Beautiful Mistress First Night

First Night

“Tuan... kenapa menatapku seperti itu, hm? Kamu menyukaiku? He he he....” Dengan kesadaran yang tinggal separuh, Gendarly bersusah payah menuangkan red wine ke dalam gelasnya sampai terisi penuh. Entah gelas ke berapa yang sudah diteguknya, dia tidak ingat.

Pikiran dan hatinya yang sejak siang sudah tertekan, membuat dia langsung menyetujui ajakan Axl untuk menyicipi manisnya minuman berwarna merah tersebut.

Sementara, Axl dari tadi belum menghabiskan satu gelas pun. Dia hanya meneliti dan mendengar racauan gadis itu tanpa kata.

“Aah, bukan.” Gendarly menggeleng lemah karena kepalanya sudah terasa berat. “Bukan menyukaiku, tapi menyukai tubuhku.” Dia tertawa terpingkal-pingkal sampai tubuhnya sedikit membungkuk, serta sebelah tangan memegangi perut.

Axl menaikkan sebelah alisnya seraya menyesap wine dengan gerakan yang begitu elegan. Dia heran apa yang membuat gadis itu tertawa? Padahal sama sekali tidak ada yang lucu.

“Kamu memang ganteng, Tuan, tapi sayang sekali sikapmu menyebalkan!” Gendarly mengibaskan sebelah tangan di udara berkali-kali. “Nggak! Nggak! Walau ganteng, aku nggak akan pernah menyukaimu. NO WAY!” Mata sayunya mengerjap-ngerjap berusaha melihat ekspresi Axl. Meski yang didapat hanya tubuh yang berbayang.

“Gadis gila!” desis Axl tidak habis pikir.

Dalam kondisi mabuk, Gendarly kembali ke dirinya yang sebenarnya. Ceria dan banyak ngomong. Jiwanya yang bebas dan tidak tertekan membuat wajah cerianya selalu dihiasi gelak tawa meski tidak tahu apa yang dia tertawakan. Pikirannya antara sadar dan tidak.

Yah... begini lebih baik ketimbang sadar namun tertekan oleh keadaan.

Gendarly meneguk wine-nya lagi sampai gelas tinggi itu kosong tak bersisa. Ia mau mengisinya lagi tapi tangan Axl sudah lebih dulu merebut botol minuman tersebut dan disimpan di sampingnya.

“Kembalikan, Tuan.” Gendarly berdiri dan berjalan terhuyung-huyung menghampiri Axl untuk mengambil botol wine.

“Sudah cukup. Aku nggak mau menghabiskan malam dengan perempuan yang mabuk berat.” Axl menelan ludah begitu memperhatikan tubuh seksi yang sudah tidak sanggup berdiri dengan tegak. Axl menarik tangan gadis itu sampai terjatuh dalam pangkuannya.

“Aku memang menginginkan tubuhmu sejak tadi,” bisiknya di telinga Gendarly.

“Tuan...” Axl merasakan telapak tangan hangat dan halus menangkup rahangnya. Aroma manis wine menguar dari bibir ranum gadis itu. “Asal kamu tahu, aku bukan wanita murahan, Tuan. Andai saja... aku nggak pulang ke Jakarta, aku pasti nggak bakalan ketemu laki-laki kurang ajar kayak kamu. Dan nggak perlu terjebak di ruangan ini.” Gendarly kembali meracau dan menunjuk-nunjuk dada Axl dengan menempelkan ujung jari telunjuknya di sana.

Axl menyeringai samar dengan kilatan hasrat di matanya.

“Panasss... kenapa panas sekali?” keluh Gendarly sambil melirik AC dengan mata mengantuknya. “Aah... aku kira vila ini mewah, tapi ternyata payah! AC-nya aja jelek!” cibir gadis itu pada Axl.

Axl mendelik tajam padanya. “Jangan sembarangan! AC-nya sama sekali nggak rusak.”

Gendarly kembali tertawa terpingkal-pingkal hingga Axl bisa melihat dengan jelas, pemanis alami di pipi kiri bagian atas gadis itu. Orang menyebutnya lesung pipi. Menjadi daya tarik tersendiri dan membuat struktur wajah Gendarly makin sempurna.

Axl sudah tidak tahan. Buah dada yang begitu pas di tangannya sudah memanggil-manggil untuk dia sentuh. Jiwanya yang kering karena beberapa hari terakhir tidak mendapat tempat untuk berlabuh, seolah meronta begitu melihat tubuh ranum gadis itu. Tubuh seksi dan menggoda bagai oase menyegarkan di tengah gersangnya gurun pasir.

Axl menarik leher gadis itu untuk mendekat lantas menghadiahinya ciuman yang jauh dari kata lembut. Dia menyesap bibir gadis itu kuat-kuat.

Gendarly yang setengah mabuk tidak menolak. Dia tampak menikmati permainan bibir Axl yang menguasai bibirnya. Axl sangat lihai, hingga tanpa sadar, Gendarly sedikit membuka mulutnya untuk memberi akses lebih pada Axl.

Begitu mendapat kesempatan, Axl menelusupkan lidahnya dan mengabsen satu persatu gigi-gigi gadis itu. Ia melancarkan aksinya di dalam mulut Gendarly yang terasa manis dan lembab.

“Tuan....” Desahan halus dari bibir Gendarly lolos begitu saja saat ciuman Axl sudah menguasai lehernya. “Tolong... hentikan. Aku bukan wanita murahan, Tuan,” katanya di sisa-sisa kesadaran yang kian menipis. Padahal tubuhnya terasa gerah dan dia menginginkan kain tipis yang melekat di tubuhnya agar terlepas. Pengaruh dari alkohol memang seluar biasa ini.

Mendengar penuturan Gendarly, Axl menaikkan kepalanya dan menatap gadis itu. “Kita lihat aja, seberapa murah dan liarnya kamu malam ini,” bisiknya. Tidak ada lagi sorot mata tajam, yang ada hanyalah mata yang tampak sayu.

Mulut Gendarly mungkin berkata lain, tapi tubuhnya sangat responsif begitu tangan Axl bergerilya di seluruh tubuhnya. Nalurinya merespons setiap sentuhan Axl. Seolah menginginkan lebih. Lagi dan lagi.

Tanpa melepas cumbuannya, Axl berdiri dan membawa gadis itu rebah di atas tempat tidur. Dalam hitungan detik, Axl berhasil menanggalkan kain transparan dari tubuh Gendarly dan melemparnya jauh-jauh.

Gendarly merasa lega karena dari tadi dia ingin sekali melenyapkan lingerie itu, yang terasa mengganggu di tubuhnya yang semakin terasa panas. Tubuhnya menggelinjang begitu mendapat sentuhan hangat dan lembab di puncak buah dadanya.

“Tuan...,” desahnya lagi.

“Just call my name.” Axl tidak suka siapa pun wanita yang sedang berada di atas ranjangnya, memanggil dirinya dengan sebutan ‘tuan’.

Gendarly terkekeh. “Memang boleh aku memanggilmu begitu?”

Axl tidak menjawab lagi. Dia kembali membenamkan wajahnya di dada yang begitu sintal dan sempurna di tangannya. Dalam urusan ranjang, Axl memang pemilih. Tidak semua wanita bisa lolos begitu saja untuk mendapatkan kepuasan darinya.

Seluruh tubuhnya harus sempurna. Dan wanita muda ini memiliki semua yang Axl inginkan. Ternyata membawa dia kemari memang keputusan yang tepat.

Gadis ini juga membuatnya memiliki fantasi lain dalam berhubungan badan. Jika selama ini dia melakukan hubungan dengan para jalang yang sudah expert dan dewasa, malam ini dia melakukannya dengan gadis ranum.

Axl merasakan sebuah keganjalan ketika gadis itu diam dan tidak merespons lagi sentuhannya. Dia menghentikan cumbuannya pada pusat tubuh gadis itu lantas mengangkat kepalanya untuk memastikan.

Zzzzzzz....

Oh, shit!

Seketika Axl merasa frustasi. Dia belum mendapatkan pelepasan tapi Gendarly sudah tertidur pulas.

Axl menelan ludah sementara bukti gairahnya sudah mengeras di bawah sana.

Jadi apa yang harus dia lakukan sekarang? Tetap melakukannya dengan gadis yang tertidur? Oh, Man, yang benar saja. Seliar apa pun Axl, dia tidak pernah mau berusaha sendirian tanpa ada yang meresponsnya.

Malam ini, Axl terpaksa menuntaskannya di kamar mandi.

Damn it!!

***

Pagi hari Gendarly terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang tidak nyaman pada seluruh tubuhnya. Kepala pusing. Tulang belulangnya terasa remuk.

Kenapa jadi begini?

Hawa dingin AC menyentuh kulit. Dia terbelalak saat melihat tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Dengan waspada, disingkapnya selimut yang menutupi setengah badan, lalu memperhatikan bagian bawah tubuhnya dengan saksama.

Gendarly bisa bernapas dengan lega begitu tahu mahkota satu-satunya itu masih utuh.

Namun, apa yang sudah dia lakukan sampai-sampai tubuhnya polos begini? Gadis itu berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan memori semalam.

Setelah susah payah mengingat, akhirnya ingatan semalam melintas meski putus-putus. Dia tidak mabuk sepenuhnya. Hingga Gendarly tahu permainan seperti apa yang sudah dilakukan oleh dirinya dan Axl.

Permainan Axl yang lihai membuat dia terbius dan terbawa suasana.

Ouch!! Mampus!! Kenapa dirinya berubah jadi macan liar?

Gendarly menangkupkan kedua tangan di wajahnya yang sudah merah padam. Malu dan marah dalam waktu yang bersamaan membuat dia ingin mengeluarkan air mata saat ini juga. Tapi dia urungkan begitu mendengar suara deheman dari arah samping.

Baru dia sadari, jika sedari tadi Axl memperhatikan tingkah lakunya dari atas sofa yang terletak di sisi kanan ranjang.

Gadis itu buru-buru membetulkan posisi duduk dan menyelimuti tubuh polosnya dengan selimut tebal. Axl mendekatinya dengan sebuah map di tangan kanan.

