamina di ranjang bakalan berkurang dan itu merugikan Axl. Mungkin hal itulah yang ada di pikiran Axl.

Gendarly tersenyum kecut.

“Aku mau makan, tapi ada syaratnya.”

“Hah? Apa syaratnya, Non?” Mbak Leni tampak antusias sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga. Darly ini ada-ada aja, yang punya perut siapa, yang ngototnya siapa.

“Mbak, tolong pinjemin aku hp dong.” Gendarly memelas. Gawainya mati setelah dilempar oleh bos preman kemarin malam saat aksi penculikannya. Dia harus menghubungi orang tua dan teman-temannya untuk membantu dia keluar dari masalah yang dihadapinya sekarang.

Mbak Leni tidak menolak, dia akan melakukannya asalkan Gendarly mau makan. Hingga dirinya tidak perlu mendapat amarah dari Axl.

Setelah menghabiskan makan malam, Gendarly bergegas menelepon satu-satu orang terdekatnya. Dia memasukkan sim card miliknya ke dalam gawai Mbak Leni.

Lama Gendarly menunggu, tidak ada satu pun sambungannya yang terangkat. Ayahnya, Tante Hana dan Serena atau kakak tirinya, mereka semua membisu. Puluhan pesannya tidak ada satu pun yang dibalas.

Apa dia sudah terlupakan? Atau jangan-jangan sudah dibuang? Berbagai pikiran negatif hinggap di kepalanya.

Satu-satunya jalan terakhir adalah menghubungi teman-temannya. Kali aja ada salah satu dari mereka yang mau meminjamkan uang sebanyak dua ratus juta.

[Sorry, Ly. Bokap nyita semua kartu gue gara-gara pengeluaran gue bulan kemaren membengkak. Sorry, ya.]

[Gilaa! gede banget, Ly, dua ratus juta. Uang buat apaan sih, Lo? Kalah nogel, ya, hahaha. Oops, sorry tapi gue gak punya uang sebanyak itu.]

[HAH?? Dua ratus juta? OMG. Nggak sekalian aja lima ratus juta gitu, Ly, biar gak nanggung.]

Gendarly menghembuskan napas kasar membaca jawaban-jawaban absurd dari temannya. Di saat seperti ini, tidak ada satu pun yang bisa membantunya. Dia sadar, uang dua ratus juta bukan jumlah yang sedikit. Apalagi teman-temannya itu bukan seorang sultan.

Mengembalikan gawai pada Mbak Leni, tatapannya lalu tertuju pada amplop coklat berisi surat perjanjian yang belum dia baca.

Setelah memantapkan hati, ia membuka dan membacanya dengan saksama. Surat tersebut berisi beberapa point peraturan hubungan dirinya dan Axl.

Axl sebagai pihak kesatu dan Gendarly sebagai pihak kedua. Dari semua point itu, hanya sedikit yang menguntungkan dirinya. Sisanya? Tentu sangat menguntungkan pihak kesatu.

Pihak kedua harus selalu bersedia dan siap melayani pihak kesatu kapan pun dan dimana pun.

Pihak kesatu memberikan sejumlah uang bulanan dan fasilitas lainnya pada pihak kedua.

Pihak kedua tidak boleh mencampuri urusan pribadi pihak kesatu.

Pihak kedua harus tunduk dan patuh pada apapun yang dikatakan oleh pihak kesatu.

Pihak kedua berhak mendapatkan perlindungan/keselamatan.

Tidak boleh menumbuhkan rasa apapun diantara masing-masing pihak.

Perjanjian ini berlaku sampai sejauh mana pihak kesatu menginginkannya.

Jika pihak kedua melanggar semua peraturan di atas, maka harus mengembalikan uang sejumlah dua ratus juta dan uang bulanan juga fasilitas lain yang sudah diberikan.

Selesai membaca semuanya, Gendarly tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata. Lucu! Benar-benar lucu! Saking lucunya dia sekarang tersedu sedan karena hanya ada dua point saja yang menguntungkan dirinya.

Benar-benar nggak adil!

Ditutupnya kembali berkas tersebut dan dibiarkan begitu saja tanpa dibubuhi tanda tangan. Belum siap jika harus menyetujuinya sekarang.

***

Keesokan harinya, selepas menghabiskan sarapan nasi goreng yang dibuat Mbak Leni, Gendarly kembali mengurung diri di kamar. Dia masih merasa asing dengan tempatnya berada sekarang dan entah sampai kapan akan berada di sana. Gendarly sendiri pun belum tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

Mengeluarkan gawai yang dipinjamnya dari Mbak Leni barusan, Gendarly menghubungi lagi kontak orang tuanya. Berkali-kali menelepon, tetap hanya nada tunggu yang dia dapatkan.

Gendarly merasa hidupnya benar-benar sendiri sekarang. Dia tidak punya tempat untuk kembali.

Namun senyumnya seketika terbit, saat bunyi notifikasi pesan terdengar di telinganya.

Pesan dari Ryu.

Ryu, satu-satunya nama yang mengisi hati Gendarly saat ini. Pemuda Jepang yang sudah menjadi kekasihnya sejak satu tahun yang lalu. Sebelum kepulangan Gendarly ke Indonesia, Ryu bilang dia akan berkunjung ke negara asal Gendarly untuk menemuinya.

Dengan perasaan membuncah, Gendarly membuka pesan dari kekasihnya tersebut. Namun perlahan senyumnya lenyap. Ryu mengirimkan sebuah gambar dirinya sedang tidur tanpa pakaian dengan seorang wanita bermata sipit. Gendarly tahu siapa perempuan yang berbaring di samping Ryu.

Jantung Gendarly berdebar-debar dan dadanya tiba-tiba terasa sesak. Disusul dengan pesan selanjutnya.

[“Kau yakin, kekasihmu lelaki yang setia? Lihat, baru tiga hari ditinggalkan dia sudah berpaling padaku.”]

Pesan yang diketik dalam huruf Hiragana tersebut benar-benar membuat level kemarahan Gendarly meningkat. Tangannya bergetar memegangi gawai Mbak Leni begitu kuat. Gendarly tahu, perempuan itu sengaja mengirim foto tersebut padanya lewat nomor Ryu.

Selama ini Gendarly mengira Ryu adalah lelaki yang setia. Walau sering mendengar kabar miring tentang Ryu dari teman-temannya, dia tetap mempercayai Ryu. Bahkan dia mati-matian menjaga diri demi kekasihnya itu, yang pernah bilang akan menikahinya segera.

Gendarly mematikan gawai Mbak Leni dan mencabut sim card-nya. Setelah mengembalikannya pada Mbak leni, dia merebahkan diri di atas kasur. Dadanya terlihat naik turun saking sesak dan kesal pada Ryu.

Tatapannya lalu tertuju pada amplop coklat yang masih tergeletak pasrah di atas nakas. Gendarly bangkit dan kembali menekuri isi dari surat perjanjian tersebut. Memikirkan lagi tawaran Axl untuk menjadi wanita simpanannya.

Gendarly memang benci dengan predikat ‘wanita simpanan’. Namun kondisinya sekarang yang mengambang alias tidak jelas, membuatnya berpikir dua kali mengenai tawaran itu.

Dengan ragu, dia memegangi pulpen dan nyaris menggoreskan tinta hitam itu pada kertas putih di hadapannya. Namun Gendarly kembali mengurungkan niatnya.

Hina, kah? Murah, kah, dirinya?

Meski Axl menawarkan kemewahan, tapi Gendarly tidak mendapatkannya secara gratis. Kemewahan itu ditukar dengan tubuhnya untuk memuaskan hasrat lelaki itu.

Namun, apa Gendarly punya pilihan? Tiba-tiba saja sekelebat bayangan wajah ayah dan ibu tirinya melintas. Juga wajah Ryu yang sudah mengkhianatinya tidak luput dari pandangan. Kedua tangan Gendarly mengepal kuat menahan kecewa.

Tanpa banyak kata, Gendarly mengarahkan pulpen ke kolom tanda tangan. Lantas menggoreskannya dengan perasaan campur aduk. Dalam hitungan detik, Gendarly bagai menembus pembatas tipis yang menjadi batas antara hidupnya yang sekarang dengan hidup baru yang sudah siap menyambutnya.

Hidup sebagai wanita simpanan dan menjalani hubungan terlarang dengan segala konsekuensi yang harus dia terima. Gendarly tidak akan menyangka jika kehidupan dan perasaannya nanti akan lebih rumit dari yang dia pikirkan.

***

Selepas menandatangani surat perjanjian yang dibuat oleh Axl, Gendarly mengalami perang batin beberapa saat, sebelum akhirnya sesosok lelaki bertubuh tinggi tegap berdiri di hadapannya.

“Tuan Axl.” Gendarly mendongakkan kepala dan menyapanya tanpa minat.

Axl menaikkan sudut bibirnya begitu tahu gadis itu sudah menyetujui perjanjian hubungan mereka. “Bagus. Memang sebaiknya kamu mengikuti kemauanku, kalau nggak mau mendapat masalah.” Suara Axl tidak jauh berbeda dengan dinginnya AC yang diatur pada suhu 22 derajat celcius.

Bulu roma Gendarly kembali berdiri mendengar suara dan tatapan tajam Axl yang ditujukan padanya. “Aku terpaksa,” ujar Gendarly.

Axl menanggalkan jas hitamnya lalu menggulung lengan kemeja sampai siku. Gerakan itu rupanya membuat Gendarly terpana.

“Aku nggak nyuruh kamu untuk melakukannya dengan sukarela.”

Apa? Benar-benar cowok nggak punya perasaan!

Rasanya Gendarly tidak perlu menimpali kalimat Axl. Dia bangkit untuk ke kamar mandi, tapi tangan kekar Axl menahannya dan berhasil mendudukkannya kembali di pinggiran tempat tidur.

Axl mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya. Lantas melemparkannya ke atas paha Gendarly. “Pakai itu untuk beli semua keperluan kamu.”

Pandangan Gendarly kini tertuju pada kartu kredit ‘Black Card’ di atas pahanya. Dia tahu apa fungsi kartu tersebut. Black card yang hanya dimiliki oleh orang-orang terpilih.

“Mulai hari ini kamu telah menjadi wanitaku. Setelah ini kamu nggak bisa putar arah dan gak bisa keluar dari hidupku—“ tangan Axl menarik dagu Gendarly untuk mempertemukan mata mereka. “Aku akan memberimu kemewahan. Begitu pun dengan ranjang, aku akan selalu menghangatkanmu.”

Gendarly menelan ludah dan menggigit bibir bawah. Wajah Axl semakin dekat hingga napas hangatnya terasa menyapu wajah Gendarly.

“Tapi kamu juga harus tahu, dua hal yang nggak bisa kamu dapatkan dariku. Satu, kebebasan. Dan yang kedua, status. Selamanya kamu hanya akan menyandang status sebagai wanita simpanan. Nggak lebih.”

Kedua tangan Gendarly mengepal kuat. Baru saja mereka memulai hubungan, tapi dia sudah dibuat takut oleh Axl.

“Hubungan kita hanya sebatas saling membutuhkan. Aku membutuhkan tubuhmu. Dan kamu akan mendapat keuntungan dengan kemewahan yang kuberikan.” Suara Axl kini setengah berbisik tepat di depan bibir Gendarly.

Axl semakin mendekatkan wajah mereka. Tatapannya jatuh pada bibir ranum gadis itu yang membuat hasratnya naik dalam sekejap.

“Bersiaplah. Malam ini aku butuh kamu.”

***

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin