Beautiful Mistress Bring Her To Me

Bring Her To Me

Menjelang tengah malam Axl baru selesai mengakhiri pertemuan singkatnya dengan klien bisnisnya dari Rusia. Jika boleh jujur, Axl tidak suka jika weekend-nya digunakan untuk urusan yang berhubungan dengan pekerjaan.

Namun dia tidak bisa menolak ketika kliennya itu hanya memiliki waktu malam ini saja sebelum kembali terbang ke negara asalnya. Axl tentu tidak ingin kehilangan kesempatan yang kadang tidak datang dua kali. Ini semua demi perusahaannya yang akan menggurita ke negara Rusia.

Di hari kerja, Axl akan totalitas dan larut dalam dunia bisnisnya. Tapi lain halnya jika di hari libur. Hari penuh kebebasan! Ia menjelma bak seekor burung yang terbang dan hinggap di satu pohon ke pohon yang lain. Menjajaki dunia malam dengan segala perintilannya, tak terkecuali para wanita pemuas nafsu yang selalu siap memberinya kehangatan.

Setelah kepergian pengusaha Rusia beberapa menit yang lalu, Axl menyandarkan kepala di punggung sofa. Kepala yang isinya bagaikan mesin pencetak uang sekarang terasa berdenyut sedikit sakit.

Sial!

Jika Matteo tidak gagal menyediakan wanita bayaran untuknya, saat ini pastilah dia sudah bersenang-senang semalam penuh dengan wanita itu, sampai cahaya bulan tergantikan oleh cahaya mentari.

Axl hampir ketiduran di atas sofa, tapi Matteo yang melihatnya buru-buru menghampiri dan memberitahu tentang gadis yang sudah ditolongnya beberapa jam yang lalu.

“Tuan, apa yang harus saya lakukan pada gadis itu?” Matteo bertanya hati-hati.

Mata Axl kembali terbuka lantas mengerutkan dahi. “Gadis? Siapa?” Ia menunggu jawaban dari Matteo yang sedang menatapnya keheranan. Sepersekian detik kemudian, barulah Axl menyadari jika yang dimaksud asisten pribadinya itu adalah perempuan yang dia selamatkan dan berakhir dengan membawanya ke vila miliknya ini.

“Aah ... gadis itu,” ucapnya tanpa ekspresi. “Terserah kamu aja, aku nggak tertarik sama dia, tapi pastikan dia mengembalikan uang dua ratus jutaku.” Axl kembali menutup matanya. Membayangkan bagaimana penampilan gadis itu saja rasanya malas. Dia tidak punya kepentingan dengan gadis muda seperti Gendarly. Jelas-jelas sangat tidak menguntungkan baginya.

Ngomong-ngomong soal uang dua ratus juta yang dipakai untuk menolong gadis itu. Oops! Ralat, bukan menolong. Lebih tepatnya ia hanya memberi kesempatan kepada gadis itu untuk hidup lebih lama, tanpa harus dibayang-bayangi para preman.

Baginya uang dua ratus juta sudah seperti uang recehan yang bisa ia dapatkan dalam kedipan mata. Tapi perlu diketahui juga, Axl ini termasuk salah satu orang yang menganut aliran ‘tidak ada yang gratis di dunia ini’, termasuk kepada gadis itu sekalipun.

“Tuan yakin, tidak akan menyuruh gadis itu untuk menemui Tuan di sini?” Matteo mencoba memberikan penawaran agar tuannya itu berubah pikiran.

“Nggak perlu. Berikan saja padaku informasi yang tadi aku minta!”

Ingat dengan permintaan Axl, dengan sigap Matteo mengeluarkan iPad miliknya dari dalam tas, lantas menyerahkannya pada Axl seraya berkata, “Saya rasa Tuan Axl harus melihat gadis itu sekali lagi. Dia terlihat benar-benar berbeda. Tuan akan tahu sendiri kalau sidah melihatnya.” Matteo tidak putus asa memberi saran. Hal ini dia lakukan agar gaji satu tahunnya tidak raib.

Axl tidak langsung menanggapi lantaran ia merasa ucapan Matteo tidak terlalu penting. Namun, dia tahu apa maksud dari kalimat Matteo jika sudah ‘memaksanya’. Matanya kini fokus mencerna informasi yang terpampang di layar iPad.

Setelah beberapa saat, barulah dia mengalihkan matanya pada Matteo yang masih duduk di depannya. “Kamu yakin dengan ucapanmu barusan?”

Matteo mengangguk penuh keyakinan. “Yakin, Tuan.”

“Kamu tahu resikonya kalau sampai gagal lagi?”

“Tapi saya jamin, kali ini tidak akan gagal.”

“Kalau gitu sebentar lagi bawa dia ke sini!”

Matteo tersenyum lebar. Setidaknya dia bisa membuktikan jika yang dikatakannya memang sesuai dengan yang dia lihat. Matteo yakin, kecantikan dan tubuh gadis itu mampu bersaing dengan visual para model ataupun para artis.

Uang gaji satu tahunnya sekarang melambai-lambai di depan matanya.

“Nggak usah senyam-senyum!” Matteo berjengit kaget oleh hardikan Axl. Dan hal itu mampu menarik dirinya dari lamunan dan angan-angan uang gajinya.

Tidak ingin tuannya itu berubah pikiran, Matteo buru-buru pamit ke lantai bawah, tempat di mana gadis itu berada. Untuk kemudian ia serahkan pada Axl.

***

Gendarly menatap refleksi dirinya di depan cermin tinggi, di sebuah ruang kamar yang terbilang sangat luas. Saking luas dan mewah, dia nyaris tidak percaya jika orang seperti dirinya akan memasuki tempat seperti ini.

Baik hati sekali pemilik vila ini mau menampung Gendarly. Sudah ditolong, diberi tempat untuk menginap pula. Yah, walau hanya semalam, tapi Gendarly sudah banyak berhutang budi pada lelaki yang dipanggil ‘Tuan Axl’ oleh para pelayan di vila ini.

Oh, namanya Axl? Gendarly tertunduk menyembunyikan senyumnya.

Keren. Sekeren orangnya memang. Namun ekspresi gadis itu tiba-tiba berubah, bibirnya mengerucut sebal tatkala pikirannya jatuh pada saat ia berada di dalam mobil dengan Tuan Axl.

Dinginnya nggak ketulungan dan suasana di dalam mobil udah kayak di kuburan Jeruk Purut! Padahal Tuan Axl cuma ngomong beberapa kata, tapi bulu kuduknya langsung berdiri kokoh. Hiiyy ....

Tanpa disadari, Gendarly kembali bergidik di depan cermin besar itu.

Ia memang paling anti dengan suasana canggung dan hening. Untuk itu, ketika masuk ke dalam mobil Axl, Gendarly mengeluarkan jurus SKSD-nya. Dan langsung membombardir Axl dengan ucapan terima kasih. Dengan penuh keharuan dan dibarengi lelehan air di sudut mata, dia tulus dan bersungguh-sungguh mengucapkan banyak terima kasih. Dan berjanji akan mengambalikan uang itu secepatnya.

Saking bahagia lantaran masih ada orang yang mau menolongnya, Gendarly terus-terusan nyerocos panjang lebar, sebelum akhirnya kalimat pertama sekaligus kalimat terakhir yang Axl ucapkan selama perjalanan, membungkam mulutnya.

“Mulutmu bisa diam, Nona? Lebih baik pikirkan cara untuk membayar uangku dari pada terus-terusan berbicara!” ucap Axl saat itu.

Suara berat serta nada dingin tersebut persis seperti angin dari kuburan, yang mampu menyapu semua kata-kata yang ada di kepala Gendarly. Lidahnya pun tiba-tiba kelu. Dari detik itu, tidak ada lagi yang bersuara diantara mereka. Lebih tepatnya Gendarly. Karena sejak tadi Axl tidak berbicara dan hanya mengucapkan satu kalimat saja.

Namun ucapan Axl ada benarnya juga. Gendarly terus menerus bilang akan mengganti uang tersebut, tapi dia baru sadar jika uang sejumlah dua ratus juta itu tidak sedikit. Lantas munculah pertanyaan dalam kepalanya.

Dari mana bisa mendapatkan uang sebanyak itu?

Bahkan saat ini pun dia belum mendapatkan pekerjaan. Boro-boro pekerjaan, tempat tinggal saja dia belum tahu di mana. Belum sehari tinggal di Indonesia, tapi sudah mendapat masalah bertubi-tubi.

“Sudah selesai, Nona?”

“Eh?” Gendarly tersentak dari lamunannya kala mendengar suara seorang wanita dari arah pintu. Pipinya tiba-tiba merona merah. Kedua tangannya dilipat di depan dada untuk menutupi tubuhnya yang terbuka. “U-udah, Mbak Leni,” ucapnya terbata menahan malu.

Gendarly mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menutupi tubuhnya. Namun perempuan yang dipanggil ‘Mbak Leni’ itu sudah berjalan ke arahnya. “Kenapa? Nggak nyaman?” tanyanya seolah tahu apa yang ada di pikiran Gendarly.

Gendarly mengangguk cepat. Bagaimana bisa nyaman, seumur-umur baru kali ini memakai pakaian tidur serba seksi. Tapi mau bagaimana lagi, Mbak Leni hanya menyiapkan pakaian tidur ini satu-satunya. Dia yang hanya tamu tak dikenal, harus sadar diri dan tidak boleh protes. Sudah bersyukur ditampung juga.

Melihat ekspresi canggung dari gadis di depannya, Mbak Leni tertawa kecil. Setelah tawanya berangsur mereda, dia menatap Gendarly dengan tatapan penuh kekaguman. “Anda cantik sekali, Nona,” pujinya dengan mata berbinar.

Pipi Gendarly makin merona sementara bibirnya mengulum senyum. “Makasih, Mbak Leni. Kalau saya nggak cantik, berarti saya laki-laki hehe....”

Mbak Leni ikut tertawa tanpa menyahut lagi. Dia takut jika keterusan mengobrol, tuannya akan marah besar. Ia lalu menyerahkan sebuah outer pada Gendarly. “Tuan Axl ingin bertemu dengan Nona, jadi pakai ini saja saat melintasi ruang utama karena banyak pelayan di sana.”

“Hah?!” Gendarly terbelalak. “Tu—tuan Axl ingin bertemu saya?” Tiba-tiba saja kuburan jeruk purut kembali melintas di kepalanya. Jantungnya pun ikut berdebar-debar. Dia belum siap jika harus berhadapan kembali dengan lelaki itu.

Mbak Leni mengangguk.

“Tapi, untuk apa?” Ah! Dasar Gendarly bodoh! Tentu saja Tuan Axl ingin membahas masalah uangnya. Selain itu, untuk apa lagi memang? Tidak ada.

“Pokoknya ikuti saja perintah Tuan Axl, Nona. Mari saya antar.” Mbak Leni masih menyunggingkan senyum ramahnya seraya merentangkan sebelah tangannya ke arah depan. Bermaksud untuk mempersilahkan Gendarly agar segera melangkah.

“Tapi ....” Gendarly menggigit bibir bawah dan masih enggan untuk melangkah. Jika bisa bernegosiasi, ia ingin pertemuannya diundur besok saja. Ia akan menggunakan waktu semalaman untuk menyiapkan mental.

“Tuan Axl tidak suka menunggu meski cuma semenit,” kata Mbak Leni memberitahu. Dia sendiri pun merasa takut saat ini, jika dirinya telat membawa Nona muda ini ke hadapan tuannya, maka harus siap-siap dimarahi.

Gendarly akhirnya mengangguk sebagai tanda persetujuan. Lalu mengenakan outer yang tingginya selutut dan berlengan panjang. Tidak ada kancing sama sekali, hanya terdapat tali panjang di bagian pinggang.

Setelah selesai mengikatkan tali outer tersebut, Gendarly menyeret langkah berdampingan dengan Mbak Leni, keluar ruangan. Menuju lantai dua tempat di mana sang Tuan berada.

Dalam langkahnya, Gendarly sibuk menghapal kata-kata yang akan ia ucapkan, sebagai jawaban dari pertanyaan bagaimana cara mengembalikan uang milik Axl. Kalau-kalau nanti dia lupa. Padahal sebenarnya jawabannya sudah ada di luar kepala.

Sampailah keduanya di depan pintu kayu jati bercat putih bersih. Pintu yang menjulang tinggi, begitu kuat dan berdiri kokoh. Seperti ingin memberitahukan pada siapapun yang datang, jika penghuni di dalam ruangan itu adalah seseorang yang begitu angkuh dan ‘tinggi’.

Gendarly tidak henti-hentinya mengatur napas. Jari jemarinya saling bertautan dan terasa dingin. Tidak pernah dia segugup ini sebelumnya. Ketemu dengan profesornya saja rasanya tidak seperti sekarang.

Mbak Leni mengetuk pintu dengan hati-hati.

“Masuk!”

Hah?! Suara itu lagi? Gendarly semakin grogi.

Setelah Mbak Leni membukakan pintu, dengan ragu Gendarly melangkahkan kaki ke dalam ruangan tersebut. Detik berikutnya dia dibuat kaget dengan pintu yang sudah tertutup lagi. Itu artinya, sudah tidak ada kesempatan baginya untuk putar arah.

Di sinilah gadis itu sekarang. Berdiri canggung di dekat pintu sebuah ruang kamar, yang luasnya dua kali lipat dari yang ditempatinya beberapa saat lalu.

Gendarly memfokuskan indera penglihatannya pada sofa panjang nan mewah yang berjarak sekitar tujuh meter dari tempatnya berdiri.

Gadis itu seketika terpana.

Di tengah-tengah sofa panjang tersebut, terlihat seorang lelaki berpakaian casual dengan aura dingin yang begitu mengagumkan. Duduk bersandar dengan kedua lengan terlipat di depan dada. Kaki kanan menyilang di atas kaki kiri. Sementara wajahnya, tertuju lurus ke arah Gendarly, menatapnya dengan tatapan menilai.

Gendarly menelan saliva, berusaha menahan gugup yang kian dahsyat menyerang dirinya. Matanya beradu dengan sesosok berwajah tampan pemilik rahang yang terpahat sempurna. Gendarly yakin, Tuhan sedang ‘tersenyum’ saat menciptakan pria ini.

***

Pustaka Top Up Pengaturan Menu
A- A+
Tambahkan ke Rak

Yakin