“Sudah bangun?” Suaranya mewakili dinginnya suhu ruangan kamar saat ini.

Gendarly tidak menyahut. Ya sudah, lah, kalau belum bangun ngapain dia duduk dan melek sekarang?

Axl melempar map tersebut ke atas selimut yang menutupi tubuh Gendarly. “Baca baik-baik, dan tanda tangani!”

Mata Gendarly bergerak ke arah map coklat yang dilemparkan. “Apa ini?” tanyanya seraya membuka map itu.

“Surat Perjanjian....” Bibir gadis itu melisankan judul dari berkas tersebut. Butuh penjelasan, ia lalu menatap Axl penuh tanya.

“Iya. Itu surat perjanjian antara kita. Sesuai dengan tawaranku semalam. Di sana dijelaskan secara rinci apa yang harus dilakukan dan nggak boleh dilakukan selama kamu jadi wanita simpananku.”

“Apa?! Siapa bilang aku mau jadi wanita simpananmu?” Gendarly menahan tawa. “Aku nggak mau! Tolong, bawa lagi surat ini. Aku nggak butuh!”

Axl mencondongkan badannya dan mencekal dagu gadis itu hingga tatapan mereka bertemu. “Terus, siapa bilang kamu boleh menolak tawaranku?” desisnya tajam. “Kamu nggak punya pilihan selain menandatangani surat itu dan hidup bersamaku.”

Hidup bersama? Gendarly tertawa getir. Buang jauh-jauh hidup bersama dalam artian normal! Yang dimaksud hidup bersama dalam hubungan mereka adalah dia menjadi gundik dan hidup di bawah kaki pria arogan itu. Membayangkannya saja sudah membuat hati Gendarly terasa hancur.

“Dengan menjadi wanitaku, kamu nggak perlu takut kesusahan. Aku akan memberi apapun yang kamu inginkan. Uang? Rumah? Mobil? Atau barang-barang mewah lainnya? Kamu akan mendapatkannya,” ujar Axl mencoba memberi penawaran yang menurutnya menggiurkan di mata perempuan. Bukankah para perempuan selama ini mengejar-ngejarnya untuk hal itu? Setelah urusan ranjang tentunya.

“Tapi kamu juga harus ingat tugasmu,” tambah Axl lagi. “Layani aku tiap aku butuh.”

Tangan Gendarly meremas selimut kuat-kuat seolah ingin menghancurkan kain tebal itu. Napasnya terasa sesak menahan emosi. Saat ini dia sudah hancur berkeping-keping. Bagaimana mungkin harga dirinya di tukar dengan uang?

Gendarly ingin menangis kencang sekarang. Tapi kehadiran Axl mampu mengurungkan keinginannya.

“Gimana kalau aku nolak?” gadis itu tercekat.

Axl menggeleng. “Sayang sekali, kamu gak punya kesempatan untuk menolak. Kecuali—“

“Kecuali?” sela Gendarly cepat.

Axl kembali menggeleng. “Nggak ada kecuali!”

Gendarly mengembuskan napas beratnya. Kedua bahunya terkulai lemas. Sudah tidak ada kesempatan, kah? lirihnya dalam hati.

“Aku beri waktu dua hari untuk mempelajari dan menanda tangani surat itu,” ujar Axl dingin seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana formalnya. “Dua hari lagi aku kembali ke sini, dan aku nggak mau kertas itu masih kosong!” Axl lalu pergi dari hadapan gadis itu.

Gendarly tidak menjawab. Tatapannya kini tertuju pada amplop coklat itu dengan tatapan nanar.

Axl sudah mencapai ambang pintu, tapi kemudian langkahnya terhenti dan berbalik. “Satu hal lagi.” Ucapannya membuat Gendarly mendongak ke arahnya. “Tentang apa yang kita lakukan semalam, jangan pernah menggunakan perasaan. Anggap saja kita berdua sama-sama butuh.”

Gendarly bersusah payah menelan ludah.

Axl mengucapkan hal tersebut, lantaran dia meneliti ekspresi gadis itu ketika bangun tidur beberapa saat lalu. Axl yakin, Gendarly tersipu mengingat apa yang mereka lakukan semalam.

“Dan untuk hubungan kita selanjutnya, jangan sampai menumbuhkan perasaan apapun. Aku gak mau bertanggung jawab jika kamu terluka oleh perasaanmu sendiri! Kuberitahu dari sekarang agar kamu berjaga-jaga, aku nggak akan pernah punya perasaan sedikit pun padamu.”

Setelah mengakhiri kalimatnya, Axl berbalik dan tubuh tegapnya hilang dibalik pintu.

Gendarly termenung. Kedua tangannya mengepal kuat. Satu tetes air hangat dari sudut mata, lolos begitu saja tanpa bisa dia bendung lagi. Bahunya bergetar bersamaan dengan tangisan yang semakin kencang.

Apakah ini awal dari kehancurannya?

***

To be continued.

Hai readers, yang mau ngutuk Axl jadi bucin, boleh banget kok. Kolom komen terbuka lebar. :-D

Jangan lupa star vote dan komennya yaa... Thank you...

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin