Beautiful Mistress Be My Mistress

Be My Mistress

“Mau sampai kapan berdiri di situ?” tanya Axl dengan nada dingin.

Gendarly tersentak. Dari tadi matanya betah memandangi visual Axl yang tidak terbantahkan. Sampai-sampai dia lupa jika saat ini masih berada di dekat pintu.

Dengan ragu dia menyeret langkah mendekati Axl di atas singgasananya, dan berhenti sekitar satu meter di hadapan lelaki itu.

Gendarly sedikit tertunduk, matanya tertuju pada kaki Axl yang memakai sandal rumah. Menilik dari betapa jenjangnya kaki yang terlipat itu, Gendarly yakin pria ini memiliki postur tubuh yang menjulang tinggi.

Matanya perlahan bergerak ke tubuh bagian atas yang dibalut kaus abu berlengan panjang. Terlihat mengetat di bagian kedua lengan. Otot-otot lengannya tercetak jelas di sana.

Gendarly menelan ludah ketika tatapannya tertuju pada dada dan bahu yang tampak bidang. Bagaimana rasanya jika bersandar di dada itu? Jakun yang menonjol terlihat lebih seksi dan manly. Rahang tegas. Hidung tinggi. Bibir merah sedikit kecoklatan. Benar-benar tercipta dari racikan yang pas. Tidak kurang dan tidak lebih. Sempurna! Dia menebak usia Axl berada di awal kepala tiga.

Tatapan Gendarly berakhir di kedua bola mata hitam pekat dan kelam. Jantungnya memukul-mukul saat tahu pria itu sedang menatapnya intens seolah ingin membolongi kepala Gendarly. Gugupnya kian dahsyat.

“Sudah tahu, kenapa aku memanggilmu kemari?” tanya Axl dengan suara berat dan dalam.

Gendarly hanya menggeleng. Angin dingin itu kembali hinggap di bulu kuduknya. Entah karena takut atau karena ia memikirkan sesuatu yang lain dengan suara itu. Setelah melihat wajah dan tubuh Axl dari jarak sedekat ini, pikiran Gendarly melantur ke arah yang tidak-tidak.

Aishh! Sadar, Darly!

Axl berdiri dan mendekati Gendarly. Meneliti gadis itu dari jarak dekat dengan kedua tangan bersembunyi di dalam saku celana.

Dugaan Gendarly tidak salah, lelaki itu memang menjulang tinggi. Puncak kepalanya sejajar dengan dada Axl. Posisi yang pas jika mereka saling berpelukan.

Ya Tuhan ... pikiran macam apa ini?

Gendarly tidak berani mendongak dan membiarkan saja tatapannya tertuju pada permadani yang dipijaknya.

“Katakan, bagaimana kamu akan membayar uangku?”

“Ya?” Gendarly mengangkat kepala. Ternyata Tuan Axl tidak suka berbasa-basi. “Tuan, percaya sama saya, saya pasti akan mengembalikan uang milik Tuan Axl. Saya memang nggak punya uang sebanyak itu tapi akan saya coba untuk mencicilnya.” Gendarly berusaha menampilkan senyum terbaiknya.

“Aku bukan kreditan!” sanggah Axl merasa tersinggung, “lagi pula siapa yang mau berurusan denganmu sampai berbulan-bulan?”

Gendarly termangu mendengar jawaban Axl. Lalu harus bagaimana dia? “Ta-tapi, Tuan, saya nggak punya uang sebanyak itu kalau harus membayarnya dengan cepat.”

“Apa kamu punya penawaran lain?” Sebelah alis Axl terangkat. Menatap Gendarly ingin tahu.

“Penawaran lain?” Maksudnya apa, tambah Gendarly dalam hati. “Maaf tapi sepertinya saya nggak punya, Tuan. Hanya itu—“ Gendarly sontak mengatupkan mulut ketika tangan Axl tanpa permisi menarik ikatan tali outer di pinggangnya. Hingga bagian sisi dan kanan pakaian itu terpisah dan menampakkan tubuh bagian dalamnya yang dibalut kain transparan.

Gendarly kaget dan bergegas mengikatnya lagi, tapi tangan Axl menahannya. “Tuan ....” Bibir Gendarly bergetar. Kilatan aneh di dalam mata Axl mampu membuat Gendarly meningkatkan kewaspadaannya.

Dalam hitungan detik Axl sudah berhasil melepaskan outer itu hingga tergeletak di lantai. Lalu tampaklah tubuh indah yang terlihat begitu menggiurkan untuk dia sentuh. Tubuh yang hanya dibalut lingerie tipis nan transparan berwarna hitam. Begitu kontras dengan kulit Gendarly yang seputih susu.

Leni memberikan pakaian tipis itu pada Gendarly rupanya atas perintah Axl.

Gendarly semakin terkesiap dengan mata membulat sempurna. “Apa yang anda lakukan, Tuan?” Refleks Gendarly menaikkan sedikit suaranya, dan hal itu semakin membuat keruh air muka Axl.

Hawa dingin air conditioner menyapa seluruh permukaan kulit mulus Gendarly. Dia ingin mengambil kembali pakaiannya. Sayang sekali, Axl sudah melemparkan outer itu jauh-jauh darinya.

Gendarly menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering. Dadanya tiba-tiba sesak.

Kilatan aneh di mata Axl kembali nampak ketika memindai tubuh Gendarly dari ujung kepala sampai kaki. Rambut hitam lurus sepundak menjuntai indah. Lekukan dada yang begitu menggoda. Axl membayangkan dada sintal itu berada dalam genggaman tangannya, apa gadis itu akan mengerang nikmat?

Pindaian mata Axl perlahan turun ke perut yang rata dan berakhir di kedua kaki jenjang sesuai dengan dambaannya selama ini.

Setelah puas menilai bagian depan, Axl berjalan sangat perlahan memutari tubuh Gendarly yang membeku, sambil mengucapkan beberapa kalimat, “Gendarly Aria Putri,” ucapnya pelan dan santai, tapi tetap terdengar dingin.

Gendarly terbelalak mendengar pria itu tahu nama aslinya. Dari mana dia tahu? “Kenapa anda tahu nama saya, Tuan?” tanyanya waspada.

Namun Axl tidak tertarik dengan pertanyaan gadis itu. Ia lebih suka melanjutkan kalimatnya yang terpotong. “Usia dua puluh satu tahun. Baru saja menyelesaikan studinya di Universitas Tokyo dengan bantuan beasiswa dari pemerintah Indonesia.”

Bulu roma Gendarly meremang begitu merasakan napas hangat di bagian tengkuknya. Axl sudah berdiri di belakang. Gadis itu nyaris kehabisan napas saat kedua tangan Axl menyelinap dari belakang untuk menyentuh dua buah dadanya dan memberikan penekanan oleh tangan milik Axl yang besar.

Gendarly menggigit bibir. Tubuhnya menggelenyar. Dia ingin menolak tapi seluruh tubuhnya terasa membeku hingga sulit untuk berontak. "Tuan ... tolong, jangan begini," pintanya pelan. Namun Axl tidak menghiraukan.

“Kamu baru kembali lagi ke Jakarta tadi pagi.” lanjut Axl lagi tepat di daun telinga Gendarly. “Memiliki alergi terhadap seafood dan mudah terkena insomnia. Setelah kematian ibu kandung kamu lima tahun yang lalu, ayahmu menikah lagi dengan janda beranak satu. Ayah dan ibu tirimu punya hutang lalu mereka menjual kamu sebagai tebusan agar hutang-hutang mereka selesai.”

Tubuh Gendarly bergetar. Bukan hanya karena sentuhan tangan Axl di dadanya tapi juga karena perasaan takut yang tiba-tiba menyelimuti. Siapa lelaki asing ini? Kenapa dia bisa tahu informasi pribadinya? Napas Gendarly semakin terasa sesak.

Axl menyudahi permainannya lantas berdiri di hadapan gadis itu. Sebelah tangannya mengangkat dagu Gendarly agar mendongak, hingga tatapan mereka kini beradu. Gendarly merasakan darahnya berdesir hebat. Mata tajam hitam pekat itu begitu membius.

“Kamu nggak perlu mengembalikan uangku.”

“Apa?” Gendarly tercengang dengan mata membulat. Apa dia tidak salah dengar? Telinganya masih berfungsi dengan baik, ‘kan?

Axl menaikkan sebelah alisnya. “Tapi ada syaratnya.”

“Syarat?" Gendarly tercekat.

Axl menyeringai sinis. Gendarly melihat seringai itu dan tubuhnya semakin terasa membeku. Hasrat. Ya, Gendarly yakin seringai penuh hasrat itu menguasai wajah Axl. Kilatan aneh di dalam mata lelaki itu sejak tadi adalah hasrat.

“Jadilah wanita simpananku!”

Bagai disambar petir, tubuh Gendarly menegang. Perutnya tiba-tiba mual dan ingin mengeluarkan semua isi yang ada di dalamnya. Dalam pandangannya wajah tampan Axl yang semula ia puji, seketika berubah menyebalkan dan mengerikan.

“Bagaimana? Kamu bersedia jadi penghangat ranjangku?” tanya Axl ingin tahu. Ia sudah melepaskan cekalannya pada dagu Gendarly.

“Tolong ... beri aku pilihan yang lain. Akan aku lakukan apa pun asal bukan syarat yang satu itu, Tuan.” Bibir Gendarly bergetar. Tiba-tiba saja dia mengubah dari kata 'saya' jadi 'aku'. Terlalu sopan menurutnya jika terus menerus berbicara formal.

Axl kembali menyeringai samar. “Kamu punya dua pilihan, Nona. Pertama, terima tawaranku maka hutangmu lunas. Pilihan kedua, kalau nggak mau jadi wanita simpananku, maka kembalikan uangku paling lambat besok pagi!”

Gendarly terperangah. Pria itu seperti sengaja memberi pilihan yang sulit padanya. “Itu bukan pilihan, Tuan. Mana bisa aku mencari uang segitu dalam waktu hitungan jam?”

Axl mengangkat kedua bahunya. “Itu bukan urusanku!”

Seketika hati Gendarly terasa hancur mendengar kalimat-kalimat menusuk yang sejak tadi terucap dari bibir Axl. Ia menggigit bibir yang semakin bergetar menahan gejolak amarah dan kecewa yang sudah memuncak. Bukan pada Axl, tapi pada dirinya sendiri.

“Maaf kalau aku lancang, Tuan, ternyata anda sama saja dengan preman yang sudah menculikku. Memanfaatkan uang demi mendapat kepuasan dari tubuh seorang perempuan,” desis Gendarly tajam. Kedua tangannya mengepal kuat-kuat.

Axl tertawa kecil sembari berbalik dan duduk di sofa yang semula ia duduki. Tawa kecil yang terdengar seperti ejekan dan hinaan di telinga Gendarly.

“Setidaknya aku memperlakukanmu dengan baik,” tukas Axl begitu enteng.

Apa? Baik? Gendarly ingin sekali menarik lagi pujiannya yang sempat dia ucapkan dalam hati untuk pemilik vila ini, yang tidak lain adalah Axl. Niat lelaki itu menolong rupanya bukan karena tulus ingin menolong.

Sekuat tenaga ia menahan setetes air hangat yang siap jatuh dari sudut matanya. Lolos dari satu jebakan. Ternyata malah terjerat pada jebakan yang lain.

***

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin